Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Rakyat Biasa



Setelah dua bulan lagi, akhirnya Yi Ze pulang dari perbatasan. Dia langsung mengikuti rapat kerajaan setelah beristirahat tiga puluh menit di kamar.


Rapat ini, bukan seperti rapat biasanya Yi Ze rasa. Tatapan Yang Mulia Raja, berbeda seperti tiga bulan lalu, Yi Ze merasakannya.


"Sebelum menikahkan kau dengan putraku, aku harus bertanya lebih banyak mengenai identitasmu, Yi Ze. Siapa dirimu dan dari mana asalmu?" Yang Mulia Raja bertanya pada Yi Ze.


Yi Ze merasa heran kenapa Raja menanyakan hal itu padahal sudah pernah dia beritahu sebelumnya. Untuk memastikan dia tidak salah mendengarkan, Yi Ze bertanya lagi, "Yang Mulia Raja, kenapa Yang Mulia Raja menanyakan hal yang sudah kau ketahui?"


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin memastikan kau tidak memalsukan identitasmu," Yang Mulia Raja menatapnya begitu datar.


Tatapan ini sama sekali tidak dikenali Yi Ze sejak tinggal di istana ini. Yi Ze khawatir perubahan ekspresi wajah ini akan memengaruhi rencananya.


Ketika melirik Putra Mahkota yang terlihat santai-santai saja, Yi Ze mengernyit tidak mengerti, tapi memutuskan untuk tidak merasa tegang dan lebih santai lagi.


"Menjawab, Yang Mulia. Namaku adalah Yi Ze, ayahku bernama Yi Huan, aku memiliki adik bernama Yi Shujin, ibuku bernama Ah In. Kami tinggal di Shanjiao. Orang tuaku meninggal mendahuluiku sejak usiaku sepuluh tahun, lalu aku diasuh oleh seorang paman bernama Yuhang. Kami tinggal di puncak Shahuang, hingga usiaku tujuh belas tahun, aku meninggalkannya sendirian. Paman Yuhang adalah pamanku yang sudah menyembuhkan Putra Mahkota, Yang Mulia," Yi Ze menjawab secara rinci tentang siapa saja yang terlibat dalam pertumbuhan hidupnya.


"Bohong!" Xiulin tiba-tiba berseru dan berdiri dari duduknya. Telunjuknya mengarah lurus pada Yi Ze, "Semua yang keluar dari mulutnya adalah bohong! Keluarga yang dia sebutkan hanyalah tipuan belaka, Yang Mulia. Keluarga itu palsu! Dia hanyalah seorang pengkhianat!" Xiulin menegaskan kalimatnya dengan menunjuk wajah Yi Ze dengan telunjuknya sendiri.


"Ibu, apa yang kau lakukan?" Pangeran Kedua menatap ibunya tidak mengerti. Dia bingung kenapa ibunya yang semula mendukungnya menikahi Yi Ze tiba-tiba menuduhnya seorang pengkhianat.


"Ratu, guruku bukanlah pengkhianat, kau tidak boleh mengandalkan mulutmu saja dan tidak menunjukkan bukti pengkhianatannya," Putra Mahkota ikut berbicara, namun intonasinya terdengar santai.


"Putraku, aku menyesal karena salah memilihkan calon istri untukmu. Dia bukan wanita yang baik. Dan kau, Putra Mahkota, jangan tertipu olehnya lagi, dia adalah anak seorang pengkhianat, ibunya membunuh ibumu, Nak. Kau seharusnya membalaskan dendammu dan tidak membelanya," Xiulin berkata lembut kepada dua putranya, "Yang Mulia, kuharap kau membuat keputusan tepat terhadap pengkhianat sepertinya," Xiulin berlutut di depan kursi tahta Raja.


"Yang Mulia, ucapan Ratu tidak ada benarnya. Dia tidak memiliki bukti yang jelas dan hanya menuduh saja. Yi Ze adalah gadis yang baik, dia bukan pengkhianat, bukankah kau begitu memercayainya? Ayah, dengarkan aku," Putra Mahkota juga berlutut di depan ayahnya.


"Yang Mulia, ucapan Putra Mahkota ada benarnya. Kita tidak bisa asal menuduh saja, kita tidak tahu apakah dia benar-benar anak Xuan Lu yang hilang atau hanya seorang Yi Ze," salah seorang pejabat ikut berbicara.


"Benar, Yang Mulia. Rasanya mustahil kalau dia memiliki niat berkhianat, pengabdiannya cukup terbukti jika digeser dengan dugaan pengkhianatan yang belum terbukti," pejabat lain ikut berbicara.


"Baiklah, apakah Ratu bisa membuktikan perkataanmu?" Yang Mulia Raja menatap istrinya.


