Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Guru Bela Diri



Tiga hari setelah Xiao Yuan terbangun dari tidurnya, Yi Ze mendatangi kamar Xiao Yuan melalui undangan yang dia terima.


"Nona Yi Ze, Putra Mahkota."


"Biarkan dia masuk."


Yi Ze berjalan pelan memasuki kamar Xiao Yuan. Sejujurnya, dibanding antusias karena memiliki seorang murid, Yi Ze lebih merasa takut dan cemas.


Dalam bayangannya, Xiao Yuan adalah orang yang arogan dan kasar. Postur wajahnya cukup meyakinkan. Itu membuatnya tidak yakin kalau Xiao Yuan mau menganggap dirinya sebagai seorang guru. Terlebih, usianya jelas lebih muda dari Xiao Yuan


"Kudengar kau adalah guru bertarungku," suara ramah itu menyapa.


Yi Ze berkedip. Ternyata Xiao Yuan tidak semenakutkan seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Tapi sifat pemalasnya sangat terlihat sekali. Yi Ze tidak akan salah jika berpikir seperti itu. Pria itu berbaring santai di ranjangnya, belum mandi ataupun berbenah.


"Benar, Yang Mulia," Yi Ze membungkuk beberapa detik, "Namaku Yi Ze. Aku diutus Yang Mulia Raja untuk mengajarimu cara bertarung."


"Kudengar kau juga menyelamatkan nyawaku dengan obat ajaibmu."


Yi Ze mengangguk pelan, "Benar, Yang Mulia."


Xiao Yuan tampak mendengus, matanya menatap malas. Tubuhnya tidak bergerak dari tempat tidur itu. Yi Ze langsung bergumam dalam hati, "Pria ini jelas tidak pernah keluar dari kamarnya. Tidak seperti Pangeran Kedua yang sepertinya sering keluar dari istana. Dia juga pandai menggunakan pedang dan busur."


"Baiklah. Buatkan aku air untuk mandi. Dan airnya tidak boleh terlalu dingin atau terlalu panas," Xiao Yuan menatap Yi Ze tidak peduli, menyuruhnya melakukan pekerjaan yang bukan pekerjaannya.


"Hah?" Yi Ze mengernyit heran.


"Kau tidak mau melakukannya?" Xiao Yuan menaikkan sebelah alisnya, masih bergeming.


"Tapi aku—"


"Hei. Bagaimana aku akan berlatih jika mandi saja belum? Dasar kau ini," Xiao Yuan mendengus kesal.


Tapi Yi Ze jelas lebih kesal lagi. Dia datang untuk mengajarinya bertarung dengan benar. Tapi yang diajari tidak terlihat tertarik sama sekali.


Yi Ze keluar dari kamar itu dengan pipi menggelembung. Pelayan yang menunggu di luar memintanya untuk mengikuti mereka.


Rupanya mereka ingin membantu Yi Ze menyiapkan air mandi Xiao Yuan. Salah satunya bernama Ji Xue. Ji Xue bilang, Xiao Yuan memang sangat menyebalkan. Terkadang, dia sengaja mengerjai para pelayan ketika sedang bosan. Mungkin saat ini targetnya sudah berpindah.


"Jika kau tidak ingin menjadi pesuruhnya, jangan lupa selalu membuatnya kesal, ya!" Ji Xue berseru sebelum meninggalkan Yi Ze yang masih merasa kesal.


Xiao Yuan bahkan mandi di depan para pelayannya. Sambil santai meminum teh. Yi Ze terus berpikir tidak sabaran. Kapan dia akan memegang pedang kayunya? Bersiap dengan latihannya? Sejauh ini dia hanya bersenang-senang dengan dirinya sendiri.


Hingga siang hari tiba, Yi Ze bahkan semakin kesal karena Xiao Yuan malah memberi makan burung-burung peliharannya dibanding bersiap segera latihan.


"Kakak! Kakak!" seruan seorang gadis mengalihkan perhatian Xiao Yuan.


