Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Shahuang



Shujin berdiam duduk di depan kamarnya, dia kesepian karena A-Yin sudah mulai bekerja di sebuah kedai teh. Shujin pusing memikirkan uangnya yang sudah tidak ada pemasukan. Tapi keluar rumah mencari pekerjaan seperti yang dilakukan A-Yin juga bukan pilihan bagus untuknya.


Belakangan ini Shujin sering melihat murid-murid Sekte Shaolin dan sekte-sekte persilatan lainnya. Orang-orang hebat itu berkeliaran di Beizhou sudah sekitar satu bulan yang lalu sejak dirinya melarikan diri setelah membunuh Kepala Sekte Duan.


Dia memikirkan pertemuannya dengan Kepala Bandit yang menemuinya kemarin. Dia sudah berjanji pada Yi Ze untuk tidak berbuat jahat lagi. Tapi hanya misi ini yang bisa membantunya menghasilkan uang.


Kemarin di waktu yang sama, seekor merpati pos mendarat di Kediaman Qingchu, Shujin mengambil gulungan kertas kecil yang diikat di kaki merpati, lalu membaca isinya.


"Shujin. Kudengar kau satu-satunya bandit yang berhasil lolos dari kejaran orang-orang Sekte Duan. Jika kau menerima surat ini, datanglah ke Gua Yin saat itu juga, Kepala menunggumu di sana, dia ingin kamu melaksanakan sebuah tugas yang hanya bisa dilakukan olehmu."


Begitu mendatanginya di Gua Yin, Shujin menerima perintah dari kepala bandit mereka untuk mengikuti rombongan Putra Mahkota dan membunuhnya, rombongan itu akan berangkat ke Shahuang besok pagi. Shujin bertanya kenapa kepala menyuruhnya membunuh seorang pwaris tahta. Kepala menjawab kalau itu perintah dari atasannya yang menginginkan Pangeran Kedua menggantikan posisi penting itu.


Shujin memikirkannya seharian, dia tidak mungkin mengikuti rombongan Putra Mahkota yang dipimpin oleh kakaknya sendiri. Terlebih, kemampuan Yi Ze sudah lebih unggul dibanding dirinya. Shujin tidak ingin kakaknya tahu kalau dia selama ini masih sering menerima perintah dari Kepala Bandit.


Shujin menyelinap keluar kediaman pada malam hari, memakai pakaian serba hitam, Shujin memiliki tujuan untuk menyelinap masuk ke istana. Itu dilakukannya untuk memastikan apakah Kepala Bandit benar-benar bekerja dengan seorang permaisuri dari istana kerajaan.


Begitu menyelinap masuk, Shujin menyapu seluruh istana dengan matanya yang jeli, semua lilin sudah mati, Shujin bersembunyi di antara atap-atap kediaman ketika melihat kakaknya berada di depan salah satu kediaman mewah itu. Shujin menebak itu adalah Shuiquan milik Putra Mahkota.


Ada satu kediaman yang masih begitu terang di tengah malam seperti ini. Shujin mendarat di sana, lalu mengendap-endap masuk.


Dia mendengar pembicaraan Permaisuri Xiulin dengan pelayannya Lian Shen.


"Kau sudah menerima balasan dari orang luar?"


Lian Shen menunduk, "Maaf, Permaisuri, mereka belum menemukan orang yang bisa membunuh Putra Mahkota."


"Kurang ajar!" Xiulin menampar Lian Shen begitu keras hingga tersungkur.


Shujin menutup mulut, "Seperti yang kudengar, Permaisuri satu ini benar-benar sangat kejam!" gumamnya dalam hati.


"Beritahu mereka lagi, cepat menemukan orang yang bisa membunuh Putra Mahkota!"


Lian Shen menunduk dalam, "Baik, Yang Mulia!"


Shujin menampakkan dirinya, "Kau ingin membunuh putraku sendiri rupanya."


Xiulin langsung menodongkan pisau tajam ke lehernya, "Kau siapa?"


"Kau masih saja bertanya. Padahal kau sendiri yang menyuruhku membuntuti Putra Mahkota dan membunuhnya. Masih ingin aku melakukannya atau tidak?"


"Bagaimana kau mendatangiku?" Xiulin masih enggan memercayainya.


