Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Hatiku Tak Pernah Membicarakannya



Yi Ze meminta Ji Xue dan yang lainnya untuk merahasiakan masalah tentang Putra Mahkota yang hilang di kediamannya.


"Bukankah kalian bilang, tidak ada yang mengunjungi Shuiquan belakangan ini?" Yi Ze bertanya pada ketiga pelayan Putra Mahkota itu.


Ketiganya mengangguk, "Jangan beritahu siapapun tentang kejadian ini. Karena Yang Mulia Raja belum tahu tentang sakit Putra Mahkota yang kambuh, dia tidak akan panik. Aku akan mencarinya secepat mungkin. Besok, jika ada yang mencarinya, katakan dia pergi ke luar istana bersamaku," Yi Ze memberi perintah pada mereka.


"Tapi, Nona, selama ini Putra Mahkota tidak pernah keluar istana. Kupikir, mengatakan kalau kau membawanya keluar istana tanpa memberitahu Raja, kau akan dihukum," Jingmi terlihat keberatan.


"Yang terpenting sekarang adalah menemukan keberadaannya. Itu hanya rencana cadangan seandainya aku tidak menemukannya hingga besok. Soal hukuman, aku akan mempertanggungjawabkan perkataanku sendiri, kalian tidak akan terlibat," Yi Ze menggenggam erat pedangnya, memulai pencarian dengan menyisir seluruh area istana.


Dua jam berkeliling, Yi Ze tetap tidak menemukan Putra Mahkota di dalam istana. Dia tiba-tiba teringat sebuah nama yang disebutkan Putra Mahkota saat tidur tadi pagi. Yi Ze berpikir kalau Putra Mahkota mungkin pergi dari istana untuk mencarinya.


Dia memutuskan keluar dari istana pukul empat pagi, mencari Putra Mahkota ke kota terdekat dengan istana. Mengabaikan sarapannya, berjalan tanpa istirahat sama sekali, mencarinya tanpa henti.


Yi Ze berkali-kali bertemu rakyat yang membutuhkan bantuannya, berkali-kali juga dia membantu mereka, bertanya apakah mereka kebetulan bertemu seorang pemuda tampan yang berpakaian bangsawan.


Namun, mencarinya seperti itu bukanlah hal yang mudah, di kota besar itu, tentu saja banyak pemuda bangsawan yang lewat.


Tiba diujung kota, Yi Ze sampai ke perbatasan Kota Hai'an. Dia tahu Kota itu dulunya adalah kampung halamannya, tapi dia tidak ingat di mana rumahnya dulu, juga tidak ingat kapan pindah ke Shanjiao.


Kota itu terletak di tepi pantai, Yi Ze  mencari lagi sudut demi sudut. Berharap Putra Mahkota masih berada di sekitar Beizhou.


Tiba di bibir pantai, Yi Ze melihat pemuda kasar itu duduk termenung di depan sebuah rumah kosong yang menghadap ke laut sambil memegang kendi kecil berisi arak. Orang itu tampak frustasi.


Yi Ze mendekatinya, berniat memarahinya.


"Malam itu, ketakutanku datang lagi," Putra Mahkota justru memulai perbincangan bahkan sebelum Yi Ze membuka mulutnya.


Yi Ze membatalkan niatnya untuk memarahi Putra Mahkota, dia menyembunyikan pedangnya di belakang. Takut Putra Mahkota sakit lagi.


"Setiap kali sakit, pikiranku dipenuhi kejadian mengerikan di masa lalu. Dan aku tidak selalu bisa mengendalikannya," Putra Mahkota mendongak, menatap Yi Ze yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.


"Yang Mulia, kau sedang dipenjara," Yi Ze membuka suara, tetap berdiri diam di tempatnya.


Putra Mahkota menatapnya bingung.


"Seseorang yang tidak bisa melupakan masa lalu, berarti orang itu terpenjara di masa lalu. Tidak bisa keluar dari zona mengerikan itu, kehilangan pintu, kehilangan kunci."


Putra Mahkota menatapnya lebih baik, "Terpenjara?"


"Jika kau tidak mau melupakannya, akan sulit bagimu untuk sembuh dari ketakutan yang selalu membayangimu. Karena kau selalu melarikan diri, maka dia tidak akan berhenti mengejar, kecuali kau mau menghadapinya, perlahan pasti akan hilang," Yi Ze tersenyum, "Oleh karena itu, Yang Mulia. Cobalah menghadapi ketakutanmu, jangan biarkan dia membuatmu lemah hanya karena kejadian yang telah lalu," Yi Ze memberikan semangat.


