
Ji Xue memasuki Shuiquan sambil membawa nampan berisi sarapan. Wajahnya tampak lelah dan tidak bersemangat, apalagi ketika melihat wajah Putra Mahkota yang menatapnya tajam.
Ji Xue meletakkan nampan itu dengan tangan gemetar. Punggung tangannya tampak hitam karena gosong, begitu Ji Xue menyeka wajahnya, gosong itu pindah ke wajahnya, membuatnya terlihat cemong.
"Ganti," Putra Mahkota tidak menyentuh makanannya sama sekali, hanya melirik sekilas kemudian mulai membaca buku lagi.
"Astaga, Yang Mulia. Ji Xue sudah lelah membuat sepuluh hidangan yang sama pagi ini, tapi Yang Mulia tidak memakannya sedikitpun. Sebenarnya apa yang membuat Yang Mulia tidak mau memakan masakanku?" Ji Xue mengeluh, dia ingin membiarkan Putra Mahkota melihat wajah cemongnya yang kelelahan.
Putra Mahkota menatap wajah itu setiap incinya, "Kau jelek sekali," gumamnya.
"Mohon kasihanilah Ji Xue, Yang Mulia. Ji Xue tidak bisa membuat makanan dengan rasa yang sama seperti buatan Nona Yi," Ji Xue menunjukkan wajah memelasnya.
"Maka dari itu, buatkan sampai rasanya sama persis seperti buatannya," Putra Mahkota tidak menunjukkan belas kasihannya.
"Omong-omong, sudah berapa lama Yi Ze pergi?" Putra Mahkota menatap langit, tidak ada burung berlalu yang bisa dia lempari dengan kerikil lagi.
Mungkin Ji Xue memahami ekspresi wajah Putra Mahkota saat itu, "Yang Mulia, burung-burung itu merasa takut padamu, mereka tidak berani terbang di atas Shuiquan yang indah ini, karena kau hanya mengisi hari-harimu dengan melempari mereka kerikil. Omong-omong, sudah hampir satu bulan kau melakukan itu, juga sudah hampir satu bulan kau menyiksaku setiap pagi. Kupikir akan lebih baik jika Nona Yi pulang lebih cepat," Ji Xue menghela napas pasrah.
"Sudah hampir satu bulan? Oh Tuhan ... tubuhku semakin kurus karena tidak makan dengan teratur," Putra Mahkota ikut menghela napas panjang, "Aku bosan dengan masakan kalian, bosan setengah mati," Putra Mahkota memijat dahinya.
"Kenapa tidak ditambah setengah lagi saja, Yang Mulia?"
Putra Mahkota melotot tajam, "Itu artinya aku mati, Bodoh!"
Ji Xue menutup telinganya lalu merutuk dalam hati, "Selalu saja salah!"
"Ji Xue, ambilkan pelat perunggu dari ayahku, aku ingin berkeliling ibukota dan makan di luar saja. Aku akan mengajak Qing Yang, kau istirahatlah dulu," Putra Mahkota memberi perintah.
Ji Xue mengangguk tanpa bertanya, baginya, beristirahat dari pekerjaan selama beberapa jam rasanya sudah seperti menemukan ribuan keping emas dari lubang kecil.
⚔️⚔️⚔️
"Yang Mulia, aku mengenal orang yang mengelola restoran di tengah Kota Hai'an, makanan di sana sangat enak. Yang Mulia pasti menyukainya," Qing Yang berjalan di samping Putra Mahkota sambil membawa payung.
"Benarkah? Ayo kita ke sana," Putra Mahkota bersemangat.
Mereka memasuki restoran itu, tampak ramai, Qing Yang seperti sudah mengenal restoran ini sejak lama. Dia bahkan menyapa beberapa orang, dan mereka menanyakan tuan muda siapa yang dibawa bersamanya.
Qing Yang hanya mengangguk sambil tersenyum, memastikan Putra Mahkota berada di belakangnya supaya tidak tersesat.
