
Dalam perjalanan ke istana, Yi Ze, Pangeran dan Zhang Ping berhenti di Kota Tianhu untuk makan malam. Yi Ze meletakkan pedangnya di atas meja dan mulai makan.
Pangeran menatap pedang itu dengan seksama, "Kenapa kau selalu membawa pedangmu ke mana-mana? Padahal kau bisa menyimpannya di kuda, kan?" tanya Pangeran kepada Yi Ze.
"Tidak bisa, ini pemberian dari pamanku, aku harus menjaganya dengan baik," Yi Ze menuangkan arak ke dalam cangkir.
Zhang Ping tersenyum, "Rupanya orang tua bodoh itu memberikan pedangnya padamu," sahutnya.
"Kau tahu tentang pedang ini?" Yi Ze bertanya penasaran.
"Tentu saja, Yuhang menggunakan pedang itu untuk memenggal banyak sekali kepala musuh. Dia memakainya belasan tahun selama menjadi Jenderal Selatan. Tentu saja aku tahu. Tak kusangka belasan tahun pensiun, dia memutuskan memberikan pedang itu pada murid tunggalnya."
Yi Ze menghela napas, "Ternyata pamanku benar-benar pernah mengabdi untuk negara," dia sebenarnya sedikit kecewa karena tidak mendengar cerita membanggakan ini dari gurunya sendiri.
Zhang Ping mengangguk, "Tentu saja, dia adalah Jenderal Besar Pasukan Selatan, semua pasukan dari segala arah menunduk padanya, jenderal pasukan lain tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan Master Yuhang di militer."
Yi Ze tersenyum, "Aku hanya ingin tahu kenapa Paman Yuhang menyembunyikannya dariku."
Zhang Ping menepuk pundaknya, "Heiyo, Xiao Guniang. Kau tidak perlu sedih. Yuhang hanya tidak ingin menceritakan hal yang menurutnya menyedihkan di depan murid tunggalnya." (Xiao Guniang adalah panggilan untuk Gadis Kecil)
"Bukankah dia harus senang saat menceritakan masa gemilangnya kepadaku?" tanya Yi Ze.
"Meski begitu, baginya itu bukan hal yang menyenangkan diceritakan. Yuhang kehilangan keluarganya setelah kembali dari perang. Sejak saat itu dia memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya. Dan hidup menyendiri di Gunung Shahuang." Zhang Ping menjelaskannya.
"Kalau begitu, kau seharusnya tahu nama aslinya, bukan?" Yi Ze bertanya antusias, "Kau teman lamanya, kau pasti tahu nama guruku yang sebenarnya kan?"
Anehnya, Zhang Ping mengernyit heran, "Nama yang mana yang kau maksud, Nak? Aku mengenalnya hanya dengan satu nama, Yuhang saja, tidak ada nama lain."
Yi Ze terlihat kecewa mendengarnya, "Saat aku menanyakan namanya, dia bilang dia melupakan namanya, lalu memintaku memanggilnya dengan nama itu."
Zhang Ping berpikir setelah mendengar cerita Yi Ze, "Mungkin dia berganti nama sebelum terkenal sebagai Jenderal Selatan. Atau aku saja yang tidak mengetahui fakta itu. Lebih baik tidak kau pikirkan, Xiao Guniang. Kau jaga pedang itu dengan baik, kelak jika kau berkeliling dunia, gunakan pedang itu dengan baik."
⚔️⚔️⚔️
Kedatangan mereka disambut baik oleh keluarga kerajaan. Pertama kali, Raja Wangwei tidak menerima kedatangan Yi Ze. Bilang kalau memercayakan nyawa Putra Mahkota kepada orang luar itu tidak boleh dan berbahaya.
Tapi Pangeran terus meyakinkan ayahnya kalau Yi Ze sudah menyelamatkan nyawa Tabib Zhang Ping yang dipatuk ular berbisa. Juga menemaninya mencari tumbuhan obat itu. Bahkan menemukannya untuk Putra Mahkota.
