Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Pembunuh Bayaran



Malam datang, Yi Ze meminta Xiao Yuan dan Jingmi untuk beristirahat sejenak. Dia membuat api unggun dan mengeluarkan makanan yang diberikan Yuhang sebagai bekal.


"Ini apa?" Xiao Yuan mengangkat tangannya yang memegang sebuah dendeng daging sapi. Matanya menyipit dan berusaha melihat dengan jelas makanan di tangannya.


"Itu dendeng daging sapi," Yi Ze menjawabnya, dia memberikan bagian untuk Jingmi juga. Yang langsung dimakan.


"Apakah dia sudah basi?" Xiao Yuan menatap Yi Ze sedikit mengernyit.


Yi Ze memutar bola mata kesal, "Bukan basi. Hanya makanan sisa yang diawetkan. Lagipula tidak setiap hari pamanku memakan daging sapi, setiap kali berkesempatan, dia tidak bisa menghabiskannya dalam sekali makan, selalu dibuat dendeng seperti ini, rasanya tidak kalah enak seperti daging biasa. Benar kan, Jingmi?" Yi Ze bertanya pada Jingmi yang sudah menghabiskan dendengnya.


Jingmi mengangguk, "Yang Mulia, bagi pengawal rendahan sepertiku, bisa memakan dendeng saja sudah sangat lezat, aku berharap kelak Yang Mulia memberi kami daging sapi yang baru dimasak dan masih hangat, pasti lebih lezat."


Xiao Yuan berdecih, "Kau memang hanya tahu makan, kan?" dia memutuskan untuk mencicipinya sedikit. Hanya sebesar kuku jadi kelingking, dan itu sukses membuat matanya terbuka lebar, "Sepertinya benar-benar sangat enak!"


Saat mulutnya terbuka dan dendeng itu nyaris masuk ke mulutnya, Yi Ze tiba-tiba menepisnya dengan tinju. Xiao Yuan memejamkan mata karena terkejut.


Semua orang menatap Yi Ze, Xiao Yuan protes karena Yi Ze menjatuhkan jatah makan malamnya, "Kau ini kenapa? Kalau kurang kan bisa ambil lagi, tidak perlu merebut jatah makan malamku, itu curang! Aku bisa kelaparan!" dia bahkan marah-marah pada Yi Ze di tengah hutan yang senyap ini.


Yi Ze mendengus, "Tidakkah kalian mendengar suara itu? Kau nyaris saja mati!" dia balas menggunakan nada tinggi kepada Xiao Yuan. Dia berjalan ke arah tinjunya barusan, lalu berjongkok, dia mengambil sebuah anak panah, dendeng itu menancap hingga ke tengah anak panah. Lalu dia membawanya ke hadapan Xiao Yuan, "Lihat, kau nyaris mati karena dendeng ini!"


Xiao Yuan terdiam, "Meski begitu, bukan dendengnya yang salah," gumannya pelan.


"Siapa yang berani melemparkan anak panah ini padamu, Tuan Muda?" Yi Ze mengabaikan gumamannya yang absurd.


Xiao Yuan tiba-tiba menarik tangan Yi Ze yang digunakan untuk memukul anak panah itu, Punggung tangan Yi Ze merah, ada goresan yang mengeluarkan darah juga. Melihat luka di punggung tangan Yi Ze, sepertinya anak panah itu melesat cukup cepat.


"Sepertinya dia berniat membunuhku," Xiao Yuan bergumam lagi, matanya masih menatap punggung tangan Yi Ze yang berdarah.


Yi Ze mendengar gumaman itu, dia ikut menatap punggung tangannya yang terluka, dia baru menyadarinya, ketika menyadarinya, rasa perihnya mulai datang, Yi Ze meringis.


Entah inisiatif dari mana, Xiao Yuan mengeluarkan tabung air, lalu mencuci luka Yi Ze dengan bekal airnya sendiri, Yi Ze melihat ke bungkus perbekalan Xiao Yuan, ternyata itu tabung air terakhirnya. Sejenak, Yi Ze merasa tindakan Xiao Yuan saat ini membuatnya tersentuh, perlahan, senyumnya terbit begitu tipis, membiarkan Xiao Yuan mensterilkan lukanya, lalu membalutnya dengan kain.


