
Empat tahun berlalu, Yi Ze masih menjalani hidup seperti biasanya. Tak berbeda dari sejak pertama kali dirinya menginjakkan kaki di rumah kayu ini.
Yang membedakan adalah, Yuhang kini sudah beruban, rumah kayunya sudah tua, sesekali Yi Ze mengganti kayu yang sudah lapuk dengan kayu yang baru. Dia bahkan menanam banyak pohon dengan buah-buah yang manis dan sayur-sayur bergizi di belakang rumah, supaya Yuhang tak perlu jauh-jauh mencarinya di hutan dan pergi ke tepi sungai.
Bahkan Yi Ze ikut berlatih di pagi hari bersama Yuhang. Sebelumnya, Yi Ze membantu Yuhang membuat pedang baru. Yuhang yang tidak ingin mengambil kembali pedang miliknya dari Yi Ze dan memilih untuk membuatnya lagi dengan desain yang sama.
Hari ini, Yi Ze diminta untuk pergi ke kota menjual hasil kebun mereka.
"Paman, karena kita tidak tinggal di kota atau desa, kenapa kita membutuhkan uang? Kenapa tidak kita simpan saja hasil kebun kita untuk hidup kita?" Yi Ze bertanya.
Yi Ze menatapnya, "Apakah kamu tidak mau menjualnya karena terlalu malas?" dia justru balik bertanya.
Yi Ze menggeleng, "Tidak seperti itu, Paman."
"Lalu? Bukankah memang seperti itu dirimu sejak dahulu?" Yuhang semakin membuat Yi Ze kehilangan kata-kata.
Yuhang terkekeh. " Untuk berjaga-jaga saja. Siapa tahu suatu hari nanti kita diharuskan meninggalkan gunung ini. Setidaknya kita harus punya bekal minimal 500 keping emas untuk tinggal di desa maupun di kota." Dia menjawab lebih serius.
Yi Ze mengangguk-angguk sambil membulatkan mulut. Dia segera bersiap untuk menjual tumbuhan herbal yang dia kumpulkan dari hutan, juga menjual hasil kebunnya.
"Aku akan segera kembali, Paman. Pastikan kau memasak makanan kesukaanku di hari aku kembali nanti." Yi Ze tersenyum berpamitan.
"Aku berniat memasak daging serigala untuk menyambut kepulanganmu."
"Bagus sekali, Paman! Terima kasih sudah membalaskan dendamku, Paman. Aku menyayangimu," Yi Ze tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Astaga. Kau berbicara seperti tidak akan kembali saja." Yuhang melambaikan tangan tidak peduli.
Perjalanan menuju Pasar Pusat Kota Beizhou memakan waktu dua hari jika berangkat dari Desa Shanjiao. Geum-bi beristirahat sejenak di rumah Lai Yi setelah satu hari berjalan melintasi hutan.
Lai Yi terlihat menghidangkan makanan enak untuk makan malam Yi Ze hari ini.
"Kau tidak lelah berjalan sambil menggendong barang sebanyak itu seharian?" Lai Yi bertanya khawatir.
Yi Ze terkekeh, "Mungkin aku harus memikirkan tentang membeli kuda, Bibi. Belakangan ini aku nyaris berjualan setiap tahunnya. Melintasi hutan selama sehari penuh, lantas berjalan lagi menuju pelabuhan selama sehari penuh, kemudian melintasi lautan sehari penuh, setelah itu aku harus berjalan empat jam menuju Pusat Kota Beizhou." Yi Ze terlihat mengeluh.
"Karena kau pergi melalui jalur laut, jarak yang kau tempuh menjadi tidak terlalu jauh. Jika kau nekat berjalan melalui jalur darat, kau butuh berhari-hari hingga tiba di Beizhou. Shanjiao ini jauh sekali dari daerah timur, Nak. Kudengar hari ini Han Shiming akan pergi ke pasar juga. Ikutlah bersamanya, Nak. Dia memiliki banyak kuda yang bisa kau pinjam," Lai Yi memberikan saran.
Yi Ze terlihat senang, "Benarkah? Kapan dia akan pergi?"
"Dia akan pergi besok pagi-pagi sekali. Bicaralah dulu dengannya malam ini, supaya dia bisa menunggumu sebelum pergi."
"Terima kasih, Bibi. Akan kupastikan untuk memberi makan kambing-kambingmu sebelum pergi." Yi Ze bergegas pergi menemui Han Shiming.
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze dan Tuan Han tiba di pasar beberapa jam lebih cepat. Perjalanan menjadi lebih mudah dan lebih cepat karena bantuan kuda-kuda cepat ini.
"Apa yang kau butuhkan, Paman? Aku bisa mengantarmu sebelum memulai berjualan." Yi Ze bertanya kepada Tuan Han sebelum membongkar dagangannya.
"Yi'er tak perlu mencemaskan itu. Berjualanlah dulu, aku bisa berkeliling sendirian, setelah selesai, aku akan menghampiri tempatmu berjualan." Tuan Han tersenyum, turut membantu Yi Ze membongkar barang dagangannya.
Dalam waktu lima belas menit, orang-orang mulai berkerumun di depannya. Menyapa si pedagang, lalu memilih hendak membeli apa.
"Sepertinya kau pedagang baru di sini, Nak?" salah satu pembeli bertanya. Sepertinya dia salah satu keluarga bangsawan yang tinggal di Kota Beizhou.
