
Ji Xue merapikan kamar Putra Mahkota sambil menangis. Isakannya bahkan terdengar sampai luar, membuat Putra Mahkota mendengus mendengar suara mengganggu itu.
"Jangan berlebihan, Ji Xue. Kau tahu aku akan kembali," Putra Mahkota memutar bola mata kesal.
Bukannya berhenti, tangisan itu malah menjadi-jadi, "Aku takut Yang Mulia tidak makan dengan baik begitu keluar dari istana. Di luar sana tidak ada pelayan yang bisa sabar dan tabah membuatkan ribuan hidangan hanya untuk satu kali sarapan sepertiku, Yang Mulia. Bisakah kau membawaku juga?" Ji Xue menyeka air matanya.
Putra Mahkota menatap jijik, "Tidak perlu! Membawamu lebih merepotkan dari pada membawa seekor gajah!"
Ji Xue mengerucutkan bibir, "Hari-hari kemarin, Yang Mulia Raja pasti akan mengirim beberapa pengawal terbaik untuk mengantarmu keluar istana. Sekarang justru sebaliknya, tidak ada yang peduli sama sekali. Yang Mulia, haruskah kau sejauh ini?" Ji Xue menatapnya lebih serius.
Perubahan ekspresi itu membuat Putra Mahkota mengartikannya sedikit berbeda. Dia menyentuh kedua pundak Ji Xue, mencoba meyakinkannya, "Ji Xue, kau memercayai Yi Ze, kan?"
Ji Xue menggeleng.
"Ji Xue," Putra Mahkota menatap wajahnya, "Lihat aku, Ji Xue. Kau memercayai Yi Ze, kan?" Putra Mahkota mengulangi pertanyaannya.
Ji Xue menggeleng lagi, "Aku memercayai Yang Mulia. Yang Mulia percaya Nona Yi tidak melakukan itu, maka aku memercayainya juga, Yang Mulia."
Putra Mahkota terdiam, "Kau harus memutuskannya sendiri, Ji Xue. Dalam hatimu, apa kau memercayainya?"
Ji Xue menggeleng lagi, "Aku memercayai Putra Mahkota."
Putra Mahkota menjauh dari hadapannya, "Baiklah, terserah kau saja," lalu dia keluar dari kamar.
"Yang Mulia, setidaknya aku tahu kedudukanku, aku akan memercayai apapun yang kau percayai, meski itu sebuah kebohongan," Ji Xue bergumam pelan, membuat Putra Mahkota menghentikan langkahnya.
Putra Mahkota berbalik lalu tersenyum, "Lakukan apa yang kau inginkan, Ji Xue. Teruslah memercayaiku, jangan pernah berhenti melakukannya."
Ji Xue mengangguk, "Terima kasih, Yang Mulia."
"Yang kita utamakan saat ini adalah menyelamatkan Yi Ze, kita harus terus berjalan dan jangan berbalik," Putra Mahkota tersenyum, Ji Xue mengantarkannya hingga ke luar istana.
⚔️⚔️⚔️
Putra Mahkota berkuda menuju Hai'an bersama Jingmi. Kuda itu ia beli sendiri dari tukang kuda terbaik di Ibukota. Karena jarang keluar, rakyat Ibukota sendiri bahkan tidak tahu kalau dia adalah Putra Mahkota yang diasingkan.
"Kudengar, guru bela diri yang mendampingi Putra Mahkota ternyata adalah anak pengkhianat yang menghilang itu."
"Demi membela gurunya, Putra Mahkota bahkan rela kehilangan statusnya."
"Menurutmu, di mana dia sekarang, ya? Apakah benar-benar diusir dari istana?"
"Padahal Putra Mahkota sebelumnya begitu disayangi Raja."
"Tidak habis pikir bagaimana Putra Mahkota bisa membela anak orang yang sudah membunuh ibunya sendiri."
"Dia pasti memiliki alasan pribadi untuk melakukan pengorbanan sebesar itu."
"Apakah dia sudah mencintai gurunya?"
