
Pernikahan Yi Huan dan Ah In berjalan lancar tanpa hambatan, warga desa turut bersuka cita atas kebahagiaan yang dirasakan pasangan baru di desa mereka.
"Aku mencintai wanita ini! Aku mempertaruhkan apapun yang kupunya demi membahagiakan wanita ini! Restui pilihan kami wahai langit yang menurunkan hujan dan menerangi siang dengan matahari!" Yi Huan berseru sambil mendongak ke atas. Di sampingnya, Ah In menangis karena ketulusan suami barunya.
Yi Huan menatap istrinya, memegang tangannya lembut, dan bertanya pelan, "Sekarang aku suamimu, Ah In. Aku bertanggung jawab atasmu, apakah kau mampu bertanggung jawab atas putriku?"
Ah In tersenyum, "Aku bersumpah akan menjaganya dengan nyawaku, wahai priaku. Kau bilang putrimu istimewa, maka aku senang jika aku menjadi ibu bagi putrimu yang istimewa. Aku mempertaruhkan semuanya untuk menjaga putrimu."
Seluruh warga desa berteriak senang. Menghabiskan malam dengan minum arak. Ini adalah pesta terbesar yang pernah mereka rayakan sepanjang hidup mereka.
Dua tahun berlalu, Ah In melahirkan seorang anak perempuan. Wajahnya secantik dirinya. Yi Huan senang karena akhirnya putrinya tidak kesepian lagi.
Tapi sejak putri keduanya lahir, Yi Huan menderita sakit keras. Dia hanya berbaring di ranjang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya meninggalkan dunia. Selama itu, sikap Ah In kepada Yi Ze mulai berubah.
Sebenarnya, sumpah itu palsu. Rasa sayang itu hanyalah kebohongan.
⚔️⚔️⚔️
Pagi buta, Yi Ze pergi setelah Lai Yi mengoleskan obat herba di lengan kanannya yang terluka. Lai Yi membawakan banyak makanan untuknya setiap berhenti untuk istirahat. Juga beberapa helai pakaian.
Yi Ze menghafal hutan ini hingga radius dua belas kilometer. Sisanya, Yi Ze diarahkan terus berjalan ke arah timur oleh Lai Yi.
"Bawalah makanan ini, perjalananmu akan jauh. Aku mengenal seorang ahli pedang yang tinggal di tengah hutan, kau bisa belajar darinya jika beruntung." Ucap Lai Yi saat menyerahkan makanan itu untuk Yi Ze.
"Apakah dia pendiri sebuah sekte besar?"
Lai Yi tertawa, "Dia pernah menjadi jenderal kepercayaan Raja," sambil mengelus puncak kepala Yi Ze.
"Apa Bibi tahu tempat tinggalnya di mana?" tanya Geum-bi antusias. Lai Yi menggeleng, "Aku tidak pernah bertemu dengannya."
"Jika tidak pernah bertemu, kenapa bilang mengenalnya?"
"Pergi saja mengikuti arah sungai mengalir. Kau hafal jalur pendakian gunung ini, Bukan? Kau selalu mengarahkan orang-orang yang tersesat. Jika kau kehilangan arah, selalu pergi ke timur. Entah berapa lama waktu yang kau butuhkan, kau pasti akan bertemu dengannya."
Yi Ze terus berjalan ke arah timur saat sungai yang diikutinya bercabang ke utara dan selatan. Terkadang dia berhenti di bawah pohon besar untuk beristirahat dan mengisi perut yang kosong.
Bekal ini terbatas, dia hanya makan beberapa suap saja sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sejak kecil, dia sering menghabiskan waktunya untuk berkeliling hutan. Dia suka menangkap kelinci, walaupun tidak pernah berhasil menangkapnya. Yi Ze tidak memiliki keahlian apapun. Oleh karena itu, dirinya hanya bisa menghabiskan waktu untuk membantu orang-orang tersesat, atau menyiangi rumput, memberi makan kambing dan membersihkan rumah mereka.
Setelah istirahat kesekian kali, Yi Ze bertemu anak laki-laki seusianya yang sibuk dengan anak panahnya. Terlihat beberapa ekor burung tergeletak mati tak jauh dari tempat anak itu berdiri.
Yi Ze menghampirinya, "Kau membunuh burung-burung itu?" nada bicaranya terdengar marah dan kesal.
Bagaimana bisa seseorang dengan santainya menganggukkan kepala saat pertanyaan semacam itu dilontarkan padanya.
"Jika sedang berlatih, setidaknya buat sasaran yang berupa benda mati. Jangan benda yang memiliki kehidupan. Burung itu tidak bersalah sama sekali. Kenapa kamu santai sekali menembakinya dengan panahmu?" Yi Ze terus melontarkan amarahnya kepada si anak.
Sementara anak itu hanya diam kebingungan, kemudian menjawab setelah mengerti maksud perkataan Yi Ze. "Ah, apa kau menyukai burung? Kenapa begitu keberatan? Dengar dulu. Aku sedang berburu. Apa kau pernah melihat pemburu yang membiarkan buruannya lepas?"
Yi Ze terdiam saat anak itu menjelaskan alasannya. Dia merasa malu, tapi benci untuk mengakuinya. Akhirnya, dia memilih untuk meninggalkan anak itu sendirian.
"Omong-omong, siapa namamu?" anak itu malah menyusulnya. Meninggalkan burung-burung buruannya begitu saja.
"Kau bilang tidak ada pemburu yang membiarkan buruannya lepas." Yi Ze mengabaikan pertanyaan anak itu.
