Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Tusuk Rambut



Putra Mahkota meninggalkan Yi Ze sendirian di dekat lapangan Ibukota. Dia menahan rasa kesal dan marahnya, bukan karena tidak menyukai Yi Ze lagi. Dia masih belum bisa menerimanya, kenapa Yi Ze harus merahasiakan hal itu darinya, tidak mengatakan padanya lebih awal.


Putra Mahkota butuh waktu untuk berbicara lagi dengannya. Hanya sebentar, hanya beberapa hari, dia akan kembali lagi, mungkin memeluknya dengan erat.


Yi Ze mengejar tanpa menyerukan namanya, hanya lari sebentar, Yi Ze sudah mampu menyamai langkahnya. Dia menarik lengan Putra Mahkota yang mulai menghangat lagi.


"Kenapa kau jadi tiba-tiba kesal?" Yi Ze mendongak, menatap Xiao Yuan yang sibuk memalingkan wajahnya.


Dalam hati, Yuan menjawab, "Bukannya aku marah, Yi Ze. Aku terlalu senang hingga tidak bisa menunjukkannya padamu."


Tangannya menepis tangan Yi Ze, berjalan cepat menjauhinya. Meski sudah mencarinya sejak lama, Putra Mahkota tidak pernah membayangkan akan berhadapan langsung dengan Yuehai seperti ini, bahkan sudah menjalin hubungan sebagai guru dan murid.


Entah apa makna perasaannya ini, malu, senang, sedih, kesal, marah, semuanya menjadi satu. Putra Mahkota bahkan mengatakan pada penjaga di kediamannya untuk tidak membiarkan Yi Ze masuk dulu.


Saat Ji Xue bertanya, Putra Mahkota hanya menjawab dia ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu siapapun.


Di depan Shuiquan, Yi Ze bergumam, "Padahal aku belum mengatakan padanya tentang kepergianku minggu depan."


Yi Ze kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih, pengakuan cukup dramatis itu, tidak sesuai dengan angannya. Dia berpikir Putra Mahkota akan senang bertemu dengannya lagi setelah puluhan tahun berpisah. Namun, Yi Ze tidak merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Putra Mahkota. Meski tahu identitas sebenarnya, Yi Ze tetap tidak mengingat masa lalunya. Yi Ze menggenggam erat tali rambut yang diberikan Putra Mahkota untuknya.


Tampaknya, ada yang sedang memperhatikan dari jauh, bersembunyi di balik pepohonan, menatap Yi Ze yang tampak menyedihkan itu.


"Apakah dia sedang bertengkar dengan Yuan?" Pangeran bergumam dalam hati, matanya tidak lepas dari Yi Ze yang menunduk sambil menyeka air mata.


"Dasar bodoh, kenapa kau bisa menangis hanya karena pria dungu itu?" Pangeran bersungut kesal. Dia ingin menghampiri, tapi tidak berani mengganggunya yang sedang sendirian.


"St!" Putri Lanhua menepuk pundak kakaknya, "Apa yang sedang kau lihat?"


Pangeran menutup mulut adiknya yang berisik itu, matanya masih menatap Yi Ze yang masih berdiri di depan Shuiquan.


"Ah, sepertinya kau sedang patah hati," Putri Lanhua melambaikan tangan, "Tapi sepertinya perasaan Kakak Pertama terhadapnya berbeda seperti perasaanmu."


Pangeran menatap adiknya kesal, "Kau anak kecil, tahu apa?"


"Bukan kecil, hanya beberapa tahun lebih muda saja. Urusan hati seperti ini, aku lebih senior dari pada Kakak," Lanhua menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


Pangeran tidak menyahutinya lagi. Sekarang sedang bingung akan menghampirinya atau tidak.


"Sebelum perasaan Kakak Pertama benar-benar berubah, kau harus melangkah lebih dulu," Lanhua menyikut lengan kakaknya.


Barulah Pangeran merasa tertarik, "Bagaimana caranya?"


"Haissh! Bocah bodoh. Ungkapkan saja perasaanmu padanya. Cari suasana yang tepat, waktu yang tepat, dan kalimat yang tepat," Lanhua menjawab dengan lagak besar.


"Caranya?"


Lanhua memutar bola matanya kesal, "Kau harus banyak membaca buku cerita. Jika mau, aku bisa meminjamkan beberapa."


⚔️⚔️⚔️


Malamnya, mendengar saran dari adiknya, Pangeran tergerak hatinya untuk mendatangi Yi Ze dan berencana mengungkapkan perasaannya.


Saat hendak mendatanginya, Yi Ze terlihat akan pergi. Pangeran mengurungkan niatnya, gadis itu pasti pergi ke Shuiquan. Dia juga melihat wajah sedih Yi Ze saat tidak bersama Putra Mahkota barang setengah hari.


