
"Baiklah. Aku akan mengajukan beberapa syarat untukmu," Yi Ze memutuskan untuk menyetujui pertunangannya begitu membaca surat permintaan yang ditulis sendiri oleh Ratu kepada Raja, dia berjalan memasuki Aula Besar lagi.
Kedatangannya membuat semua pasang mata tertuju padanya, terlebih saat melihat wajahnya yang terlewat serius itu.
"Yang Mulia, aku tidak akan menentang pertunangan itu dan melakukannya sesuai dekret yang kau keluarkan. Tapi, aku ingin mengajukan beberapa syarat untuk calon suamiku," Yi Ze bahkan sudah berani menyebut Pangeran sebagai calon suaminya.
"Tentu saja!" Raja berseru menyetujui tanpa berpikir apapun lagi.
"Aku seorang Jenderal Pasukan Selatan sekaligus Kepala Militer. Aku ingin mengunjungi daerah perbatasanku selama beberapa bulan mulai dua hari dari sekarang. Selama beberapa bulan itu, tanggal pernikahan tidak boleh ditentukan sebelum aku pulang. Bisakah kau menyetujuinya, Yang Mulia Pangeran?" Yi Ze menoleh menatap Pangeran yang sedikit keberatan.
"Kau juga tidak boleh menggangguku selama beberapa bulan itu. Aku sudah menunda kepergianku ini sejak satu bulan yang lalu, aku tidak bisa menunda lagi."
Pangeran akhirnya mengangguk, "Aku akan menyetujui persayaratan apapun yang kau minta. Baiklah. Dua hari dari sekarang, kau akan pergi ke perbatasan. Selama kau pergi, aku tidak boleh membahas pernikahan ini sebelum kau kembali, aku menyetujuinya," Pangeran mengangguk mantap.
⚔️⚔️⚔️
Burung-burung berkicau di atap bangunan, Putra Mahkota sibuk menyipitkan matanya sambil berusaha fokus melemparkan kerikil ke atap bangunan kamarnya. Ketika kerikil terlempar, satu burung terjatuh.
"Wah, Yang Mulia. Kemampuan menembakmu sepertinya meningkat. Yang kuingat terakhir kali, kai menghabiskan banyak anak panah saat menembak satu ekor burung merpati," Jingmi datang sambil membawa satu teko berisi teh hijau kesukaan Putra Mahkota.
"Itu karena waktunya sedang malam, bodoh! Lagipula burung merpati itu terbang terlalu tinggi. Berbeda dengan mereka yang hanya berkicau di atas atap," Putra Mahkota ingin sekali menimpuk Jingmi dengan kerikil yang dia genggam.
"Kalau begitu, kemampuan memanahmu sebenarnya tidak meningkat sama sekali," Jingmi menarik ucapannya lagi.
Putra Mahkota nyaris menimpuknya dengan kerikil, Jingmi menutup wajahnya dengan nampan yang dia bawa.
"Ji Xue sudah kembali, ya?" Putra Mahkota menatap teh hijau yang disandingkan Jingmi, itu khas sekali seperti buatan Ji Xue.
Jingmi mengangguk, "Ibunya melahirkan dengan lancar, adiknya laki-laki lagi."
Putra Mahkota tertawa, "Kasihan sekali dia, kelak akan semakin merepotkan mengurus tiga adik laki-lakinya."
Jingmi mengangguk, "Kudengar adik pertamanya sudah dikirim ke Sekte Duan untuk mempelajari ilmu medis."
"Omong-omong, kau ingin mengatakan sesuatu?" Putra Mahkota membuka obrolan baru. Karena biasanya, Ji Xue tidak akan membuatkan teh jika dia tidak memintanya. Pagi ini Ji Xue membuatkan teh saat dia tidak memintanya, dia tahu ada yang ingin dikatakan oleh pelayannya itu.
"Lebih baik tunggu Ji Xue datang saja, Yang Mulia. Dia sedang berbicara dengan Yang Mulia Raja."
Menunggu sekitar lima belas menit, Ji Xue datang bergabung dengan mereka. Jingmi menyambutnya dengan memberikan satu cangkir teh, Ji Xue meminumnya sekali teguk. Putra Mahkota menanyakan apa yang ingin Ji Xue katakan padanya.