Putra Mahkota menghela napas, "Jika semudah mulutmu bicara, sudah kulakukan sejak kecil."


Yi Ze tertawa dalam hati, "Putra Mahkota. Waktu itu tidak pernah berbalik arah, masa lalu tidak pernah berada di depan, pagi tidak akan berbalik kembali malam, yang telah lewat, tidak akan bisa terulang."


Putra Mahkota terdiam, menatap laut dan mendengarkan debur ombak yang kian meninggi. Perahu nelayan terombang-ambing, angin berhembus kencang.


"Yang Mulia, jika kau tidak bisa melepaskannya. Cobalah untuk mencarinya." Yi Ze berkata lagi.


"Siapa yang tidak bisa melepaskan siapa?" Putra Mahkota bertanya acuh.


"Bertanyalah pada hatimu sendiri."


"Hatiku tidak pernah membicarakannya."


Maka Yi Ze sungguh terdiam. Dia sudah kehilangan kalimat bijaknya, hanya bisa menunggu Putra Mahkota menceritakannya.


"Saat kecil, aku memiliki teman yang seperti adik sendiri. Usianya mungkin sama seperti Adik Ketiga. Sebuah insiden membuat kami berpisah hingga sekarang."


Yi Ze tidak berkomentar, tetap menunggu Putra Mahkota melanjutkan ceritanya.


"Hanya saja, bagiku, insiden itu memiliki keganjalan sendiri. Tapi aku tidak berani membicarakannya lagi, setiap kali mengingatnya, aku selalu jatuh sakit, tiba-tiba merasa panik atau cemas akan hal yang tidak kuingat dengan jelas."


"Jika boleh bertanya, keganjalan apa yang dimaksud Yang Mulia?"


Putra Mahkota menenggak araknya lagi, "Yang diketahui Ayah, pelakunya adalah ibu temanku itu. Tapi yang aku lihat, pembunuh itu sama sekali berbeda dengan ibu temanku."


Yi Ze menatapnya tidak percaya, " Itu artinya, terjadi kesalah pahaman pada saat itu Yang Mulia, membuat seseorang yang sebenarnya tak bersalah harus mengorbankan nyawanya tanpa melalui proses pengadilan apapun. Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan gadis itu hingga hari ini. Dia mungkin melewati banyak penderitaan selama dia hidup."


Putra Mahkota tidak menanggapi.


"Yang Mulia, aku akan membantumu menemukan gadis itu. Selain berusaha melawannya, bertemu gadis itu adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan ketakutanmu. Aku berjanji, aku pasti akan membantumu mencarinya," Yi Ze menepuk pundak Putra Mahkota sambil tersenyum.


⚔️⚔️⚔️


Di kediaman Permaisuri Xiulin, pelayannya, Lian Shen melaporkan kalau Putra Mahkota tidak berada di Shuiquan.


"Orang kita melaporkan kalau tadi malam Putra Mahkota tidak terlihat di kediamannya, guru bela dirinya keluar istana untuk mencarinya, hingga pagi ini belum kembali."


Xiulin tersenyum, "Lihat apakah kita bisa memanfaatkan hal ini untuk membuat Raja menghukum dan memarahinya," Xiulin berjalan keluar dari kediamannya, "Hari ini aku akan berkunjung ke Shuiquan, sudah lama sekali tidak mengunjunginya, sejak tidak meracuni makanannya lagi."


"Tadi malam aku bermimpi buruk mengenai Putra Mahkota, karena hatiku merasa tidak tenang, aku memutuskan untuk mengunjungi kediamannya. Apa aku boleh bertemu dengannya?" Xiulin bertanya pada Ji Xue sambil memasang wajah prihatin.


Ji Xue membagi tatapannya dengan Zhou Jingmi. Keduanya memang tidak tahu rencana tersembunyi Selir yang diangkat menjadi Permaisuri ini, tidak bisa melarangnya, tapi tidak bisa juga membiarkannya masuk sebelum Yi Ze kembali.


"Mohon Permaisuri maafkan Ji Xue, Putra Mahkota baik-baik saja, Permaisuri tidak perlu mengunjunginya dulu hari ini," Ji Xue menjawab dengan kepala menunduk.