"Kalung," Ratu menunjuk leher Yi Ze, "Dia memiliki sebuah kalung yang tidak pernah dia lepas dari lehernya, Yang Mulia. Kalung itu adalah kalung yang dimiliki ibunya sebelum dihukum. Entah bagaimana dia memilikinya, aku yakin dia sudah merencakan kedatangannya ke istana ini untuk balas dendam," jelasnya.


Raja menunjuk pelayan perempuan untuk menggeledah leher Yi Ze, dan menemukan kalung itu melingkar di lehernya.


"Kalung itu satu pasang dengan yang dimiliki Kakak Hua Jin, Yang Mulia. Putra Mahkota memilikinya, jika kau tidak percaya kalung itu milik Xuan Lu, kau bisa melihat leher Putra Mahkota juga," Xiulin bertekad membuktikan pengkhianatan Yi Ze meski harus menyeret nama Putra Mahkota.


Raja menyuruh kasimnya untuk memeriksa leher Putra Mahkota juga. Dan kalung itu juga berada di leher Putra Mahkota. Raja merasa marah dan dipermalukan.


"Bagaimana aku bisa memercayakan putraku kepada anak orang yang membunuh ibunya?" Raja berdiri dari tahtanya.


"Yang Mulia, ibuku bukan pengkhianat. Ibuku tidak pernah melakukan kejahatan apapun! Kalian hanya memfitnahnya saja! Yang Mulia, percayalah padaku," Yi Ze berlutut di depan Yang Mulia Raja.


Xiulin berdecih, "Atas dasar apa Yang Mulia Raja harus memercayaimu? Jelas-jelas ibumu membunuh Kakak Hua Jin. Kau tidak mengetahui apapun hingga memutuskan balas dendam!"


"Ratu, ucapanmu sungguh kasar! Kau tidak berhak menuduhnya melakukan hal yang tidak dia lakukan!" Putra Mahkota meninggikan suaranya.


"Yuan!" Pangeran berseru memanggil kakaknya.


"Apa?!" Putra Mahkota menatap Pangeran tajam.


"Kau tidak boleh meninggikan suaramu terhadap Ratu! Lagipula, dia calon istriku, kau tidak berhak membelanya seperti itu!" Pangeran menatap Putra Mahkota penuh kebencian.


"Lalu yang kau lakukan apa? Kau tidak mengeluarkan pembelaan terhadapnya sedikitpun. Aku tidak yakin setelah hari ini kau masih akan menerimanya sebagai calon istrimu atau tidak. Kau hanya menuruti kalimat ibumu saja!"


"Cukup Yuan!" Ratu berseru parau, "Kau jangan terpengaruh padanya. Yang Mulia, katakan pada putra-putramu kalau mereka tidak boleh membela pengkhianat itu!" Ratu memeluk kaki Raja, membuat Raja merasa iba dan menunjukkan kemarahannya.


Para pejabat hanya diam dan tidak berani mengeluarkan pendapat mereka.


"Siapapun yang membela pengkhianat ini, maka akan dianggap pengkhianat juga!" Raja berseru, "Kalian tidak boleh menentang kehendak Raja!" tatapannya mengarah pada Putra Mahkota dan Pangeran Kedua.


Sedangkan Tuan Putri Lanhua sudah berlutut sambil menangis sejak tadi. Hubungannya dengan Yi Ze sudah sedekat saudara. Dia merasakan kecewa yang mendalam dan tidak mau memercayainya.


"Tuan Putri," Yi Ze berlutut di depan Tuan Putri, "Apakah Tuan Putri sudah tidak mau memercayaiku lagi?" ucapnya lembut.


"Lanhua!" Yang Mulia Raja berseru, dia baru saja memberi perintah untuk tidak membela pengkhianat itu. Lanhua menjauhkan dirinya dari Yi Ze, "Kau membuatku marah, Yi Ze."


Yi Ze menggeleng-gelengkan kepalanya, "Pangeran..." Yi Ze menatap Pangeran dengan tatapan dalam.


Pangeran hanya menatapnya tidak peduli, "Bagaimana pun, aku tidak bisa membelamu, Yi Ze. Reputasiku lebih penting," Pangeran mengalihkan pandangannya.


"Yuan! Kau masih membelanya?" Raja menatap Putra Mahkota tajam, ucapannya tidak pernah bisa dirubah.


"Yuan, ibumu mati di tangan ibunya, kau masih mau membelanya meski sudah tahu semua ini? Kau tidak boleh termakan tipuannya lagi! Dia hanya mau membuatmu terpengaruh padanya. Dia tidak layak untuk dibela olehmu, Yuan!" Ratu menyentuh pundaknya, menyuruhnya untuk sadar dan tidak membela Yi Ze lagi.


"Ayah! Dia bukan pengkhianat! Dia tidak pernah melakukan hal yang kalian tuduhkan padanya! Ayah, bukankah kau begitu memercayainya? Kenapa harus memercayai kalimat Ratu yang tidak jelas asalnya?" Putra Mahkota tetap bersikeras membela Yi Ze.


