Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Pohon



Yi Ze mendongak menatap salju yang turun kembali setelah menghilang beberapa hari. Dia mengembuskan napas panjang sambil memeluk tubuhnya yang dingin.


Lalu Jingmi datang sambil membawa teko berisi teh panas, "Nona, ini adalah teh yang kubawa dari istana. Kupikir kau butuh menghangatkan tubuh," dia menyuruh Yi Ze duduk di beranda rumah.


"Bocah tengik itu sudah berapa hari tidur? Dia pikir kita bisa berlama-lama di sini hanya untuk menunggunya bangun?" Yi Ze bersungut-sungut lagi.


Sebelumnya, dia selalu menanyakan hal yang sama setiap pagi datang. Sekarang sudah tiga kali pagi setelah Xiao Yuan tertidur dari penyembuhannya yang dramatis itu.


"Bagaimana jika kau mengajakku berburu, Nona? Kudengar teknik memanahmu tidak kalah hebat dari teknik pedangmu, aku ingin melihat," Jingmi tersenyum.


Yi Ze mengangguk semangat, "Di cuaca dingin ini, akan bagus jika berkeliling mencari sedikit keringat," pungkasnya.


Kemudian mereka berjalan memasuki hutan setelah mengambil busur dan beberapa anak panah, Jingmi sempat menanyakan tentang apakah jumlah anak panahnya kurang, tapi Yi Ze menjawab kalau empat buah ini hanya akan terpakai dua saja.


Saat menunggu binatang buruan mendekat, Yi Ze bertanya pada Jingmi tentang sesuatu yang belum dia ketahui, "Jingmi, sejak kapan kau melayani Putra Mahkota?" ia bertanya.


Jingmi sempat diam sejenak sebelum menjawab, dia tersenyum kecil, "Aku ini seorang yatim piatu, Nona. Dulu aku memiliki seorang adik, saat itu usiaku mungkin baru sepuluh tahun, adikku meninggal karena kelaparan, dan aku tidak tahu kalau aku menguburkannya di tanah milik keluarga kerajaan. Saat itu Yang Mulia Ratu bersikeras agar aku membongkar kembali makam adikku itu, aku menangis sambil menggaruk tanah, hendak mengambilnya kembali," Jingmi berhenti sejenak, dia memperhatikan ke depan.


"Lalu, apa yang terjadi?" Yi Ze bertanya tak sabaran.


"Sebentar, Nona. Di depan ada kelinci salju, kapan kau akan menembaknya?" Jingmi menunjuk ke depan.


Yi Ze menepuk dahi, "Bisa-bisanya kau bercerita sambil memperhatikan gerak-gerik seekor kelinci," dia bersungut-sungut, melepaskan busur dan anak panah, dalam satu tarikan, kelinci itu tergeletak karena anak panah Yi Ze.


"Nona, kau benar-benar hanya membutuhkan satu anak panah saja!" Jingmi berseru kesenangan.


"Kau ambil kelinci itu, kita akan makan daging kelinci untuk makan siang," Yi Ze menyimpan busurnya lagi.


"Kita tidak berburu lagi, Nona?"


"Hutan ini luas, Jingmi. Letak pohonnya begitu renggang, kelinci lain pasti sudah lari jauh setelah melihat temannya mati. Biasanya aku hanya mendapat satu ekor saja setiap kali berburu. Jika ingin kenyang, seharusnya kita berburu serigala saja." Yi Ze berjalan lagi, tangannya sibuk menyibak semak belukar yang menghalangi jalannya.


"Jingmi," Yi Ze memanggil.


"Iya, Nona?"


"Kau belum menyelesaikan ceritamu," Yi Ze mengingatkan Jingmi tentang ceritanya yang terputus.


"Aku sedang bercerita apa memangnya, Nona?"


Yi Ze sampai menghentikan langkahnya, menatap Jingmi tidak percaya, "Kau melupakannya secepat itu?" serunya kesal. Jingmi hanya mengangkat bahu.


"Jingmi, apa yang terjadi dengan makam adikmu?" Yi Ze bertanya lagi dengan sabar. Matanya menatap Jingmi dengan rasa penasaran tinggi.


Jingmi menghela napas, terlihat seperti hendak menjawab dan menceritakannya kembali, "Apa lagi yang terjadi? Tidak ada yang terjadi setelah Yang Mulia Putra Mahkota menghentikan ibunya, dia bahkan membeli tanah itu secara pribadi, laku memberikannya padaku," Jingmi menjawab dengan nada tidak peduli.