"Aisshh, itu tidak mungkin."
"Mungkin saja, kita tidak ada yang tahu!"
Putra Mahkota melirik ke belakang. Sepertinya obrolan orang-orang itu cukup menyenangkan, hingga berani menduga-duga yang terjadi pada putra negara.
"Yi Ze, benarkah aku sudah mencintaimu?" Putra Mahkota bergumam dalam hati, "Jika dipikirkan, ucapan mereka tidak hanya sekadar gosip, mungkin ada benarnya. Aku rela melepaskan statusku untuk menyelamatkanmu, Yi Ze." Putra Mahkota menghela napas.
Jingmi menahan tawa mendengar gosipan orang-orang di belakangnya. Putra Mahkota segera melotot padanya, "Kau tidak perlu mendengarkan hal tidak penting itu!"
"Bukankah terlalu menyenangkan untuk dilewatkan, Tuan Muda?"
Pletak!
Jingmi meringis, "Maafkan aku, Tuan Muda, hanya bercanda," tawanya berhenti.
Makanan yang dipesan Putra Mahkota sudah datang. Omong-omong, dia sedang berada di restoran kemarin, tempat dia bertemu A-Yin. Bedanya, dia memilih duduk di lantai bawah karena tidak cukup uang membeli ruangan.
"Tuan Muda, kau datang lagi?" itu adalah pelayan yang kemarin memanggilkan A-Yin. Putra Mahkota mengangguk, "Apakah teh ini sama seperti kemarin?"
"Tentu saja, Tuan Muda. Haruskah kupanggilkan anak itu lagi?" pelayan itu tersenyum lebar.
Putra Mahkota menggeleng, "Tidak perlu, aku hanya mampir untuk makan."
"Tuan Muda, apa kau sudah dengar rumor tentang Putra Mahkota?"
Putra Mahkota langsung menghentikan gerakan tangannya yang akan menyendok. Dia mendengus, "Aku tidak ingin mendengarnya."
"Kudengar Putra Mahkota akan dieksekusi mati untuk menggantikan gurunya yang seharusnya dieksekusi pagi ini, Tuan Muda. Kau sudah mendengarnya? Ekspresimu sepertinya tidak terkejut," pelayan itu terlihat kecewa.
"Apakah aku harus terkejut? Bagaimana jika ternyata pemuda itu sedang berkeliling kota dengan santai? Berkuda tanpa beban seperti pemuda-pemuda lain? Kalian tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah besar itu tapi bergosip seperti melihatnya sendiri setiap hari. Entah mana yang bisa dianggap benar," Putra Mahkota kesal dengan obrolan premium di restoran ini. Nasinya masih sisa separuh, tapi dia sudah tidak ingin menghabiskannya lagi.
"Heh, Tuan Muda! Kenapa kau tidak tertarik dengan topik hangat ini?" pelayan itu berseru memanggilnya.
Putra Mahkota berjalan melewati meja yang dikerumuni gadis-gadis tukang gosip tadi.
"Putra Mahkota tidak mungkin mencintai gurunya. Kudengar guru wanita itu berupa jelek dan sama sekali tidak cantik. Kenapa Putra Mahkota harus jatuh cinta padanya?"
"Apa kau berpikir dia seharusnya jatuh cinta padamu?"
"Jika aku bertemu dengannya, kuharap begitu."
"Omong-omong, Putra Mahkota juga bukan orang yang bisa dianggap menawan, jelas-jelas dia begitu jelek sehingga tidak pernah keluar istana."
Putra Mahkota melotot mendengarnya, ingin menegur tapi tidak mau harga dirinya ditelan gadis-gadis ini. Dia hanya bisa mendengus dan bersungut-sungut dalam hati.
"Yi Ze, tindakan yang kau ambil lebih merugikan bagi reputasiku!"
⚔️⚔️⚔️
Putra Mahkota menghentikan kudanya di pesisir pantai. Jingmi menyusul. Seorang pemuda menunggunya dengan kuda, melambaikan tangan, Putra Mahkota menghampirinya.