Raja Wangwei menatap Zhang Ping, berharap yang dikatakan putranya tidaklah benar. Tapi Zhang Ping justru mengangguk, "Gadis ini memang menyelamatkan perjalanan kami, Yang Mulia."
Akhirnya Yi Ze dipersilakan masuk ke Istana Kerajaan Wangwei, pusat pemerintahan Beizhou itu. Dia membantu tabib-tabib kerajaan meracik bunga langka yang dia petik sendiri.
"Wah ... kau benar-benar Anak Hutan. Aku bekerja sebagai tabib selama lebih dari sepuluh tahun, tapi aku belum pernah melihat bunga ini barang satu detik," ucap tabib yang memakai baju biru tua.
"Kau benar, aku juga baru tahu ada tumbuhan seperti ini," Tabib Zhang Ping menimpali.
Yi Ze tersenyum, "Nama tumbuhan ini adalah Bunga Kelopak Panjang. Jenisnya memang banyak, bahkan dikelompokkan dalam jenis laki-laki atau perempuan," jelasnya singkat. Tangannya sibuk mengipasi kayu bakar agar apinya terus menyala. Dia sedang memasak air.
"Woah! Kami belum pernah mendengarnya, coba ceritakan lebih banyak," mereka tertarik membahasnya.
Yi Ze mengangguk senang, "Aku kurang tahu, tapi pamanku bilang, Bunga Kelopak laki-laki tidak berbentuk panjang seperti ini, bentuk kelopaknya lebih pendek, dan warnanya lebih terang dari Bunga Kelopak Perempuan. Bunga Kelopak Panjang laki-laki juga tidak memiliki kandungan obat, melainkan racun yang sangat mematikan. Dia mudah ditemukan di hutan yang lembab dan dingin. Berbeda dengan Bunga Kelopak Panjang perempuan. Yang akan berguna sebagai penawar berbagai penyakit mematikan jika dicabut hingga ke akar-akarnya, dan akan menjadi racun yang lebih berbahaya dari Bunga Kelopak Panjang laki-laki jika hanya dicabut tangkai bunganya saja. Meski begitu, kita tetap hanya menggunakan kelopaknya saja. Bunga Kelopak Panjang perempuan juga lebih sulit ditemukan dari pada Bunga Kelopak Panjang laki-laki. Kami bahkan menembus badai dan mendaki lereng gunung untuk menemukannya."
Para tabib kerajaan itu mengangguk antusias. Bunga itu diletakkan di atas piring kecil. Tidak ada yang berani menyentuhnya setelah mendengar penjelasan Yi Ze.
"Apakah jika memotongnya sembarangan, dia akan menjadi racun juga?" tanya Tabib Zhang Ping.
Yi Ze menggeleng, "Tidak seperti itu cara kerjanya. Racun itu mengalir di dalam batang bunganya. Jika memotong batangnya, maka kandungan obat di kelopak bunga akan hilang karena cairan dalam batang itu mulai mengalir ke segala arah secara tak terkendali. Itu yang membuat bunga ini malah jadi racun," Yi Ze mengambil bunga cantik itu, panjang kelopaknya sekitar 10 cm, "Putik bunganya juga jangan sampai terbawa. Kita hanya membutuhkan kelopaknya saja."
Yi Ze mengambil pisau, kemudian memotong satu-persatu kelopak bunga itu, jaraknya tidak boleh terlalu dekat dengan batang bunga. Para tabib antusias memerhatikan Yi Ze mengekstrak kelopak bunga itu.
Yi Ze mengambil gelas kecil, mengisinya dengan air panas. Kemudian menjatuhkan kelopak itu ke dalam gelas. Membiarkannya melarut ke air.
Selang beberapa waktu, air yang semula jernih berubah warna menjadi biru jernih. Kelopak bunga itu mengecil, kemudian menghilang ditelan air.
Yi Ze menyajikan air satu kali teguk ini dengan air hangat. Dia meminta izin kepada para tabib untuk membawa obat racikannya ke kamar Putra Mahkota.
