Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Jelas



Setelah melalui tiga hari penyiksaan di penjara, Yi Ze tahu betapa pentingnya keadilan dan kebijaksanaan seorang Raja. Dia berpikir jika Pangeran Kedua benar-benar akan menempati posisi Putra Mahkota, apakah bisa lebih baik dari sebelumnya?


Meski diiming-imingi peringanan hukuman, Yi Ze tetap menggeleng saat ditanya kenapa dirinya berkhianat, Yi Ze terus menggeleng saat para penyelidik itu menanyakan hal yang sama padanya, Yi Ze akan menerima satu kali cambukan setiap kali dia tidak menjawabnya sesuai keinginan mereka.


Kini tiga hari di neraka telah usai, Yi Ze bernapas lega saat dirinya di seret keluar dari penjara gelap itu. Tapi dia mungkin tidak bisa lagi bernapas lega, para penyelidik itu membawanya ke lapangan eksekusi. Ada puluhan prajurit dan warga ibukota yang menyaksikannya berjalan ke tengah lapangan. Di depannya ada Yang Mulia Raja dan Wu Xiulin, di samping mereka ada Pangeran Kedua dan Tuan Putri Lanhua. Di sekelilingnya ada puluhan pelayan wanita yang biasanya memasak bersama dengannya di dapur.


Raja bertanya sekali lagi pada Yi Ze, "Apa tujuanmu berkhianat? Benarkah untuk balas dendam?"


Yi Ze lagi-lagi menggeleng, "Aku tidak pernah berkhianat, dan aku tidak perlu balas dendam karena ibuku tidak membunuh siapapun, kalianlah yang tidak berpikir rasional dan membunuhnya yang tidak bersalah sama sekali!" dan Yi Ze kembali menegaskan kalau ibunya tidak bersalah.


"Prajurit!" Raja langsung berseru geram, dua prajurit yang mengawal Yi Ze langsung menghunuskan pedangnya, Yi Ze merebut pedang itu dan meletakkannya di lehernya.


Matanya menyorot Wu Xiulin dengan begitu tajam, "Daripada mengakui hal yang tidak pernah kulakukan, lebih baik aku mati. Bahkan sampai aku mati, kebenaran tentang siapa yang sebenarnya berkhianat akan tetap terungkap!"


Tatapan tajam itu telah menghunus bola mata Wu Xiulin, dia segera berseru panik, "Lupakan omong kosong itu dan bunuh dia!"


"Kau tidak perlu mati untuk mengungkap kebusukan seseorang, Yi Ze! Bukan hakmu untuk mati sekarang!"


Rombongan Putra Mahkota datang bersama puluhan ribu Pasukan Selatan yang memenuhi luar-dalam istana, para warga yang awalnya datang untuk menyaksikan eksekusi segera lari tunggang langgang. Ratusan Prajurit Raja yang berada di dalam lapangan bersiap untuk melawan jika terjadi pemberontakan.


Putra Mahkota dengan gagah menunggangi kudanya mendekati tempat eksekusi, dia menendang jauh orang-orang yang berani menyentuh tubuh Yi Ze, "Kalian juga tidak berhak menyentuhnya," dan memeluk Yi Ze bersamanya. Jingmi berdiri dengan tubuh gagahnya di depan tuan mudanya.


Melihat begitu banyak pasukan di depannya, Raja segera mengangkat Pelat Harimau, "Apakah kalian ingin memberontak?!" dia berseru tegas.


Tapi Feng Shui juga mengangkat Pelat Harimau miliknya, "Apa tujuan kita berada di sini?" serunya.


"Untuk menyelamatkan Jenderal Yi, meski harus memberontak!" puluhan ribu pasukan itu menjawab kompak.


Putra Mahkota mengangkat tangan, dua puluh orang dari pasukannya berlari dan menangkap para pelayan wanita yang bekerja untuk Wu Xiulin. Termasuk Qing Yang.


Lima orang lagi berlari menaiki anak tangga menuju tempat di mana Raja dan permaisurinya berdiri, mereka menangkap Wu Xiulin.


"Apa yang kalian lakukan?!" Wu Xiulin berseru tidak terima, "Yang Mulia, lihatlah betapa buruknya pengaruh pengkhianat itu! Dia bahkan menguasai seluruh Pasukan Selatan, kau harus segera memenggal kepalanya! Apa kau akan membiarkan permaisurimu ditahan seperti ini? Yang Mulia!"