"Ah, itu, Yang Mulia. Sepertinya, sikap Qing Yang sedikit aneh belakangan ini," Ji Xue duduk di depan Putra Mahkota, menuangkan tehnya ke dalam cangkir kecil kosong, lalu meminumnya.
Putra Mahkota menatapnya tajam, pelayan ini tidak tahu malu. Tapi setiap dia menatapnya seperti itu, Ji Xue tidak pernah mengetahuinya.
Sebelum Yi Ze datang, di istana ini hanya Ji Xue yang bisa sedekat itu dengan Putra Mahkota. Bahkan duduk di meja yang sama dengannya, dan tidak takut dimarahi olehnya. Sebelum Yi Ze datang, Ji Xue jarang sekali memberanikan diri berperilaku sesuai keinginannya, tidak seperti Jingmi yang menemani Putra Mahkota melakukan apapun, dia lebih sering kena marah meski akhirnya terulang kembali. Tapi sejak Yi Ze datang, dia bisa lebih menunjukkan sisi perempuannya dari pada hanya seorang pelayan.
"Kenapa Qing Yang bersikap aneh?" Putra Mahkota bertanya. Karena Ji Xue tak kunjung melihat tatapan keberatannya,
"Waktu Nona Yi dalam perjalanan ke Perbatasan Selatan, dan Yang Mulia menerima surat darinya, Qing Yang sudah mengawasi surat itu. Waktu aku pergi ke dapur, kau meminta Qing Yang untuk membakarnya karena situasimu tidak memungkinkan. Di lorong Kediaman Pelayan, aku melihatnya diam-diam membuka surat itu, aku menegurnya sebelum dia sempat membacanya. Tapi aku tidak tahu apakah dia benar-benar membacanya atau tidak," jelas Ji Xue. Dia juga menjelaskan keanehan Qing Yang saat perjamuan semalam.
Beberapa saat kemudian, Yi Ze membuka gerbang Shuiquan, lalu bergabung dengan meja Putra Mahkota. Tapi anehnya, Putra Mahkota langsung membuang muka begitu Yi Ze duduk di sampingnya.
"Apa dia tahu tentang kejadian semalam?" Yi Ze bertanya pada Jingmi, dia tentu saja memahami kenapa Putra Mahkota begitu marah padanya.
"Kejadian apa semalam?" Ji Xue bertanya menyela.
"Begini, Nona. Aku tidak bermaksud memberitahumu, tapi pelayan-pelayan di sini tidak bisa menahan mulut mereka untuk tidak bergosip. Putra Mahkota mendengar tentang pertunanganmu. Aku sudah menjelaskan kalau kau pasti memiliki rencana sendiri untuk menghindari itu, bukan? Tapi dia tidak mau mendengarkanku," Jingmi menjelaskan dengan kepala tertunduk, jelas dia merasa bersalah.
"Pertunangan?" Ji Xue terkejut mendengar cerita Jingmi. Tapi mereka tidak menghiraukan pertanyaannya yang tidak mengetahui apa-apa.
"Belum tentu dia benar-benar ingin menghindarinya, kan? Bisa saja dia sudah menunggu momen itu sekian lama. Kudengar dia juga menyukai adikku yang keren itu," Putra Mahkota menguap, bola matanya berputar ke sana kemari.
Yi Ze mendengus, laku menimpuk kepala Putra Mahkota, "Apa yang kau pikirkan, Yuan?"
Putra Mahkota melotot, dia terkejut karena Yi Ze sudah berani memanggil namanya saja dan bahkan menimpuk kepalanya, "Hei! Kau ingin dipenggal?"
Yi Ze menatapnya malas, "Kau pikir aku bisa memutuskan hal seperti itu begitu saja? Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak kuinginkan! Tidak peduli itu dekret atau apa, jika harus melawan perintah Raja sekalipun, aku tidak akan benar-benar menikahinya," Yi Ze merebut cangkir teh milik Ji Xue. kemudian meminumnya.
Sementara Ji Xue bingung apa yang terjadi di istana sejak dia pergi. Pertanyaannya diabaikan mereka bertiga.
Yi Ze mengeluarkan surat permintaan yang ditulis Permaisuri untuk Raja, lalu mengeluarkan gulungan kertas kecil yang mereka dapatkan dari pembunuh malam itu, "Lihat, tulisan tangan ini nampak serupa," Yi Ze menunjukkannya pada Putra Mahkota dan Jingmi.