"Kalau terjadi hal seperti ini lagi, usahakan jangan melukai tubuhmu sendiri, Yi Ze. Aku tidak mau berutang padamu," Xiao Yuan kembali ke posisi duduknya semula. Hal itu membuat Yi Ze sedikit canggung, tapi dia mengangguk untuk menghilangkan rasa canggungnya.


Sepersekian detik kemudian, Yi Ze mengangkat kakinya dan membuat gerakan menendang tepat di depan Xiao Yuan. Gerakan cepat itu kembali menyelamatkan nyawa Xiao Yuan.


"Meski begitu, kau tetap berutang nyawa padaku berkali-kali, Tuan Muda. Orang di sana jelas hanya ingin kau mati!" Yi Ze mengejar tanpa memungut anak panah yang meleset sasaran karena tendangannya. Jingmi berjaga-jaga di belakang Xiao Yuan untuk melindunginya, mereka bergerak cepat mengejar Yi Ze.


Malam ini tidak terlalu gelap, bulan purnama di atas sana tampak jelas, cahayanya menerobos masuk ke dalam hutan, Xiao Yuan dapat menangkap jejak Yi Ze dan mengikutinya, sedangkan Yi Ze masih bisa melihat punggung orang yang berlari itu. Dia memegang busur dan banyak anak panah di punggungnya.


Yi Ze mengeluarkan pedangnya, larinya semakin laju, Xiao Yuan dan Jingmi semakin kesulitan mengejarnya. Yi Ze berhasil mendekati orang misterius itu, pedangnya mematahkan tas anak panah orang itu, belasan anak panah jatuh ke tanah, tapi orang itu tidak mengurangi kecepatan larinya.


Yi Ze nekat menekan kakinya ke sebuah pohon, membuat tubuhnya terpental ke depan, melompat sempurna dan mendarat di atas kepala orang itu, Yi Ze merebut busurnya, kemudian berduel dengannya.


Karena orang ini bertarung tanpa sengaja, Yi Ze melemparkan pedangnya ke sembarang arah, lalu beradu tinju dengan orang itu. Meski bertarung dari jarak dekat, Yi Ze tidak melihat dengan jelas wajahnya, cahaya yang terlalu remang membuatnya sulit memperhatikan wajah pria misterius itu. Jingmi menangkap pedang yang dilemparkan Yi Ze, kemudian membantu Yi Ze meladeni orang yang menyerang mereka.


Yi Ze hanya mengingat ciri-cirinya saja, tubuhnya sedikit gempal, tidak lebih tinggi darinya, tercium bau aneh seperti biji ginkgo. Dan dia tidak memiliki rambut.


Orang itu tiba-tiba menghunuskan sebuah pisau runcing dari balik bajunya, Yi Ze membulatkan mata karena terkejut. Pisau itu nyaris memotong lehernya, Yi Ze mencium bau ginkgo yang lebih menyengat dari pisau tersebut. Jingmi menebaskan pedang ke depan.


Yi Ze melompat ke belakang, mengacungkan ibu jari ke arah Jingmi, sambil terus menghindari serangan. Yi Ze mulai kewalahan saat pria itu terus maju sambil menusuk-nusukkan pisaunya ke segala arah.


"Dia tidak pandai menyerang menggunakan pisau," gumam Yi Ze dalam hati.


"Kenapa kau menyerang Tuan Muda kami?" Yi Ze mencoba bertanya di sela-sela usaha menghindarnya.


Namun, jangankan bersuara, pria itu bahkan tidak bersedia memperlambat gerakannya. Jingmi berusaha membuat pisau itu terlempar, tapi usahanya masih sia-sia.


