Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Obat dan Kain



Mereka duduk di taman luas yang menghadap Kediaman Shuiquan (kediaman Putra Mahkota). Pangeran menatap kakaknya yang sedang duduk-duduk santai dari kejauhan. Di sampingnya, Yi Ze hanya diam menunggu Pangeran berbicara duluan.


"Wah ... kau mengagumkan, Yi Ze. Benar-benar mengagumkan. Bagaimana bisa kau membuatnya bergerak hanya dalam beberapa ucapan?" Pangeran mengurangi kecanggungan disekitarnya dengan berbicara lebih dulu.


Sebenarnya, bukan itu yang sangat ingin dia sampaikan. Dia hanya keberatan melihat Yi Ze melakukan aktivitas sehari-harinya sebagai guru bertarung Putra Mahkota. Dia tidak suka jika Yi Ze akan menjadi dekat dengan Xiao Yuan.


"Hmm ... sebelumnya, aku sebenarnya berharap kau akan mundur saja, Yi Ze," Pangeran mulai mengutarakan maksud kedatangannya.


"Kenapa?" Yi Ze bertanya pendek.


"Hanya saja, akan sulit bagimu untuk merubah kepribadian Kakak Pertama," Pangeran melihat Xiao Yuan yang tampaknya sedang memarahi salah satu pelayannya.


Temperamennya buruk sekali. Semua orang tahu itu, tak heran jika para guru terdahulunya lebih memilih mundur dari pada maju saja melanjutkannya.


Yi Ze tersenyum, "Aku tak tahu kalau kau mengkhawatirkanku sedemikian rupa. Tapi aku berada di sini untuk mengikuti perkataan guruku, Pangeran Kedua. Aku ingin menggunakan kemampuanku dengan baik, mengabdi kepada negara. Dan kebetulan inilah proses yang akan membawaku menuju impian itu."


Pangeran terdiam mendengar cerita Yi Ze. Dia memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Tapi adalah hal yang salah jika perasaannya justru menghalangi jalan menuju masa depan Yi Ze


"Tapi, Yi Ze. Apa kau tidak mengkhawatirkan Master Yuhang? Di usianya yang tak lagi muda, mungkin dia tidak bisa hidup sendiri. Apa kau akan membiarkannya sendirian saja?" tapi Pangeran masih berharap kalau Yi Ze berubah pikiran saja.


Yi Ze mengangguk, "Aku mengkhawatirkannya, Pangeran. Tapi aku tidak ingin kembali ke sana," Yi Ze berhenti sejenak, "Jika kembali ke sana, aku mungkin tidak bisa bertemu denganmu lagi."


Pangeran terpaku mendengarnya. Mendadak, pipinya terasa begitu panas, padahal salju baru saja turun membuat permukaaan tanah menjadi putih.


⚔️⚔️⚔️


Pagi-pagi sekali, Yi Ze melakukan aktivitasnya bersama Ji Xue dan para pelayan lain. Dia melakukannya dengan baik, membantu pelayan yang kesulitan. Dia juga mengangkut banyak kayu bakar, berwadah-wadah air.


"Apakah ini akan dibawa ke kamar Putra Mahkota?" Ji Xue bertanya pada rekannya yang sudah menyiapkan satu nampan besar berisi nasi beserta lauk-pauknya.


"Benar, ini untuk Putra Mahkota."


Ji Xue tampak marah, "Sudah kukatakan sebelumnya, bukan? Makanan yang akan dibawa ke kamar Putra Mahkota tidak boleh diberi irisan bawang. Jika dia sampai menyadarinya, telinga kalian pasti akan terpotong dengan sendirinya bahkan sebelum dia menyentuhnya," Ji Xue merebut nampan itu, kemudian memasak lauk yang baru, lalu hendak membuang lauk yang pertama.


"Eh, kenapa dibuang?" Yi Ze mencegahnya, bertanya heran.


"Putra Mahkota tidak akan menyukainya, Nona Yi. Lebih baik dibuang dari pada Putra Mahkota melihatnya," Ji Xue menjawab lembut.


"Dia harus memakan apapun yang kalian sediakan, bahkan jika kalian memberikan ikan hidup sekalipun. Dia tidak boleh merendahkan kalian hanya karena beberapa irisan bawang saja," Yi Ze merebut nampan itu dari Ji Xue, "Kau tidak perlu memasaknya lagi, Ji Xue. Buat lauk untuk Pangeran atau Tuan Putri saja. Aku akan mengantarkan yang ini pada Putra Mahkota," Yi Ze berjalan dengan nampan yang nyaris dibuang itu.


