
Tok tok tok!
"Yang Mulia! Ji Xue membawa surat dari Nona Yi."
Putra Mahkota membuka pintunya sebesar satu jengkal, "Lemparkan saja!"
Ji Xue menurutinya, melemparkan gulungan surat itu melalui celah yang terbuka.
"Kau keluarlah! Jangan bawakan aku makan siang, aku tidak lapar!"
Ji Xue membungkuk, kemudian keluar dari Shuiquan dengan wajah yang terus bersungut-sungut. Putra Mahkota terdiam sebelum memungut gulungan surat dari Yi Ze. Dia mulai berpikir apakah tindakannya berlebihan?
Wajahnya mendongak menatap langit abu-abu melalui jendela yang tak pernah tertutup sejak dia terbangun itu. Bagaimanapun, nyawanya sekarang milik Yi Ze. Dia harusnya begitu berterima kasih pada Yi Ze yang selalu menyelamatkan nyawanya. Terakhir kali, bahkan mengorbankan nyawanya sendiri.
Putra Mahkota menghela napas panjang, "Memang aku yang terlalu berlebihan," gumamnya pelan, lalu memungut surat itu.
"Aku pergi ke militer selama satu bulan dua belas hari, tidak bisa bertemu denganmu selama itu. Selama tidak bertemu, bisakah jaga kesehatanmu? Jangan menyalakan lilin di malam hari apalagi siang hari. Jangan menyentuh senjata apapun sebelum aku kembali, kau boleh memegangnya saat aku membeli pelajaran saja. Makanlah makanan yang sudah dingin, jangan coba-coba memakannya jika masih hangat. Kau tahu sendiri kau tidak boleh berhubungan dengan sesuatu yang panas. Lakukan saja meski semuanya terasa berat. Aku sudah berjanji akan segera menemukan solusinya. Satu lagi, jika kamu marah hanya karena aku ternyata Lin Yuehai, maka anggap saja kau tidak pernah mengetahui hal itu. Apapun identitasku dulu, sekarang aku hanyalah guru berpedangmu saja. Tidak tahu apa yang terjadi setelah tugasku selesai."
Putra Mahkota tersenyum kecil, "Tentu saja kau sekarang hanya guru berpedangku. Besok, bisa jadi kau akan menjadi calon ratu negara ini. Identitas lamamu harus dirahasiakan, lagipula siapa yang ingin kau kembali diburu ratusan pasukan kerajaan setelah 19 tahun menghilang." Putra Mahkota mencari pemantik api. Nyaris melupakan apa yang baru saja dia baca di dalam surat itu.
"Ah, aku tidak boleh berdekatan dengan api," dia bergumam sendiri, pemantik api tidak dia temukan, "Tentu saja, benda-benda seperti itu sekarang terlarang di kamarku."
"Ji Xue! Qing Yang!" sekarang dia berseru memanggil para pelayannya.
Qing Yang lari terbirit-birit mendengar seruan kencang dari kamar Putra Mahkota. Segera berlutut dan memberi salam.
"Bakarkan surat ini untukku. Kau tidak boleh membukanya," dia menyerahkan gulungan surat itu pada Qing Yang, memintanya untuk membakarnya di luar.
Qing Yang membawanya keluar, mencari tempat yang sepi. Sesekali wajahnya menoleh ke sana kemari, baru setelah memastikan tidak ada siapapun, dia mengeluarkan gulungan surat Putra Mahkota.
Tangannya tidak langsung menyalakan pemantik api. Tapi justru membuka suratnya terlebih dahulu sambil bergumam, "Isinya apa sampai begitu dirahasiakan?"
"Qing Yang!"
Belum sempat membukanya, Qing Yang dikejutkan dengan seruan Ji Xue dari belakang. Qing Yang segera mengeluarkan pemantik apinya, lalu menyapa Ji Xue, "Kau membuatku terkejut."
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ji Xue mendekatinya, bertanya dengan wajah ceria, lalu matanya tertuju pada gulungan surat yang dipegang Qing Yang.
"Ini surat yang diberikan Nona Yi untuk Putra Mahkota, kan? Kenapa bisa ada padamu?" Ji Xue bertanya penasaran.
Qing Yang tersenyum sebelum menjawabnya, "Putra Mahkota memintaku membakarnya. Entah apa isinya, sepertinya memang sangat rahasia."