"Kau pikir dengan menyerangku habis-habisan, kau bisa membunuh Tuan Muda kami begitu saja? Tenang saja! Selagi aku hidup, kau tidak bisa menyentuhnya!" Yi Ze sengaja memancing emosi musuh, "Seranganmu ini sungguh payah, bukan begitu cara menyerang menggunakan pisau, kenapa kau menggunakannya untuk menyerang jika biasanya untuk memotong-motong buah ginkgo? Eh, tunggu, kenapa kau memotong-motong buah ginkgo? Kau menggunakannya sebagai pewangi alami untuk tubuhmu? Payah sekali!"


Pria itu sungguh tidak bisa sabar lagi, dia berdiam diri, menghentikan serangannya, lalu melempar pisaunya ke arah Xiao Yuan yang sejak tadi menonton Yi Ze bertarung.


Yi Ze yang menyadari arah pisau itu bukan ke arahnya, segera berlari sambil memperingatkan Xiao Yuan untuk menepi.


Tapi jangankan minggir, Xiao Yuan bahkan memasang tubuhnya di sana, dengan kuda-kuda mantap, dia menggerakkan pedang Yi Ze ke atas, itu gerakan yang selalu ia lihat saat Yi Ze melatih bela dirinya sendiri saat pagi hari dan waktu luang. Dia merebut pedang itu dari Jingmi yang telah berdiri di depannya sejak Yi Ze menghentikan serangan.


Tapi Xiao Yuan hanya nyengir lebar saja, "Aku berhasil,"


Pisau itu meleset dua langkah, menancap di batang pohon. Yi Ze menahan napas, lalu membuangnya dengan kasar, menyeka keringatnya yang mengucur. Dia tersenyum puas.


Xiao Yuan langsung melemparkan pedang itu ke arah Yi Ze, Yi Ze menangkapnya tanpa celah, lalu mengarahkannya tepat di leher pria itu.


"Katakan padaku! Siapa yang menyuruhmu melakukannya? Aku mungkin bisa mengampuni nyawamu jika kau berani berkata jujur!" Yi Ze menempelkan bilah pedangnya di leher pria itu, goresannya mengeluarkan darah.


Pria itu menendang perut Yi Ze, membuat Yi Ze mundur dua langkah, pria itu dengan cepat menarik kembali pisaunya yang tertancap. Lalu mengarahkannya ke lehernya sendiri.


"Kau pikir bisa mengancam dengan menghabisi nyawaku? Aku memilih bunuh diri dari pada mengatakan semuanya padamu!" pria itu akhirnya bersuara, dia melemparkan kalung yang terikat sebuah gulungan kertas, seekor merpati menangkapnya di lehernya.


Yi Ze berbalik dan memeluk Xiao Yuan, dia tahu apa yang akan dilakukan pria itu. Yi Ze berusaha agar Xiao Yuan tidak melihat sebuah pisau yang merenggut nyawa seseorang seperti pisau yang merenggut nyawa ibunya dulu.


Xiao Yuan terdiam membeku. Yi Ze masih memeluknya. Saat Yi Ze memeluknya, Xiao Yuan teringat kembali masa lalu itu.


Saat malam hari, dia berjalan menuju kediaman ibunya, dia melihat Yuehai kecil yang bersembunyi di balik dinding sambil menangis tersedu tanpa suara.


Xiao Yuan kecil menghampirinya, lalu melihat seseorang sedang mengarahkan mata pisau ke ibunya yang terduduk lemas sambil menangis.


Merasa Yuehai tidak seharusnya melihat itu semua, Xiao Yuan segera memeluknya dari belakang dan menutup matanya, "Yuehai masih kecil, dan aku lebih besar darinya."


Xiao Yuan melihat kejadian itu menggantikan Yuehai, bahwa dirinya yang hanya tiga tahun lebih tua dari Yuehai melihat ibunya dibunuh seorang pria tak dikenal menciptakan trauma berat selama hidupnya.


Penyebabnya adalah Yuehai, Xiao Yuan menyadarinya, kini, Yuehai-lah yang sudah menyembuhkannya dari trauma itu.


"Yi Ze! Aku sudah tahu! Aku sudah tahu sekarang!" Xiao Yuan berseru antusias, dia melepas pelukan Yi Ze dan berlari mengejar burung merpati putih yang sudah pergi cukup lama itu.