"Kau Feng Shui?" Putra Mahkota menatapnya dari ujung ke ujung.
Feng Shui mengangguk, mengeluarkan sebuah pelat. Itu adalah pelat yang sama persis seperti yang diambil Raja dari Yi Ze.
"Hei! Bagaimana kau memilikinya?" Putra Mahkota melotot, hendak merebutnya dari Feng Shui.
"Karena aku adalah Feng Shui," Feng Shui menghindari tangkapan Putra Mahkota.
"Sebelum kembali, Jenderal Yi memberikan pelat ini padaku, dia menitipkan ratusan ribu pasukannya padaku. Entah apa yang akan dia lakukan, tapi dia berhasil meyakinkan pasukan sebanyak itu untuk memihaknya apapun yang terjadi. Kepercayaan itu dia dapatkan hanya dengan tiga bulan menemani latihan saja," Feng Shui menjelaskan kenapa pelat itu ada padanya.
"Hei! Gadis kecil itu lebih rumit dari manusia biasa kau tahu. Dia pasti memiliki rencananya sendiri, entah kenapa aku begitu memercayai orang yang sudah dianggap pengkhianat itu."
Putra Mahkota terkekeh, "Sepertinya berita itu benar-benar sudah bocor."
"Rumor itu, ya? Aku tertawa sepanjang jalan hingga dianggap gila begitu mendengar omong kosong itu," Feng Shui ikut tertawa, menatap Jingmi untuk meminta pendapatnya.
"Tidak hanya aku yang melakukannya, Tuan Muda," Jingmi terkekeh sambil mengangguki kalimat Feng Shui.
"Lupakan saja. Ada yang harus kita urus sekarang," Putra Mahkota mengeluarkan buku catatan kecil.
"Apa itu?"
"Ini catatan kejahatan yang dilakukan Ratu. Petunjuk perjalanan kita ada di sini," Putra Mahkota memeriksa isinya.
"Hei, kau mendapatkannya dari mana?" Feng Shui memasang wajah terkejut.
"Pelayanku mencurinya. Hanya butuh setengah jam untuk menyalin semua isinya."
"Wah, dia jenius," Feng Shui memuji, "Kenapa banyak sekali orang yang terlibat?" Feng Shui membaca satu-persatu urutan nama yang tertera di lembar pertama, "Hei! Mereka bahkan meracunimu?"
Putra Mahkota tertawa, "Kini aku tahu kenapa tubuhku begitu lemah sejak kecil. Ternyata asupan makanku selalu diberi racun," beberapa tulisan sedikit luntur, bahkan ada yang telah ditulis ulang, "Ji Xue pasti menulisnya sambil menangis," Putra Mahkota tersenyum hambar.
"Yang Mulia, kau harus menemukan orang-orang ini, aku akan membantumu. Perbuatan ini, tidak bisa dimaafkan," Jingmi merangkul pundak Putra Mahkota, Feng Shui menganggukinya.
"Tentu saja! Aku akan membalas dendam pada semua orang ini," Putra Mahkota menutup catatan itu.
"Aku tahu tempat terbaik untuk mencari keberadaan mereka," Feng Shui membawa Putra Mahkota ke Toko Obat Zhuihuan.
"Catatan ini lebih rumit dari yang kukira, Feng Shui. Jangan dulu masuk, kita masih harus memecahkannya." Putra Mahkota menahan Feng Shui yang melangkah maju.
"Lihatlah, Yang Mulia. Mereka bahkan membunuh beberapa orang!" Putra Mahkota membaca barisan yang ditunjuk Feng Shui.
"Seorang wanita dan bayinya," Putra Mahkota bergumam.
"Siapa Jenderal Xie Xuan?"
"Wanita dan bayi ini pasti keluarga Jenderal Xie Xuan itu," Putra Mahkota menebak-nebak.
"Lihat! Ini catatan kematian Permaisuri, Yang Mulia!" Feng Shui menunjuk barisan lain.