"Biarkan saja, kamu juga buruanku sekarang. Siapa namamu?" si anak kembali mengulang pertanyaannya.
Yi Ze menatapnya kesal, "Apakah sepenting itu namaku?"
"Aku ingin bertemu lagi denganmu. Apakah itu disebut, berteman?" si anak memperjelas pertanyaannya.
Yi Ze menghentikan langkah. Menatap wajah anak itu dengan dingin. "Tidak boleh." Kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Hei, ayolah ...," si anak hendak kembali mengikuti Yi Ze, tapi Yi Ze mengangkat tangannya. Berkata kalau dia tidak boleh mengikutinya lagi.
Dia melihat bungkusan makanan yang dibawa Yi Ze sejak tadi. Menepuk-nepuk perutnya, menyeka wajahnya yang berkeringat.
Keduanya berakhir dengan membuat api unggun, anak itu menyembelih burung-burung hasil buruannya. Yi Ze mencari rempah-rempah, kemudian memasaknya dengan sederhana, namun hasilnya sangat memuaskan. Yi Ze membagi nasi bekalnya untuk si anak.
"Omong-omong, apa kau sering bolak-balik hutan ini?" anak itu bertanya memecah lengang.
Yi Ze menggeleng, "Aku tidak pernah pergi sejauh ini. Hanya beberapa kilometer dari batas desa saja," Yi Ze menjawab.
"Lokasi kita ini benar-benar jauh sekali dari desa, Gadis Kecil. Kau bilang hanya beberapa kilometer?" Si anak bertanya lagi.
Yi Ze menatapnya kesal, "Apakah kau tidak bisa berhenti bertanya? Nikmati saja makananmu, aku harus melanjutkan perjalananku sebelum matahari tenggelam."
Anak itu menyengir lebar, terlihat manis. Kemudian keduanya kembali fokus dengan makanannya masing-masing.
Sesudah selesai makan, Yi Ze hendak pergi lagi. Kali ini anak itu tidak menghalangi jalannya, melambaikan tangan sambil tersenyum, "Hati-hati di jalan!"
Yi Ze tidak menoleh, anak itu menghela napas kesal, "Pemburu tidak akan melepaskan buruannya," gumamnya sambil menatap kepergian Yi Ze.
"Tuan Muda! Kau pergi jauh sekali, kami mencarimu ke mana-mana!" dua orang dewasa berlari menghampiri anak itu.
Yi Ze menoleh ke belakang, melirik anak itu yang tengah menggaruk tengkuk sambil nyengir kuda, "Sepertinya dia berasal dari keluarga kaya. Lihatlah, dia punya pengawal, kuda mereka besar sekali," gumamnya.
Melihat Yi Ze sedang melirik ke belakang, anak itu melambaikan tangan tinggi-tinggi. Yi Ze segera melangkahkan kakinya lebih cepat. "Bodoh sekali!"
Dia adalah Xiao Yuchen, Pangeran Kedua Beizhou, putra kedua Raja Wangwei.
⚔️⚔️⚔️
Semakin ke dalam, hutan akan semakin gelap, matahari sudah terbit empat jam yang lalu, Yi Ze harus segera menemukan orang yang dimaksud Lai Yi sebelum gelap datang.
Dia harus bergegas kembali berkejaran dengan waktu. Semakin dalam, hutan ini akan semakin senyap, dan dia tidak tahu kapan hewan buas akan datang menerkam. Beruntung, Yi Ze tidak bertemu dengan hewan dalam bentuk apapun selama perjalanannya.
Beberapa jam ke depan, tidak ada yang tahu jika Yi Ze ternyata membangunkan kawanan serigala yang sedang tidur siang.
Kawanan serigala itu menggeram marah, dalam posisi siap menyerang kapanpun. Tubuh Yi Ze bergetar hebat. Ia tidak peduli bagaimana caranya, ia harus segera menyelamatkan diri dari kawanan serigala sialan ini. Ia tidak ingin mati mengenaskan di sini.
"Pergi kau!" Yi Ze berteriak meski tahu itu tidak ada gunanya.
"Aku bukan makanan sedap yang bisa kalian santap! Pergi!" Yi Ze terus mengoceh meski tidak merubah apapun.
"Aku tidak ingin mati seperti ini. Tak ada yang menguburkanku, tak ada yang mengucapkan selamat tinggal kepadaku." Yi Ze mengeluh meski tahu itu hanya membuang waktu.
Tapi kakinya tidak bisa bergerak karena rasa takut yang dialaminya.
Gerungan hewan liar ini menakutkan, gigi runcingnya, cakar-cakar tajam, mata yang menatap tak kalah tajam jelas membuat nyali Yi Ze ciut seketika.
Tangannya bergerak mengambil sebatang kayu, mengayunkannya ke arah kawanan serigala itu. Kayu itu patah begitu Yi Ze memukulkannya ke depan.
Satu serigala yang berdiri paling depan bergerak menerkam. Yi Ze hanya bisa memejamkan mata dan menyerah saja. Kakinya limbung dan terjatuh ke belakang, menabrak pohon, terasa sakit, tapi tak terasa karena rasa takutnya lebih besar dari rasa sakit itu.
"Ggrrrrrhh!"
Crang!
Suara pedang yang dihunus itu membuat serigala beringsut mundur. Tapi kaki depannya sudah melukai lengan kiri Yi Ze dengan cakar tajam.
Yi Ze menyaksikan pertarungan sengit antara lima ekor serigala dengan seorang pria tua dan pedangnya. Tapi hanya bertahan beberapa detik saja, setelah itu, Yi Ze kehilangan kesadaran.
⚔️⚔️⚔️
_bersambung_