"Kita duduk di dalam ruangan saja, Yang Mulia," Qing Yang memberikan saran, restoran ini ramai, mungkin tidak nyaman bagi Putra Mahkota makan di tengah orang ramai.
Mereka memasuki ruangan yang kosong, lalu memesan makanan paling terkenal di restoran itu. Putra Mahkota hanya mendengar dan melakukan apa yang diucapkan Qing Yang saja.
Begitu makanan disandingkan, Putra Mahkota makan dengan lahap, masakannya terasa asing di lidahnya, tapi tidak ada rasa bosan sejauh ini, Putra Mahkota masih menikmatinya.
Qing Yang menuangkan teh untuk Putra Mahkota, "Orang-orang bilang, teh di sini yang paling enak, Tuan Muda. Kudengar ada peracik teh kecil di restoran ini, para pelanggan menyukai teh buatannya," Qing Yang menjelaskan sedikit.
Putra Mahkota mencicipi teh yang konon katanya begitu enak itu, tapi dia tidak merasa terkesan dengan teh restoran ini, justru terasa tidak asing di lidahnya.
"Rasanya biasa-biasa saja, mungkin aku pernah mencicipi ini sebelumnya," Putra Mahkota meletakkan cangkirnya kembali.
"Benarkah? Tapi mereka bilang anak kecil itu tidak bekerja di luar restoran ini, apakah Tuan Muda pernah ke sini sebelumnya?" Qing Yang bertanya memastikan.
Putra Mahkota terdiam sebentar, lalu menatap tehnya, mencium aromanya, lalu meneguknya lagi. Benar, rasa ini sangat akrab dengan lidahnya, tapi dia tidak pernah ke restoran ini sebelumnya. Di mana dia merasakannya?
"Pelayan!" Putra Mahkota langsung berseru memanggil pelayan.
Dua orang datang berbondong-bondong, lalu membungkuk memberikan salam, "Apakah ada sesuatu yang dibutuhkan Tuan Muda?" tanya mereka.
"Kalian mengenal si peracik teh ini?" Putra Mahkota menyodorkan teko berisi teh itu.
Salah satu dari mereka mencium aroma tehnya, "Tentu, Tuan Muda. Dia satu-satunya peracik teh termuda di restoran kami, rasa teh buatannya berbeda dengan peracik teh lain. Kenapa Tuan Muda menanyakannya?"
"Bawa dia kemari," Putra Mahkota berkata tegas.
Dua pelayan itu saling tatap, "Tapi Tuan Muda, dia sibuk meracik teh," mereka menolaknya.
"Kalian tidak tahu siapa aku? Bawa dia kemari kubilang!"
Mereka tersentak, lalu berlari meninggalkan ruangan Putra Mahkota. Mereka kembali dengan cepat bersama anak kecil peracik teh itu.
Putra Mahkota menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seorang anak perempuan, ringkih dan kering, rambut panjangnya tidak diikat, Putra Mahkota memasang wajah jijiknya, mungkin berpikir bagaimana jika rambut itu rontok dan memasuki teko teh yang sedang diraciknya sendiri?
Putra Mahkota menggeleng, membuang jauh-jauh pikiran konyol itu, lalu menatapnya dengan lebih baik. Gadis kecil ini tampak cantik, meski pakaiannya dinilai kurang rapi, tapi dia sepertinya tahu sopan santun.
"Kalian keluar," Putra Mahkota menatap dua pelayan yang masuk bersama anak kecil itu.
"Siapa namamu, Nak?" Putra Mahkota bertanya pelan.
"A-Yin," rupanya dia adalah gadis yang pernah diselamatkan oleh Yi Ze beberapa bulan yang lalu.
"Katakan padaku, bagaimana kamu bisa meracik teh seperti ini? Adakah orang yang mengajarimu?" Putra Mahkota mulai bertanya.
A-Yin menatap teh di hadapannya, "Itu diajarkan oleh kakakku," jawabnya takut-takut.
