Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Yang Xinyi



"Apa? Racun?" Xiulin berdiri dari duduknya. Wajahnya terkejut, "Siapa yang bertindak kurang ajar seperti itu? Berani sekali dia."


"Masih belum diketahui, Yang Mulia Raja merahasiakannya. Sekarang, Putra Mahkota sedang kritis, Yang Mulia. Tidak ada yang tahu racun apa yang masuk ke tubuh Putra Mahkota. Gurunya keluar untuk mencari penawarnya. Hanya saja, Putra Mahkota hanya punya tiga hari untuk bertahan hidup, jika gurunya belum kembali dalam tiga hari, mungkin benar-benar tidak akan selamat."


Xiulin menatap bawahannya yang setia itu, "Jika dirahasiakan, bagaimana kalian mengetahuinya?"


Lian Shen menunduk setelah bertatapan dengan temannya.


"Baguslah, jika ada orang lain yang ternyata begitu membenci Xiao Yuan. Aku tidak perlu repot-repot mencelakainya, hanya perlu bertindak di belakang layar saja," Xiulin menepuk pundak Lian Shen, menyuruhnya segera pergi, "Utus kelompok penjahat persilatan untuk mengikuti gadis hutan itu. Jangan sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan."


⚔️⚔️⚔️


Satu hari penuh Yi Ze gunakan untuk memata-matai empat nelayan yang dia curigai. Di antaranya adalah Chao Yiang, nelayan tertua di Hai'an, Zhi Peng, nelayan yang berpengetahuan luas, Ming Tianyu, nelayan yang berlayar paling jauh, dan Yang Xinyi, nelayan termuda sekaligus yang berpenghasilan paling banyak.


Dia melihat Chao Yiang adalah nelayan tua yang baik hati. Berkali-kali Yi Ze melihat pria 60-an itu membagi hasil tangkapannya pada orang-orang yang kurang beruntung. Yi Ze yakin, Chao Yiang tidak akan memiliki keberanian sebesar itu untuk mencelakai Putra Mahkota.


Beralih ke Zhi Peng, nelayan pintar itu menghabiskan waktunya untuk memperbaiki jala, Yi Ze juga melihat ada beberapa orang yang bertanya perkiraan cuaca padanya. Zhi Peng juga suka rela mengatakan apa yang dia tahu. Yi Ze menggeleng lagi, Zhi Peng bukan orang yang akan melakukan hal sebodoh itu.


Yi Ze berjalan lagi, mencari seseorang bernama Ming Tianyu. Nelayan yang berlayar jauh ini tampaknya tidak lebih beruntung dari nelayan yang dia temui sebelumnya. Terlihat sekali jika Tianyu ini adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Bisa dibilang sangat miskin.


Takdir membuat Yi Ze harus melihat keluarga Tianyu dianiaya pemilik perahu. Tianyu melindungi istrinya agar tidak dipukuli orang-orang suruhan pemilik perahu.


Yi Ze terpaksa turun tangan, membantu Tianyu melindungi istrinya. Yi Ze bahkan melawan orang-orang itu.


"Hei, Nona! Kau ini siapa? Putrinya? Kalau bukan, kenapa begitu peduli?" orang-orang itu bertanya kasar.


"Dia pamanku! Apa yang kalian lakukan padanya?" Yi Ze menjawab tidak kalah kasar. Mengacungkan pedang ke depan.


"Wah, Tianyu. Keponakanmu ini tumbuh menjadi pendekar berpedang yang hebat! Hei, Nona. Apa kau tidak malu memiliki paman sepertinya? Yang miskin! Bahkan berlayar mengelilingi samudra sekalipun tetap tidak bisa membayar sewa perahu! Kalau tidak berbakat menangkap ikan, sebaiknya tidak perlu jadi nelayan!"


Yi Ze menendang perut orang itu, "Siapa kau berani mengatai pamanku seperti itu?" Yi Ze menatapnya garang.


"Aku terlalu malas berdebat denganmu, Nona! Lebih baik berikan uangmu saja, dia sudah tiga bulan tidak membayar sewa perahu!"


Yi Ze menatap Tianyu. Di hatinya dia ingin membantu, tapi dia tidak memiliki uang lagi. Dia tidak tahu harus membantu dengan cara apa.


"Berapa?" Yi Ze bertanya acuh.