"T-tapi, Nona!" Ji Xue berlari mengejarnya.


"Nona! Kau bisa dimarahi jika melakukan itu!" Ji Xue terus mengejarnya.


"Nona! Tolong dengarkan aku!"


Yi Ze akhirnya menghentikan langkahnya, menatap Ji Xue yang akhirnya bisa berhenti berlari, "Nona Yi, jangan lakukan!" Ji Xue berseru heboh.


"Hei, apa itu memang kebiasaanmu?" Yi Ze menaikkan satu alisnya.


Ji Xue mengernyit heran, "Hah?"


"Berteriak meski lawan bicaramu tidak terlalu jauh," Yi Ze kembali berjalan.


"Itu karena aku mengkhawatirkanmu, Nona! Tolong dengarkan aku, jangan lakukan!" Ji Xue hendak merebut kembali nampan itu dari Yi Ze.


"Memang sudah tugasku membuatnya marah. Jika tidak marah, dia tidak akan mau melatih bela dirinya yang buruk itu," Yi Ze menjelaskan maksudnya, "Aku justru berterima kasih kepada pelayan yang memasak hidangan ini, yang membuatkannya dengan irisan bawang begitu banyak," Yi Ze tertawa renyah.


"Kau kembalilah ke dapur, beritahu pada pelayan itu untuk tidak perlu memasak makanan Putra Mahkota lagi. Aku akan datang setiap pagi untuk membuat sarapan Putra Mahkota." Yi Ze berjalan riang menuju Shuiquan.


Yi Ze menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Putra Mahkota. Mengetuknya dua kali, kemudian masuk ke dalam.


Seperti yang sudah diduganya, Xiao Yuan masih bermalas-malasan di atas ranjang, tidak menyadari seseorang masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


Yi Ze melempar garpu ke arah Xiao Yuan tertidur lelap. Garpu itu menancap di dinding yang hanya berjarak 2 centimeter dari mata Xiao Yuan setelah bunyi suara 'jlep' yang mengerikan.


Mata Xiao Yuan refleks terbuka, melotot dengan wajah yang begitu terkejut. Napasnya menderu karena takut garpu itu akan merobek matanya.


"Bangunlah sebelum aku melemparkan lebih banyak garpu lagi!" Yi Ze berseru kesal.


"Heh! Yang seharusnya kesal itu aku! Penjaga! Kenapa kau diam saja? Orang ini asal menerobos masuk ke kamar Putra Mahkota!" Xiao Yuan berteriak marah.


"Mohon ampun, Putra Mahkota. Yang Mulia Raja memerintahkan kami untuk diam saja," kasim di luar bahkan menjawab sambil berteriak.


"Hilang sudah tata krama yang dibangun leluhurku gara-gara wanita gila ini," Xiao Yuan masih bersungut-sungut, dirinya beringsut duduk meski kepalanya masih pusing karena dibangunkan dengan cara paksa.


Yi Ze menyodorkan sarapan yang dia bawa dari dapur. Menyuruh Xiao Yuan menghabiskannya.


Begitu mengunyah, Xiao Yuan terkejut karena rasanya aneh. Dia memuntahkannya ke dalam mangkuk yang masih berisi lauk, dan melihat dia hanya memakan irisan bawang. Matanya melotot penuh dendam ke arah Yi Ze.


"Kau sengaja, ya?!" Xiao Yuan semakin marah mengetahui makanannya berisi banyak bawang, tangan kanannya bergerak menarik Yi Ze keluar dari kamarnya, tangan kirinya memegang mangkuk berisi lauk yang barusan dia muntahi.


Xiao Yuan menyeretnya begitu kasar, menumpahkan isi mangkuk ke atas kepala Yi Ze, kemudian melemparkan mangkuk itu ke arah dahinya.


Yi Ze merintih kesakitan, mangkuk itu melukainya, dahinya bahkan berdarah, tapi Xiao Yuan enggan peduli. Masuk begitu saja ke dalam kamar.


Tapi Yi Ze tidak menyerah begitu saja, dia meninju punggung Putra Mahkota, kemudian kakinya melangkah mundur.