Ji Xue mengangguk-angguk, "Dia hanya sedang kesal saja. Apalagi Putra Mahkota orang yang tidak mau menyimpan sampah seperti ini di dalam kamar, asal isinya sudah tersampaikan, sudah tidak penting lagi, bukan berarti isinya sangat rahasia. Kau bakar saja, setelah itu, bisakah ikut aku ke Lusenrin? Aku baru saja dipanggil Yang Mulia Raja untuk mengantarkan sesuatu ke Shuiquan."
Qing Yang membakarnya, lalu pergi setelah memastikan surat itu benar-benar terbakar. Benar, tidak ada alasan baginya untuk penasaran dengan urusan Putra Mahkota, kan?
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze dalam perjalanan ke kamp militer selatan yang berada di Kota Yu. Dia dijemput langsung oleh perwira Pasukan Selatan yang katanya sangat gagah ini.
"Kudengar namamu Yi Ze," pemuda itu membuka percakapan.
Yi Ze mengangguk, "Aku sudah banyak mendengar tentang Tuan Muda Feng sejak di istana. Sebuah kehormatan bisa bekerja sama dengan Tuan Muda Feng di militer," senyumnya tidak pernah tertinggal. Feng Shui adalah pria tegas yang hidup di lingkungan militer sejak kecil.
"Aku juga banyak mendengar tentang Jenderal Besar Yi sebelum berangkat menjemputmu. Kudengar juga kau guru berlatih pedang Putra Mahkota?"
Yi Ze mengangguk lagi, "Semua yang kau dengar semuanya benar."
"Putra Mahkota adalah orang yang sulit dipelajari, kan? Dua tahun lalu dia membuat pedangku patah hanya dengan satu lemparan. Setelah itu, aku berlutut di depan Yang Mulia Raja untuk tidak mengajarinya lagi." Feng Shui tertawa renyah.
"Kau pernah menjadi gurunya juga?" Yi Ze bertanya tertarik pada pria berusia 27 tahun itu.
Feng Shui tertawa, "Semua perwira pernah mengajarinya. Bahkan Jenderal Besar Pasukan Timur juga pernah melakukannya. Yang Mulia Raja mengatakan kalau putranya harus bisa berperang karena statusnya sebagai Putra Mahkota. Tapi kami semua tidak mampu melakukannya."
Yi Ze merenung, "Mungkinkah dia hanya menurut padaku?"
"Kau mengatakan apa tadi?" Feng Shui mendekatkan kepalanya.
Yi Ze tersentak sedikit, "Tidak apa-apa," dia tersenyum kikuk.
"Oh iya, perjalanan kita memakan waktu tiga hari. Malam ini kita akan bermalam di daerah Taiyang. Ada penginapan besar yang menyediakan banyak kamar, kita bisa memesan kamar di sana."
Yi Ze mengangguk, menyetujui ide Feng Shui. Bagaimanapun, kuda mereka butuh istirahat dan makanan, juga delapan orang prajurit yang berjalan di belakang mereka pastinya lelah.
"Berapa lama lagi tiba di Taiyang?" Feng Shui bertanya pada prajurit yang berjalan di belakang kereta kuda mereka.
"Sekitar sepuluh kilometer lagi, Perwira!"
Yi Ze mengintai melalui jendela, jalanan yang mereka lalui lancar, tidak ada gundukan salju yang menghalangi. Hanya beberapa genangan air yang terkadang mengganggu. Langit jingga nampak indah dengan paduan awan yang berwarna senada. Udara dingin menerpa wajah Yi Ze.
"Kita tiba setelah matahari tenggelam, Jenderal," Feng Shui menjawab kekhawatiran Yi Ze
"Aku tidak khawatir dengan perjalanan malam. Hanya saja sepuluh kilometer itu jauh, mereka belum mengisi perut dengan apapun selama satu hari penuh. Bisakah hentikan dulu kudanya?" Yi Ze meminta pada Feng Shui untuk berhenti sebentar.
Dia keluar dari kereta kudanya dengan membawa bingkisan makanan yang disiapkan pelayan kediamannya, "Kalian, duduklah sebentar."
Para prajurit yang sudah berjalan jauh itu saling tatap. Mungkin seumur hidup mereka, belum pernah menemukan Jenderal Besar yang menghentikan kuda ditepi jalan hanya untuk membagikan makanan.
"Ambil satu orang satu lembar," Yi Ze membagikannya.
Salah satu dari mereka bertanya dengan bingung, "Untuk apa ini, Jenderal?"
Yi Ze mengernyit, "Kalian tidak lapar? Kalian berjalan begitu jauh tanpa henti. Makanlah sesuatu, aku tidak suka prajurit yang meninggalkan jam makannya hanya untuk perjalanan seperti ini."
