
Yi Ze kembali ke penginapannya bersama Pangeran. Tuan Song berangkat ke Lembah Racun malam ini juga. Besok pagi sudah kembali, dan langsung meraciknya menjadi cairan obat.
"Yi Ze, aku hanya bisa menemanimu hingga malam ini saja. Aku harus kembali ke istana, setidaknya, aku bisa memastikan kalau kakakku akan baik-baik saja. Yi Ze, kau harus istirahat, tidurlah yang cukup, supaya tubuhmu tetap dalam kondisi sehat," Pangeran menepuk bahunya, tersenyum.
Yi Ze mengangguk, "Pulanglah, aku akan menyusul setelah berhasil merebut nyawa Putra Mahkota."
Di hari ketiga, Yi Ze datang ke Toko Obat Zhuihuan sebelum matahari terbit. Rupanya, orang-orang di dalam sudah bangun dan beraktivitas.
"Kau sudah datang, Nak?" Tuan Song tersenyum.
"Eh, kenapa Tuan Song sudah bangun sepagi ini?" Yi Ze bertanya pelan.
"Obat untuk Putra Mahkota, kami baru selesai membuatnya."
Yi Ze terkejut, benar-benar waktu yang tidak singkat. Memproses racun Bunga Rumput Merah membutuhkan waktu satu hari penuh.
"Obatnya sudah jadi. Kau bisa mengambilnya kapanpun," Tuan Song mengulurkan tangannya, dia menggenggam botol kecil.
Yi Ze tersenyum senang, "Terima kasih banyak, Tuan Song."
"Lain kali, panggil Paman saja, tidak perlu sungkan," Tuan Song melepaskan tangannya, botol itu sudah beralih tangan.
Jlep!
Yi Ze melompat terkejut, sebuah anak panah melesat nyaris merobek jantungnya. Botol itu beralih lagi berada di tangan Tuan Song.
Pelayan-pelayan toko obat itu menjelma menjadi pendekar-pendekar hebat yang mengandalkan tongkat panjang sebagai senjata. Orang-orang berpanah ini berjumlah banyak, sekitar delapan sampai sepuluh orang. Yi Ze mati-matian ikut melawan, pedangnya sama sekali tidak dikeluarkan, tapi banyak yang sudah jatuh karena hantaman sarung pedang Yi Ze.
Bukan tanpa alasan dia bertarung tanpa mengeluarkan pedang, hanya saja, dia tidak ingin membunuh, hanya berusaha mengendalikan diri.
"Jlep!" Tuan Song berdebam jatuh dengan anak panah menusuk di jantungnya
"Prang!" botol kecil itu pecah setelah terjatuh dari tangan Tuan Song.
Yi Ze berbalik ke belakang, orang-orang itu sudah menang. Yi Ze berteriak parau, menjatuhkan pedangnya begitu saja.
⚔️⚔️⚔️
Di istana, Xiulin menerima gulungan surat kecil dari burung merpati.
"Penawar itu sudah kami hancurkan. Tabib yang membuatnya mati. Seharusnya, tidak bisa membuat penawar baru lagi. Mereka membunuh tiga rekan kami, meski kami pengecut, tidak membunuhnya, tapi Putra Mahkota tidak akan selamat."
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze menangisi kepergian Tuan Song. Merasa baru bertemu beberapa hari, Tuan Song sudah meninggalkannya begitu saja. Jika dilihat, pelayan-pelayan ini ternyata adalah murid Tuan Song yang menyamar menjadi pelayan. Salah satu yang tertua, terlihat sangat dewasa ketika menanggapi keadaan. Meski merasa sedih, tapi harus bisa menahannya.
"Nak," Tuan Song terbangun sebentar, memaksakan diri terus hidup, ingin menyampaikan sesuatu kepada gadis yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri ini.
"Selamanya, kau adalah putriku. Bahkan di kehidupan berikutnya, kau akan tetap menjadi putriku. Pergilah, selamatkan muridmu."
Yi Ze menggeleng, "Paman, Yuehai ada di sini. Kenapa begitu melihat Yuehai, Paman tidak mau membuka mata lagi? Apa aku terlambat mengakuinya, Paman? Apakah Paman tidak ingin melihatku lagi? Paman?" Yi Ze terisak, tidak ingin memercayai hal yang terjadi.
Melihat Tuan Song Guihao mengembuskan napas terakhir di depannya, Yi Ze bertekad mengejar para pemanah itu. Mereka lari ke tepi pantai, Yi Ze terbang cepat dan mendarat di depan mereka. Lantas mengeluarkan pedangnya tanpa aba-aba. Kelompok penjahat itu bergegas melindungi diri masing-masing, salah satu dari mereka terdiam cukup lama.
"Aku Yi Ze, tidak akan tinggal diam setelah kalian membunuh Tuan Song!" Yi Ze menatap mata pedangnya yang dibasahi darah penjahat yang sudah mati.
Sisa penjahat itu mati di tangannya hanya dalam beberapa menit saja, satu yang tersisa mematung di tempat, dia meletakkan busurnya di pasir pantai, kemudian membuka kain yang menutupi wajahnya.