Raja bertanya, "Apa yang akan kau jadikan jaminan jika obat buatanmu malah membahayakan Putra Mahkota?"
Yi Ze menunduk, "Aku mempertaruhkan nyawaku untuk Putra Mahkota, Yang Mulia."
Raja berpikir sejenak, kemudian meminta kasim membukakan pintu kamar Putra Mahkota. Membiarkan Yi Ze masuk dan menerapkan pengobatannya.
"Yang Mulia, aku adalah Yi Ze dari Gunung Shahuang. Membawakan obat untuk kesembuhanmu. Jika Yang Mulia bersedia untuk duduk, aku akan segera mengobati Yang Mulia," Yi Ze berlutut di depan ranjang Putra Mahkota.
Laki-laki berusia 24 tahun itu berbalik, para pelayan membantunya duduk. Putra Mahkota berusaha menatap Yi Ze lebih baik. Tapi rasa pusing membuatnya tidak memedulikan apapun.
Yi Ze meminumkan ramuan itu kepada Putra Mahkota, lantas segera memberikan air hangat untuk meringankan efek rasa pahit ramuan.
Yi Ze menyarankan agar Putra Mahkota kembali tidur. Maka ketika bangun, tubuh Putra Mahkota akan kembali sehat seperti sedia kala.
⚔️⚔️⚔️
Kini, semua orang menunggu Putra Mahkota terbangun dari tidurnya. Tapi Putra Mahkota tak kunjung bangun. Tidurnya sangat nyenyak hingga mulai membuat orang-orang istana khawatir.
Yi Ze ditahan dan tidak boleh pergi ke mana pun hingga Putra Mahkota bangun. Ia berkata siap untuk dipenggal jika obat itu benar-benar membahayakan Putra Mahkota.
Para tabib yang sebelumnya membantu kini mulai bergosip, berkata kalau sebelumnya mereka pun meragukan keajaiban tumbuhan aneh itu. Tapi Yi Ze tetap tenang, dan terus menunggu dengan sabar. Dia yakin obat itu bisa menyembuhkan Putra Mahkota.
Berkali-kali Raja mendatangi kediaman putranya, bertanya apakah dia sudah bangun. Lagi-lagi para pelayan menjawab belum, membuat Raja semakin khawatir dari sebelumnya.
"Tunggulah, Yang Mulia. Obat itu bereaksi besar ketika peminumnya tertidur pulas. Hal ini sama sekali tidak membahayakan, malah semakin pulas tidurnya, semakin besar potensi sembuhnya," Yi Ze menjelaskan dengan rendah hati.
"Kau bilang bunga itu langka. Bagaimana kau tahu prosedur pengobatannya?" Yang Mulia Raja justru masih mencurigai Yi Ze
Yi Ze menunduk, "Aku banyak membaca buku obat-obatan, Yang Mulia, juga mengenal beberapa tumbuhan obat langka. Prosedur pengobatannya sama seperti biasanya, Yang Mulia. Di mana siapapun yang tengah sakit, akan tertidur setelah diminumi obat menawar. Tunggulah, Yang Mulia."
Gadis itu bahkan tidak diberi makan selama penahanannya. Putra Mahkota tertidur selama dua hari. Wajar jika ayahnya mulai khawatir putranya tak akan bangun.
"Itu menunjukkan seberapa parah penyakit yang diderita Putra Mahkota, Yang Mulia. Putra Mahkota baru akan bangun jika di tubuhnya sudah tidak ada lagi sebutir pun penyakit," Yi Ze menyembunyikan rasa laparnya.
Di belakangnya, Pangeran Kedua menatap penuh kekhawatiran. Dia merasa bersalah karena membiarkan Yi Ze ikut dalam perjalanan pulangnya. Jika Yi Ze tidak ikut, mungkin yang berdiri di sana bukan Yi Ze, tapi dirinya.
