
Pria Tua itu tidak terkejut dan tetap meneruskan langkahnya. Yi Ze mendengus kesal.
"Apakah boleh? Pak? Bagaimana? Kau mau menjadi guru bela diriku?"
Pria Tua menghentikan langkahnya, menatap Yi Ze dengan ekspresi yang sulit diartikan. Lantas dengan tegas mengatakan, "Tidak."
Yi Ze begitu putus asa mendengarnya. Dia sangat ingin, tapi memaksa bukan keahliannya. Dia tidak tahu harus pergi ke mana jika Pria Tua tidak mau menerimanya sebagai murid.
Sesampainya di rumah kayu, Yi Ze pergi lagi tanpa makan pagi, padahal perutnya sangat lapar sejak kemarin, tapi dia tidak bisa berada di rumah itu lagi, Pria Tua sudah mengusirnya secara terang-terangan.
Toh, Pria Tua tidak menghalanginya ketika dia hendak pergi dari rumah itu. Dia tentu tidak tahu kalau Yi Ze tidak punya tempat tujuan lain selain berguru padanya.
"Hei! Anak nakal!" Pria Tua tiba-tiba berseru.
Yi Ze refleks menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, wajahnya tersenyum, mengira Pria Tua akan berubah pikiran.
"Aku tak menyangka kau berubah pikiran secepat ini! Aku tahu, aku memang berpotensi—"
"Makan dulu sebelum pergi. Melihatmu berdebat dengan monyet hanya untuk beberapa buah liar membuatku merasa kasihan." Pria Tua memotong ucapan Yi Ze.
Wajah Yi Ze kembali terlipat. Tapi dia tidak menolak, bahkan memakan lima buah liar dalam waktu lima belas menit.
"Ah, perutku kenyang sekali," Yi Ze duduk bersandar lengannya sendiri, tangan kirinya menepuk-nepuk perut yang berisi. Lantas tanpa malu dia bersendawa.
Pria Tua menatapnya aneh. Tapi tidak menghiraukannya. Memerhatikan Yi Ze yang mendongak sambil memejamkan mata, yang membuat pandangannya fokus adalah sebuah kalung perak yang dikenakan Yi Ze.
Sebenarnya, kalung itulah alasan Pria Tua membawanya ke rumah setelah menyelamatkannya dari serigala-serigala.
"Bolehkan aku membawa beberapa buah, Pak?" Yi Ze bertanya sambil menunjuk buah yang tersisa banyak.
"Ke mana tujuanmu, Nak?" Pria Tua itu justru menanyakan hal lain.
Yi Ze terdiam. Kenapa dia bertanya seperti itu? Senyumnya terbit dengan seribu kepalsuan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Aku tidak tahu akan menuju ke mana setelah ini, Pak."
Pria Tua berhenti mengunyah, "Jangan membawa satu buah pun."
Yi Ze hendak berseru protes. Bagaimana mungkin pria tua ini sama pelitnya seperti monyet-monyet itu? Sama sekali tidak berperasaan. Dia mengusir, tapi tidak memberikan bekal makanan sama sekali.
Yi Ze menusuk mata Pria Tua dengan tatapan tajamnya. Kemudian memalingkan wajah dan pergi.
"Hei!" Pria Tua kembali memanggilnya.
Yi Ze tidak menoleh lagi dan tetap berjalan.
"Tinggal di sini saja jika tidak tahu mau ke mana!"
Kali ini Yi Ze langsung berlari mendekati Pria Tua. "Kau benar-benar menerimaku sebagai muridmu?" matanya memancarkan binar bahagia.
Pria Tua menggeleng, "Aku butuh seseorang yang bisa membantuku hidup lebih baik."
Senyum berbinar Yi Ze lenyap dalam sekejap. Tapi lagi-lagi dia tidak menolak. "Apa maksudmu dengan 'membantumu hidup lebih baik'?"
"Misalnya, kau bisa berburu hewan liar untuk makanan sehari-hariku, memasakkannya untukku, membawakan kendi-kendi berisi air, seperti itu. Banyak pekerjaan yang bisa kau lakukan jika tinggal di sini. Bagaimana?" Pria Tua menjelaskan penawaran terbaiknya.
Geum-bi mendengus, "Dia pikir aku istrinya?" tangannya kembali mengupas buah, "Baiklah, anggap saja sebagai bayaran atas numpang hidupku ini. Di dunia tidak ada sesuatu yang gratis, jadi aku memakluminya."
"Bagaimana aku akan memanggilmu?" tanya Yi Ze yang sudah memulai pekerjaannya dengan membersihkan halaman rumah dengan lapangan cukup luas itu.
"Aku lupa nama asliku," Pria Tua mendengus.
"Lalu bagaimana aku akan memanggilmu?" Yi Ze menghentikan pekerjaannya sebentar untuk menatap wajah Pria Tua yang sedang kebingungan.
"Bagaimana kalau bos?"
"Memangnya kau bos?" Yi Ze berdecak.
Pertanyaan itu membuat Pria Tua terdiam. Jangankan bos, dia bahkan pernah memimpin ribuan pasukan untuk berperang.
"Aku lupa namaku. Tapi kamu bisa memanggilku Yuhang," ungkapnya. Ternyata pria tua ini adalah Xie Xuan yang menyembunyikan identitas aslinya dari Yi Ze. (Ke depannya, saya akan menulis namanya dengan Yuhang saja.)
"Kenapa begitu?"
"Itu julukanku di dunia persilatan. Master Yuhang," Yuhang menyilangkan lengan di depan dada, berlagak sombong.
