Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Yuehai



"Paman. Mohon maaf aku tidak pernah memberimu kabar sejauh ini. Kondisiku baik, terkadang sedikit kesulitan. Yang Mulia Raja belum memberiku gelar jenderal manapun, tapi dia memberiku pekerjaan sebagai guru bela diri Putra Mahkota. Semoga aku bisa segera mendapatkan jawaban yang kau ingin sekali aku mengetahuinya. Aku juga bertemu banyak teman lamamu, kudengar kau juga pernah mengabdi untuk negara, tapi kau tidak pernah menceritakannya padaku secara langsung.


"Aku akan pulang, Paman. Jaga diri Paman baik-baik hingga hari itu datang. Aku akan pulang setelah mendapatkan jawaban itu. Tidak akan membutuhkan waktu lama, Paman. Aku menunggu ceritamu saat masih menjadi jenderal.


"Malam ini aku terbangun karena sebuah mimpi yang aneh. Seseorang memanggilku dengan nama yang tidak kukenal, lalu aku menjawabnya dengan kata ibu.


"Aku, Yi'er, menyampaikan surat ini kepada Paman Yuhang."


Yi Ze mencuci kuasnya, meletakkan kembali ke kotak panjang, lantas menggulung surat yang baru saja dia tulis ke dalam tabung. Dia berniat mengirimkannya kepada Bibi Lai Yi di Shanjiao , supaya bisa segera tersampaikan pada Yuhang di Gunung Shahuang.


Dia terjaga sepanjang malam setelah bermimpi aneh. Di mimpi itu dia bertemu seorang wanita yang tidak dia kenali, tapi orang itu memanggilnya Yuehai. Kemudian dia menjawabnya dengan kata ibu.


Wanita itu berjalan perlahan ke arahnya dengan senyuman tulus, maniknya berair, tapi Yi Ze merasa tidak pernah bertemu dengan wanita itu.


"Yuehai," panggil wanita yang tidak Yi Ze kenali itu.


Yi Ze tersenyum, "Ibu."


Lantas terbangun tanpa tahu apa arti dari mimpi itu. Dia segera bangun dan memutuskan untuk menulis surat kepada Yuhang di Gunung Shahuang.


Yi Ze menyeruput teh yang sudah dingin. Duduk termenung memikirkan jawaban apa sebenarnya itu, dan apa kaitannya dengan dirinya. Yi Ze tertidur dengan kepala di atas meja. Penghuni kediaman membangunkannya saat fajar tiba. Berkata kalau sudah saatnya pergi ke istana.


Yi Ze bertemu Ji Xue saat baru memasuki gerbang istana. Ji Xue baru keluar dari kediaman pelayan dengan wajah yang masih mengantuk.


Mereka berjalan bersama menuju dapur. Yi Ze berniat memberikan makanan enak untuk sarapan Putra Mahkota kali ini. Tapi Ji Xue sudah membuatkan sarapan yang sama seperti kemarin.


"Biar aku saja yang makan lauk ini. Kau buatkan yang tidak ada bawangnya untuk Putra Mahkota," Yi Ze berkata.


Ji Xue mengernyit, "Aih, kenapa kau tiba-tiba sedikit lembut padanya, Nona? Bukankah-"


"Sudahlah, tidak apa-apa. Lupakan ucapanku tadi," Yi Ze menerima nampan berisi makanan yang sudah Ji Xue siapkan.


Matahari menerobos lewat kisi-kisi udara. Terasa hangat ketika berhadapan dengan tubuh kita, Yi Ze mengetuk pintu kamar.


"Nona Yi sudah datang, Yang Mulia."


"Biarkan dia masuk."


Yi Ze memasuki pintu yang dibuka oleh kasim yang berjaga di pintu. Dia meletakkan nampan di atas meja. "Datanglah pukul sembilan, aku menunggumu di lapangan," ucapnya. Lalu hendak kembali pergi.


"Hei, tunggu," Xiao Yuan menghentikan langkahnya.


Yi Ze berbalik, tapi pria itu tidak mengatakan apapun hingga membuat Yi Ze menunggu.


"Sebenarnya apa yang mau kau katakan padaku?" Yi Ze bertanya malas.


"Eh, itu ... soal kemarin, apa kau baik-baik saja? Kulihat lukamu cukup parah," Xiao Yuan acuh saja menyantap makanannya.