"Di mana kakakmu?"
A-Yin menatap wajah tuan muda itu takut-takut, lalu menatap seorang pelayan yang datang bersamanya. Dia pikir jika membocorkan identitas Yi Ze di depan orang-orang ini akan berbahaya.
Lalu dia tanpa sengaja melihat pelat yang diikat di pinggang Putra Mahkota, dia pernah melihat Yi Ze membawa pelat yang sama.
Dia memberanikan diri bertanya, "Apakah, kalian datang dari istana?"
Qing Yang berdiri, wajahnya tampak terkejut, "Tuan Muda, dia tahu dari mana?"
Putra Mahkota mengernyit, "Siapa nama kakakmu? Bagaimana dia bisa tinggal di istana?" melihat penampilan A-Yin, Putra Mahkota tidak yakin kalau kakak gelandangan ini benar-benar tinggal di istananya.
A-Yin menunduk, "Kakakku punya kediaman yang sangat besar, tapi dia jarang sekali tidur bersama kami di rumah. Dia sering menghabiskan waktu tidurnya di dalam istana kalian." A-Yin tampak sangat sedih, "Dia adalah seorang Jenderal, kakakku pandai bertarung. Meski wanita, tapi Raja menempatkannya di posisi tertinggi, kakakku sangat hebat, kalian pasti mengenalnya. Namanya adalah Yi Ze," A-Yin nyengir lebar, dia benar-benar merasa senang hari ini.
Putra Mahkota terpaku, ternyata warga seperti A-Yin pun mengenal sosok Yi Ze. Dia gemetar menyuruh A-Yin duduk. Dia tahu A-Yin bukan adik sungguhan Yi Ze, karena itu dia mencoba bertanya lagi padanya.
"A-Yin, kapan kau mengenal Jenderal Yi Ze? Kenapa kau bisa mengenalnya?" dia bertanya dengan nada tertarik, meski rasa rindu itu membuatnya perlahan ingin menangis.
"Aku pengemis yang suka dirundung pengemis lain. Hari itu jika Kakak Yi Ze tidak menolongku, aku tidak akan berakhir di sini. Dia menolongku dan dengan baik hati membawaku ke kediamannya, dia baik sekali karena selalu memberiku jatah uang jajan, tapi karena tidak ingin terus merepotkannya, aku datang ke sebuah kedai teh untuk bekerja dengan benar dari pada meminta-minta. Tapi aku tidak pandai meracik teh, jadi aku hanya menjadi tukang bersih-bersih saja, tapi satu bulan yang lalu, dia menemuiku di kedai teh itu, bertanya kabarku, dan mengatakan kalau dia tidak melupakanku," A-Yin tersenyum, "Dia mengajariku cara meracik teh, pemilik kedai bilang teh buatan Kakak Yi Ze sangat enak, lalu memintanya bekerja di sana. Tapi Kakak Yi Ze malah menyuruhnya untuk mempekerjakanku saja, dia berpamitan pergi, dia bilang mau menyelesaikan sebuah urusan. Jadi aku menurut saja dan menunggunya kembali," A-Yin menjelaskan serinci mungkin.
Putra Mahkota terkekeh, "Dia memang tidak bisa melihat orang lain menderita," gumamnya, dia kembali melihat penampilan A-Yin yang berantakan itu, entah kenapa anak ini bisa begitu dekat dengan Yi Ze. "Tunggu," Putra Mahkota menyipitkan matanya saat melihat leher A-Yin, "Apa dia juga memberikan kalungnya padamu?" Putra Mahkota memeriksa kalung yang dipakai A-Yin. Lalu menyamakannya dengan kalung yang dia pakai.
"Wah, kenapa kalung kakakku sama seperti milikmu? Apakah kalian berteman sangat dekat?" A-Yin bertanya tertarik.
Qing Yang melirik karena penasaran, "Kenapa dia bisa memiliki kalung itu?" dia bertanya dalam hati.