"Delapan puluh tael emas."


Yi Ze menahan napas, sebanyak itu, dia tidak memilikinya. Bagaimana dia akan membayarnya?


"Aku yang bayar!" seseorang berseru dari belakang mereka. Orang-orang penagih uang sewa itu menoleh ke belakang.


Ternyata dia Pangeran Kedua. Yi Ze tersenyum lebar. Betapa lamanya tidak bertemu Pangeran, Yi Ze merindukannya meski tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Pangeran Kedua menghampiri Yi Ze, melempar lima butir kelereng yang mengkilau, "Satu butirnya setara dengan dua puluh tael emas. Jika dijadikan uang, nilainya sama saja dengan seratus tael emas."


Orang-orang itu berjongkok memunguti lima butir kelereng, "Tianyu, tiga bulan ke depan kau aman berkat suami keponakanmu ini. Tapi jika setelah itu tidak membayar lagi, aku akan menarik perahumu saat itu juga!" mereka pergi setelah mengancam. Pangeran melambaikan tangan, "Lain kali jangan memakai kekerasan lagi, ya?!"


Yi Ze menatapnya kesal, "Bukankah yang bermasalah itu kata suami?"


Tianyu mengucapkan terima kasih tiada henti kepada Yi Ze dan Pangeran. Sedangkan keduanya terdiam dengan pipi hangat setelah mendengar perkataan orang-orang penagih uang sewa tadi.


"Tuan Muda, Nona, kami berterima kasih atas bantuan yang Tuan Muda dan Nona berikan. Kelak, kami pasti akan membayarnya kembali."  menunduk begitu dalam di depan keduanya.


"Paman, apakah perahu semahal itu? Kuda perang saja tidak lebih dari lima belas tael. Kenapa perahu milik mereka mahal sekali?" Pangeran Kedua bertanya, matanya mengikuti ke mana mereka pergi.


"Di pesisir ini, tidak ada penyewa perahu lain selain mereka. Jika ingin lebih murah harus membuatnya sendiri. Sedangkan aku tidak mampu dua-duanya."


"Tuan Muda, bisakah kau berikan satu butir lagi padanya?" Yi Ze menyikut lengan Pangeran.


"Tentu saja," Pangeran mengeluarkan satu butir lagi.


"Kulihat jalamu itu berlubang-lubang. Pantas jika kau hanya mendapat sedikit ikan meski sudah berlayar jauh. Belilah jala yang baru, semoga saja dapat memperbaiki keuanganmu yang turun ini," Yi Ze tersenyum.


Tianyu tersenyum bahagia, tidak henti-hentinya berterima kasih kepada orang-orang baik hati di depannya ini.


Yi Ze memegang pundaknya, "Tidak perlu berlebihan, Pak. Aku hanya kebetulan lewat saja, tidak bisa melihat orang dalam kesulitan."


"Kami berterima kasih sekali lagi kepada Tuan Muda dan Nona. Terima kasih."


Yi Ze menghela napas, "Jika kamu benar-benar ingin berterima kasih, bisakah menjawab beberapa pertanyaanku?"


Tianyu mengangguk berkali-kali, "Tentu saja, Nona. Aku akan menjawab jika memang mengetahuinya."


"Apa kau mengerti tentang racun?" Yi Ze langsung bertanya.


Awalnya Tianyu terkejut, kemudian menggeleng, "Aku ini hanya nelayan tua yang tidak berpenghasilan banyak. Satu hari berlayar, aku hanya mendapat lima ekor ikan paling banyak. Terkadang berpikir untuk meracuni ikan-ikan ini supaya mau masuk ke perangkapku. Tapi, aku tidak memiliki keberanian mencarinya, dan mengolahnya."


Yi Ze mengangguk-angguk, "Jadi kau tidak tahu?"


Yi Ze mengangguk lagi, "Tidak tahu, Nona, Tuan Muda."


Pangeran menatap Yi Ze, "Sepertinya dia memang tidak mengerti perkataanmu. Dia tidak terlihat seperti orang yang bisa mencari racun semacam itu."


Yi Ze mengepalkan jemarinya, jika memang begitu, hanya ada satu orang tersisa yang berkemungkinan besar mengirim racun itu untuk Xiao Yuan.