Yi Ze sedikit terkejut karena Xiao Yuan tidak memuntahkannya seperti kemarin. Tidak juga memarahinya sambil menumpahkan lauk-lauk itu ke kepalanya.


"Kau mampu memakannya, Yang Mulia?" Yi Ze balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Xiao Yuan.


"Kau belum menjawab pertanyaanku." Putra Mahkota mengunyah lagi, wajahnya sedikit pias karena tidak menyukai aroma bawang.


Yi Ze ingin tertawa melihatnya, tapi dirinya cukup tahu sopan santun untuk tidak melakukannya. "Aku pernah digigit serigala waktu masih remaja. Luka ini bukanlah apa-apa," Yi Ze memegang dahinya, ada luka yang cukup besar di sana.


Putra Mahkota menghela napas, "Kau bilang setiap hari makananku hanya ini. Paling tidak aku harus terbiasa menelannya," dia menjawab pertanyaan Yi Ze.


Yi Ze benar-benar tertawa sekarang, menuangkan air minum, "Tak perlu kau paksakan, Yang Mulia. Jika tidak suka, kau memang harus memakannya sampai habis."


Xiao Yuan menatapnya kesal, apa gunanya berkata tak perlu paksakan? Menghabiskannya lebih terpaksa dari sekadar mencoba terbiasa menelannya.


⚔️⚔️⚔️


Pukul sembilan, Yi Ze datang ke lapangan seperti biasanya. Menunggu Xiao Yuan sambil duduk berpangku pedang.


"Yi Ze!"


Yi Ze menoleh, yang datang bukan orang yang dia tunggu. Melainkan Pangeran Kedua. Pria tampan itu datang dengan pedang di genggamannya, tersenyum lebar.


"Mau bertarung denganku? Sejauh kita berteman, kita tidak pernah bermain dengan bebas. Sebelum Putra Mahkota tiba, mari habiskan tenagamu untuk melawanku," Pangeran tersenyum sambil mengayunkan pedangnya ke depan.


"Pangeran ini, belum pernah melihatku bertarung, tapi sudah memintaku melawanmu," Yi Ze terkekeh, berdiri setelah meletakkan minumannya.


"Jika belum tahu, kau juga tidak pernah tahu apakah aku bisa mengalahkanmu atau tidak. Cukup satu kali pertandingan saja, jangan saling mengalah, tunjukkan saja," Pangeran mengambil kuda-kuda, tangan kirinya bersiap melepas sarung pedang.


Yi Ze menyerangnya duluan. Gerakannya gesit dan sangat cepat. Tubuhnya lentur berkelit menghindari sabetan pedang panjang Pangeran, juga hebat mengarahkan pedangnya ke lawan, berkali-kali Pangeran kesulitan menghindar. Keduanya tampak bersenang-senang.


"Jangan salahkan aku jika terluka, Pangeran Kedua!" Yi Ze berseru, bergerak ke kiri, bergeser ke kanan, melompat ke atas, merunduk ke bawah, dia lincah bergerak menghindar, sambil sesekali menyabetkan pedangnya ke arah Pangeran.


Pangeran tertawa kecil, "Kita lihat saja siapa yang akan kalah!"


Di belakang mereka, Xiao Yuan tampak berjalan, dibelakangnya ada Ji Xue dan Zhou Jingmi, pengawal pribadinya yang lebih dulu berseru tak terkendali.


"Lihat! Nona Yi sedang bertarung melawan Pangeran Kedua!" Ji Xue bahkan melompat-lompat.


Zhou Jingmi mengangguk, mereka mulai bertaruh, "Siapa yang menurutmu akan menang?" tanya Jingmi kepada Ji Xue, "Ayo kita buat taruhan, jika Pangeran kalah, aku akan melayanimu selama satu minggu penuh. Jika menang, kau yang akan melayaniku selama satu minggu penuh," Zhou Jingmi tampak yakin dengan taruhannya. Xiao Yuan mendengus mendengar keduanya sedang bertaruh.


"Hei, Jingmi. Bukankah jelas Nona Yi yang akan menang? Kau lihat saja, dia selain menguasai teknik pedang, sepertinya juga memiliki bela diri yang bagus," Ji Xue memasang wajah sombong.


"Belum lihat belum ada yang tahu, siapa yang tahu Pangeran atau Nona Yi yang menang," Jingmi mengangkat bahu.