"Namamu unik, Paman Yuhang. Meski bukan nama aslimu," Yi Ze menguap, "Ah, jangan lupa. Namaku Yi Ze. Tapi kau boleh memanggilku sesukamu." Yi Ze tidak lupa menyebutkan namanya.
"Bekerja saja yang benar!"
"Aku tertarik dengan kalung yang kau pakai."
Mulut Yi Ze terbuka lebar saking terkejutnya dengan jawaban yang keluar dari mulut Master Yuhang.
"Eh, kenapa tidak memintanya saja? Kau tak perlu mengerjaiku seharian hanya untuk kalung tua ini. Atau kau bisa mencurinya saat aku tertidur, lalu kau bisa mengusirku, kan?" Yi Ze bersungut-sungut karena merasa terperdaya oleh seorang kakek yang menghabiskan waktunya di gunung sendirian ini.
"Aku tertarik, dan ingin memilikinya. Tapi aku tidak bisa mengambilnya darimu, Nak," Yuhang menjawab.
"Eh, kenapa?"
"Bagimu mungkin hanya barang tua yang sudah berada di sisimu sejak waktu yang tidak lagi kau ingat. Itu menunjukkan betapa berartinya kalung itu bagimu. Cobalah untuk mengingat kapan kamu memilikinya." Yuhang menasehati Yi Ze agar lebih berhati-hati dengan barang yang dimilikinya.
"Aku hanya ingat sudah memilikinya sejak kecil. Sebelum ibuku melahirkan Yi Shujin."
Yuhang tampak terkejut mendengar anak ini memiliki seorang ibu, "Kau memiliki ibu?"
"Tentu saja! Meski ibuku tidak menyayangiku sama sekali. Meski ibuku selalu membeda-bedakan aku dan adikku, dan bahkan mengusirku, tapi dia tetap ibuku." Yi Ze melotot kesal.
Yuhang memutuskan untuk memerhatikan Yi Ze beberapa hari ke depan. Dia ingin tahu siapa anak ini sebenarnya. Apakah dia benar-benar anak yang selama ini dia cari, atau bukan.
"Boleh kutahu nama ayahmu?" Yuhang bertanya lagi.
"Ayahku bernama Yi Huan." Yi Ze menjawabnya tanpa ragu.
"Di mana kau tinggal?" Yuhang terus menanyakan hal yang mungkin memberinya sebuah petunjuk.
"Shanjiao. Tapi kudengar, kami sempat tinggal di Hai'an hingga usiaku dua tahun, lalu kami pindah ke Shanjiao, dua tahun kemudian aku memiliki seorang adik. Ibuku bahkan lebih menyayanginya dari pada aku," Yi Ze menceritakan masa lalu dari yang dia dengar.
"Dari siapa kau mendengarnya?" Yuhang bertanya lagi.
"Itu seseorang yang kuanggap seperti ibuku sendiri. Aku memanggilnya Bibi Lai Yi . Dia bilang ibu dan ayahku menikah di Hai'an. Lalu pindah ke Shanjiao saat usiaku dua tahun."
Yuhang semakin yakin dengan tebakannya. Dia ingin menanyakan hal yang lebih banyak lagi.
"Ikut denganku." Lantas Yuhang membawanya ke suatu tempat.
Air terjun.
"Kenapa kita ke sini?" Yi Ze bertanya penasaran.
"Di sungai itu banyak ikan. Aku ingin kau menangkapnya beberapa."
Yi Ze mendengus kesal, "Aku sudah senang saat dia memeriksa latar belakangku. Kenapa masih berakhir disuruh-suruh seperti ini?" gumamnya pelan.
"Aku masih mendengarmu, Nak," Yuhang mengangkat tangan.
Yi Ze mendengus, "Tidak tahu saja kalau aku tidak bisa memancing," dia bergumam lagi.
"Kau mau makan atau tidak?" Yuhang memelototinya, "Jangan pulang sebelum mendapat lebih dari lima ekor."
Lantas dia pergi entah ke mana.
⚔️⚔️⚔️
Rupanya Yuhang datang ke desa Shanjiao. Mencari seseorang bernama Lai Yi. Tetua desa menunjukkan rumah Lai Yi yang berada di tepi desa.
Kedatangan Yuhang disambut baik oleh Lai Yi. Jamuan datang begitu lengkap saat Yuhang duduk di teras rumah Lai Yi.
"Akhir-akhir ini aku merindukan gadis yang memiliki kalung indah di lehernya." Lai Yi membuka percakapan.
Yuhang langsung tertarik pada pembahasan yang dipilih Lai Yi, padahal sebelumnya, dia yang ingin bertanya mengenai Yi Ze.
"Apa mungkin kau mengenalnya juga?" Yuhang bertanya serius.
"Aku bahkan tahu siapa kau yang tiba-tiba mendatangi rumahku siang bolong seperti ini." Lai Yi tersenyum tipis, matanya yang sipit semakin sipit saat tersenyum, keriput di wajahnya semakin terlihat ketika dia tersenyum lebih lebar.
"Mungkinkah ... kau seseorang dari istana?" Yuhang mengecilkan suaranya.
Lai Yi tersenyum lebih lebar, keriput di matanya terlihat jelas, "Aku yang mengajari Xuan Lu membaca dan beretika. Aku datang ke sini untuk mengajari putrinya juga, Jenderal Xie Xuan."
Yuhang terdiam, menahan napas sejenak, kemudian menjatuhkan lututnya di depan wanita tua ini, "Kepala Pelayan!"
⚔️⚔️⚔️
Bersambung