Mereka juga tampak terkejut, "Yi Ze, bisa kau jelaskan apa maksudmu?" Putra Mahkota lebih terkejut lagi, dia menggelengkan kepalanya berkali-kali dan tidak mau memercayainya.
"Tadi malam tidak menemukan tulisan tangan manapun yang cocok dengan kertas ini, Yang Mulia. Itu karena kita melewatkan satu kamar. Kita melewatkan kamar Permaisuri karena menganggapnya tidak sopan, apalagi kamar itu memiliki banyak penjaga wanita di depannya. Aku tidak berpikir untuk mencocokkan tulisan ini, tapi langsung cocok begitu aku menyandingkannya bersama," Yi Ze menggeleng pelan, "Aku merasakan ada yang aneh pada dekret itu. Dengar, bukankah aneh jika Permaisuri-lah yang meminta Raja untuk menikahkanku dengan putranya? Pangeran bilang ibunya begitu menyukaiku, sedangkan kami saja bahkan tidak pernah bertegur sapa. Dari segi mana dia menyukaiku? Ditambah lagi, jika terjadi begitu mendadak, aku mencurigai sepasang ibu dan anak itu. Ada sesuatu di balik pertunangan kami. Karena itulah aku memutuskan untuk menerimanya dengan sebuah syarat, aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan."
Putra Mahkota menelan ludah, penjelasan Yi Ze sulit diterima otaknya, "Maksudmu, kau benar-benar mencurigai Permaisuri dan adikku?"
"Maaf jika hipotesis ini menyakiti hatimu, Yang Mulia. Aku hanya menebak saja, Untuk membuktikannya, kita harus membuat rencana besar." Yi Ze menatap Putra Mahkota dengan intens.
"Yang Mulia, sepertinya perkataan Nona Yi ada benarnya," Ji Xue menengahi, matanya tampak kosong dan berkaca-kaca, "Jika kau bisa mengingatnya, Qing Yang adalah pelayan yang dikirim Ratu untuk membantuku melayanimu. Jika kita mengaitkannya, Qing Yang mungkin adalah mata-mata yang dikirim Ratu untuk mengetahui gerak-gerikmu." Ji Xue akhirnya mengetahui arah pembicaraan mereka bertiga.
"Dia benar, Yang Mulia. Jika bukan karena Qing Yang, dari mana para pembunuh itu tahu kalau kau pergi ke Shahuang? Dan mungkin, insiden sebelumnya juga berkaitan dengan hal ini? Racun yang diselundupkan Yang Xinyi ke dalam istana, siapa yang menerimanya? Lalu penyerangan terhadap Toko Obat Hai'an dan Master Song, siapa yang memerintahkannya? Jika bukan karena Qing Yang, Ratu tidak akan tahu apa yang terjadi padamu. Jika bukan karena Qing Yang, Ratu tidak akan bisa menyuruh orang-orang itu mencelakaimu," Yi Ze menatap Putra Mahkota dengan jelas, berharap Putra Mahkota mengerti penjelasannya.
"Lalu, apa rencanamu, Yi Ze?" Putra Mahkota menatap Yi Ze lebih baik, "Kau tahu, kan? Aku lebih memercayaimu dibanding siapapun."
Yi Ze tersenyum lega.
⚔️⚔️⚔️
Dua hari kemudian, Yi Ze meninggalkan istana lagi. Dia menuju Perbatasan Selatan bersama tujuh orang prajurit yang menjemputnya, perjalanan kali ini, dia hanya berkuda, tidak ada kereta kuda.
Selama di perbatasan, Yi Ze benar-benar memfokuskan dirinya pada pelatihan pasukan. Dia benar-benar tidak memalingkan wajahnya setiap hari dari pada pasukannya. Yi Ze ingin membangun ikatan yang kuat dengan para pasukan itu. Karena ini adalah keputusannya.
Karena mereka terlibat dengan urusan Ratu, maka ratusan ribu pasukan ini akan berguna untuknya kelak. Jika tidak ada jalan lurus lagi. Yi Ze berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyalahgunakan kekuasaannya.
Ketika dia menginjakkan kaki di perbatasan, perang itu sesungguhnya telah dimulai.
⚔️⚔️⚔️
Bersambung