"Yang Mulia, jangan membelaku lagi," Yi Ze bergumam pelan.


"Yi Ze, apa yang kau lakukan? Kau tidak pernah mengkhianatiku, tidak pernah mengkhianati siapapun, kau-"


"Diam, Yuan!" Raja berseru tegas, "Jika kau membelanya sekali lagi ...," Raja mengembuskan napas pelan, "Aku akan melepaskan kedudukanmu!"


"Ayah!" Putra Mahkota meninggikan suaranya lagi.


"Putra Mahkota! Jangan lagi, Putra Mahkota!" para pejabat berlutut mencoba membujuk Putra Mahkota untuk menyerah saja.


"Tapi dia tidak bersalah!" Putra Mahkota berseru lagi.


Plak!


Putra Mahkota memegangi pipinya yang terasa panas, menatap ayahnya tidak percaya. Dia menamparnya?


"Kau penerus tahtaku, Yuan. Kau seorang Putra Mahkota! Kau harus tahu kedudukanmu, jangan menyia-nyiakan kedudukanmu hanya untuk membela pengkhianat sepertinya," Raja menasihati putranya.


"Aku tidak peduli dengan semua itu, Ayah! Kau bilang, menjadi seorang Raja harus selaku bijaksana. Jika kau menuduhnya berkhianat, kau sama sekali bukan Raja yang bijaksana!" Putra Mahkota menepis tangan Raja.


"Tangkap pengkhianat itu! Mulai sekarang, Xiao Yuan bukan lagi Putra Mahkota! Aku mencabut kedudukannya dan menjadikannya rakyat biasa! Keluarkan dia dari istana ini! Dia tidak layak lagi!" Raja mengambil Pelat Harimau dari pinggang Yi Ze.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"Tarik kembali titahmu, Yang Mulia!"


"Tarik kembali titahmu, Yang Mulia!"


⚔️⚔️⚔️


"Yang Mulia, aku ingin melaporkan sesuatu lagi padamu, sesuatu yang tidak bisa aku sampaikan secara langsung padamu. Aku menemukan bahwa gadis yang ingin aku jodohkan dengan Yuchen ternyata dia adalah anak perempuan yang hilang itu. Aku yakin tebakanku ini tidak salah, Yang Mulia. Aku terlalu malu untuk menghadapmu sekarang, aku memutuskan memberimu surat laporan ini dan mengatakan kalau dia adalah anak Xuan Lu yang sudah membunuh Kakak Hua Jin. Mohon Yang Mulia segera mengurusnya."


Yang Mulia Raja menutup surat laporan itu setelah termenung begitu lama. Dia memanggil kasimnya, meminta Xiulin untuk datang ke rapat kerajaan tiga puluh menit lagi, juga mendatangkan Yi Ze yang baru saja pulang dari perbatasan.


⚔️⚔️⚔️


Yi Shujin bolak-balik di depan kediaman dengan wajah khawatir. Dia sedang menunggu putusan rapat istana hari ini. Meski dia tidak pernah menyukai Yi Ze, tapi dia tidak ingin kakaknya itu dipermalukan.


"Jika kakakku memang putri orang lain, semuanya akan terbukti hari ini. Tapi kenapa dia tidak pulang-pulang, ya?"


"Apakah harus aku sendiri yang membunuhnya?"


Shujin menggigit jari, "Bagaimanapun, dia sudah membohongiku terlalu lama. Dia merahasiakan semuanya seakan aku tidak penting baginya."


"Nona Yi! Nona Yi!" penjaga di depan berlari pontang-panting, "Kau harus segera meninggalkan kediaman ini! Bawa A-Yin mencari penginapan terdekat. Prajurit Kerajaan akan segera menggeledah kediaman ini, Nona Yi, kau harus segera pergi."


Shujin menyuruhnya untuk tenang, "Apa yang terjadi di istana?"


"Jenderal Besar Yi kembali dicabut dari jabatannya, Dia dipenjara atas tuduhan pengkhianatan. Sebentar lagi para prajurit itu datang, kau cepatlah pergi."


Shujin berlari keluar, bukan untuk melarikan diri, tapi ingin melihat apa yang terjadi pada kakaknya.


"Jadi kakakku benar-benar bukan keluarga kandungku? Yi Ze, kenapa kau menipuku? Kau memperlakukanku sebaik itu hanya untuk menutupi rahasiamu sendiri. Kau egois, Yi Ze, kau tidak mementingkanku yang selalu mengandalkanmu. Aku memang merahasiakan sesuatu darimu. Tapi kenapa kau menyembunyikan hal yang lebih besar dari yang aku sembunyikan?"


⚔️⚔️⚔️


Bersambung