Raja tidak segera menanggapi seruan istrinya. Raja berteriak kepada prajuritnya untuk menghabisi puluhan ribu Pasukan Selatan yang datang itu. Tapi Pasukan Selatan telah melumpuhkan mereka hanya dalam beberapa menit, ratusan prajurit itu ditangkap dengan begitu mudah.


"Yang Mulia, apakah belasan orang ini cukup untuk menjadi saksi bahwa Yi Ze dan ibunya bukan pengkhianat?" Putra Mahkota menunjuk belasan pelayan wanita yang ditahan itu.


"Apa maksudmu melibatkan para pelayanku, Anak Bodoh!" Wu Xiulin berseru.


"Diam!" Raja menghentikan seruannya. Ratu terdiam dan menatap suaminya dengan tubuh gemetar, "Kau tidak boleh melakukan ini padaku, Yang Mulia," gumamnya dalam hati.


Lai Yi keluar dari barisan, dia mengangkat tangan tinggi-tinggi, "Aku adalah Lai Yi, Kepala Pelayan yang lama. Xuan Lu bekerja di atas perintahku. Dan aku bersumpah, kalau bawahanku, Xuan Lu tidak pernah membunuh Ratu Hua Jin atau siapapun."


Raja menatap wajah Lai Yi dengan cermat, "Kau! Kau adalah orang yang melayani ratuku selama lebih dari sepuluh tahun! Bagaimana kau bisa bersama mereka dan membela pengkhianat itu di depanku!" Raja berseru marah.


"Oleh karena itu, Yang Mulia! Kau harus membunuh semua orang yang mengatakan kalau pengkhianat itu tidak bersalah!" Wu Xiulin terus meronta minta dilepaskan.


"Jika kalian tidak bersaksi sekarang, kalian akan terbunuh di tempat!" Feng Shui berseru tegas, pasukan yang menahan belasan pelayan langsung menghunuskan pedangnya.


Karena takut mati, mereka langsung menjatuhkan diri dan mengakuinya.


"Ratu menyuruh kami membayar beberapa pembunuh untuk membunuh keluarga seorang Jenderal Xie Xuan untuk melancarkan rencananya."


"Ratu membunuh Ratu Hua Jin agar bisa memiliki posisinya."


"Ratu juga menyuruh kami memasukkan racun ke dalam makanan Putra Mahkota."


Semua pelayan itu mengaku, hanya Qing Yang yang masih diam meski pedang sudah menempel di kulit lehernya. Pangeran berlari hendak menolong ibunya, Feng Shui segera menahannya dan menjauhkannya dari Xiulin.


"Yi Ze! Apa yang kau lakukan di sana? Cepat selamatkan aku! Aku ini calon suamimu, kau harus menghentikan ini dan menikah denganku!" Pangeran meronta, menatap Yi Ze yang juga tengah menatapnya tanpa ekspresi.


"Kau yang lebih dulu membuangku. Untuk apa lagi aku memedulikanmu, calon suamiku?" tatapan Yi Ze mengintimidasinya, membuat Pangeran Kedua merekatkan giginya penuh amarah.


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Tidak bisa!" Pangeran Kedua terus meronta, Feng Shui terpaksa menotoknya agar tidak bisa bergerak lagi.


Yuhang tiba-tiba melangkah maju, dia berlutut di depan Raja yang hingga sekarang masih merasa bingung, "Yang Mulia, apakah kau masih mengingat prajurit yang tak berbakti ini?" dia mendongak dan menatap rajanya dengan mata berair.


"Kau adalah Xie Xuan, pemuda yang dipungut dari Daerah Selatan, lalu aku menjadikannya orang yang paling kupercayai," Raja menatap Yuhang dengan sorot penuh kerinduan, dia mendekat, dan menyentuh pundak Yuhang.


"Mohon kepada Raja, untuk segera menghukum prajurit tak tahu terima kasih ini, karena telah membunuh permaisurimu, dan menyebabkan banyak kesalahpahaman, dan membuatmu merasakan semua kesengsaraan. Bahkan masih berani melarikan diri setelah menyebabkan kekacauan itu. Mohon kepada Raja, agar mengambil nyawaku untuk menebus semua dosa itu," Yuhang tertunduk malu, tangannya mengangkat pedang yang dahulu dia gunakan untuk menebas kepala musuh di medan perang. Pedang itu diberikan Putra Mahkota padanya. mengatakan kalau Yi Ze memakai pedang itu untuk membantu sesama. Kini, Yuhang ingin memakai pedangnya sendiri untuk menuntaskan hukumannya.