Kejadian itu membuat Pangeran berpikir terlalu jauh. Mungkinkah mereka sudah saling mengungkapkan perasaan? Mungkinkah Putra Mahkota benar-benar ingin menikahinya? Mungkinkah Yi Ze begitu menyukainya?


Pikiran-pikiran itulah yang membuat Pangeran bersembunyi sambil menguping pembicaraan Yi Ze dengan Qing Yang yang secara tidak sengaja berpapasan di depan gerbang Shuiquan.


"Apakah dia masih di dalam?" tanya Yi Ze.


"Suasana hatinya sedang buruk, Nona Yi. Dia tidak mau diganggu siapapun, jika sudah seperti ini, kami bahkan tidak berani mengantarkan makan malam untuknya. Lebih baik Nona tunggu Putra Mahkota menemuimu sendiri saja," Qing Yang menunduk sebelum pergi.


Yi Ze menghela napas panjang, lalu berbalik. Dia memutuskan untuk segera pulang ke rumah saja. Sepanjang jalan dia memikirkan bagaimana menemui Xiao Yuan, atau bagaimana agar Xiao Yuan mau menemuinya.


"Kakak!" Shujin dan A-Yin berdiri di depan kediaman mereka, tersenyum senang saat Yi Ze memasuki gerbang, lalu menyuruh Yi Ze masuk karena mereka sudah menyiapkan makan malam yang enak.


Belum sempat masuk, penjaga gerbang menghampiri mereka, "Nona Yi, Pangeran Kedua ingin menemuimu."


Shujin dan A-Yin saling tatap, kemudian tersenyum jahil, "Kalau begitu, biar kami habiskan sendiri saja makanannya, sepertinya Kakak ingin bersenang-senang sendiri malam ini," Shujin menyeret A-Yin masuk ke kamar.


"Hei! Kalian tidak boleh seperti itu! Aku makan di rumah! Aku makan di rumah!" Yi Ze mendengus karena seruannya tidak digubris.


"Bersenang-senanglah, Kakak!" mereka berseru sambil tertawa-tawa dari dalam..


"Yi Ze."


"Pangeran? Kenapa kau di sini?" Yi Ze berseru terkejut, berbalik menatap Pangeran yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


"Kudengar, ada festival cahaya di Kota Hai'an. Maukah kau menemaniku ke sana?" Pangeran bertanya tanpa basa-basi.


Yi Ze sempat menatapnya sebelum menjawab, wajah Pangeran terlihat gugup, kalimatnya terdengar tidak begitu kokoh, seperti terganggu oleh sesuatu.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Yi Ze menanyakan hal lain.


Pangeran menggeleng, "Hanya ingin memintamu menemaniku keluar saja."


Yi Ze mengangguk tanpa pikir panjang, "Akan kutemani."


Pangeran tersenyum senang, bilang akan membawakan dua ekor kuda supaya lebih cepat sampai. Yi Ze menolak, berkata kalau berjalan kaki lebih menyenangkan.


Festival Cahaya ini adalah salah satu perayaan yang ramai di Kota Hai'an. Saat bulan purnama muncul, para nelayan akan membuat ribuan lampion dan mengarungkannya di laut.


Warga sekitar turut merayakannya dengan membuat jamuan besar yang berbahan dasar ikan. Beberapa warga lain membuka toko aksesoris, toko camilan, dan sebagainya.


Yi Ze berdecak kagum saat melihat keramaian Kota Hai'an. Baginya, pantai Kota Hai'an adalah pantai terindah yang pernah dia lihat semasa hidupnya.


Sekilas, Yi Ze teringat lagi dengan Putra Mahkota. Jika dia mengingat masa kecilnya, dia akan melihat Putra Mahkota kecil yang bermain dengannya di pantai ini, betapa menyenangkannya.


Pangeran menghampiri penjual aksesoris rambut, membeli satu tusuk rambut di sana. Lalu memperlihatkannya pada Yi Ze, "Lihatlah, apakah kau menyukainya?"


"Terlihat bagus, elegan, simpel, dan bersinar." Yi Ze tersenyum, mengangguki pilihan Pangeran.


"Biar kupakaikan."


Pangeran memakaikannya di kepala Yi Ze, terlihat cantik, dia tersenyum puas melihatnya. Tapi Yi Ze sebaliknya, kenapa anak-anak raja ini begitu peduli padanya? Tali pengikat rambut yang dia pakai adalah pemberian Putra Mahkota, yang baru ini, diberikan oleh Pangeran. Betapa beruntungnya dia, namun tak menyadari situasinya.