Yi Ze bertanya di mana rumah Yang Xinyi pada Tianyu. Istri Tianyu sendiri yang mengantar Yi Ze dan Pangeran menuju rumah Yang Xinyi.


"Xinyi biasanya sedang memperbaiki jala. Kalian berjalan saja menyusuri samping rumahnya menuju halaman belakang. Xinyi adalah nelayan terkaya sepanjang pesisir pantai. Dia juga tahu banyak tentang penghuni laut, nyaris semua isi lautan ini pernah dia tangkap. Mungkin dia bisa menjawab pertanyaan Nona dan Tuan Muda," istri Tianyu berpamit pergi.


Kini, Yi Ze tidak perlu menyelidiki orang lain lagi. Dia yakin dengan pasti Xinyi adalah orang itu. Dia akan menginterogasinya langsung, bahkan menghukumnya dengan dibawa ke istana.


Yi Ze mengeluarkan pedangnya, mengangkatnya tegak lurus ke depan, ujung pedang itu hanya berjarak dua centimeter dari hidung Xinyi.


Tapi wajah perempuan yang nampak sebaya dengan Yi Ze itu sama sekali tidak terkejut. Bahkan dengan santai menurunkan pedang Yi Ze menggunakan dua jarinya.


"Pendekar, ada apa terburu-buru mengacungkan pedang di depanku?" Xinyi tersenyum ramah.


"Belakangan ini, racun yang berasal dari lautan lepas tiba-tiba mengganggu kakak kami. Kami mencari pelakunya ke kota ini. Dari sekian banyak nelayan, hanya kau yang pantas dicurigai," Pangeran bersuara.


Xinyi menatap laki-laki di depannya ini. Lalu berjalan mendekat ke arahnya, hanya tersisa dua jengkal, "Kau yakin aku tidak akan memberitahunya?"


Pangeran terdiam, sorot matanya tiba-tiba meredup. Dalam satu detik, wajahnya mengekspresikan sebuah ancaman, membuat Xinyi melompat ke depan, menyerang keduanya tanpa ampun.


Tidak disangka, nelayan muda ini pandai bela diri, bahkan Yi Ze kalah cepat darinya. Jika saja Pangeran tidak bertindak cepat, Yi Ze bisa saja terluka parah.


Pangeran berhasil meringkus perempuan nelayan ini, "Kita harus menahannya di suatu tempat."


Yi Ze meminta Pangeran mengikutinya. Yi Ze akan membawanya ke Toko Obat Zhuihuan.


"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" Yi Ze bertanya mengisi suasana sepi.


Pangeran mengangkat bahu, "Kau tahu aku tidak pernah tahan berdiam diri di istana, bertahun-tahun yang lalu kau bahkan menemukanku sedang berburu di hutan. Kota Hai'an ini, aku sudah lebih dari seratus kali berkeliling."


Yi Ze terdiam, "Apa maksudmu bertahun-tahun lalu?" Yi Ze tertarik pada kalimat kedua Pangeran. Membuat Pangeran ikut terdiam, "Kau benar-benar tidak menyadarinya? Aku adalah anak itu, A-Yi! Anak yang kau marahi karena membunuh burung terbang padahal dia sedang berburu. Berkat pertemuan hari itu, aku nyaris selalu datang ke hutan Shahuang setiap tahun, tapi tak pernah bertemu lagi denganmu sekalipun, hingga akhirnya bertemu lagi denganmu tengah malam pada hari itu. Sungguh membosankan!" Pangeran menatap Yi Ze kesal. Bagaimana mungkin Yi Ze ternyata benar-benar tidak mengingatnya.


Yi Ze terkekeh, "Seharusnya lebih membosankan dari pada hanya berdiam diri di kediamanmu, kan?"


Pangeran terdiam kehabisan kalimat, "Eh, hm ... itu karena akhir-akhir ini aku tidak bisa pergi lebih jauh karena khawatir tentang kesehatan kakakku," Pangeran tiba-tiba murung, "Semoga saja, kakakku bisa sembuh seperti biasanya lagi. Supaya kau bisa menemaniku berburu di hutan seperti waktu itu," senyumnya merekah.


Yi Ze ikut tersenyum.


"Kau mau?" Pangeran bertanya lagi.


Yi Ze jadi terdiam, "Aku tidak berniat keluar sebelum bisa membuat Putra Mahkota bisa menjaga dirinya sendiri."