Putra Mahkota mendengus, "Katakan saja apakah dia memberikan kalung itu untukmu? Jika iya, itu artinya dia membuangku juga," nada bicaranya seperti merajuk.
A-Yin menggeleng, "Tidak! Dia hanya menitipkannya padaku, dia bilang jika dia membawa kalung ini bersamanya, kalung ini mungkin akan hilang. Dia memintaku agar menjaganya dengan baik supaya tidak hilang," A-Yin menyembunyikannya di balik kerah baju, "Kalung ini nyaris saja diambil Kakak Shujin untuk dijual. Kenapa sih, orang dewasa selalu merebutkan apa yang dimiliki anak-anak?" A-Yin merasa kesal karena dia sering sekali herebur sesuatu dengan Shujin yang lebih besar darinya.
"Siapa Shujin?" Qing Yang bertanya, Putra Mahkota menatapnya karena takut ini di liar rencana Yi Ze, dia berharap A-Yin tidak akan menjawabnya dengan jujur. Kalau Yi Shujin adalah adik Yi Ze yang datang dari Shanjiao.
"Ah, dia adik Kakak Yi Ze juga. Tapi hubungan Kak Shujin lebih dekat dengan Kak Yi Ze. Sebaliknya, aku malah sering bertengkar dengannya." A-Yin menghela napas kesal.
"Tapi kenapa kau tidak berada di kedai teh itu?" Qing Yang bertanya lagi. Benar sekali, kenapa A-Yin ada di restoran sebesar ini? Bukan di kedai teh itu?
Putra Mahkota terdiam karena A-Yin begitu lugu menjawab semua pertanyaan Qing Yang. Dia tidak yakin apakah jawaban yang diberikan A-Yin akan memengaruhi rencana besar Yi Ze. Tapi Putra Mahkota selalu meyakinkan dirinya kalau Yi Shujin tidak ada hubungannya dengan aksi ini.
"Aku tidak tahu, Kakak Yi Ze yang memintaku untuk pindah ke restoran ini satu minggu yang lalu. Dia bilang penghasilannya lebih besar dari pada di kedai teh itu," A-Yin terkekeh, "Ternyata benar. Baru saja seminggu, aku sudah begitu dikenal sebagai peracik teh terbaik di Hai'an, itu berkat Kakak Yi Ze yang mengajariku dengan baik juga!"
"Kau bilang satu minggu yang lalu?" Putra Mahkota memegang bahu A-Yin, matanya membulat terkejut.
A-Yin mengangguk berkali-kali, "Kakak tidak melihatnya? Dia sempat mendatangiku satu minggu yang lalu. Sebelum pergi lagi," A-Yin memperbaiki posisi duduknya, "Dia bilang ada urusan mendadak di istana, sempat menginap satu hari di rumah. Kemudian pergi lagi di pagi hari setelah menginap."
Putra Mahkota terdiam, dia menatap Qing Yang, itu isyarat untuk menyuruhnya pergi. Dia ingin berbicara empat mata dengan A-Yin. Qing Yang keluar dari ruangan. Tapi itu tidak menjamin dia berperilaku jujur.
"A-Yin, jawab aku. Kau yakin dia sempat pulang ke istana satu minggu yang lalu?" Putra Mahkota bertanya lagi memastikan.
A-Yin mengangguk lagi, "Dia mendatangiku di kedai pukul lima sore. Lalu mengajakku makan di restoran ini, dia meminta pemilik restoran untuk mempekerjakanku di sini. Dia bilang akan menginap di kediaman untuk satu hari. Memintaku untuk menemaninya juga. Jadi aku tidur di kamarnya malam itu," A-Yin menarik napas sejenak.
"Lalu?"
"Aku tidak tahu, pagi-pagi dia sudah berkemas dan bilang akan pergi lagi. Ternyata semalam dia tidak tidur di kamar sama sekali," A-Yin mendongak, mencoba mengingat-ingat ke mana Yi Ze pergi malam itu, "Dia bilang ada urusan mendadak di istana. Mungkin pergi saat malam hari, jadi kau tidak melihatnya."