Ketika malam tiba, Pangeran Kedua diam-diam mendatangi tempat penahanan Yi Ze Membawa kotak makanan, berharap Yi Ze mau memakannya.
Kedatangannya dihalangi dua orang penjaga, Pangeran Kedua memaksa masuk dengan memberikan masing-masing satu tael emas. Mereka dengan senang menerimanya.
"Yi Ze!" Pangeran berseru pelan.
Yi Ze segera menoleh, melihat Pangeran yang dengan santai memasuki penjara. Membuka kotak-kotak makanan, "Makanlah. Kau tidak makan selama berhari-hari."
Yi Ze terkekeh, "Aku tidak memikirkan makanan. Karena bisa saja besok nyawaku akan hilang."
Pangeran terdiam karena candaan tidak lucu yang dilontarkan Yi Ze, "Maka setidaknya makan dulu sebelum mati."
Yi Ze malah tertawa renyah. Kemudian meraih sendok yang ada di tangan Pangeran, mulai menyuap nasi dan lauknya. Pangeran tetap di sana menunggu hingga Yi Ze menghabiskan makanannya. Yi Ze tertidur setelah Pangeran pergi.
⚔️⚔️⚔️
Pagi-pagi sekali, Yi Ze terbangun karena teriakan para kasim yang menjaga kamar Putra Mahkota,"Putra Mahkota sudah bangun! Putra Mahkota sudah bangun!" teriakan itu membuat orang-orang istana ikut panik, berlarian menuju kamar Putra Mahkota.
Tapi sebaliknya, para penjaga penjara justru memperketat penjagaan Yi Ze. Khawatir orang asing ini akan melarikan diri jika terjadi sesuatu kepada Putra Mahkota.
Yi Ze tetap tenang mengalaminya. Terlebih, perutnya kenyang, Yi Ze tidak khawatir akan kelaparan lagi. Kabar itu membuat Yi Ze senang. Putra Mahkota pasti sudah bangun. Sebentar lagi dia pasti akan dibebaskan.
Benar saja. Tanpa menunggu lama, penjaga penjara mendapat titah untuk membebaskan Yi Ze. Yi Ze di minta mendatangi Yang Mulia Raja di Aula Besar.
"Sebutkan namamu, Anak Muda," Yang Mulia Raja menatap Yi Ze yang berlutut di depannya.
"Namaku Yi Ze, Yang Mulia. Putri pertama seorang petani gandum bernama Yi Huan," jawab Yi Ze tanpa mengurangi kesopanannya.
"Di mana kamu tinggal?" Yang Mulia Raja berdiri dari duduknya. Turun menghampiri anak muda yang sudah menyelamatkan putra negara ini.
"Hamba tinggal di tengah hutan, Yang Mulia."
Raja tampak terkejut mendengar penuturan Yi Ze, "Di mana aku bisa bertemu orang tuamu?"
Yi Ze menunduk lebih dalam, dia menyembunyikan tangisnya. Setiap kali seseorang membahas tentang orang tuanya, Yi Ze kembali diingatkan oleh lukanya selama tinggal di Shanjiao.
Tapi yang bertanya adalah Yang Mulia Raja, dia harus menjawab apapun kondisinya.
"Hamba mohon maaf, Yang Mulia. Ayahku telah meninggal saat usiaku masih belia. Ibu dan adikku meninggal empat tahun yang lalu. Kini, hamba tinggal sendirian ditemani seorang guru di Gunung Shahuang," Yi Ze juga tidak ingin menyembunyikan kalau dia berguru kepada Yuhang.
Yang Mulia Raja menghela napas panjang, "Baiklah. Karena kau telah menunaikan janjimu, dan putraku benar-benar sembuh berkat pengobatanmu, aku akan memberikan hadiah besar sebagai imbalan atas nyawa putraku yang telah kamu selamatkan. Berapa jumlah emas yang kamu inginkan, Anak Muda?"
Yi Ze menunduk lagi, kepalanya menggeleng pelan, "Hamba mohon maaf, Yang Mulia. Karena tidak menerima imbalan berupa emas. Jika diizinkan, hamba memimpikan sebuah jabatan tertinggi kedua di militer kerajaan."