Senyum di wajah Pangeran langsung lenyap, perkataan Yi Ze ini sungguh merusak suasana hatinya. Dia mendatangi Yi Ze di kota ini karena ingin menghabiskan waktu dengannya. Tapi siapa sangka, Yi Ze akan terus membahas Xiao Yuan di situasi yang sangat jarang datang ini. Yi Ze benar-benar membuat Pangeran semakin ingin merebutnya dari Xiao Yuan.


"Kita sudah sampai," Pangeran mengalihkan pembicaraannya.


Di depan sana, pelayan toko obat memanggil tuannya. Dua orang menghampiri Yi Ze dan membantu Yi Ze menyeret Xinyi untuk ditahan.


Rupanya, para pelayan toko obat ini pandai bela diri. Ketika Xinyi memaksa melepaskan diri, para pelayan itu membuatnya lumpuh seketika.


Melihatnya, Pangeran sedikit merasa panik. Tapi selalu berhasil membuat semuanya seakan tidak berhubungan dengannya.


"Katakan! Di mana obat penawarnya?" Tuan Song angkat bicara. Dia kesal jika ada racun yang tidak bisa disembuhkan dengan obat-obatan di dalam tokonya.


Xinyi tertawa, "Apakah aku terlihat seperti wanita yang pandai meracuni?"


Yi Ze saling menatap dengan Pangeran. Jelas-jelas tadi wanita ini memberikan perlawanan. Setelah disiksa, dia masih tidak mau mengaku.


"Rumahmu itu, lebih terlihat mencurigakan dari pada orangnya. Kau menyimpan banyak botol kecil kosong yang berbau aneh. Seseorang memberitahuku kalau kau berasal dari Bukit Ular. Selain pandai melaut, kau juga memiliki hobi yang tak biasa. Mengumpulkan racun, lalu menjualnya pada seseorang secara rahasia. Sekarang katakan, racun yang berada di tubuh kakak mereka ini adalah racunmu. Kepada siapa kamu menjual sebotol racun beberapa hari yang lalu?" Tuan Song bertanya lebih tegas.


Xinyi menatap Pangeran, berharap dia memberikan pertolongan berdasarkan yang dia janjikan saat memberikan racun itu padanya.


Tapi Pangeran bahkan tidak berkutik, menatap wajahnya pun tidak. Hal itu membuat Xinyi ingin sekali mengatakan kalau yang membeli racun itu adalah pria angkuh di depannya ini.


Tapi, Xinyi terlalu setia pada tuannya. Dia mengingat masa lalunya yang sekejap sangat mengerikan itu.


Empat tahun yang lalu, Xinyi masih berada di Bukit Ular. Lembah itu terbakar habis karena sebuah peperangan besar, tidak ada yang selamat di lembah itu, ratusan warga lembah yang tak bersalah menjadi korban peperangan. Pangeran memimpin Pasukan Utara, membersihkan sisa-sisa peperangan bersama ratusan prajurit yang masih hidup. Kemudian dia menemukan seorang gadis yang terjebak diantara puing-puing hitam, kondisinya mengenaskan, Pangeran membawa gadis itu ke ibukota, mengobati lukanya, memulihkan traumanya, kemudian memberikan pekerjaan padanya.


"Kau memiliki bakat yang tidak biasa. Bekerjalah di laut, menjadi nelayan, kelak, jika aku membutuhkan bantuanmu, kau harus membantuku. Nyawamu ini, milikku."


Xinyi menatap wajah Pangeran yang terus memalingkan wajah darinya. Tangan kirinya bergerak pelan, dia menyembunyikan sebilah pisau di punggungnya.


"Arghh!"


Yi Ze melotot tidak percaya. Yang Xinyi, dia berani melenyapkan nyawanya sendiri di saat seperti ini. Yi Ze menahan tubuh Xinyi yang nyaris terjatuh, mengguncang-guncangnya, "Kau tidak boleh mati! Kau tidak boleh mati sebelum mengakui kesalahanmu! Berani sekali kau bunuh diri!"


Xinyi tersenyum kecut, "Sejak kecil, aku tidak dididik dengan baik, sangat wajar bila besar, aku menjadi begitu kurang ajar."


Yi Ze menangis tersedu, berseru parau, "Katakan di mana penawarnya, katakan! Jangan berani mati sebelum mengatakannya!"