Shujin menyerahkan gulungan surat yang dia terima dari Kepala Bandit. Xiulin langsung mengeluarkan ratusan tael emas dan memberikannya pada Shujin.


"Asal kau bisa membunuh sampah itu, aku akan menambahkannya lagi."


Shujin menggeleng dengan wajah cuek, "Aku tidak menginginkan uangmu, sih. Hanya saja aku mengajukan sebuah syarat."


"Apa itu? Sebutkan saja." Xiulin menatapnya tidak sabaran.


"Bunuhlah seseorang."


Xiulin menatapnya heran, "Siapa yang ingin kau bunuh?"


Shujin tertawa, "Aku memiliki seorang kakak, dia benar-benar setia pada yang ingin kau bunuh itu. Jika kau ingin aku membunuh Putra Mahkota, kau harus membunuh kakakku terlebih dahulu. Aku tidak akan bertindak sebelum mendengar kabar kalau Jenderal Besar Pasukan Selatan itu sudah mati. Lalu setelah putra keduamu naik tahta, pastikan kau memilihku untuk mengepalai militer kerajaan."


⚔️⚔️⚔️


Saat ini, Yi Ze sedang dalam perjalanan menuju Shanjiao. Ada dua puluh orang pasukan yang mengawal perjalanan panjang ini. Awalnya Raja mengirimkan lebih banyak, Yi Ze menolak karena merasa direpotkan dan merepotkan. Raja tidak memaksanya, membiarkan Yi Ze hanya membawa dua puluh orang pasukan, sudah ada Jingmi yang membantunya di perjalanan.


Bahkan Yi Ze sendiri yang mengusiri kereta kuda Putra Mahkota, Jingmi duduk di sisi satunya, selalu bertanya sudah sampai di mana setiap berlalu lima jam.


Sekarang lima jam sudah berlalu lagi, mereka beristirahat yang ke-tiga. Kali ini perhentian mereka hanya di tepi hutan kecil saja, sebelumnya di kota-kota besar dan beberapa desa.


"Daerah ini lapang, satu hari ke depan kita akan melewati padang rumput ini menelusuri tepian danau, jangka waktu istirahat kita diperpanjang lagi, setiap delapan jam baru beristirahat selama tiga puluh menit. Kita hanya punya persediaan makanan selama satu hari. Harus menemukan pemukiman sebelum bekal kita habis," Yi Ze memberikan instruksi pada pasukannya.


Di dalam kereta kuda, Xiao Yuan tersenyum memandangi wajah Yi Ze, betapa kagumnya dia dengan rasa kepemimpinan Yi Ze. Juga mengagumi betapa tunduknya para pasukan itu terhadap pemimpin yabg baru.


Yi Ze memasuki kereta kuda dengan makanan di tangannya, "Yang Mulia, makanlah sesuatu," dia memberikannya pada Xiao Yuan.


Sebelum menerimanya, Xiao Yuan lebih dulu mengintip makanan apa yang dibawa Yi Ze ini, "Sudah dingin, tak mau makan," hasil akhirnya adalah demikian.


Yi Ze menghela napas kesal, "Kau tahu sendiri betapa merepotkannya racun itu jika kau berulah, kan?" kesabarannya sudah di ujung tanduk.


Xiao Yuan justru nyengir lebar, "Kau sendiri yang memasukkannya, kau juga yang harus bertanggung jawab."


Yi Ze memasang wajah datar, "Terserah kau saja. Bukan urusanku lagi," Yi Ze berbalik, hendak membawa keluar makanan dingin itu. Tapi tangan Xiao Yuan mencegahnya, "Karena kau yang memberikan, kupikir akan terasa hangat saat memasuki tenggorokan," celetuknya.


Yi Ze terkekeh kecil, entah kapan dia bosan berulah.


Jlep!


Di luar, mulai terdengar suara gaduh, desingan anak panah memenuhi udara, seruan para pasukan terdengar menghiasi. Yi Ze mengatupkan rahang, "Yang Mulia, sepertinya ada yang menyerang kita."


Yi Ze meraih pedangnya, bergegas keluar membantu yang lain, tapi Xiao Yuan memegangi tangannya begitu erat, lalu menggeleng kuat, "Kau tak boleh meninggalkanku sendirian."