Xiulin terdiam sejenak, "Apa kau tidak tahu penderitaan seorang ibu yang sedang merindukan putranya?"


Ji Xue dan Zhou Jingmi saling menatap lagi, apa yang dikatakan Xiulin ini?


"Meski dia bukan putra kandungku, tapi dia juga anakku. Aku menyayanginya seperti menyayangi anak-anakku yang lain. Kau masih tidak membiarkanku masuk?" Xiulin mulai mempertegas tujuannya.


"Mohon Permaisuri maafkan Ji Xue, Putra Mahkota sedang fokus dengan latihannya. Dia meminta Ji Xue dan Jingmi untuk tidak membiarkan siapapun mengganggunya," Ji Xue menjawab lagi.


Xiulin memasang wajah khawatir, "Apakah aku tidak boleh mengkhawatirkan putraku sendiri? Sebenarnya apa yang kalian berusaha tutup-tutupi sehingga berani melawan aku seperti ini?" kemarahannya mulai terpancing.


Bentakan penuh drama itu membuat Pangeran berjalan mendekat, dan ingin tahu yang sebenarnya ibunya perbuat. Hanya saja, ketika melihat dia sedang berseteru dengan bawahan Putra Mahkota, Pangeran membatalkan niatnya untuk melerai.


"Permaisuri, Ji Xue  dan Jingmi tidak berniat menutup-nutupi apapun, hanya saja Tuan Muda kami tidak ingin ditemui siapapun hari ini," Ji Xue menunduk lagi.


Xiulin pergi begitu saja. Dia berjalan menuju Lusenrin (kediaman Raja) untuk melaporkan kejadian pagi ini pada suaminya.


"Wu Xiulin memberi salam kepada Raja, semoga Raja panjang umur dan selalu diberkati," dia berlutut saat memasuki kediaman Raja.


Raja menuntunnya untuk duduk, kemudian bertanya apa yang dikeluhkan Ratu hingga berjalan terburu-buru.


"Yang Mulia, Xiulin semalam bermimpi buruk. Xiulin mengkhawatirkan Putra Mahkota kita, berfirasat sesuatu terjadi padanya. Hingga Xiulin memutuskan untuk mengunjungi kediamannya, tapi Xiulin dibuat terkejut melihat perlakuan para bawahan Putra Mahkota yang tidak membiarkan Xiulin bertemu Putra Mahkota di saat sedang mengkhawatirkannya," Xiulin menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar saat berhadapan dengan Raja.


"Apa yang mereka katakan saat kau menemuinya?" Raja bertanya lembut.


"Xiulin menjawab. Mereka bilang putra kita sedang fokus dengan latihan bertarungnya. Tidak ingin diganggu siapapun," Xiulin memang menjawab seadanya.


"Itu artinya dia memang sedang bersemangat dengan latihannya. Kulihat guru barunya ini sangat bersungguh-sungguh mengajarinya kali ini. Aku yakin dalam beberapa tahun ke depan, Putra Mahkota sudah bisa ikut berperang di medan perang. Kau juga hanya bermimpi buruk, putra kita baik-baik saja," Raja justru tersenyum dan mengabaikan perkataan Permaisuri.


"Yang Mulia. Bukankah Xiulin katakan kalau Xiulin sedang mengkhawatirkannya? Kenapa dia tidak ingin bertemu meski Xiulin menangis di depan kediamannya? Apakah seorang anak akan membiarkan ibunya memohon seperti itu?" Xiulin sengaja melebih-lebihkan ceritanya, dengan cara itu Raja baru mau bertindak.


"Jika sudah seperti itu, itu memang sudah berlebihan. Kita menuju Shuiquan sekarang." Raja berdiri, memutuskan untuk memeriksanya sendiri.


"Aku khawatir Putra Mahkota sebenarnya tidak ada di kediamannya. Firasatku tidak baik, ditambah para bawahannya tidak mau membiarkanku masuk, bukankah Putra Mahkota tidak pernah keluar sebelumnya? Aku khawatir terjadi sesuatu padanya, apa lagi dia tidak memberitahu siapapun jika memang pergi keluar istana."


"Kau jangan khawatir, kita akan memeriksanya. Putra Mahkota tidak mungkin keluar dari istana, dia tidak mengetahui jalan di luar sana."


Pada akhirnya, Raja tahu kalau Putra Mahkota memang tidak berada di Shuiquan. Ji Xue mengatakan kalau dirinya dan yang lain sudah lalai menjaga majikan, dan bersedia di hukum.