"Kau belum bisa menjatuhkanku, Putra Mahkota. Itu artinya, kau akan terus makan dengan lauk yang dipenuhi bawang setiap harinya. Sampai kau bisa menjatuhkanku. Aku berjanji akan memberikan apa saja yang kau mau, setelah aku jatuh karenamu," Yi Ze menyeka darah yang mengucur dari dahinya meski terus keluar.


"Aku menyimpan dendam yang besar padamu, Wanita Gila. Aku punya alasan untuk menjatuhkanmu, bukan sekadar menjatuhkan saja," Xiao Yuan melangkah mengejar Yi Ze yang terus mundur menuju lapangan luas.


Orang-orang memperhatikan mereka berdua bertarung, wajah-wajah mereka antusias, beberapa takut Xiao Yuan akan terluka, beberapa lagi terlihat bersemangat dan menunggu Xiao Yuan terjatuh.


Xiao Yuan berkali-kali dipukul mundur, tapi Yi Ze tidak bergerak dari tempatnya sama sekali. Darah di dahinya membahasi bahunya, tapi Yi Ze bahkan tak meringis sekalipun.


Di tepi lapangan, Putri Lanhua menyeret Pangeran Kedua untuk melihat Yi Ze bertarung dengan Putra Mahkota.


Sejauh ini, Yi Ze lebih sering bertahan dari pada balas memukul lawan. Saat Xiao Yuan lengah dengan napas menderu, Yi Ze memukulnya lebih keras dari serangan-serangan sebelumnya.


Xiao Yuan terpental dua langkah, terjatuh berdebam, sikunya terluka karena menggores tanah. Orang-orang yang menonton mulai berseru tertahan, beberapa berlarian, termasuk Ji Xue dan teman-temannya, sibuk mencari obat dan kain untuk membalut luka kecil itu, tidak lupa sambil berseru-seru, "Putra Mahkota terluka! Putra Mahkota berdarah! Putra Mahkota terluka! Putra Mahkota berdarah!"


Yi Ze menghela napas panjang, menatap muridnya yang masih terduduk di tanah yang tampak tidak memedulikan luka di lengannya, meski merasa kesakitan karena dia sendiri sedang terluka


Yi Ze mengulurkan tangannya, membantu Xiao Yuan berdiri. Meski Xiao Yuan menepisnya, Yi Ze tidak marah, bahkan menepuk pundak muridnya, "Kerja bagus, Putra Mahkota."


Xiao Yuan menatapnya, wajahnya tampak datar, tidak kesal seperti sebelumnya. Menatap Yi Ze dengan tatapan datar membuatnya terlihat lebih lembut dari sosok pemarah yang biasa berhadapan dengan Yi Ze


"Jika kau bertarung dengan caramu yang tadi, tenagamu hanya akan terkuras dengan cepat. Musuh akan mengambil kesempatan selagi kau lengah. Lebih baik mempertahankan energimu dulu hingga lawanmu lengah, baru menggunakan tinju sekuat mungkin untuk menjatuhkan lawanmu. Trik tipuan juga akan sangat berguna. Apalagi saat menggunakan panah atau pedang. Saat kau siap, aku bersedia mengajarinya untukmu," Yi Ze menjelaskan sambil tersenyum, kemudian menuntun Xiao Yuan duduk di tepi lapangan.


Ji Xue kembali dengan kain dan obat, Yi Ze dengan tenang mencuci luka Putra Mahkota, lalu mengolesinya dengan obat, dan membalutnya dengan kain. Xiao Yuan menatapnya terus-menerus, melupakan kesalnya sejenak.


Dia bahkan memikirkan luka di dahi Yi Ze, "Dia bahkan tidak memikirkan lukanya," gumamnya dalam hati.


"Pastikan mengganti kainnya setiap bangun tidur, supaya lukamu tidak terinfeksi," Yi Ze tersenyum lembut, mengembalikan obatnya kepada Ji Xue.


"Sebaiknya Putra Mahkota segera beristirahat, aku akan menyiapkan makan siang untukmu tiga puluh menit lagi," Ji Xue menunduk pamit.


"Aku juga harus pergi. Beristirahatlah sejenak," Yi Ze berpamitan juga, menyusul Ji Xue yang berjalan lebih dulu.


"Nona Yi, apakah aku perlu membersihkan lukamu juga?"  Ji Xue menawarkan bantuan.


Yi Ze menggeleng, "Tidak perlu, ini luka kecil biasa." 


"Aku tidak menyangka Putra Mahkota akan terdiam seperti itu selagi kau bicara, Nona," Ji Xue kembali memujinya.