Yi Ze tersenyum, "Beri aku waktu, lima menit saja," ucapnya pelan, "Jingmi, bawa kereta kuda menjauh dari sasaran panah mereka. Jangan terlalu jauh!" Yi Ze melompat keluar, Jingmi mengambil alih kemudi kereta kuda.


Setelah melatih fisik dan tenaganya selama bertahun-tahun, gangguan kecil seperti ini bisa ditanganinya selama beberapa menit saja. Dia bergerak ke sana kemari menangkis serbuan anak panah dari segala arah, melindungi dua puluh pasukannya. Juga melindungi kereta kuda Xiao Yuan.


Orang-orang itu akhirnya keluar dari persembunyiannya, mungkin persediaan anak panah mereka sudah habis, bersiap menghunus pedang.


Meski jumlah mereka lebih banyak, Yi Ze benar-benar mengatasinya dalam lima menit saja. Tidak ada satupun dari pasukannya yang mati, hanya terluka kecil saja.


Yi Ze tersenyum kecil, "Tuan Muda, aku sudah menepati janjiku, kan? Keluarlah! Tidak ada yang perlu kau takutkan!" serunya ke arah kereta kuda yang berhenti dua puluh langkah dari tempat bertarung.


Xiao Yuan keluar, wajahnya masam, terlihat pucat. Dia jelas tidak terbiasa melihat pertarungan seperti itu, beruntung dia sudah bisa mengendalikan dirinya agar traumanya tidak muncul lagi.


Jingmi mengembangkan payung, mengantarkan Xiao Yuan menuju Yi Ze. Tersisa beberapa langkah, Yi Ze mendengar suara tarikan busur, arah itu dari balik pohon, Yi Ze melihatnya, anak panahnya tertuju pada Xiao Yuan dan Jingmi yang sedang berjalan ke arahnya.


Yi Ze berlari cepat, mendorong Jingmi hingga terjatuh, payung yang dia pegang terpental jauh, kemudian tangan Yi Ze dengan cepat memeluk Xiao Yuan, anak panah itu meleset, mengenai lengannya, membuat pakaiannya robek, Yi Ze mengerang sedikit.


"Yi Ze!" Xiao Yuan berseru.


⚔️⚔️⚔️


"Kau begitu ceroboh," sejak tadi, Xiao Yuan selalu bersungut-sungut, membersihkan darah yang keluar, membalutnya dengan kain. Dia bahkan merobek pakaiannya sendiri.


Sedangkan Yi Ze tidak berkutik dari duduknya, memperhatikan Xiao Yuan yang begitu cakap mengobatinya, sama sekali tidak ada lagi Xiao Yuan yang selalu kasar padanya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Baru menyadari kalau aku tampan?" Xiao Yuan mendekatkan wajahnya ke wajah Yi Ze, refleks Yi Ze menghindari tatapan itu, membuat Xiao Yuan terkekeh.


"Sejak kapan kau begitu baik padaku?" pada akhirnya, Yi Ze menanyakannya juga.


Xiao Yuan memperbaiki posisi duduknya, "Aku bahkan ingat semua hal yang pernah kita lalui di masa kecil, berbuat baik padamu hanya hal kecil saja."


Mendengar itu, Yi Ze menatapnya serius, "Jangan berkata seakan-akan kita sudah saling mengenal selama itu, Tuan Muda. Aku gurumu, yang baru kau kenal selama beberapa bulan!"


Xiao Yuan langsung terdiam, menundukkan kepalanya, "Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikannya lagi," gumamnya dalam hati.


"Kelak kau harus mengingatnya."


⚔️⚔️⚔️


Satu hari dalam perjalanan, Yi Ze dan rombongannya tiba di Shanjiao. Sebelum naik gunung, dia sempat menemui Lai Yi untuk beristirahat.


"Lama tidak berkunjung menemui orang tua, begitu berkunjung membawa banyak sekali pasukan. Entah harus bangga atau bagaimana," Lai Yi tertawa bergurau.


Yi Ze tersenyum, "Melihatmu begitu sehat, aku sungguh tenang, Bibi. Aku ingin menyewa penginapan barumu untuk tempat tinggal sementara pasukanku. Bisakah kau membantu?"