Raja memberikan titah kepada pengawalnya untuk turut mencari Putra Mahkota. Wajahnya terlihat marah atas yang telah terjadi itu.


Tapi pengawal itu belum meninggalkan istana, Yi Ze sudah datang membawa Putra Mahkota pulang. Xiulin berlari dengan wajah khawatir itu, memeluk Putra Mahkota dan menangis, "Putraku, kau dari mana? Aku tengah khawatir terjadi sesuatu padamu."


"Ibu, Yuan baik-baik saja," Putra Mahkota hanya berusaha melepas pelukannya tanpa melakukan apapun.


Yi Ze berlutut di depan Raja, "Mohon Raja memaafkan kesalahan Yi Ze, membawa Putra Mahkota keluar berlatih di lapangan luas tanpa meminta izin dari Yang Mulia," Yi Ze menunjukkan ketulusannya.


"Kau tahu, tindakanmu ini membuat permaisuriku merasa khawatir. Dan Putra Mahkota bukan orang yang bisa asal dibawa ke mana saja. Bahaya bisa mengintai kapanpun, kau tahu persis dengan semuanya. Kenapa nekat sekali membawanya pergi tanpa pengawal sama sekali," Raja memarahi Yi Ze


"Mohon Raja menghukum Yi Ze atas kesalahan ini. Yi Ze akan menerimanya dengan suka rela," Yi Ze tidak mengurangi ketulusannya sama sekali.


Di belakang sana, Pangeran merasa ingin bertindak saat Yi Ze mengatakan itu. Jelas dia tidak ingin wanita yang disukainya terluka karena hukuman ayahnya.


"Ayah, mohon Ayah memaafkan Yuan, Yi Ze tidak bersalah, aku yang memintanya membawaku keluar, kami menyelinap keluar istana tanpa diketahui siapapun, bagaimanapun, aku ingin belajar dengan fokus tanpa dijadikan tontonan penghuni istana. Yi Ze mengetahui lokasi berlatih yang sangat strategis hingga aku tidak sabar ingin berlatih di luar. Mohon Ayah memaafkan Yi Ze dan menghukum Yuan dengan pantas," Putra Mahkota ikut berlutut, berusaha membalikkan cerita agar Yi Ze tidak dihukum ayahnya.


"Yi Ze. Apakah benar begitu?" Raja bertanya sekali lagi pada Yi Ze


Yi Ze terdiam, "Yi Ze tidak berani, Yang Mulia."


Raja menghela napas, "Sudahlah. Kalian berdua sama-sama sudah bersalah. Kalian berdua akan sama-sama dihukum. Xiao Yuan, kau tidak boleh keluar dari Shuiquan satu minggu ke depan. Yi Ze tidak boleh menemui Putra Mahkota satu minggu ke depan. Semoga kalian tidak berencana pergi diam-diam lagi seterusnya. Kau juga harus sering-sering mengunjungi kediaman ibumu, Putra Mahkota. Lihatlah dia yang sudah sangat merindukanmu." Raja menuntun Permaisuri untuk kembali ke Lusenrin.


Terlihat Yi Ze dan Putra Mahkota mematuhinya, tapi Xiulin masih tampak keberatan. Adapun Pangeran, setengah senang setengah tidak. Setengah senang karena Yi Ze tidak diberi hukuman berat dan justru tidak boleh bertemu Putra Mahkota untuk beberapa saat. Setengah tidak senang karena sepertinya hubungan mereka telah semakin dekat. Pangeran merasa, ini adalah sebuah ancaman yang diberikan kakaknya itu.


Sebelum keduanya berpisah, Yi Ze bertanya pada Putra Mahkota, "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Kenapa kau begitu memercayaiku untuk hal ini? Kau bahkan ringan saja menceritakan sesuatu yang telah lama menjadi rahasiamu. Padahal kita hanya sebatas guru san seorang murid durhaka saja," Yi Ze mengalihkan pandangannya ke luar.


Putra Mahkota tidak terpancing dengan kalimat terakhir Yi Ze, sebaliknya, dia menjawab dengan tulus dan jujur, "Karena aku ingin mengandalkanmu, Yi Ze."


Yi Ze terdiam.


"Aku ingin mulai memercayaimu. Aku ingin mulai menghormatimu sebagai guruku. Kau akan menjadi guru bela diriku yang terakhir."


⚔️⚔️⚔️


Bersambung