Selama berlari, Xiao Yuan memungut busur yang dilemparkan Yi Ze, lalu memungut beberapa anak panah yang terjatuh tak jauh dari tempat Yi Ze bertarung.


Yi Ze mengejar Xiao Yuan, seperti tahu apa yang akan dilakukan murid kurang ajarnya itu. Xiao Yuan mulai mengarahkan busurnya ke atas, dia melihat burung yang membawa gulungan kertas itu.


Tapi tembakannya tidak mengenai sasaran. Xiao Yuan mengambil anak panah lagi, kali ini sama seperti sebelumnya, hanya mengenai udara kosong, justru membuat burung terbang lebih tinggi.


Xiao Yuan mendengus, "Kau membuatku kesal!"


Anak panah ketiga dan keempat terbuang begitu saja, Yi Ze merebut busur dari Xiao Yuan, dan merebut anak panah yang hanya tersisa satu, lalu menembakkannya dengan cepat, melesat ke udara, tepat sasaran! Berhasil menjatuhkan burung itu hanya dengan satu tembakan.


"Lihat, aku lebih mahir darimu," Yi Ze menunjuk dirinya sendiri di depan Xiao Yuan, lalu mendekati burung yang terjatuh itu, mengambil gulungan kertas yang dikalungkan di lehernya.


"Yi Ze, ibumu benar-benar tidak pernah membunuh ibuku. Aku selau memercayai itu sejak kecil. Akhirnya aku berani mengingat kejadian itu lagi. Yi Ze, terima kasih karena kau sudah mau memelukku, kau memelukku seperti aku memelukmu saat itu. Dan aku melihat, seorang pria tinggi menghunuskan pedangnya kepada ibuku. Bukan ibumu yang membunuh ibuku, Yi Ze. Aku sudah mengingatnya!" Xiao Yuan menjelaskan.


Yi Ze tersenyum, akhirnya dia mendapatkan jawaban ini, "Ibuku benar-benar diperlakukan tidak adil oleh orang istana. Aku sakit hati mendengarnya, tapi aku juga senang karena dia tidak benar-benar membunuh sahabatnya sendiri," Yi Ze menyerahkan gulungan kertas itu kepada Xiao Yuan, "Kau ingin mendapatkan ini, bukan?"


"Aku yakin pria misterius itu ada hubungannya dengan kematian ibu. Dia tidak akan membunuhku tanpa alasan, bahkan di tengah hutan seperti ini, jarang ada yang tahu identitasku di luar istana. Dia mungkin sudah mengenalku sejak lama, dan mengawasiku bertahun-tahun," Xiao Yuan membuka gulungan itu.


"Dia mungkin melemparkannya agar kita tidak menemukan petunjuk saat dia memutuskan bunuh diri," Xiao Yuan berkata pelan. Karena terlalu gelap, dia mencari pemantik api, tapi tidak menemukannya di pakaiannya.


"Kau lupa? Kau sudah tidak membawanya sejak sebulan yang lalu," Yi Ze mengeluarkan pemantik apinya, lalu meraih sebuah ranting pohon.


Cahaya dari api yang dihasilkan pemantik api cukup untuk menerangi sekitar mereka. Xiao Yuan membaca pesan dalam gulungan surat, itu terbaca dengan jelas, "Beberapa hari yang lalu Xiao Yuan melakukan perjalanan menuju Shahuang. Tugasmu adalah membunuh tabib yang bisa menyembuhkan Xiao Yuan sebelum mereka menemukannya. Jika tidak bisa, bunuhlah Xiao Yuan dalam perjalanan pulang."


"Bukankah tujuan awalnya adalah membunuh Paman Yuhang?" Yi Ze bertanya heran.


"Dia ingin membunuh Master Yuhang agar aku tidak bisa kembali normal lagi. Mereka pasti gagal membunuh Master Yuhang, baru memutuskan untuk mencegatku di perjalanan pulang."


Xiao Yuan dan Yi Ze saling menatap, jika seperti ini isi suratnya, pasti orang istana yang melakukannya. Tidak mungkin orang luar.


⚔️⚔️⚔️


Bersambung