Setelah itu, Pangeran memintanya menemaninya membeli lampion, "Aku menyukai lampion terbang, apa kau mau juga?" Pangeran menawarkan salah satu lampion yang ada di tangannya.


Yi Ze mengangguk, "Aku ingin menerbangkan lampion juga."


"Lampion terbang tiga keping logam, Tuan Muda. Lampion air lima keping logam," penjual lampion memberikan dua buah lampion terbang.


"Ternyata karena harganya lebih murah," Yi Ze bergumam pelan. Pangeran terkekeh mendengarnya.


Mereka menerbangkannya bersama-sama, mendongak memperhatikan ke mana lampion mereka pergi.


"Yi Ze, apa kau menyukai seseorang?" Pangeran bertanya tiba-tiba.


Yi Ze menelan ludah, pertanyaan macam ini? Begitu tiba-tiba? Dia tidak langsung menjawabnya. Bukan karena tidak ingin memberitahu, hanya saja, dia tidak memiliki jawabannya.


"Hm ... aku tidak pernah memikirkannya," Yi Ze menunduk.


Pangeran menatapnya lebih baik, "Bagaimana jika aku menyukaimu?"


Yi Ze menatapnya tidak percaya. "Menyukaiku? Seorang pangeran ini menyukaiku? Tidak mungkin! Lagipula aku tidak ingin!" Yi Ze bergumam dalam hati.


Pangeran tiba-tiba memegang kedua tangannya, lalu menatapnya begitu dramatis, "Kau ingat saat kita makan bersama di tengah hutan 11 tahun lalu? Sejak itu mungkin aku sudah menyukaimu. Kau tidak keberatan, kan?"


"Kalau hanya suka tidak apa-apa, tapi kalau lebih dari suka..." Yi Ze menahan napas dengan pikiran di dalam hatinya.


Pangeran mulai mengungkapkan perasaannya pada Yi Ze, bahkan keseluruhan ceritanya. Mulai dari pertemuan pertama, kedatangan Yi Ze ke istana, saat Yi Ze diberi titah untuk menjadi guru Putra Mahkota, bahkan tentang rasa cemburunya.


"Yi Ze, aku tidak puas dengan hubungan kita yang sekarang. Aku ingin menjadikanmu istriku, menemani hidupku. Apa kau menginginkannya juga?" Pangeran bertanya serius. Wajahnya menampakkan ribuan harapan yang enggan dipalsukan.


Menatap wajah itu, Yi Ze menyukainya. Tapi menjadi istri seorang pangeran bukan sesuatu yang bisa diputuskan dengan begitu mudah. Yi Ze menatap wajah Pangeran sekali lagi.


Jawaban itu tak kunjung dia dapatkan, Yi Ze menggeleng untuk sementara, "Bisakah kita tunda dulu percakapan semacam ini? Aku belum memikirkannya." Yi Ze tersenyum tipis.


"Kau tidak harus menjawabnya sekarang, bisa kau pikirkan dulu, aku akan menunggunya," Pangeran tersenyum, yang terpenting, perasaan seriusnya sudah diketahui oleh Yi Ze. Dengan tampangnya yang positif, Pangeran yakin Yi Ze tidak akan menolaknya. Lagipula, siapa yang berani menolak lamaran Pangeran?


"Beberapa hari lagi aku akan pergi ke kamp militer selatan. Mungkin beberapa bulan. Saat pulang, aku akan memikirkan jawabannya lagi. Bisakah kita pulang sekarang, Pangeran?" Yi Ze bertanya pelan.


"Kita pulang saja. Aku juga tidak mungkin terus menunggu jawabanmu di sini, bukan?" Pangeran tertawa kecil.


"Oh iya," Yi Ze tiba-tiba melepas tusuk rambut yang sudah dipasangkan oleh Pangeran, "Aku akan melepasnya dulu, akan kupakai jika sudah menemukan jawabannya, sementara ini, aku simpan di kediaman saja," Yi Ze tersenyum.


⚔️⚔️⚔️


Di hari keberangkatan, Yi Ze menyempatkan diri untuk mengunjungi kediaman Xiao Yuan. Ji Xue menemuinya di depan pintu, mengatakan kalau tuan muda mereka masih belum mau keluar dari kamar. Saat Yi Ze bertanya apa penyebabnya, Ji Xue justru bertanya kembali padanya.


"Eh, kupikir Nona Yi tahu, aku berniat menanyakannya pada Nona. Rupanya, memang suasana hati Putra Mahkota saja yang sedang buruk, kami tidak bisa melakukan apapun. Hanya bisa mendengarkannya saja," Ji Xue menjawab sopan.


Yi Ze mengangguk, "Kalau begitu, tolong berikan surat ini padanya, pastikan dia membacanya," Yi Ze menyerahkan sebuah gulungan surat.