"Aku tahu kalian semua adalah prajurit terlatih yang profesional. Tapi kita tidak sedang di medan perang. Tidak penting apakah membuang waktu atau tidak, yang penting adalah kalian tidak boleh meninggalkan jam makan kalian. Dan juga, ini perintah pertamaku untuk kalian. Belum apa-apa sudah dibantah saja," Yi Ze berkata kesal, membuat para prajurit itu mau tidak mau mematuhi perintahnya.
"Ingat, Tuan Muda Feng. Pelatihan memang penting. Tapi kesehatanlah yang lebih penting. Lagipula ini bukan hal yang harus diperdebatkan. Kalian hanya perlu makan, tidak akan menghabiskan waktu sepuluh menit, setelah itu kita bisa berjalan lagi," Yi Ze juga membagikan kendi berisi air. Dia masuk ke dalam kereta lagi. Feng Shui menyusulnya.
"Jenderal, maafkan kami. Kami belum pernah bekerja dengan Jenderal sebaik dirimu sebelumnya. Kami belum terbiasa melakukannya. Kelak, kami akan membiasakan diri lagi," Feng Shui menunduk.
"Aku tahu, hanya sepele tidak perlu diseriuskan."
Di luar kereta, prajurit-prajurit itu sedang membicarakan pemimpin baru mereka.
"Kudengar, dia wanita yang menyelamatkan nyawa Putra Mahkota."
"Tak kusangka dia sangat tegas dan baik hati."
"Kita beruntung sekali memiliki pemimpin sepertinya."
"Kelak kita tidak akan kesulitan di bawah kepemimpinannya."
⚔️⚔️⚔️
Di Shuiquan, Putra Mahkota memanggil Ji Xue untuk menyiapkan merpati mahal untuk mengirimkan suratnya pada Yi Ze
Ji Xue tersenyum tipis, "Yang Mulia. Apakah Yang Mulia baru saja memberikan sebuah hadiah pada Nona Yi?" Ji Xue bertanya setelah melaporkan bahwa merpati itu sudah dia siapkan.
Putra Mahkota berhenti menulis, "Hadiah?"
"Hari itu, Nona Yi sempat meminta pendapat pada Ji Xue. Dia meminta saran tentang apa yang akan Ji Xue lakukan jika seorang teman memberi hadiah sambil mengungkapkan perasaan," Ji Xue menceritakan curahan hati Yi Ze pada Putra Mahkota.
Hal itu membuat Putra Mahkota berpikir. Dia memang sempat memberikan sebuah tali pengikat rambut, tapi tidak sampai mengungkapkan perasaan seperti yang Ji Xue katakan.
Putra Mahkota langsung menatap Ji Xue tajam, "Lancang sekali! Kau menceritakan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan! Aku memang memberikan hadiah, tapi tidak sampai mengungkapkan perasaan! Lagipula hadiah itu dia sendiri yang menginginkannya. Kau lancang sekali melebih-lebihkan ceritanya!"
Ji Xue segera berlutut dengan wajah bersalah, "Mohon maafkan Ji Xue yang bersalah ini, Yang Mulia. Ji Xue tidak bermaksud," ucapnya dengan perasaan menyesal yang dibuat-buat.
"Sudahlah, keluar!" Putra Mahkota kembali meraih kuasnya.
Ji Xue keluar sambil bersungut-sungut, "Apakah itu benar-benar temannya? Bukan kisahnya sendiri?"
⚔️⚔️⚔️
Pukul sembilan pagi, rombongan Yi Ze meninggalkan Taiyang. Beberapa menit yang lalu, seekor merpati hinggap di atas kereta kuda mereka, prajurit di belakang melihatnya membawa gulungan surat kecil. Lalu menyerahkannya pada Yi Ze.
"Cepat pulang, aku ingin belajar cara membunuhmu."
Yi Ze mengernyit heran membaca isi surat itu, "Hanya itu saja? Berani sekali dia."
"Sepertinya Jenderal begitu kesal dengan pengirim surat ini," Feng Shui tertawa kecil mendengar celetukan Yi Ze.
Yi Ze menatapnya yang tengah terkekeh, "Pengirimnya adalah muridku di istana, dia sedang sakit tapi tidak mau mengakuinya," sungutnya kesal.
Feng Shui terdiam, "Sakit Putra Mahkota ini, bukan sakit yang bisa ditanggung orang lain, Jenderal," pendapatnya keluar.