Yi Ze mengembuskan napas kasar, "Kau sangat tidak terduga."


"Sejak saat itu, aku bersumpah akan menggunakan seluruh hidupku untuk melayaninya," Jingmi tersenyum puas di akhir cerita.


Yi Ze terdiam, "Cukup mengharukan, tapi tidak cukup membuatku terharu," gumamnya pelan.


"Setidaknya aku mengucap sumpah pengawal dengan kemauanku sendiri. Tidak seperti Qing Yang," Jingmi membela diri.


"Memangnya bagaimana kalau Qing Yang?"


"Dia dulunya pelayan di Harem. Yang Mulia Ratu memberikan Qing Yang untuk kediaman Putra Mahkota, katanya untuk mempermudah tugasku dan Ji Xue," Jingmi mendongak, di atas sana ada beberapa ekor burung yang bertengger di batang pohon.


"Nona, lihat burung-burung itu!" Jingmi menunjuk sambil memelankan suara.


"Oh iya, pergi ke mana Ji Xue? Kudengar dia ikut serta dalam perjalanan ini, tapi tidak melihatnya sejak masih di istana," Yi Ze malah menanyakan hal lain, mengabaikan telunjuk Jingmi yang masih mengarah ke atas.


"Ji Xue sedang berlibur, ibunya baru saja melahirkan, Raja sempat meminta pelayan lain untuk menggantikannya sementara, tapi Putra Mahkota menolak, jadi kami berdua yang mengambil alih pekerjaannya," jawab Jingmi.


Yi Ze hanya mengangguk-angguk, mereka sudah tiba di pekarangan rumah Yuhang. Di depan sana, seorang pria meletakkan kedua tangan di pinggang, sambil menatap mereka berdua dengan tatapan kesal.


"Kalian dari mana saja? Aku sudah lapar! Tega sekali meninggalkanku sendirian di rumah tanpa makanan sama sekali!" serunya.


Yi Ze bergegas berlari, wajahnya senang tiada kira, dia segera memeluk Xiao Yuan, "Yang Mulia, akhirnya kau bangun!"


"Yi Ze, tubuhmu dingin sekali," Xiao Yuan berusaha menyingkirkan Yi Ze darinya.


Yi Ze menatap antusias, "Yang Mulia, racun itu benar-benar sudah hilang!" serunya histeris.


"Bukankah sudah kukatakan, aku pasti bisa melewati hal kecil itu, tubuh ini dilahirkan untuk melawan segala macam racun!"


Yi Ze merasa sedih mendengar ucapan Xiao Yuan barusan itu. Dia seperti tahu penderitaan apa yang dialami Xiao Yuan dua puluh tahun terakhir. Pasti sangat menyiksa.


"Jingmi, ayo kita masak kelincinya! Tuan kita sudah lapar!" Yi Ze berseru ke belakang, lalu berlarian menuju halaman belakang rumah dengan Jingmi.


"Yang Mulia, bagaimana rasanya simulasi masuk neraka?" Jingmi bertanya, membuat Yi Ze terkekeh, "Benar, kau sudah melaksanakan simulasi masuk neraka. Kelak saat kau masuk neraka, tidak perlu takut kepanasan lagi, kau pernah mengalaminya sekali, kan?"


"Enak saja! Kali ini aku akan hidup dengan lebih baik, supaya Tuhan tidak membenciku, rasanya masuk neraka itu sangat menyakitkan!"


⚔️⚔️⚔️


"Yang Mulia, berhubung kau sudah benar-benar pulih, kapan kau akan kembali ke istana?" Yi Ze bertanya pelan.


Saat ini keduanya sedang memancing ikan di dekat air terjun. Ini sudah hari ke-15 mereka di gunung, Xiao Yuan tak kunjung memberi perintah untuk kembali ke istana, dia malah begitu menikmati kehidupan tenang yang dijalani orang biasa.


"Yi Ze, sadarkah kamu, betapa tertekan orang-orang istana itu? Tidak ada tempat yang bisa membuatku nyaman di rumah sebesar itu. Aku lebih suka berada di tempat terpencil ini bersamamu. Bisakah aku tetap tinggal lebih lama?" Xiao Yuan menatap ke depan dengan tatapan kosong, suaranya tidak bertenaga, Yi Ze tahu maksud kalimat Xiao Yuan.


