
Seorang bayi laki-laki berusia lima hari mati terbunuh dengan sayatan dalam di lehernya. Ibunya tergeletak mati dengan luka tusuk yang sama. Darah menggenangi setiap jengkal rumah. Sang jenderal marah melihat yang terjadi kepada anak dan istrinya, tangisnya membeku di udara, mengisi setiap ruang di sudut-sudut rumah. Di luar sana, para tetangga mulai mengerumuni rumah sambil menutup hidung, bau darah yang tercium pekat membuat mereka penasaran melebihi rasa takut yang mereka rasakan.
Desas-desus mengenai siapa pembunuh itu pun mulai dibicarakan warga desa. Sang jenderal menutup matanya dengan amarah memuncak, ia berlari menuju hutan, mengejar pembunuh bayaran yang sudah menghabisi nyawa istri dan anaknya. Mustahil bagi siapa pun untuk menghindari pemburu lihai sepertinya. Dalam jarak dua puluh meter, anak panah melesat mengenai betis salah satu dari mereka yang dikejar. Yang lain berlari menyelamatkan diri tanpa memedulikan yang sudah tertangkap.
Jenderal mencabut anak panah itu dengan kasar. Lantas dengan gerakan cepat dia menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya di leher orang itu. Tangannya dengan cepat menarik kain yang menutupi wajahnya. Rupanya dia wanita.
"Katakan siapa yang menyuruhmu melakukannya? Aku bisa mempertimbangkan lagi apakah akan membiarkanmu pergi atau tidak." Jenderal berbicara dingin.
"Kami diperintah oleh Permaisuri Hua Jin dengan bayaran 3000 keping emas," wanita pembunuh bayaran itu menjawab lemas. Menunjukkan surat yang dia dapatkan dari istana.
Jenderal yang mendengarnya lebih lemas lagi. Kakinya seperti tak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Seperti inikah rasanya dikhianati?
"Semudah itu kau menukar keluargaku dengan kepingan emas?"
⚔️⚔️⚔️
"Kudengar anak dan istrimu mati dibantai pembunuh bayaran," Raja Wangwei berbicara empat mata dengan Jenderal Pasukan Militer Selatan itu.
"Xie Xuan, kau harus mencari tahu siapa yang membunuh mereka. Aku mengizinkan kamu membawa 500 prajurit kerajaan jika memang dibutuhkan. Katakan, apalagi yang kau butuhkan untuk mencari para bajingan itu?" Raja Wangwei bertanya, memberikan bantuan besar kepada orang kepercayaannya.
Sedangkan Xie Xuan hanya diam menunduk, tangannya mengepal, ia ingin membalas dendam. Tapi tidak mau ada yang tahu kalau targetnya adalah orang terpenting kedua bagi Yang Mulia Raja.
"Xie Xuan? Kenapa hanya diam?" Yang Mulia Raja menyentuh pundaknya.
Xie Xuan menoleh, tersenyum yang nampak terpaksa, tangannya pelan menurunkan tangan Yang Mulia Raja dari pundaknya, kemudian menunduk sopan, "Yang Mulia, aku tidak mengharapkan bantuan apapun dari siapapun, mohon biarkan aku mengurus masalah ini sendiri. Aku merasa terhormat mendengar Yang Mulia ingin memberikan bantuan sebesar itu hanya untuk menangkap beberapa orang yang kau sebut bajingan. Yang Mulia. Izinkan aku undur diri dari hadapanmu sekarang," Xie Xuan mengangkat kepalanya.
Yang Mulia Raja mengangguk pelan, "Jika kamu membutuhkan bantuanku, aku akan segera mengirimkannya untukmu, temanku."
Xie Xuan menunduk sekali lagi. Kemudian pergi dari hadapan Yang Mulia Raja.
Saat malam tiba, tubuh gagahnya berdiri menyambut angin malam yang semakin larut semakin dingin menusuk tulang. Butir salju turun dengan anggun, nampak indah. Xie Xuan mendongak, butir-butir salju menempel di pakaiannya. Tangan kanannya menggenggam pedang. Kakinya bergerak tanpa ragu menuju kediaman Permaisuri.
Paginya, semua orang dibuat terkejut saat melihat permaisuri mereka tewas bersimbah darah dengan dua tusukan, satu tusukan kecil di leher, dan satu lagi tusukan besar di perut.
Orang yang pertama kali melihatnya adalah Xuan Lu, orang kepercayaan Kepala Pelayan sekaligus sahabat Hua Jin sendiri, dia berlari dengan panik, menjatuhkan pisau dan piring berisi tiga buah apel yang biasa dimakan Hua Jin saat sarapan. Bergegas memeluk tubuh dingin sahabatnya, pakaian Xuan Lu terkena noda darah.
Lantas pelayan bernama Lian Shen melihatnya, mengira bahwa Xuan Lu yang membunuh Permaisuri Raja negara ini, dia berjalan menuju kediaman Raja Wangwei meski kakinya mati rasa.
Hingga tanpa melalui pengadilan negara, Xuan Lu dihukum mati dengan disaksikan seluruh penghuni istana.
Lambat laun, banyak rumor menyebar keluar istana. Bahwa seorang pelayan wanita berani membunuh Permaisuri dengan sepucuk pisau dapur.
Mendengar orang-orang bergosip tentang Xuan Lu yang dihukum mati meski tidak melakukan apapun membuat Xie Xuan menyesal dan merasa bersalah. Dia menyelinap masuk ke kamar Xuan Lu, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk untuk menemukan di mana putri dan suaminya. Tapi tak ada petunjuk apapun untuk menemukan siapa suami dan putrinya, tak ada lukisan, atau buku catatan.