Yi Ze hanya terkekeh kecil, "Dia tidak sebodoh yang kukira. Dia bahkan bisa bertahan selama satu jam di medan pertarungan. Aku bahkan kekelahan melayaninya," tawanya mengeras.


Ji Xue mengangguk, "Tentu saja. Dia berganti guru lebih dari lima belas kali. Dia memahami sedikit teknik dasar bela diri, kami juga sering melihatnya berlatih sendirian di taman Shuiquan. Meski setiap kali melihat pedang, dia akan melemas dan tak sadarkan diri setelah panik beberapa saat," Ji Xue menceritakan sedikit tentang Putra Mahkota.


Yi Ze mengangguk, "Aku mengerti."


"Nona, sebaiknya kau obati dulu lukamu, baru kembali ke dapur jika ingin membantu kami," Ji Xue menyarankannya untuk pulang terlebih dahulu.


Yi Ze menggeleng, "Aku hanya perlu mandi dan membasuhnya dengan air. Ini tidak terlalu parah."


"Tidak bisa," seruan seseorang membuat keduanya menghentikan langkah.


"Pangeran Kedua!" Ji Xue membungkuk sedikit, menghormati kedatangan salah satu putra raja ini.


"Kenapa kau datang ke sini, Pangeran?" Yi Ze bertanya pelan.


Pangeran tidak menjawab, tangannya bergerak menarik tangan Yi Ze, "bawakan obat dan kain ke kamar Yi Ze," dia menyuruh Ji Xue membawakan obat dan kain.


"Tapi aku harus pulang ke kediaman, Pangeran. Kau mau menemaniku mandi, ya?" Yi Ze tertawa jahil.


⚔️⚔️⚔️


Di kamarnya, Xiao Yuan sedikit memikirkan Yi Ze, dia bahkan tidak berbaring di ranjangnya, memilih tetap berdiri sambil memegang sikunya yang terluka.


"Dia bahkan mengobati lukaku meski aku sudah melukainya," kepalanya dipenuhi pikiran semacam itu.


"Aku seperti seorang pengecut yang tidak tahu diri," Xiao Yuan berjalan mendekati jendela. Menatap kamar Yi Ze dari kejauhan.


"Apa dia baik-baik saja? Apa dia kembali ke kediamannya?"


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus membayangi pikirannya. Tapi tidak tahu harus bertindak seperti apa. Dia hanya merasa terlalu kasar pada pendekar wanita itu. Bahkan melukai kepalanya, yang seharusnya tidak dilakukan penerus tahta sepertinya.


Xiao Yuan memutuskan untuk menyusul Yi Ze ke kamarnya. Dia menghampiri Ji Xue yang sedang menyirami bunga-bunga di depan Shuiquan.


"Bawakan aku obat dan kain," Xiao Yuan berkata padanya.


Ji Xue mengangguk, lalu melangkah hendak mengambilkannya. Dia tidak mengira kalau Xiao Yuan membutuhkan itu untuk Yi Ze, padahal Yi Ze sudah pergi dengan Pangeran.


Tak sampai satu menit, Ji Xue kembali dengan nampan berisi air, obat dan kain. "Yang Mulia hendak mengganti perban lagi? Bukankah harus setiap bangun tidur?"


Xiao Yuan mendengus, "Bukan urusanmu."


Xiao Yuan segera berjalan menuju kamar Yi Ze di Kediaman Pelayan, tempat di mana Yi Ze beristirahat di istana.


Xiao Yuan tidak melihat Yi Ze di kamarnya, dia bertanya kepada pelayan yang duduk-duduk di depan kediaman, mereka menjawab kalau Nona Yi sudah pulang ke Kediaman Qingchu bersama Pangeran Kedua.


"Kenapa Pangeran Kedua bisa menemaninya pulang ke Qingchu?" Xiao Yuan terlihat marah.


"Kudengar dia ingin mengobati luka di dahi Nona Yi, Yang Mulia."


Dia merasa kesal, kepalanya membayangkan adegan romantis terjadi di antara keduanya. Dia berpikir Yi Ze pasti suka berduaan dengan adik keduanya yang tampan itu.


Dia berjalan kembali lagi ke kamarnya, melemparkan nampan berisi air, obat dan kain ke arah Ji Xue, "Aku tidak membutuhkannya lagi!"


⚔️⚔️⚔️


Bersambung