"Paman? Apa maksudmu?" Yi Ze membulatkan mata terkejut, "Kenapa kau berlutut di sana, Paman? Kenapa kau mengatakan itu?" Yi Ze berjalan hendak menyuruh Yuhang menyingkir dari sana, tapi Putra Mahkota segera menahannya dan memeluknya, "Kau sudah mendengarnya sendiri, Yi Ze. Itu pilihannya, dia ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya di masa lalu."


"Tapi kenapa harus seperti ini? Kau bahkan tidak mengatakannya padaku terlebih dahulu, kau sudah tidak jujur padaku!" Yi Ze memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan Putra Mahkota.


Lai Yi menghampirinya, "Maafkan aku karena terlambat menyadarinya, Nak. Sejujurnya dia juga baru saja mengetahuinya, dan aku mengetahuinya dari mereka. Aku tahu kau akan terkejut, tapi jangan memilih untuk membencinya, Yi'er," Lai Yi menyentuh pundak Yi Ze, tersenyum mencoba menenangkan, "Mulai sekarang, aku sendiri yang akan melindungimu."


Ji Xue berjalan mendekati Raja, kemudian berlutut dan memberikan sebuah catatan, "Ini adalah catatan yang dibuat Qing Yang untuk setiap bisnis yang dilakukan Permaisuri di luar istana, Yang Mulia. Bisnis itu seputar membayar pembunuh, pembelian racun, dan sebagainya," Ji Xue menjelaskan.


Mendengar itu, Xiulin segera menatap Qing Yang yang masih terkejut, dia meraba-raba tubuhnya sendiri dengan gila, lalu menyadari kalau catatan itu hilang.


"Bagaimana bisa ada padamu?" Qing Yang bertanya tidak percaya.


Ji Xue nyengir lebar, "Sebenarnya aku sudah beberapa kali melihatnya. Bahkan sempat menyalinnya dan memberikan salinannya pada Putra Mahkota, kau saja yang tidak cukup ketat merahasiakannya. Makanya bisa bocor semudah itu," Ji Xue kembali ke tempatnya.


Begitu membacanya, Raja langsung berjalan penuh amarah menuju Xiulin, dia menghunus pedang Yi Ze yang dijulurkan tangan Yuhang.


Melihat pedang di tangan Raja yang bisa menusuk Xiulin kapan saja, Qing Yang berlari dan membuat dua pasukan yang menahannya terjerembap, dia berlari dan memeluk Ratu yang sudah berseru menggila kenapa suaminya melakukan itu.


Jleb!


Demi melindungi Xiulin, Qing Yang harus tertusuk pedang itu saat sudah berdiri di hadapan Xiulin. Qing Yang menunduk, menatap pedang yang menusuknya dari belakang benar-benar menembus tubuhnya. Raja terdiam membeku menyadari pedangnya tidak mengenai tubuh Xiulin sama sekali. Raja langsung mencabut pedang itu dari tubuh Qing Yang.


Qing Yang tersenyum menatap Ratu, "Akhirnya, aku benar-benar bisa melindungimu menggunakan nyawaku," gumamnya pelan.


Xiulin memegang kedua pundaknya agar dia tetap berdiri, Xiulin menangis sejadi-jadinya, memeluknya yang sudah lunglai kehabisan darah.


"Kenapa kau melakukan itu, Qing Yang!" Ji Xue berseru tercekat saat melihat rekannya memilih untuk mati dari pada merapikan diri.


"Karena aku akan tetap setia, kepada ibuku. Meski dia, tidak pernah mengakuiku, sebagai putrinya," Qing Yang menjawab seruan Ji Xue dengan kalimat yang terputus-putus.


Ratu menjerit histeris, "Kau tidak bisa meninggalkan Ibu seperti ini, Qing Yang! Qing Yang!"


Seseorang terbang dengan kemampuan Qinggong yang sangat baik, mendarat di depan Yi Ze, lalu menusukkan sebuah pedang ke jantungnya.


"Maafkan aku, Kak." Shujin menangis melihat kakaknya memuntahkan darah.


⚔️⚔️⚔️


Bersambung