"Yang Mulia. Aku membunuh istrimu karena istrimu membunuh keluargaku, aku sudah membalas dendam tapi kau tidak membalaskan dendam kematian istrimu padaku, justru pada orang yang tidak mengetahui apapun tentang hal itu. Aku akan merelakan jabatanku untuk memperbaiki kesalahanku pada Xuan Lu. Semoga masih belum terlambat untuk membayar hutangku pada Xuan Lu," Xie Xuan berdiri di depan Kediaman Raja, menitipkan surat permintaan pelepasan posisinya kepada kasim yang berjaga, "Katakan aku terburu-buru dan tidak bisa menyampaikannya secara langsung."
Dia pergi ke daerah pesisir, mencari informasi tentang di mana tempat tinggal Xuan Lu dan keluarganya.
"Permisi," memasuki sebuah kota bernama Hai'an. Menyapa seorang pemilik toko obat.
"Selamat Pagi, Tuan," pemilik toko obat itu keluar, tersenyum menyapa Xie Xuan dengan ramah.
"Apakah mungkin kau tahu tentang wanita yang menghabisi nyawa Permaisuri?" Xie Xuan bertanya tanpa basa-basi.
Pemilik toko itu bernama Tuan Song . Tubuhnya mematung sejenak sebelum akhirnya menyuruh Xia Xuan masuk dengan menawari minum teh bersama.
Saat keduanya duduk saling berhadapan dengan jamuan secangkir teh, Song Guihao menjawab dan menjelaskan semua yang dia tahu tentang Xuan Lu dan keluarganya.
"Saat mendengar berita itu, aku sama sekali tidak percaya itu adalah perbuatan Xuan Lu. Semua warga di Hai'an ini tahu betapa baiknya perempuan muda itu. Dia seringkali mengajak Permaisuri Hua Jin ke rumahnya, menyapa warga kami. Persahabatan keduanya sudah terjalin lebih dari dua puluh tahun. Ibunya mengabdi hingga mati kepada keluarga kerajaan, tak ada alasan baginya untuk melakukan hal keji semacam itu. Terlebih, aku sangat mengenal keluarganya, putrinya, Lin Yuehai juga sering dititipkan kepada istriku yang belum dikaruniai anak hingga sekarang, tak kusangka mereka harus pergi,"
Xie Xuan menangis mendengar betapa buruknya dampak dari perbuatannya bagi orang yang sama sekali tak bersalah.
"Bahkan sampai sekarang aku masih tidak bisa mempercayainya. Putrinya berteman sangat dekat dengan Pangeran Pertama. Ayahnya adalah menteri yang bertanggung jawab. Kejadian itu merubah keluarga kecilnya begitu drastis. Kami hanya bisa berdo'a semoga Menteri Lin diberikan ketabahan melalui semua ini," lanjut Tuan Song.
"Apa kau tahu di mana mereka tinggal?" Xie Xuan memberikan pertanyaan berikutnya.
"Mereka tinggal di ujung sana. Saat kau melihat pantai, maka kau sudah sampai di rumahnya. Omong-omong, kenapa Jenderal Besar ingin tahu rumah Xuan Lu?"
Xie Xuan menghela napas panjang. Kemudian menatap Tuan Song dengan lembut, "Aku sama sepertimu, Tuan. Masih tidak bisa memercayai perbuatan Xuan Lu. Maka dari itu aku ingin membantu keluarganya meski tanpa sepengetahuan Yang Mulia. Minimal, aku bisa memberikan upah bulanan untuk Tuan Lin karena sudah tidak bekerja lagi." Xie Xuan memberikan alasan yang dirasa cukup masuk akal.
Tapi Tuan Song justru menggeleng, "Jika itu niatmu, maka kamu tidak bisa menunaikannya."
Xie Xuan bingung, "Kenapa, Tuan? Aku sudah bukan jenderal besar lagi, aku memutuskan mengundurkan diri dari jabatanku setelah kejadian besar yang menimpaku beberapa hari lalu. Aku berniat mencari pembunuh itu, mungkin saja berhubungan dengan pembunuh Permaisuri yang sebenarnya," Meski niatnya baik, Xia Xuan tetap memilih berbohong untuk menutupi kesalahannya.
"Tetap tidak bisa, Jenderal Besar. Karena mereka sudah meninggalkan kota ini," jelas singkat Tuan Song.
Xie Xuan terdiam. Wajahnya terkejut meski tidak menunjukkan reaksi apapun. Bahkan sebelum memulainya, dia merasa sudah ingin menyerah duluan.
"Di mana aku harus mencari mereka?" Xie Xuan bertanya putus asa.
Tuan Song menggeleng lagi, "Tidak ada yang tahu kemana mereka pergi. Bahkan jika kamu mencarinya bertahun-tahun kemudian, tentu tidak akan mudah. Besar kemungkinan dia akan mengganti namanya setelah mengasingkan diri. Lin Yuehai masih sangat kecil, wajahnya tidak akan dikenali jika di tahun-tahun berikutnya kamu mungkin berpapasan dengannya di pasar atau di pelabuhan," rupanya Tuan Song membicarakan kemungkinan buruk yang sudah pasti akan terjadi.
Xie Xuan mengembuskan napas pendek. Dia berpamitan setelah menyeruput habis teh hangat miliknya. Dia berjalan menuju pantai, memeriksa apa yang mungkin ia dapatkan dari rumah yang sudah ditinggalkan Lin Tao.
"Rupanya aku terlambat lebih dari yang aku pikirkan."
⚔️⚔️⚔️
_bersambung_