Yi Ze berpikir kalau wanita cantik yang sedang mendekat adalah istri atau kekasih Xiao Yuan. Tapi sepertinya bukan.


"Apa yang membawamu kemari, adikku?" Xiao Yuan menyapanya ramah.


Dia adalah Putri Xiao Lanhua, anak ketiga Yang Mulia Raja. Wajahnya sangat cantik jelita, mirip sekali seperti Permaisuri Baru, Wu Xiulin.


Lanhua menatap Yi Ze heran. Maksud tatapannya adalah, "Siapa wanita yang berdiri di sana, Kakak?"


Dan seakan menyadarinya, Xiao Yuan menjawab, "Dia adalah guru bertarung baruku. Hei, Guru Baru! Hari ini kau boleh pulang," Xiao Yuan menatapnya, mengibaskan tangan kanan ke arahnya, "Aku bahkan tidak yakin dia akan datang kembali besok pagi."


Yi Ze melotot kesal. Rupanya selama ini Xiao Yuan memang hanya mempermainkannya. Tapi Yi Ze masih bisa bersabar. Dia dengan tenang kembali ke Kediaman Pelayan.


Yi Ze segera membersihkan diri, meletakkan pedang di atas tempatnya, mengganti bajunya, dan berniat ingin membantu para pelayan yang sedang bekerja di dapur.


Tapi kedatangan Lanhua membuatnya harus mengurungkan niat. Yi Ze terkejut kenapa dia mendatangi Kediaman Pelayan.


"Tuan Putri, kenapa repot-repot datang kemari jika kau bisa memintaku mendatangi kamarmu?" Yi Ze segera mempersilakan Lanhua untuk duduk.


"Tak apa, aku memang berniat untuk datang ke sini karena ingin mengenalmu lebih banyak," Tuan Putri tersenyum ramah.


Yi Ze merasa tersanjung karena sikap baik hati Lanhua. Yi Ze menyiapkan beberapa makanan ringan dan minuman hangat.


"Aku sudah mendengar banyak tentangmu," ucap Lanhua, "Kau menyelamatkan tabib kami, juga menemani kakakku yang baik, juga menyelamatkan kakakku yang menyebalkan," Lanhua terkekeh.


Yi Ze ikut terkekeh karena panggilan menggemaskan dari seorang adik untuk dua kakak pangeran yang tampan.


"Kau harus lebih bersabar lagi menghadapi Kak Yuan, Nona. Dia memang seperti itu jika berhadapan dengan seseorang yang diperintahkan untuk mengajarinya teknik bertarung. Selama ini sudah ada lima belas orang yang menyerah mengajarinya, bahkan sebelum bisa membuatnya memegang pedang kayu," jelas Lanhua.


Yi Ze menelan ludah, tampaknya tantangan yang diberikan Yang Mulia Raja bukan hanya sekadar tantangan biasa. Jika sebanyak itu orang yang gagal, ada kemungkinan juga dia akan gagal.


"Kenapa kau diam, Nona?" Lanhua menatap Yi Ze heran.


"Aku hanya merasa bingung. Apa yang membuat mereka tidak bisa membuat Putra Mahkota memegang pedangnya?" tanya Yi Ze


Lanhua menghela napas panjang, "Ini berhubungan dengan peristiwa yang terjadi di masa kecilnya. Aku kurang mengerti karena saat itu usiaku baru dua tahun. Tapi nenekku bilang, Kak Yuan melihat ibunya dibunuh oleh seseorang dengan pedang. Itu yang membuatnya tidak bisa melihat pedang, apalagi memegangnya, juga alat-alat bertarung lainnya, seperti tombak atau pemanah. Kak Yuan menderita dengan ketakutannya sendiri," jelasnya singkat.


"Maksudmu, apakah Permaisuri Xiulin bukan ibu kandungnya?" Yi Ze bertanya pelan.


