
Yi Ze berjalan lunglai menuju rumah Lay Yi. Perempuan tua itu berdiri di depan pintu seperti sudah menunggunya. Tangis Yi Ze pecah begitu melihat Lai Yi tersenyum tulus ke arahnya.
Kakinya berlari menuju pelukan Lai Yi, pelukannya dibalas begitu erat oleh Lai Yi. Dia begitu paham yang ingin Yi Ze katakan.
"Bibi. Ibuku ...," Yi Ze menyeka air matanya, melepas pelukannya dan menatap Lai Yi dengan mata buram.
"Yi'er, ibumu sudah terbebas dari segala tanggung jawabnya." Lai Yi menjawab sebelum Yi Ze bertanya.
Lai Yi menjelaskan kalau mereka dibantai habis oleh sekelompok preman penunggu hutan, "Shujin memicu kemarahan mereka dengan membunuh lima orang rekannya."
Saat itu, kemampuan yang Shujin miliki disalahgunakan olehnya. Dia tidak menggunakannya untuk membantu warga desa, atau menolong seseorang. Shujin menggunakannya untuk pamer ke orang-orang dan menyuruh-nyuruh mereka melakukan sesuatu yang dia mau.
"Hei! Yu Li! Bisakah kau mengambilkanku air minum dari sumur? Aku haus, tapi terlalu malas untuk bergerak," dia juga menyuruh anak laki-laki berusia lima tahun untuk memenuhi kemauannya.
Dia juga pernah menyuruh kakek tua untuk mengambilkan pakaian basah milik ibunya di sungai. Padahal jaraknya cukup jauh untuk ditempuh seorang kakek sambil membawa wadah besar berisi pakaian basah.
Dia mengancam akan membunuh jika orang-orang lemah tidak mau mengikuti kemauannya.
Sesekali dia berlatih panah di lapangan tempat anak-anak bermain. Membuat anak-anak itu takut dan menyingkir dari tempat mereka sendiri.
Satu-dua memilih tertarik, menonton dengan wajah lugu, bertepuk tangan saat Shujin tepat mengenai sasaran, menyorakinya dengan senang dan bahagia.
Tapi Shujin tidak suka saat anak-anak menontonnya berlatih. Dia akan mulai memukuli jika anak-anak itu bandel, membuat mereka menangis, lalu mengadu pada ibu mereka.
Lantas ibu mereka tak ada yang berani memarahi Shujin karena kelakuan kasarnya pada anak-anak. Ibu mereka berakhir di rumah tetua desa. Melapor kejadian-kejadian menyebalkan karena ulah Shujin.
Sesekali tetua desa mengutarakan kebijakannya untuk Shujin. Tapi gadis itu semakin hari semakin membangkang. Dia hanya sibuk mengumbar kekuasaan dan menghamburkan harta. Dia menghabiskannya malam untuk memperdaya banyak pria. Tapi tubuhnya bahkan tak disentuh siapapun walau hanya sekali.
Suatu hari, Shujin pergi ke hutan untuk berlatih. Dia menembakkan sasarannya ke atas. Belasan burung terjatuh mengenaskan. Beberapa ekor rusa tumbang. Binatang lain berlarian menjauh sebelum ikut menjadi korban.
Rombongan preman hutan menghalangi jalan pulangnya. Tanpa peringatan, perkelahian meletus di tempat. Bahkan para preman itu tak mengatakan apapun yang bisa membuat Shujin begitu marah sehingga harus memulai pertarungan.
Tak butuh waktu lama, lima orang preman mati terbunuh dalam pertarungan itu. Tiga yang tersisa berlarian mundur. Tapi mereka tidak menyatakan kekalahan mereka, mereka hendak menyiapkan pembalasan dendam terhebat atas kematian lima temannya itu.