"Baiklah jika kau memaksa, kuturuti saja taruhanmu itu," Ji Xue mengangguk, kemudian menatap ke depan, Putra Mahkota melihat keduanya dengan serius, "Apakah Putra Mahkota juga mau ikut bertaruh dengan kami?" Ji Xue bertanya pelan, berpikir Putra Mahkota mungkin ingin bermain bersama para bawahannya juga.


Ji Xue dan Jingmi saling tatap, menahan tawa.


⚔️⚔️⚔️


Xiao Yuan berjalan lunglai ke dalam kediamannya tanpa dikawal siapapun. Melihat pertarungan sederhana antara adik dan gurunya membuat luka masa lalunya terbangun. Ingatannya kembali ke masa itu. Saat dia melihat ibunya ditusuk dengan sangat kejam oleh seseorang.


Malam hari itu, saat Xiao Yuan kecil terjaga dari tidurnya, dia berjalan mendekati kediaman Permaisuri Hua Jin. Seorang anak perempuan bersembunyi di balik pintu, tangannya gemetar, Xiao Yuan kecil berlari dan melihat apa yang terjadi pada ibunya. Tangan kecilnya melindungi gadis dua tahun itu dengan menutup kedua matanya.


Trauma itu terus membayanginya hingga dewasa. Jika mengingatnya, dia juga terus mengingat teman masa kecilnya itu. Xiao Yuan lama menyimpan rasa penasaran itu sendirian. Bahwa dia masih mencari keberadaan putri Xuan Lu, bahwa dia sebenarnya tahu kalau pelakunya bukan Xuan Lu. Dia hanya membutuhkan waktu yang lama untuk membuktikannya.


Xiao Yuan menekan sebuah tuas yang disembunyikan dibawah guci kecil di dalam lemari di kediamannya. Suara denyitan kecil terdengar, sebuah laci muncul dari dalam dinding. Itu adalah tempat rahasia yang hanya diketahui olehnya dan para pelayan yang melayaninya, seperti Ji Xue dan Zhou Jingmi.


Dia mengeluarkan selembar kain seluas telapak tangan yang berisi lukisan anak-anak. Di dalam lukisan itu, seorang anak laki-laki sedang menggandeng anak perempuan yang lebih pendek darinya. Di ujung kain, tertulis nama "Yuehai dan Yuan" yang sudah sedikit memudar.


"Sebenarnya kau pergi ke mana, Yuehai?" Putra Mahkota menangis sambil menggenggam erat kain itu dengan kedua tangannya.


Dia jatuh tertidur setelah lelah menangis.


⚔️⚔️⚔️


Zhou Jingmi berjalan terburu-buru dengan tangan penuh camilan. Tak jauh di depannya, Ji Xue duduk santai menunggunya datang.


"Lihatlah betapa senangnya dirimu dilayani pria tampan ini," Zhou Jingmi bersungut-sungut.


"Itu karena kau terlalu meremehkan Nona Yi. Jika kau percaya padaku, tak akan kuladeni kau!" Ji Xue merebut camilan di tangan Jingmi.


Seorang pelayan bernama Qing Yang berlari panik sampai terjatuh, dia berseru-seru memanggil Ji Xue.


"Ada apa, Qing Yang?" Jingmi bertanya, ikutan panik.


"Putra Mahkota jatuh sakit. Saat mengantarkan sarapan, kulihat tubuhnya menggigil dan wajahnya pucat, pasti penyakit takutnya kambuh lagi," jawab Qing Yang.


Ji Xue berusaha memahami situasi, "Itu karena kemarin!"


"Kupikir dia sudah sembuh karena kemarin tidak bereaksi apapun!" Zhou Jingmi langsung berlari, "Qing Yang! Panggil Nona Yi dan Tabib Zhang Ping cepat!"


Hanya menunggu beberapa menit, Yi Ze berlari memasuki kamar Putra Mahkota, di dalam sudah ada Tabib Zhang Ping yang sedang memeriksa.


Wajah Yi Ze tampak cemas. Dia berbisik kepada Ji Xue tentang kenapa Putra Mahkota bisa sakit. Ji Xue bilang itu karena kesalahannya yang membiarkan Putra Mahkota melihat pertarungan antara Yi Ze dan Pangeran Kedua


"Melihat saja bisa langsung sakit?" Yi Ze berbisik heran.