"Kau ... benarkah kau Yi Ze?" gumamnya pelan.
Yi Ze menyipitkan mata, lalu mendekati perempuan yang tampak tak asing di wajahnya itu dengan pedang teracung ke depan "Kau mengenalku?"
Gadis itu berlari memeluk Yi Ze, "Kakak, akhirnya aku menemukanmu! Aku merindukanmu, Kakak. Bisakah kau mengenaliku?"
Yi Ze membulatkan matanya menatap orang yang memeluknya itu, "Shu'er?"
Shujin mempererat pelukannya, "Kakak, kau masih mengenaliku!" tangisnya pecah, dia terus mengatakan perihal penyesalannya di masa lalu. Shujin meminta Yi Ze untuk memaafkan kesalahannya hari ini.
Tapi Yi Ze melihat derap langkah murid-murid Tuan Song yang mendekat, "Shu'er, ambillah." Yi Ze memberikan pelat Kediaman Qingchu pada Shujin, "Ini pelat Kediaman Qingchu, aku tinggal di sana, kau pergilah dahulu, katakan pada penjaga di luar kalau kau adalah keluargaku, mereka akan membawamu masuk dan memberikan satu buah kamar, cepat pergilah!"
Shujin menatap kakaknya dengan mata berair, "Kakak, kau tidak akan menyerahkanku pada mereka? Aku yang membunuh Kepala Sekte Duan," Shujin hendak menolak kebaikan Yi Ze yang berusaha menyembunyikannya.
Shujin segera berlari menjauhi Yi Ze, dia bersembunyi di balik bangunan rumah rusak tak jauh dari tempat Yi Ze berdiri. Murid-murid Tuan Song itu mendekati Yi Ze, salah satunya memeriksa mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar Yi Ze, lalu mengangguk dan mengatakan semuanya sudah mati. Murid tertua menuntun Yi Ze kembali ke Toko Obat Zhuihuan.
Salah satu murid tertua itu mencoba menenangkan Yi Ze, menyerahkan sebuah botol obat kecil, "Pulanglah Yi Ze, Putra Mahkota sedang menunggumu pulang. Waktumu tidak lagi banyak."
Yi Ze menatapnya tidak mengerti, botol apa ini? Bukankah penawar Putra Mahkota sudah pecah? Atau apakah ada obat lain?
Murid tertua itu menceritakan semuanya kepada Yi Ze, "Guru kami, sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Orang-orang itu sudah memata-matai tempat ini sejak malam tiba. Guru kami menyuruhku menyembunyikan obat yang asli. Yang Guru serahkan padamu itu hanya berisi air. Orang-orang itu benar-benar mengincar botol obat ini. Tak disangka, mereka juga membunuh guru kami."
Yi Ze merasa kematian Tuan Song adalah salahnya. Dia tidak berhati-hati sehingga tidak menjaga Tuan Song dengan baik. Seharusnya dia bisa menebaknya, jika ada yang meracuni Putra Mahkota, begitu tahu sudah menemukan penawarnya, mereka tidak akan diam saja. Yi Ze tidak pernah memikirkan hal sekecil itu, sepenuhnya hanya menyalahkan dirinya saja.
"Mereka berniat mencelakai Putra Mahkota, bahkan membunuh guru kalian. Aku ingin menemukan pemimpin mereka dan membalas dendam," Yi Ze mengepalkan jemarinya.
"Sebelum mengurus balas dendam, lebih baik Nona segera berlari menuju istana. Waktumu tidak lagi banyak," Murid Tuan Song mengeluarkan botol kecil berisi puluhan pil berwarna biru "Bawalah ini, Ini adalah obat penting Lembah Chi kami. Dulu hanya digunakan untuk berhati-hati kalau ada yang tak sengaja menyentuh Rumput Merah. Kini, kau bisa memberikannya pada Putra Mahkota jika racun Rumput Merah tidak sengaja bangkit lagi. Racun itu tidak membunuh, hanya sangat menyiksa jika dibiarkan saja. Pergilah, hati-hati di jalan. Setelah semuanya selesai diurus, aku sendiri yang akan menemuinya untuk bergabung bersama kami membalas dendam. Kami sangat berterimakasih padamu karena sudah mencegat kelompok penjahat itu, Nona Yi."
"Tapi aku tidak menemukan siapa yang menyuruh mereka melakukan itu, mereka memilih bunuh diri dari pada mengatakan yang sebenarnya," Yi Ze menghela napas berat.
Murid-murid itu melepas Yi Ze keluar di depan Toko Obat mereka. Yang tertua mengatakan mereka harus mengurus pemakaman guru mereka, juga mengurus hal lain untuk menyelesaikan pekerjaan guru mereka. Berita ini pasti akan segera menyebar di kalangan warga dunia persilatan.
Yi Ze mengangguk, mengucapkan terima kasih, bersiap hendak berlari menuju istana.
"Tunggu! Pakailah kuda kami. Akan sampai lebih cepat."