Lanhua mengernyit, "Jadi kau belum tahu? Ibuku adalah selir pertama yang diangkat menjadi Permaisuri oleh ayahku. Itu dilakukan tiga bulan setelah Permaisuri Pertama meninggal, ibunya Kak Yuan, Ibu Hua Jin. Kak Yuan melihat ibunya dibunuh oleh seseorang, dia jadi ketakutan sejak itu hingga besar."


Yi Ze mengangguk-angguk paham, "Dia mengalami sebuah trauma."


"Eh, bukan apa-apa. Hanya saja, kau menjelaskan semuanya kepadaku yang bukan siapa-siapa." Yi Ze nyengir lebar.


Maksudnya adalah, kenapa Tuan Putri membocorkan rahasia semacam itu padanya?


Lanhua melambaikan tangan, "Ah, itu hanya sebuah rahasia umum. Nyaris semua orang di istana ini mengetahuinya."


Yi Ze mengangguk-angguk.


"Tapi, Nona. Aku yakin kali ini kau bisa membuatnya berubah. Menjadi petarung sejati. Jadi, jangan menyerah! Ini juga berhubungan dengan mimpimu, Nona! Semangat!" Lanhua tersenyum lebar sambil mengepalkan tangan.


Hal itu membuat Yi Ze sangat senang. Dia akhirnya memiliki seorang teman setelah sekian lama hidup dalam kesendirian. Apalagi, temannya ini bukan hanya seorang teman.


"Kenapa kau sangat yakin, Tuan Putri?" Yi Ze bertanya penasaran.


"Kau terlihat menjanjikan," Lanhua tertawa, berdiri setelah menikmati minumannya, kemudian berpamitan pergi.


"Omong-omong, bisakah Tuan Putri tidak perlu memanggilku Nona? Itu terdengar tidak pantas, hehe," Yi Ze menggaruk tengkuknya.


"Ah, itu mudah. Tapi kau juga tidak boleh memanggilku Tuan Putri. Panggil saja Lanhua. Usia kita sebaya, tidak perlu sungkan, Yi Ze," Lanhua tersenyum.


⚔️⚔️⚔️


Kali ini, Yi Ze menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari kemarin. Dia mendatangi kamar Xiao Yuan dengan berani, bahkan membangunkan si punya kamar sambil memukul-mukul lengannya.


Yi Ze menyadari, mereka gagal mendidik Xiao Yuan karena meladeni kemanjaannya. Jika ingin berkembang, dia harus menghilangkan sifat manja yang dimiliki Xiao Yuan.


"Kau harus bangun, Yuan!" Yi Ze tidak putus asa membangunkan Xiao Yuan yang mulai kesal.


Xiao Yuan menguap, "Oh, rupanya kau. Kenapa repot-repot membangunkanku? Kau tahu sulit sekali menyeretku ke lapangan latihan—"


"Itu sebabnya aku harus benar-benar menyeretmu!" Yi Ze benar-benar menyeret Xiao Yuan keluar dari kamarnya, "Aku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi. Cepat mandi!" Yi Ze bahkan mendorongnya untuk segera pergi ke kamar mandi.


Xiao Yuan menguap, matahari bahkan belum terbit. Beberapa pelayan yang melihat perlakuan Yi Ze pada Xiao Yuan tampak menggelengkan kepalanya.


Hanya Yi Ze yang berani membangunkan macam tidur. Tapi para penghuni istana tidak membicarakan ya di belakang, karena tindakan Yi Ze tidak ada salahnya jika mengingat perintah Raja padanya.


Xiao Yuan berdiri malas di depan lapangan memanah. Ada banyak prajurit yang berdiri di sekeliling lapangan. Putri Lanhua dan Pangeran Kedua ikut menonton. Bahkan Yang Mulia Raja terlihat memperhatikan dari atas.


Yi Ze sempat berbisik kepada Ji Xue yang berdiri tak jauh darinya, "Apakah Yang Mulia Raja selalu melihat Putra Mahkota latihan?"