"Aku juga tidak menyadarinya, Nona," Ji Xue balas berbisik, "Kemarin dia biasa-biasa saja sampai kembali ke Shuiquan."


"Tabib Zhang Ping, kupikir, membiarkannya beristirahat tanpa diganggu siapapun adalah obat terbaik untuk sakitnya kali ini, ini terjadi karena dia melihat pertarunganku dengan Pangeran kemarin. Seharusnya besok pagi demamnya sudah menurun dan kembali sehat," Yi Ze menyarankan yang terbaik menurutnya.


Tabib Zhang Ping mengangguk, meminta Ji Xue dan Qing Yang kembali bekerja. Yi Ze menatap Putra Mahkota yang tertidur, tak jauh dari kepalanya, sebuah garpu menancap di dinding kamar. Yi Ze terkekeh, "Dia tidak melepasnya atau tidak bisa?"


Lantas berjalan hendak mencabutnya agar tidak membahayakan Putra Mahkota. Tapi tangannya tertahan karena ditarik Putra Mahkota.


Tangan itu hangat sekali, Yi Ze terpaku sejenak di atas ranjang Putra Mahkota, melihatnya tertidur dari jarak sedekat ini membuat Yi Ze sedikit merasa kasihan.


"Rasa takutnya selalu membayangi selama bertahun-tahun, meski gelarnya tinggi, hidupnya cukup menderita sejak usia kecil," Yi Ze bergumam dalam hati, bergerak perlahan melepaskan tangannya yang genggam Putra Mahkota.


"Yuehai."


Yi Ze terdiam lagi, terkejut Putra Mahkota mengigau menyebutkan nama itu. Yang baru kemarin dia memimpikannya.


"Kaukah itu?"


Yi Ze melihat wajah Xiao Yuan yang pucat, menyentuh dahinya yang terasa panas. Lantas dengan hati-hati keluar dari kediamannya.


Dia bertemu Ji Xue dan Zhou Jingmi di depan, kemudian memutuskan menanyakan hal yang terjadi barusan kepada mereka.


"Aku mendengar Putra Mahkota mengigau, dia memanggilku Yuehai, tapi tidak tahu siapa yang dia maksud," ucap Yi Ze.


Zhou Jingmi dan Ji Xue saling menatap, "Putra Mahkota mengingatnya lagi."


Yi Ze menatap keduanya bergantian, "Siapa mengingat siapa?"


Jingmi memutuskan menceritakannya pada Yi Ze karena berpikir kalau dia perlu tahu tentang ini. Selain kedua pelayannya, Ji Xue dan Qing Yang, juga Jingmi, hanya Yi Ze yang sering bolak-balik ke kediaman Putra Mahkota.


"Saat usianya masih lima tahun, Putra Mahkota memiliki seorang teman perempuan yang sangat dia sayangi seperti adiknya sendiri. Namanya Lin Yuehai. Yang Mulia Ratu Yang Lama bersahabat dekat dengan ibu Lin Yuehai. Sayangnya, suatu hari musibah menimpa ibu Lin Yuehai dan Yang Mulia Ratu Yang Lama, membuat Putra Mahkota berpisah dengan Yuehai, dan tidak mendengar kabarnya lagi hingga sekarang. Kami tidak yakin gadis itu masih hidup atau tidak, Putra Mahkota tidak pernah menanyakan apapun tentangnya pada siapapun, termasuk kami yang setiap hari bersamanya," jelas Zhou Jingmi.


Yi Ze langsung teringat tentang mimpinya malam itu, dia memikirkannya seharian. Terdiam di dalam kamar, bertanya-tanya dalam benak, mungkinkah mimpi itu dan Putra Mahkota benar-benar memiliki kaitan?


⚔️⚔️⚔️


Malam hari, Ji Xue bersiap hendak mengantarkan vitamin ke kamar Putra Mahkota. Qing Yang berjalan di sampingnya, mengobrol ceria.


Saat membuka pintu, mereka terkejut karena tidak menemukan Putra Mahkota di dalam kamarnya. Panik berlari keluar.


"Ada apa, Ji Xue?" Yi Ze yang kebetulan sedang lewat bertanya khawatir.


"Putra Mahkota, Putra Mahkota tidak ada di kamarnya!" Qing Yang berseru histeris.


Zhou Jingmi yang tertidur saat berjaga langsung terbangun kaget.


⚔️⚔️⚔️


Bersambung