"Meski mengumpulkan banyak racun, tapi racunku tidak berbahaya. Akhir-akhir ini, aku menemukan sebuah spesies tumbuhan aneh di laut, ketika mengujinya pada binatang, binatang itu mati membeku, racun itu, racun paling berbahaya, dari semua racun, yang kupunya," Xinyi terbata-bata menjelaskan, "Aku melakukan riset, tumbuhan laut itu, sangat dingin. Penawarnya, pasti sesuatu yang sangat panas dan mematikan," pandangan lemah Xinyi tertuju pada Tuan Song, "Kepala Sekte, kau berasal dari Lembah Chi. Kau, tentu pernah mendengar tentang Bunga Rumput Merah. Rumput itu, mungkin sedikit berguna, menebus kesalahanku ini."


Yi Ze menggelengkan kepalanya, "Kau membuat muridku menderita, tapi kau mati begitu mudah!"


⚔️⚔️⚔️


Setelah mengurus jasad Xinyi, hari sudah gelap, waktu berlalu dengan cepat, Yi Ze hanya memiliki sisa waktu dua hari sebelum racun Putra Mahkota kambuh lagi. Begitu kambuh, nyawanya tidak dapat ditangguhkan lagi jika Yi Ze tidak segera kembali membawa penawarnya.


"Di balik kematian gadis itu, ada kabar baik yang merayakannya," Tuan Song meletakkan nampan berisi teh, menjamu dua tamunya ini.


"Apakah kabar darinya itu benar?" Pangeran bertanya penasaran.


Tuan Song mengangguk, "Aku memang Ketua Lembah Chi. Lembah itu juga seperti Bukit Ular. Mengumpulkan obat dan racun, melahirkan banyak tabib-tabib hebat di dunia," Tuan Song menuangkan teh ke dalam gelas, "Tentang Bunga Rumput Merah, aku juga mengetahuinya. Tapi itu adalah salah satu spesies racun berbahaya di dunia, Nak," Tuan Song menatap Yi Ze yang masih menangis, "Rumput itu mungkin bisa mengeluarkan racun aneh Xinyi melalui hawa panas yang keluar setelah Putra Mahkota mengonsumsinya. Tapi, efek samping racun Rumput Merah ini tidak bisa disepelekan. Kau tidak keberatan?"


Yi Ze terdiam lama, tidak menjawab.


"Apakah, racun rumput ini bisa dikeluarkan?" Pangeran bertanya menggantikan Yi Ze.


Tuan Song menggeleng, "Sejak lama, tugas Lembah Chi adalah mencari penawar dari Bunga Rumput Merah ini. Karena banyak tumbuh di sekitar lembah kami, rumput ini sangat berbahaya bila tersentuh, tapi sekian lama, kami tidak menemukan penawar yang cocok, setiap kali menemukan petunjuk, tetap tidak ada kemajuan apa-apa. Hingga bertahun-tahun, lembah itu ditutupi ribuan tumbuhan Rumput Merah, kami mengosongkan lembah, merubah namanya menjadi Lembah Racun. Efek sampingnya sendiri cukup merugikan bagi pengonsumsinya."


"Apa itu?" Pangeran bertanya lagi.


"Dia akan kehilangan separuh energinya. Mudah lelah, mudah kegerahan, harus mandi dengan air dingin, tidak boleh berdekatan dengan api, tidak boleh terkena cahaya matahari. Kemungkinan, dia akan tinggal dalam kegelapan selama hidupnya. Karena sejatinya, racun ini sejenis racun api, jika didekatkan dengan sesuatu yang panas, dia akan bangkit lagi, membuat penderitanya tersiksa luar dalam. Sekali lagi, Yi'er. Hanya dengan cara ini Putra Mahkota bisa selamat, tapi, apa kau tidak keberatan membuat Putra Mahkota hidup seperti ini?" Tuan Song bertanya lagi pada Yi Ze


Yi Ze mendongak, menyeka air matanya, kemudian mengangguk, "Asalkan dia tidak mati, akan kulakukan apapun untuk menyembuhkannya. Aku, akan mencari penawar racun Bunga Rumput Merah seumur hidupku. Dia tidak akan hidup dalam kegelapan selamanya."


⚔️⚔️⚔️


Bersambung