"Yang Mulia, kau memikul tanggung jawab besar. Kau lahir untuk menjadi pemimpin, sudah menjadi takdirmu hidup di istana itu. Kau tidak akan bisa merubahnya hanya karena kehendakmu sendiri. Semua rakyat di negara ini, memiliki harapan padamu," Yi Ze menasihatinya perlahan.


"Lalu, bisakah jika takdir itu selesai, aku memilih untuk menjadi rakyat biasa?" Xiao Yuan bertanya lagi.


Yi Ze tersenyum, "Mungkin kau butuh kehidupan berikutnya, Yang Mulia."


Xiao Yuan menatap Yi Ze, tatapan itu berbeda dari biasanya, tatapan itu begitu lembut, dan penuh perasaan. Tangan Xiao Yuan bergerak menggenggam tangan Yi Ze yang masih bebas.


"Yi Ze, bisakah aku memanggilmu dengan nama Yuehai? Hanya saat kita sedang berdua saja," Xiao Yuan mengajukan pertanyaan.


"Kenapa?"


"Aku hanya merasa lebih nyaman bersama Yuehai dari pada bersama Yi Ze."


"Tapi kami orang yang sama," Yi Ze menatap Xiao Yuan tidak mengerti.


"Kalian berbeda," Xiao Yuan menegaskan, "Yuehai adalah teman masa kecilku. Yi Ze adalah guru bela diriku. Kalian satu orang, tapi dengan perlakuan yang berbeda."


Yi Ze masih tidak mengerti perkataan itu. Kepalanya menunduk, menatap tangan Xiao Yuan yang menggenggam tangannya begitu erat.


"Yi Ze, bisakah kau tidak memanggilku Yang Mulia lagi? Hanya saat kita berdua saja," Xiao Yuan bertanya lagi, dia ingin Yi Ze menjawabnya dengan jelas.


"Yang Mulia, bisakah kau jelaskan dulu maksud perkataanmu ini?" Yi Ze bertanya kembali.


"Aku ingin kau menjadi Yuehai dan aku menjadi Xiao Yuan jika kita hanya berdua. Kau menjadi Yi Ze dan aku menjadi Putra Mahkota saat kita sedang di istana. Bisakah kau menyetujuinya?" Xiao Yuan memasang wajah serius.


Situasi ini, Yi Ze sangat ingin menghindarinya. Bukan karena tidak senang, tapi dia tidak ingin perasaan Xiao Yuan saat ini mejadi lebih serius di hari kemudian. Dia harus mengingat tujuannya datang ke istana.


Pertama kali datang, tujuannya hanya untuk mencari kebenaran tentang kematian keluarga Yuhang. Dia sudah berjanji akan mencarikan jawaban ini untuk Yuhang.


Kedua, setelah tahu ibunya mati di istana, Yi Ze ingin tahu kenapa orang-orang begitu yakin kalau ibu kandungnya adalah pengkhianat. Padahal, meski sudah terpisah sejak usia dua tahun, Yi Ze seperti sudah mengenal seperti apa ibunya itu, dia tidak mungkin berkhianat.


Ketiga, dia sudah mencapai tugas terakhir ini. Datang untuk menjadikan dirinya sebagai Jenderal Besar Pasukan Selatan. Yi Ze tidak boleh terlibat perasaan dengan orang-orang istana.


Saat menyukai Pangeran, Yi Ze berhasil mengendalikan hatinya, dia bahkan menolak perasaan Pangeran dengan begitu tegas. Berkata kalau dia sama sekali tidak berhak menjadi siapapun di antara keluarga terpandang mereka.


Kali ini, dia pasti bisa mengendalikan hatinya lagi, menjadi Yuehai sekaligus Yi Ze sedikit merepotkan baginya, apalagi Yi Ze tidak mengingat masa lalu itu sedikitpun. Dia sekarang hanya Yi Ze yang diberi tugas untuk mengawasi dan mengajari latihan Xiao Yuan.


Yi Ze tersenyum kecil, "Yang Mulia, jika kau ingin menganggapku sebagai Yuehai, maka anggap saja begitu. Tapi aku tidak bisa melupakan tata krama seorang pelayan kepada tuannya, guru kepada muridnya. Kau orang yang memiliki derajat begitu tinggi, aku tidak bisa menyebut namamu begitu saja, Yang Mulia," Yi Ze memberi nasihat lagi, "Sekarang aku adalah Yuehai dan Yi Ze untukmu, kau tetap Xiao Yuan kesayangan Shuiquan."