"Seorang jenderal?" Yang Mulia Raja bertanya heran.
Yi Ze terdiam, tak bergerak dari tempatnya.
Yang Mulia Raja tampak mempertimbangkannya. Yi Ze jelas berkata "jika diizinkan". Jadi bisa saja Raja langsung berkata tidak, Yi Ze mungkin tidak akan memaksa.
Namun sepertinya Raja tidak menolaknya. Tapi tidak menerimanya secepat itu juga. Jabatan seorang jenderal bukan hanya sekadar jabatan. Jabatan itu mempertanggungjawabkan ribuan nyawa prajurit dan seluruh Beizhou.
Yang Mulia Raja kembali menaiki singgasananya, matanya tertuju pada pedang kokoh yang selalu dibawa Yi Ze ke mana-mana.
"Pedang yang bagus. Dari mana kau mendapatkannya?" Raja merasa mengenal pedang yang digenggam erat Yi Ze.
"Pedang ini pemberian guruku, Yang Mulia. Seorang master bela diri di selatan yang bernama Yuhang."
Orang-orang di dalam Aula Besar itu mulai berbisik-bisik mengenai Yi Ze yang mengaku-ngaku sebagai murid Master Yuhang.
"Dia bilang dia murid Master Yuhang yang hebat itu."
"Apakah benar-benar murid tunggal Master Yuhang yang pernah menjadi Jenderal Besar Pasukan Selatan?"
"Aku tidak tahu dia sedang berbohong atau tidak."
"Karena kau murid tunggal seorang master hebat, kau sudah percaya diri ingin menjadi seorang jenderal?" Raja tidak mempertanyakan tentang pedang itu lebih lanjut. Dia mungkin tahu kalau pedang itu milik Xie Xuan, dan ingin memercayai Yi Ze karena gadis ini mempunyai hubungan dekat dengan teman lamanya.
"Hamba tidak berani," Yi Ze bersimpuh dan meletakkan pedangnya di lantai.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu begitu saja, Anak Muda? Sedangkan aku belum melihat sejauh apa kemampuanmu untuk kujadikan seorang jenderal. Jabatan itu bukan sesuatu yang bisa kamu permainkan. Kamu mempertanggungjawabkan nyawa ribuan prajurit yang mengikuti langkahmu di medan perang," Raja menjelaskan dengan lembut, supaya Yi Ze memahaminya.
"Lantas apakah Yang Mulia tidak mengizinkannya?" Yi Ze mendongakkan kepalanya sedikit.
"Untuk melihat kemampuanmu, dan memercayaimu sebagai seorang jenderal, kamu akan aku perintahkan untuk mengajari Putra Mahkota teknik bertarung yang kamu pelajari. Buat dia menjadi sehebat dirimu. Maka kamu bisa menjadi jenderal sejati. Aku menjanjikan jabatan Jenderal Besar Pasukan Selatan jika kamu bisa mengajarinya dengan baik," Yang Mulia Raja menawarkan sesuatu yang tidak terduga.
Yi Ze terlihat kebingungan. Apa maksudnya dengan mengajari Putra Mahkota? Mungkinkah rumor yang tersebar di Pusat Kota Beizhou itu benar?
"Ah, aku melupakan sebuah penjelasan. Putra Mahkota memiliki ketakutan tersendiri pada pedang atau sejenisnya. Itu yang membuatnya tidak bisa menguasai teknik bertarung apapun. Pemicunya adalah kejadian menyakitkan yang dia alami di masa lalu." Yang Mulia Raja menjelaskan dengan baik hati, "Jika kau mau mengajarinya, aku akan memberimu sebuah kediaman mewah di tengah Beizhou, namanya Kediaman Qingchu."
"Baiklah. Aku akan menjadi guru bertarung Putra Mahkota." Yi Ze membulatkan tekadnya dalam hati.
⚔️⚔️⚔️
Bersambung