⚔️⚔️⚔️
Setelah sampai di istana, Yi Ze berlari memasuki Shuiquan. Yi Ze memberi salam pada Yang Mulia Raja yang tidak sabar menunggunya pulang.
"Apa kau membawa kabar baik?" Raja bertanya.
"Yi Ze menjawab. Yang dibawa Yi Ze ada kabar baik dan kabar buruk."
Raja menunggu penjelasannya.
"Racun ini, benar-benar tidak memiliki penawar apapun. Seorang tabib kenalanku mengatakan, satu-satunya cara mengeluarkan racun ini adalah mendorongnya dengan racun yang berlawanan dengannya," Yi Ze menjelaskan sedikit.
"Lantas, mana kabar baiknya, dan kabar buruknya?" Raja bertanya tidak sabaran.
Yi Ze menarik napas panjang, "Kabar baiknya, Putra Mahkota bisa disembuhkan menggunakan racun Bunga Rumput Merah. Kabar buruknya, meski Bunga Rumput Merah tidak membunuh, tapi memiliki efek samping yang cukup merugikan. Dia akan kehilangan separuh energinya. Mudah lelah, mudah kegerahan, harus mandi dengan air dingin, tidak boleh berdekatan dengan api, tidak boleh terkena cahaya matahari. Kemungkinan, dia akan tinggal dalam kegelapan selama hidupnya. Karena sejatinya, racun ini sejenis racun api, jika didekatkan dengan sesuatu yang panas, dia akan bangkit lagi, membuat penderitanya tersiksa luar dalam. Yang Mulia, apakah Yang Mulia mengizinkanku mengobatinya menggunakan racun ini?" Yi Ze meminta persetujuan dulu kepada Yang Mulia Raja.
Raja tidak segera menjawab, dia juga bingung sekaligus cemas seperti saat pertama Yi Ze mendengarnya. Tapi Yi Ze tidak punya waktu lagi. Dia harus meyakinkan Raja kalau tindakan yang dia putuskan ini benar.
"Yang Mulia, Bunga Rumput Merah belum menemukan penawar, tapi aku memiliki obat yang bisa meredakan efek sampingnya jika tidak sengaja kambuh. Selama itu, aku akan terus mencari penawarnya, sampai ditemukan, aku tidak akan meninggalkan Putra Mahkota. Yang Mulia, apa kau masih keberatan? Aku harus segera bertindak, waktunya tidak lagi banyak," Yi Ze menunduk.
Raja menghela napas panjang, "Lakukan apapun selagi dia bisa bangun, Yi Ze. Ke depannya, aku ingin kau terus mencari penawar yang benar-benar bisa membuatnya sembuh. Mulai besok, aku akan menambah pengawal di Shuiquan. Tidak ada yang boleh menggangu Putra Mahkota beristirahat."
Yang Mulia Raja langsung keluar sebelum Yi Ze menyuapkan penawarnya pada Putra Mahkota. Satu menit setelah obat itu masuk ke tubuhnya, hawa dingin di tubuhnya menghilang seketika, berganti menjadi begitu panas membakar. Tubuh Putra Mahkota banyak berkeringat, Yi Ze menyuruh Ji Xue dan Qing Yang menutup semua jendela dan mematikan semua lilin. Putra Mahkota tidak boleh terpapar cahaya matahari, dan tidak boleh berdekatan dengan api.
"Kalian keluarlah, aku akan menjaganya di sini."
⚔️⚔️⚔️
Plak!
"Bukankah racun itu sudah dihancurkan oleh mereka? Kenapa bisa muncul lagi?! Bahkan berhasil dibawa masuk ke istana? Sebanarnya apa gunanya aku memiliki kalian?! Sampah tidak berguna!"
Orang-orang di kediamannya bersujud di depan Xiulin, mengaku bersalah padahal tidak melakukan apapun.
"Terus awasi pergerakan dari Shuiquan. Aku harus mengetahui kabar apapun dari sana!"
"Menjawab, Yang Mulia Ratu. Yang dibawa Yi Ze bukanlah obat penawar biasa. Melainkan sejenis racun api. Yang kudengar, racun aneh di tubuh Putra Mahkota memang tidak memiliki penawarnya, hanya dengan menggunakan racun api agar racun dingin ini keluar. Tapi kabar baiknya, meski dia bangun lagi, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Efek samping racun api sangat membuatnya menderita. Saranku, Ratu tidak perlu repot-repot mencari racun lagi, dia sudah keracunan dan tidak bisa disembuhkan. Ratu hanya perlu mengawasinya saja, mungkin tanpa sengaja membuatnya terpapar cahaya matahari, maka, dia pasti akan lebih tersiksa lagi."
Xiulin menatap salah satu bawahannya yang sangat setia itu, "Idemu, tidak buruk juga, Lian Shen. Kalian pergilah, aku harus memikirkan cara lain. Sia-sia saja mengurus dan membesarkan tumbuhan beracun ini."
"Apakah perlu dibuang, Yang Mulia?"
"Tidak perlu, mungkin akan berguna kelak."
⚔️⚔️⚔️
Bersambung