Di situ tertulis, kematian Ratu Hua Jin yang ditusuk menggunakan pedang panjang. Pelaku aslinya adalah Jenderal Xie Xuan. Mereka merencanakannya seolah-olah Ratu Hua Jin sudah membunuh keluarga Jenderal Xie Xuan, dan membiarkan Jenderal Xie Xuan balas dendam kepada orang yang salah. Kejadian itu justru dilemparkan pada Xuan Lu yang berniat menyelamatkan Ratu yang sudah tidak bernyawa.
"Feng Shui, jika kematian ibuku sudah direncanakan seperti ini, siapa yang seharusnya disalahkan?" Putra Mahkota menatap nanar, "Kepada siapa aku seharusnya marah? Mereka merencanakan semua ini, membunuh orang tak bersalah, melibatkan korban untuk menjadi pelaku, melibatkan orang lain untuk dijadikan tersangka. Semua ini terlalu rumit."
"Yang Mulia, semua ini, tidak ada kaitannya dengan ibu Yi Ze atau Jenderal Xie Xuan. Mereka hanyalah bidak catur untuk membantu si pemain menuju kemenangannya. Posisikan dirimu di tempat Jenderal Xie Xuan, Yang Mulia. Ketika keluargamu dihabisi begitu saja, hatimu pasti ingin membalas dendam. Mereka melempar kesalahan mereka pada ibumu, membuat Jenderal Xie Xuan membalaskan dendamnya pada orang yang salah. Dia melarikan diri, melemparkan kesalahannya pada Ibu Yi Ze. Dan dia menjadi korban hukum yabg salah target. Itulah yang terjadi," Feng Shui merangkul pundak Putra Mahkota.
"Dia tidak lebih buruk dari orang-orang di daftar ini, bukankah begitu? Jika dia mengaku telah membunuh ibuku, Bibi Xuan tidak akan dituduh membunuh ibuku." Putra Mahkota tetap tidak menyukainya.
"Kau pikir Jenderal Xie Xuan tahu kejadiannya akan seperti itu? Mari kita temukan petunjuk berikutnya, Yang Mulia. Kita harus mencari keberadaan Jenderal Xie Xuan, agar kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi hari itu," Feng Shui memeriksa catatan itu lagi, "Orang-orang yang membunuh ini tampaknya sudah tidak ada yang hidup, Yang Mulia. Lihatlah, tinta yang digunakan untuk menulis nama-nama ini lebih pudar dari nama-nama lain. Warnanya serupa dengan yang digunakan untuk menulis nama orang-orang yang dibunuh," Feng Shui menjelaskan teorinya.
"Jenderal Xie Xuan ini, di mana kita harus mencarinya?" Putra Mahkota bertanya pelan.
"Dia pasti Jenderal Xie Xuan yang pernah menjabat sebagai Jenderal Pasukan Selatan Yang Lama. Seharusnya dia teman ayahku sebelum dia gugur di medan perang," Feng Shui menjawab.
"Kita harus kembali ke istana," Putra Mahkota bergegas hendak menaiki kudanya lagi.
"Tidak bisa, Yang Mulia!" Feng Shui menghentikannya, "Kita tidak bisa kembali ke istana. Memasukinya saja bahkan sulit untukmu. Percayalah! Tempat tujuanku bisa menjawab semuanya."
Putra Mahkota berpikir sebentar, kemudian mengangguk, "Kita masuk sekarang."
Mereka memasuki Toko Obat Zhuihuan, beberapa pegawai menyambut mereka, dan bertanya obat apa yang mereka butuhkan.
Putra Mahkota menatap Feng Shui, itu mengisyaratkan kalau dia bertanya, "Apa yang bisa kita dapatkan dari toko obat ini?"
"Tuan Muda, jangan sembunyikan kalungmu," Feng Shui mengeluarkan kalung yang bersembunyi di balik kerah baju Putra Mahkota.