Yi Ze menghembuskan napas, itu adalah salahnya, "Aku tahu, aku paling tahu karena akulah yang mengambil keputusan ini. Sebelum melakukannya, aku tahu betul konsekuensi yang akan kuhadapi di masa mendatang. Aku berjanji akan mencarikan solusinya," senyumnya mengembang.
"Sebenarnya, selain warga Lembah Chi sendiri, tidak ada yang mengetahui banyak tentang Racun Bunga Rumput Merah itu. Mereka bahkan tidak memiliki penawarnya, terlebih lagi orang luar. Aku tidak yakin ada yang benar-benar bisa menyembuhkannya," Feng Shui mengungkapkan kekhawatirannya.
"Jika aku menyerah sebelum mencobanya, aku akan sangat merasa bersalah seumur hidupku. Jika tidak melangkah, siapa yang tahu ada apa di depan sana?" Yi Ze menjawab mantap.
Feng Shui tersenyum bangga dengan perkataan Yi Ze, "Izinkan aku membantu sedikit, Jenderal. Tidak tahu apakah benar-benar berguna atau tidak. Hanya saja, aku mendengar kisah masa lalu tentang seorang jenderal hebat yang tahu masalah medis melebihi tabib manapun."
Yi Ze menatapnya lebih penasaran, "Benarkah? Jenderal yang mana? Di mana aku bisa menemuinya? Syarat apa yang dia perlukan agar mau menyembuhkan pasien seperti Putra Mahkota?"
Feng Shui terdiam cukup lama, "Hanya saja ..."
"Hanya saja apa lagi?!" Yi Ze berseru gemas.
"Hanya saja, tidak ada yang tahu di mana keberadaan Jenderal Hebat itu. Sebelum meminta tolong padanya, kau harus menemukan persembunyiannya dulu."
"Persembunyian?"
Feng Shui mengangguk, "Jenderal Hebat ini sudah lama tidak menunjukkan dirinya pada dunia. Ada rumor yang mengatakan bahwa dia sudah mati, ada juga yang tiba-tiba bilang bahwa dia berpapasan dengan Jenderal Hebat itu di jalanan pasar. Tidak mudah mencari informasi tentangnya, terlalu banyak rumor yang menyebar, tidak ada yang bisa menjamin kebenarannya," jelas Feng Shui.
"Apakah ada informasi umum yang diketahui seluruh warga Ibukota?" tanya Yi Ze.
Tentu saja Feng Shui mengangguk, "Dia menghilang sejak terjadi insiden mengerikan di istana sekitar 19 tahun yang lalu," Feng Shui mulai menceritakannya.
Mendengar kalimat '19 tahun lalu', Yi Ze teringat dengan masa lalu yang dialami ibunya dan Permaisuri Hua Jin. Mengingat kalimat itu, hanya membuatnya kembali bersedih.
"Jenderal Hebat itu harus kehilangan keluarga kecilnya di bulan yang sama dengan insiden di tahun itu. Dia mengundurkan diri dari jabatannya untuk mencari pembunuh yang melenyapkan nyawa anak dan istrinya. Ada rumor yang mengatakan kalau pembunuh Permaisuri yang sudah membunuh keluarga Jenderal Hebat itu. Tapi rumor itu tidak dapat dipercaya. Jenderal Hebat tidak berhubungan apa-apa dengan pembunuh Ratu," jelas Feng Shui, "Yang kutahu, dia amat terkenal di dunia persilatan, namanya adalah Master Yuhang. Kudengar juga dia sangat sulit dijumpai."
Yi Ze langsung tahu kalau yang dibicarakan Feng Shui adalah gurunya. Dia mengetahui semua cerita masa lalu itu dari orang-orang yang dia temui sepanjang perjalanan. Tapi, apakah Master Yuhang benar-benar bisa menyembuhkan sakit Putra Mahkota? Mengingat dahulu Master Yuhang-lah yang sudah menunjukkan lokasi Bunga Kelopak Panjang yang menyelamatkan nyawa Putra Mahkota.
"Feng Shui. Hentikan keretanya sebentar!" Yi Ze berseru, membuat kuda-kuda di depan berhenti mendadak.
Yi Ze tiba-tiba turun, lalu melepas salah satu kuda, "Kalian kembalilah ke kamp! Aku tidak bisa mengunjungi militer bulan ini. Ada urusan yang tiba-tiba harus kuselesaikan!" Yi Ze melesat meninggalkan rombongannya.
Bodo amat soal hukuman, dia akan menjalaninya setelah tiba di Beizhou.
⚔️⚔️⚔️
Bersambung.