Begitu pulang ke rumah, tak ada mata yang tak tertuju ke arahnya, wajahnya yang penuh darah, pakaiannya yang kotor dan kusam, dan tak ada lagi anak panah tersisa di punggungnya.
Shujin menatap wajah-wajah para warga itu dengan dingin, "Hari ini aku membunuh lima orang preman hutan," ucapnya.
Para warga desa menunjukkan ekspresi terkejut, beberapa mulai bergosip, beberapa lagi hanya menutup mulut dengan mata membulat.
"Jika kalian masih di sini sambil berbisik-bisik mengenaiku, nasib kalian mungkin akan sama seperti preman-preman sialan itu," Shujin melanjutkan kalimatnya.
Mereka membubarkan diri, berlari tunggang langgang. Tak ada yang tak takut dengan ancaman Shujin. Mereka bahkan mengunci pintu rumah dan tidak keluar selama beberapa hari.
Selama beberapa hari itu, hutan itu menjadi sangat sepi. Tak ada hewan melintas, tak ada manusia yang mendekat. Bekas arena pertarungan bahkan dibiarkan seperti itu. Puluhan anak panah berserakan di tanah, belasan lainnya tertancap di pohon-pohon.
"Lalu Shujin pergi ke mana? Dia masih hidup, kan, Bibi? Dia baik-baik saja, kan?" Yi Ze memegang kedua tangan Lai Yi, memohon agar Lai Yi menjawabnya tanpa menutupi apapun.
Lai Yi memeluknya lagi, "Maafkan orang tua ini yang terlambat memberimu kabar, Nak. Kami menguburkan ibumu dengan pemakaman sederhana, mereka melakukannya, karena tidak ingin kau terlalu sedih. Shujin ... jasadnya dibawa preman itu tidak tahu untuk apa dan ke mana perginya mereka," Lai Yi menunduk dalam.
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze menangis terisak. Dia bersimpuh di depan gundukan tanah tempat ibunya dikuburkan. Warga mengerumuninya dengan wajah penuh iba. Lai Yi memeluknya dari samping, berkata tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan.
Yi Ze berbalik, "Aku ingin meminta maaf kepada kalian mewakili mereka," Yi Ze meletakkan pedang miliknya di tanah, kemudian berlutut di depan para warga yang berkumpul hanya menonton.
Mereka saling tatap, berkata bahwa Yi Ze tidak perlu melakukan itu. Memintanya berdiri, bahkan menyeka air matanya. Mereka berkata kalau Yi Ze tak perlu menangisi orang seperti ibunya dan meminta maaf untuknya.
"Setidaknya aku harus mengunjungi ibuku untuk memberikan penghormatan terakhirku," Yi Ze tersenyum.
Bahkan mereka juga membantu Yi Ze memperbaiki rumahnya yang rusak parah. Mengganti lantai ruangan yang sempat digenangi darah. Yi Ze sangat berterima kasih kepada para warga di desa.
"Yi Ze. Kami minta maaf atas perlakuan tidak pantas kami selama kamu tinggal di desa ini. Kami benar-benar minta maaf secara khusus padamu, Yi Ze," salah satu warga meminta maaf mewakili yang lainnya.
Yang lain turut mengangguki perkataan warga itu. Termasuk Lai Yi. Dia bahkan berlutut di depan Yi Ze, meminta maaf secara pribadi. Diikuti warga lain yang juga berlutut di depannya.
Yi Ze ikut berlutut dan menunduk di depan mereka, "Kalian sungguh tak perlu melakukan ini kepadaku. Kalian tak bersalah, aku tahu betul akulah yang harus meminta maaf atas apa yang dilakukan keluargaku kepada kalian, aku sungguh minta maaf."
Para warga saling menatap, kemudian salah satu dari mereka kembali bicara, "Bukankah sebaiknya, kita lupakan saja urusan ini? Ini sudah lama sekali terjadi dan kita baik-baik saja sekarang, bukankah kita bisa menjadi tetangga yang baik? Benar, bukan? Kita akan berbagi hasil buruan kita, memasaknya bersama-sama seperti dulu lagi. Yang membuat berbeda adalah, kini ada Yi Ze bersama kita,"
Warga lainnya berseru-seru setuju.