Lai Yi menatap satu-persatu pasukan yang dibawa Yi Ze, "jumlahnya dua puluh orang, ditambah satu pengawal dan satu tuan—"


"Aku dan Jingmi akan membawa Tuan Muda ini ke atas gunung, bertemu Master Yuhang," Yi Ze segera memotong.


"Baiklah, totalnya jadi hanya 100 tael perak saja. Satu orang 5 tael untuk satu hari satu malam termasuk biaya makan," Lai Yi menyodorkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyuap nasi.


"Dia makan dengan tangan kiri dan meminta uang dengan tangan kanan," Xiao Yuan mendekatkan mulutnya ke telinga Yi Ze, berbisik pelan.


Sedangkan Yi Ze sudah menatap Lai Yi begitu serius, "Bibi, kau tidak berbelas kasih pada putrimu satu-satunya ini?"


Jingmi menatapnya heran sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sesekali matanya menoleh ke belakang, para pasukan itu sedang saling berbisik, mempertanyakan sebenarnya sedekat apa hubungan Yi Ze dengan nenek tua ini? Baru sampai bisa mengobrol begitu lama, bahkan memperdebatkan sesuatu yang entah ke mana. Mungkin pikirnya begitu.


"Kau yang tidak berbelas kasih pada ibu tuamu satu-satunya ini. Penginapanku baru dibuka, tapi kau santai sekali meminta tumpangan gratis, aku juga memerlukan uang untuk biaya makan mereka. Juga upah memasak," Lai Yi menggelengkan kepalanya berkali-kali.


Yi Ze menghela napas, "Baiklah, aku berutang saja dulu. Kelak, kau tagih saja ke pria tua yang tinggal di gunung itu, sebenarnya dia sangat kaya. Hanya tidak pamer saja."


Akhirnya Lai Yi menyetujuinya, "Karena kau mau naik gunung, bagaimana kalau turun dengan membawa 200 tael perak? Kau menunggak selama satu hari, bayarnya jadi dua kali lipat."


Yi Ze mengernyit kesal, "Naik saja belum kulakukan, kau sudah memintaku turun membawa uang sebanyak itu. Pikirmu aku naik untuk merampok guruku sendiri?"


Xiao Yuan saling menatap dengan Jingmi, "Mereka bisa berdebat semalaman sambil berdiri di sini, haruskah kita tidur dulu saja?" bisiknya pada Jingmi, karena sebelumnya Yi Ze tidak menanggapi bisikannya.


"Apakah mereka memang suka seperti ini?" Jingmi menanyakannya pada Xiao Yuan.


Xiao Yuan mengangkat bahu. Dia baru bertemu dengan Nyonya ini, mana dia tahu kebiasaannya akan seperti ini. Yang bisa mereka lakukan adalah menunggu mereka selesai bernegosiasi, tidak baik memutus pembicaraan orang tua, apalagi pergi begitu saja.


Akhir dari perdebatan itu adalah Lai Yi mengalah pada Yi Ze. Sengaja memberikan Yi Ze satu penginapannya itu untuk menampung dua puluh pasukan yang dia bawa. Sebenarnya bisa saja dia membawa seluruh pasukan itu ke atas gunung, hanya saja Gunung Shahuang ini memiliki udara yang dingin, rumah Yuhang tidak cukup besar untuk menampung semuanya, jika dibiarkan tidur di luar, Yi Ze khawatir dengan segala risiko yang akan datang.


Lai Yi menatap Xiao Yuan sesaat sebelum mereka berpamit pergi, "Lama tidak bertemu, kau tumbuh dewasa menjadi pria tangguh. Semoga keinginanmu terwujud setelah bertemu orang itu," pesannya singkat. Putra Mahkota memasang ekspresi heran.


⚔️⚔️⚔️


Sebelumnya, para pasukan itu menolak saat Yi Ze memerintahkan mereka untuk beristirahat, bilang kalau di tengah hutan lebih berbahaya, memaksa Yi Ze untuk mengawalnya dan Xiao Yuan hingga tiba di rumah Yuhang .


Yi Ze berkata dengan tegas kalau dirinya mampu melindungi Xiao Yuan sendiri, apalagi ada Jingmi yang membantunya. Hutan itu pernah menjadi rumahnya, dia paling mengerti rumahnya sendiri.