Ji Xue menerimanya, "Aku akan memastikan kalau Putra Mahkota membacanya, Nona. Selain hal ini, apakah Nona Yi masih ingin membicarakan hal lain?"


Yi Ze mengangguk, "Aku ingin minum teh bersamamu lagi. Terakhir kali sudah sangat lama, bukan?" Yi Ze terkekeh, dia merangkul Ji Xue memasuki Shuiquan, "Tidak perlu khawatir akan membangunkan macan tidur. Tempat ini luas, tidak hanya ada kamarnya saja. Lagipula ini bukan kepemilikannya sendiri," Yi Ze menenangkan kecemasan hati Ji Xue.


Ji Xue membawa nampan berisi gelas-gelas kecil dan kendi berisi teh plum yang biasa dia sajikan untuk Putra Mahkota, beberapa bulan yang lalu  Yi Ze mengatakan kalau dia menyukainya.


Yi Ze menyeruput teh hijau buah plum yang dibuatkan Ji Xue, "Memang selalu enak," senyumnya merekah.


"Nona Yi, apa kau tidak ingin mengunjunginya barang sekali?" Ji Xue bertanya, menunjuk kamar Putra Mahkota dengan ujung matanya.


Yi Ze meletakkan cangkirnya. Lalu menyuruh Ji Xue mendekati wajahnya, "Kau tahu, aku sebenarnya tidak percaya dia bisa marah padaku. Jadi kukatakan saja, dia hanya sedang menjauhiku karena suatu alasan yang hanya dia yang mengerti. Biarkan saja, selama dia baik-baik saja, aku tidak perlu terlalu khawatir," jelasnya sambil berbisik.


Ji Xue mengangguk-angguk.


Melihat Ji Xue begitu bersemangat saat duduk-duduk bersamanya, Yi Ze berniat untuk bercerita lebih banyak.


"Ji Xue, seorang teman bertanya, apa yang akan kau lakukan jika temanmu memberimu hadiah sambil mengungkapkan perasaannya?" Yi Ze bertanya dengan suara pelan, asal Ji Xue mendengarnya, dia pasti tahu maksud pertanyaannya itu.


Ji Xue mengernyit, "Nona Yi, apa seorang teman melakukannya padamu?"


Yi Ze terdiam, dia tidak mungkin mengatakan kalau Pangeranlah teman itu. Dia menggeleng, "Ah, tentu saja tidak, kau pikir siapa yang bisa kudekati di saat seperti ini?"


Ji Xue terkekeh, matanya lagi-lagi mengarah ke kamar Putra Mahkota. Hal itu membuat Yi Ze menggeleng lebih tegas, "Tidak begitu. Temanku meminta saran padaku tentang hal ini, karena aku tidak mengerti, aku menanyakannya padamu. Jangan salah paham," Yi Ze menatap Ji Xue dengan kesal.


Ji Xue benar-benar tertawa, "Tenang saja, Nona. Jika benar, kau pikir aku akan menceritakannya pada siapa di saat seperti ini? Aku lebih tidak percaya lagi kalau kau memiliki seorang teman," tawanya pecah.


Yi Ze tidak membalas lagi, menikmati cangkir tehnya. Wajahnya memalingkan diri dari sorot mata Ji Xue yang menggodanya.


"Nona. Setiap pemberian seseorang itu, tentu saja harus dipakai. Tidak harus kau menyimpannya karena berhubungan dengan perasaanmu. Kau memakainya, tidak berarti kau menerima perasaannya. Kau hanya berniat menghormati pemberi hadiah ini, soal perasaan, tentu saja kau yang menentukan. Katakan saja seperti ini pada temanmu yang bingung itu," Ji Xue menjelaskan dengan ekspresi yang tak berubah.


Mendengar penjelasan Ji Xue, Yi Ze jadi sedikit memiliki arahan, hanya terganggu sedikit dengan nada menggoda yang Ji Xue berikan di sela-sela penjelasannya.


"Nona Yi. Tuan Muda Feng sudah tiba untuk menjemputmu ke kamp militer," dua penjaga Shuiquan melaporkan padanya.


Yi Ze menghabiskan isi cangkirnya, menatap Ji Xue, "Baiklah, akan kukatakan pada temanku yang sudah lama bingung. Kau, jangan lupa sampaikan suratku pada muridku yang nakal itu. Kita akan bertemu lagi bulan depan."


Ji Xue berdiri, membungkuk memberi salam pada Yi Ze, "Akan kusampaikan, Nona. Berhati-hatilah di jalan, perjalananmu jauh."


Tentang hadiah itu, Yi Ze memakainya saat pergi ke kamp militer.


⚔️⚔️⚔️


Bersambung.