Xiao Yuan terdiam sejenak, "Yuehai, apa kau tidak ingat masa kecil kita? Dulu kau hanya memanggilku Xiao Yuan, ibumu memarahimu karena tidak sopan, tapi kau langsung menangis begitu ibumu menggendongmu pergi," air katanya turun.


"Yang Mulia, kita saat itu hanya anak kecil. Aku hanya anak usia dua tahun yang bahkan berbicara pun masih asal-asalan. Kau tidak bisa mengungkit masa-masa memalukan itu di masa sekarang, kau simpan saja sebagai kenangan," Yi Ze tersenyum kecil.


Mereka mengakhiri percakapan itu begitu saja, Yi Ze mengajak Xiao Yuan kembali ke rumah begitu sudah mendapat ikan yang cukup.


Rencananya, mereka akan turun gunung besok pagi. Jingmi sudah menyiapkan semuanya agar lebih cepat.


⚔️⚔️⚔️


Sebelum pulang, Yi Ze menemui Yuhang di belakang rumah. Hari itu, dia belum menemukan jawaban dari apa yang dia tanyakan pada Yuhang.


"Paman, apakah ibuku memiliki makam?" Yi Ze menanyakannya kembali.


Yuhang berjalan keluar dari rumahnya, Yi Ze mengikuti dari belakang. Ternyata tujuannya adalah air terjun itu. Yi Ze bertanya-tanya kenapa Yuhang berhenti di tempat yang sering sekali dia kunjungi ketika tinggal di sini.


"Ibumu tidak memiliki pemakaman yang layak, Yi'er. Orang istana membakarnya tanpa sisa. Tidak ada yang mengadakan upacara pemakaman untuk seorang yang dianggap pengkhianat seperti dia," jawaban itu akhirnya keluar.


Yi Ze tampak mengepalkan telapak tangannya. Wajahnya tampak marah dan kecewa, bagaimana mungkin ibunya begitu dipandang rendah hingga jasadnya bahkan dibiarkan lenyap begitu saja.


"Oleh karenanya, begitu sampai di sini, aku menanam pohon untuknya. Pohon ini sudah kutanam sejak sebelum aku bertemu denganmu pertama kali hari itu. Aku merawatnya, menganggapnya sebagai makam ibumu. Aku melaporkan semua yang kulakukan padamu dan apa yang kau lakukan untuknya melalui pohon ini," Yuhang berjongkok, meletakkan telapak tangannya di tanah tempat pohon itu tumbuh.


Pohon itu sudah besar. Yi Ze menatapnya tanpa berkedip, dia merindukan ibunya, dia terduduk di depan pohon itu, "Paman, kau bilang ibuku adalah rakyat Beizhou paling rendah sepanjang sejarah, bahkan mayatnya pun tidak ada yang mengurus. Kenapa kau suka rela menumbuhkan pohon ini untuknya? Kenapa kau rela mencariku dan mengajariku segalanya padahal tahu aku adalah anak dari rakyat rendah itu?" Yi Ze bertanya dengan suara serak.


Yuhang memeluk pundaknya, "Tanpa perlu dijawab pun, kau tentu sudah tahu jawabannya, Yi'er. Kau tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa ibumu. Dan ibumu tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa Ratu Yang Lama. Dia tidak pantas mendapatkan perlakuan sekejam itu dari orang-orang. Dan aku hanya membantunya menjalankan tugas sebagai orang tua. Orang tua palsumu, tidak mampu melakukan apa yang kulakukan untukmu. Kau bahkan sudah memakan buah dari pohon yang kutanam untuk ibumu, kan? Kau sudah harus mengakuiku sebagai keluarga sejak saat itu."


Yi Ze menghela napas pelan, "Kelak, aku harus terus berterima kasih padamu, Paman. Kepergianku kali ini, dengan membawa sumpah baru. Aku bersumpah akan membersihkan nama ibuku dan mencari jawaban yang kau butuhkan."


Yuhang tersenyum mendengarnya, "Kau pulanglah, aku senang kau masih mengingatku dan mengunjungi rumahku," Yuhang menepuk pundak Yi Ze. "Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya padamu sekarang, Yuehai. Aku tidak ingin kau membenciku terlalu cepat," gumamnya dalam hati.


⚔️⚔️⚔️


Bersambung