Yi Ze menggeleng, "Aku tidak bisa menjadi tetangga kalian lagi."
Kalimat itu membuat seruan semangat mereka raib begitu saja. "Kenapa? Bukankah kau sudah membersihkan rumahmu? Kami bahkan membantumu memperbaikinya."
"Apa kau masih tidak mau bertetangga dengan kami, Yi Ze?" yang lain menimpali.
"Apa kau tidak mau tinggal di desa ini lagi, Yi Ze?" yang lain lagi menambahkan.
Yi Ze menggeleng, senyumnya merekah, "Aku tidak pernah mengatakan itu, Teman-teman. Hanya saja, aku ingin tinggal sendirian di hutan."
Mereka saling tatap lagi, "Kenapa?"
"Aku tidak bisa bertetangga bukan karena tidak menyukai kalian. Itu karena aku ingin tetap mengabdi kepada guruku. Dan tinggal bersamanya untuk selalu menjaganya." Jawab Yi Ze jujur.
"Wahh, Yi Ze kita sekarang sudah memiliki guru bela diri. Bukankah itu bagus?" Lai Yi tersenyum lebar, tapi para warga itu tidak terlalu menanggapinya.
"Tapi, kau bisa mengajaknya tinggal di sini, bukan? Itu tidak akan merubah apapun. Kau bisa menjaganya, dan kami akan menghormatinya sebagai gurumu," mereka membujuknya lagi.
Yi Ze menatap Lai Yi. Berharap Lai Yi akan membantunya meyakinkan para tetangga baik hati ini.
"Mereka benar, Yi Ze. Bawa gurumu ke desa ini. Maka kau tidak perlu menjaganya seorang diri di tengah hutan." Lai Yi justru memihak para warga desa.
Yi Ze menghela napas. Kesabarannya sudah mulai habis, temperamennya yang buruk kembali lagi, "Tapi aku tidak datang untuk kembali tinggal di sini. Aku hanya ingin memeriksa keluargaku. Tapi yang terjadi bukan sesuatu yang kuharapkan. Menurut kalian, pantaskah kalian memaksaku seperti ini? Aku berhak membuat pilihanku sendiri. Kau pikir aku akan baik-baik saja jika tetap tinggal di sini?" nada bicaranya kian meninggi.
Para warga yang terkejut kembali saling menatap, sementara Yi Ze terkejut sendiri dengan perkataannya.
"Ah, tidak ... maksudku, aku tidak berniat memarahi kalian, hanya saja ... "
"Kami mengerti, kami minta maaf. Memang tidak seharusnya kami memaksamu seperti itu. Aku yakin desa ini membawa kepedihan sendiri untukmu. Jika enggan, kau bisa pergi ke mana pun kau mau, kami tidak akan menghentikanmu." Ungkap salah satu dari mereka.
"Tapi, bisakah kita mengadakan jamuan besar dulu sebelum kau pergi? Kami ingin menyambut kedatanganku sekaligus melepas kepergianmu." Yang lain menambahkan.
"Sering-seringlah mengunjungi desa tua ini, Nak," Lai Yi tersenyum.
Yi Ze mengangguk, "Baiklah. Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan sebelum aku pergi. Setelah itu tulislah ucapan selamat datang yang besar di depan perbatasan kita. Ucapan selamat datang itu adalah janjiku untuk sering mengunjungi keluargaku di sini."
⚔️⚔️⚔️
"Guru, bolehkan aku kembali tinggal di sini selama sisa hidupku? Rupanya keluargaku benar-benar mencampakkanku selama tujuh tahun terakhir."
⚔️⚔️⚔️
Bersambung