"A-Yin! Cepatlah keluar! Pelanggan sudah tidak sabar!" seruan dari luar membuat A-Yin terpaksa keluar dari ruangan.
Putra Mahkota menatap kepergiannya hari ini, itu artinya Yi Ze datang tidak untuk menemuinya.
⚔️⚔️⚔️
"Yang Mulia, sepertinya Yi Ze menyelinap ke dalam istana sekitar satu minggu yang lalu. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Aku mendengarnya dari seorang anak kecil yang mengaku sebagai adik Yi Ze. Juga, Yi Ze memiliki kalung yang sama seperti yang dimiliki Putra Mahkota."
Ratu berdiri dari duduknya. Dia menatap Qing Yang yang berlutut di depannya sampai tidak berani menunjukkan wajahnya. Qing Yang takut karena dia terlambat memberikan laporan.
"Kau yakin kalung itu sama?"
"Sangat yakin, Yang Mulia. Kalung itu cocok saat liontinnya dipasangkan dengan milik Putra Mahkota."
"Apa kau memilikinya?"
"Aku tidak punya waktu yang cocok untuk mencuri kalung itu darinya." Qing Yang menunduk, "Juga, aku mengetahui kalau orang yang mendatangimu satu bulan lalu itu adalah adik Yi Ze sendiri."
Xiulin menghela napas, "Aku sudah tahu, pergilah, lakukan seperti biasanya. Buat janji bertemu dengan adik Yi Ze itu."
Ratu menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Itu membuatnya tenggelam dalam pikiran-pikiran yang mengganggu. Dia cemas setengah mati, bagaimana jika anak itu datang untuk balas dendam kematian ibunya?
Ratu melempar nampan berisi makan malam yang belum dia sentuh sejak tadi, piring-piring dan mangkuk-mangkuk terbelah menjadi dua. Dia terlalu sibuk menunggu laporan dari Qing Yang.
"Apakah dia sungguhan anak itu?
⚔️⚔️⚔️
Shujin kembali menerobos istana di malam hari. Dia tiba di kediaman permaisuri di waktu yang tepat. Dia bertanya kapan Permaisuri akan membunuh kakaknya.
Xiulin tertawa, "Kau yakin sekali ingin memanfaatkanku untuk membunuh kakakmu. Aku tidak terlibat dalam perebutan jabatan kalian. Kenapa aku harus membunuhnya?"
Shujin mengepalkan tangan, "Kau harus membunuhnya! Itu syarat yang sudah kau terima untuk menukarnya dengan Putra Mahkota."
"Bagaimana jika aku membaliknya?"
Shujin mengernyit.
"Kakakmu itu, kakak palsu. Dia bukan kakak kandungmu. Dia adalah Putri Pengkhianat. Sudah seharusnya aku membunuhnya. Tapi kudengar, dia sangat menyayangimu. Bagaimana jika aku membongkar kedokmu di depannya? Kukatakan bahwa kau berencana membunuhnya. Bagaimana?" Xiulin tersenyum lebar.
Shujin menggeleng tidak percaya, "Dia kakakku! Dia hidup bersamaku hingga usianya sepuluh tahun. Tidak mungkin dia bukan kakakku!"
"Tapi dia tidak hidup bersamamu hingga usianya dua tahun. Kau tidak tahu kalau kakakmu hadir di kehidupan ibumu ketika usianya sudah dua tahun. Kau hanya perlu memutuskannya saja. Bunuh kakakmu sekarang karena dia pengkhianat, atau aku akan memberitahu rahasiamu padanya besok? Jika kau membunuhnya, rahasiamu aman dan kau akan menjadi Jenderal Selatan. Kau tidak perlu membunuh Putra Mahkota lagi, hanya perlu melenyapkan Yi Ze secepat mungkin."
⚔️⚔️⚔️
Bersambung