Begitu para pegawai itu melihatnya, mereka langsung mengantar Putra Mahkota dan Feng Shui ke lantai atas. Mengetuk salah satu kamar yang berada di ujung lorong, lalu meninggalkannya begitu saja.
"Hei, mereka pergi?" Putra Mahkota menatap kepergian dua pegawai itu.
"Sebenarnya, Yi Ze yang memintaku datang ke toko obat ini. Dia bilang orang-orang toko obat ini mengenalnya, dan akan membantu kita, selama mereka tahu kalau kita adalah teman Yi Ze. Kita menemukan jalan buntu bahkan sebelum melangkah," Feng Shui menjelaskan padanya sedikit.
"Setelah ini bagaimana?" Putra Mahkota bertanya tidak sabaran.
"Kita tunggu orang di dalam membuka pintu."
Tidak lama menunggu, pintu itu terbuka lebar. Feng Shui dan Putra Mahkota memasuki kamar luas itu. Seorang pria muda menyuruh mereka duduk.
"Sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang masalah di dunia ini. Tapi guruku menyimpan banyak sekali catatan yang bisa membantu kalian menemukan sebuah jawaban. Katakan, kalian benar-benar teman nona muda itu?" pria muda tersenyum riang, wajahnya tampak bersahabat.
"Kami teman Yi Ze, Tuan. Kami di sini untuk menemukan petunjuk agar bisa menyelamatkannya dari tuduhan yang tidak benar," Putra Mahkota menjawab sesopan mungkin.
"Hei ... tidak perlu memanggilku Tuan, aku tidak setua itu. Panggil saja Bai Yue. Sekarang, katakan apa yang kalian butuhkan dari informasi kami?" Bai Yue bertanya ramah.
"Kami mencari keberadaan Jenderal Xie Xuan. Dia pernah menjabat sebagai Jenderal Pasukan Selatan di istana Beizhou."
Bai Yue terdiam sebentar, ia berdiri lalu menarik sebuah gulungan lama dari lemari, dia membuka catatan itu, tentang yang terjadi di hari itu juga, "Setelah kejadian itu, Jenderal Xie Xuan tertulis melakukan perjalanan untuk mencari putri dari wanita yang dieksekusi itu. Tidak ada catatan lain yang tertulis di sini. Petunjuknya adalah, jika kalian datang ke daerah Shanjiao, carilah perempuan tua bernama Lai Yi, jika sudah bertemu dengannya, mencari Jenderal Xie Xuan akan lebih mudah," Bai Yue kembali duduk.
"Kau bilang Lai Yi?" Putra Mahkota tampak terkejut mendengar nama itu, "Bagaimana dengan putri wanita yang dipenggal itu?" Putra Mahkota bertanya lagi, untuk memastikan dugaannya tidak benar.
"Sekali kau menemukan Lai Yi, kau akan menemukan keduanya. Entah anak itu, atau jenderal yang kalian cari."
Putra Mahkota tercekat, jawaban Bai Yue membuatnya terpukul. Dia teringat pernah bertemu wanita bernama Lai Yi itu di Shanjiao, dia juga ingat hubungan dekat Yi Ze dengan Lai Yi.
Putra Mahkota langsung tahu kalau pria yang menyembuhkannya di puncak gunung Beizhou adalah Jenderal Xie Xuan yang dimaksud.
"Xie Xuan adalah Yuhang yang kukenal."
Mungkin Yi Ze tidak mengetahuinya, tapi fakta satu ini terlalu menyakitkan untuk diketahui di saat-saat seperti ini.
"Kita berangkat sekarang, Feng Shui," Putra Mahkota bergegas menyimpan catatan kecilnya.
"Tapi Yang Mulia, Shanjiao itu jauh," Feng Shui mengeluh, "Kita harus makan siang dulu."
"Tidak ada waktu, Feng Shui. Kita harus segera pergi ke Shanjiao. Yi Ze tidak bisa menunggu lagi! Eksekusi itu akan dilakukan tiga hari setelah tidak ditemukan bukti kesetiaannya."
⚔️⚔️⚔️
Bersambung