Akhirnya para pasukan itu tunduk, membiarkan Yi Ze hanya membawa Jingmi naik ke atas gunung untuk mencari Yuhang.


Sebenarnya, bukan karena dia bisa melindunginya sendiri saja, ada alasan lain yang membuatnya tidak bisa membawa orang ramai ke rumah Yuhang. Itu karena Yuhang pernah menjadi orang istana bertahun-tahun yang lalu. Dia khawatir ada salah satu dari mereka yang masih mengenali wajah jenderal dalam legenda itu.


Perjalanan menunggangi kuda hanya memakan waktu setengah hari saja. Setiap satu jam, Yi Ze bertanya pada Xiao Yuan apakah dia lelah? Xiao Yuan selalu menggeleng dan ingin bergegas tiba di tujuan.


Hari ini, salju tidak turun seperti hari-hari kemarin, udara dingin masih menusuk tulang, Yi Ze sesekali menggigil, Jingmi sesekali bersin-bersin, hanya Xiao Yuan yang terlihat tidak kedinginan.


"Tuan Muda, apa kau mau beristirahat?" Yi Ze bertanya sekali lagi.


"Kau tidak bosan, ya? Jawabanku selalu sama, tidak ingin. Meski kau bertanya seribu kali pun, aku tetap tidak ingin istirahat." Xiao Yuan menjawabnya dengan nada kesal, membuat kudanya berada di depan Yi Ze.


"Kalau begitu, kau lanjutkan saja sendiri. Jingmi, kita beristirahat di sini sebentar, kau kedinginan, kan? Kita membuat api unggun kecil," Yi Ze menghentikan kudanya.


Xiao Yuan ikut menghentikan kudanya, menatap Yi Ze tidak mengerti, setelah beberapa saat, "Kenapa tidak kau katakan saja seperti itu? Kau sibuk menanyai apakah aku lelah dan mau beristirahat, tentu saja tidak. Tapi jika pertanyaanmu 'bolehkan kita berhenti sebentar?' Aku tidak akan menolak," akhirnya dia bergabung bersama yang lainnya. Duduk di bawah pohon besar.


"Aku sebagai manusia normal, memiliki rasa lelah ketika menunggangi kuda selama berjam-jam. Kau mungkin bukan manusia, jadi tak beristirahat pun tidak masalah. Tapi aku dan Jingmi jelas perlu beristirahat, walau hanya sekadar membuat api unggun kecil, menghangatkan tubuh itu diperlukan!" Yi Ze mengeluarkan pemantik api, matanya menyorot tajam ke arah Xiao Yuan, "Kau menyingkir yang jauh!"


⚔️⚔️⚔️


Mereka tiba di rumah kayu tua itu setelah berkuda selama satu jam lagi, rumah itu tampak tidak terawat, Yi Ze mengetuk pintu, tidak terdengar sahutan.


"Nona, apa kau yakin gurumu tinggal di rumah tua ini? Bagaimana jika harimau yang tinggal di sini?" Jingmi menatap sekitarnya dengan penuh khawatir.


"Kau tenang saja, JingmiDia memang tinggal di sini, dan tidak akan pergi dari sini," Yi Ze berjalan menuju area belakang rumah. Kebun buah dan sayur yang dia rawat dulu sudah tidak berbentuk sekarang. Yi Ze menghela napas, "Tampaknya aku meninggalkan tempat ini terlalu lama."


"Yi Ze, kau pernah tinggal di sini?" Xiao Yuan bertanya dengan ekspresi terkejut.


Belum sempat menjawab, sebuah anak panah melesat menuju mereka, Yi Ze menangkisnya dengan mudah, "Siapa di sana?!" serunya lantang.


"Berani sekali kau! Seharusnya aku yang bertanya, siapa kalian menyusup ke rumah orang begitu saja?" seorang pria tua muncul dari depan mereka.


Yi Ze melihat Yuhang menggenggam sebuah busur, di sampingnya seekor rusa tergeletak tidak berdaya. Yi Ze malah menyerangnya dengan pedang yang dia bawa. Yuhang langsung melawan, mengeluarkan pedang, menangkisnya, lalu menangkisnya lagi, lalu berkelit, lalu menangkisnya lagi.


⚔️⚔️⚔️


Bersambung