Ji Xue mengangguk, "Memang seperti itu, Raja ingin tahu kapan dan siapa yang bisa membuat putranya berhenti takut pada pedang atau semacamnya. Sejauh ini belum ada, mungkin Raja banyak mengharapkan sesuatu padamu, makanya dia hanya diam dan membiarkanmu berlaku semena-mena terhadap Putra Mahkota," jelas Ji Xue.


Yi Ze mengangguk-angguk. Tangannya bergerak meraih busur yang disediakan prajurit istana. Sebelum melemparnya ke arah Xiao Yuan Yi Ze menatap wajah Xiao Yuan yang pias memucat. Yi Ze juga menatap tangannya yang gemetar. Bahkan tubuh Xiao Yuan dibasahi oleh keringat.


Yi Ze mengurungkan niatnya untuk melempar busur itu ke arah Xiao Yuan. Dia juga menjatuhkan busurnya. Xiao Yuan tidak tampak membaik.


"Kita akan bertarung dengan tangan kosong," Yi Ze bersiap memasang kuda-kuda.


Xiao Yuan tampak tidak peduli, justru berniat hendak mundur dari arena pertarungan.


"Aku akan melakukan apapun yang kau minta. Aku juga tidak akan memaksamu untuk berlatih lagi, jika kamu sudah bisa mengalahkanku hingga jatuh berdebam di tanah," Yi Ze berseru.


Langkah Xiao Yuan terhenti, dia berbalik dan menatap Yi Ze penuh dendam.


"Kau akan mendapatkan apapun yang kau mau, sekaligus menyingkirkanku agar tak mengganggumu lagi. Hanya jika kau bisa menjatuhkanku." Yi Ze bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Raja Wangwei terkekeh, "Gadis ini lumayan banyak akal juga."


Yang terpenting kali ini adalah, membuat Xiao Yuan terbiasa berhadapan dengan benda-benda tajam. Dan membuatnya tidak takut berada di medan perang.


Xiao Yuan berlari kencang ke arah Yi Ze. Tinju kanannya terarah tajam, sasarannya meleset satu centimeter. Tinju kirinya langsung melesat, Yi Ze mudah saja menghindarinya.


Berkali-kali berusaha, menjatuhkan Yi Ze bukan hal mudah. Xiao Yuan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membuat Yi Ze terjatuh, tapi itu masih tidak berdampak apapun pada Yi Ze.


Napas Xiao Yuan terdengar putus-putus. Dia menghentikan serangannya yang sia-sia. Di atas sana, Raja tampak antusias menyaksikannya. Karena selama ini, tidak ada guru yang bisa membuat Xiao Yuan nekad mengarahkan tinjunya.


"Tinjumu yang lemah ini, mana bisa kau mengandalkannya untuk melukaiku!" Yi Ze bergegas maju lagi.


Sepertinya mengutus Yi Ze untuk mengajari Xiao Yuan adalah hal yang tepat. Raja mulai berpikir kalau kehadiran Yi Ze memang sangat berguna bagi perkembangan putranya.


⚔️⚔️⚔️


"Taktikmu cukup bagus, Anak Muda. Aku bahkan tidak pernah memikirkannya hingga sekarang." Raja memuji saat Yi Ze datang ke kediamannya.


"Jika kita memancingnya, dia tidak akan menyadari jika dia sebenarnya sudah menangkap umpan yang kulemparkan, Yang Mulia. Kau hanya perlu mengizinkan apapun yang akan aku lakukan untuk membuat Putra Mahkota berlari dari zona nyamannya," Yi Ze membungkuk sopan.


"Aku akan diam saja bahkan jika kau membuat lengannya patah. Kembalilah ke kamarmu," Yang Mulia Raja membiarkan Yi Ze keluar dari kediamannya.


Saat memasuki kamar, Yi Ze terkejut karena ada seorang tamu tak terduga yang sudah menunggu di depan kamarnya di Kediaman Pelayan.


"Pangeran?"


⚔️⚔️⚔️


Bersambung.