Yi Ze tersenyum, "Aku bukan pedagang baru, Nyonya. Bukan juga pedagang lama. Aku berjualan kalau kebunku berbuah saja. Dan kalau koleksi herbaku sudah mulai banyak. Aku berkebun sendiri sayur-sayuran segar dan buah-buahan manis ini. Aku juga mengumpulkan sendiri herba-herba ini, begitu berharga untuk kesehatan. Silakan dibeli, Nyonya."
"Wah ... kau ramah sekali. Kau terlihat sangat baik dan jujur. Berapa tawaran terbaikmu untuk tumbuhan obat yang berharga ini?" Bangsawan cantik itu bertanya sambil tersenyum.
"Kau bisa membayarnya sesuka hatimu, Nyonya. Tapi aku tidak menerima lima tael emas untuk satu akarnya yang berharga ini." Yi Ze balas tersenyum.
Para bangsawan yang mendengar aksi tawar-menawar itu turut tertawa, "Bahkan jika aku membelinya sepuluh tael emas pun itu akan menjadi obat-obatan termurah sepanjang sejarah, Nona. Aku akan memberikan tiga puluh lima tael emas untuk satu akarnya. Berikan lima yang besar-besar, ya."
Yi Ze tersenyum mendengarnya, bergegas melayani bangsawan baik hati ini. Yang lainnya juga membeli buah dan sayur dengan harga yang mereka tetapkan sendiri. Meski begitu, tak ada yang membayarnya dibawah sepuluh keping perak karena sikap baik hati Yi Ze.
"Kau dengar, katanya Putra Mahkota sedang sakit parah. Sampai-sampai tidak bisa duduk atau bicara. Yang Mulia Raja sampai mengutus Pangeran Kedua untuk menemani tabib kerajaan mencari obat penawar untuk sakit parah yang diderita Putra Mahkota."
Yi Ze menoleh. Rupanya pedagang di sebelahnya sedang bergosip mengenai rumor yang tersebar di istana pagi ini. Yi Ze ikut mendengarkan.
Selama ini dia tidak pernah bertemu orang-orang istana, karena hidupnya jauh dari hiruk-pikuk Kota Beizhou yang ramai.
"Tidak, maksudku, jika sakit separah itu, apa dia masih pantas menjadi penerus tahta kerajaan? Apakah Raja benar-benar harus mengirim putranya sendiri untuk pergi ke Gunung Shahuang mencari obat penawar itu?" pembeli yang diajak bergosip menimpali.
Yi Ze yang penasaran bertanya kepada pembeli di depannya, "Nyonya. Kau mendengar pembicaraan di sebelah, bukan?"
Pembelinya mengangguk, "Oh, rumor tentang penyakit Putra Mahkota? Tentu saja. Tidak ada yang belum pernah mendengar rumor itu."
"Tapi sepertinya sebagian besar warga kota lebih setuju jika Pangeran Kedua yang jadi Putra Mahkota? Kenapa?" Yi Ze bertanya lagi.
Para bangsawan di depannya saling tatap, "Aissh! Sepertinya kau memang tinggal sangat jauh dari kota ini, ya?"
Yi Ze hanya nyengir kuda sambil mengangguk kecil.
"Tidak seperti itu. Semua rakyat Beizhou pasti tahu kalau Putra Mahkota itu sangat lemah di bidang peperangan. Dia bahkan tidak menguasai teknik bertarung apapun yang bisa melindungi negara ini jika suatu saat dia menjadi raja. Lalu, pantaskah dia memimpin negara ini jika tidak memiliki kemampuan sama sekali? Lagi pula, dia memang sudah sakit-sakitan sejak masih kecil," bangsawan yang membeli ginseng menjelaskan dengan murah hati.
"Aissh! Tidak seperti itu juga. Putra Mahkota tidak bisa bertarung bukan karena dirinya lemah. Itu karena dia memiliki trauma batin yang sangat berat sejak kematian ibunya 19 tahun lalu. Dia sakit juga karena insiden itu, bukan? Yang Mulia Raja bahkan mempekerjakan ratusan tabib terbaik untuk merawat Putra Mahkota setiap harinya," pembeli sayuran kentang dan wortel menambahkan.
Yi Ze mengangguk-angguk paham, "Memangnya, apa yang terjadi 19 tahun yang lalu?"
Para bangsawan itu saling menatap. Seperti terkejut kalau ada orang yang membahas hari itu lagi.
"Ah, apa itu sesuatu yang tidak boleh dibahas sembarangan? Aku ingin tahu saja, soalnya aku sempat tinggal di Hai'an sekitar 19 tahun lalu."
"Ssstt!" para bangsawan itu kompak meletakkan telunjuk mereka di depan bibir.
"Ini berkaitan tentang pengkhianatan."
⚔️⚔️⚔️
Percakapannya dengan para pembeli membuat Yi Ze memikirkannya siang-malam. Kini, dia dan Tuan Han sedang dalam perjalanan untuk kembali ke desa.
"Omong-omong, Paman. Saat di pasar tadi, kau mendengar tentang Putra Mahkota yang sedang sakit?" Yi Ze bertanya mengisi sela waktu.
Tuan Han mengangguk, "Kudengar Raja bahkan mengirim putranya sendiri, Pangeran Kedua untuk pergi ke gunung bersama tabib kerajaan mencari obat penawar yang konon katanya sangat langka itu."
Yi Ze tidak membahasnya lagi, tapi sepertinya topik itu masih panjang pembicaraannya.
"Yi'er, kenapa kau tidak mencoba mencarikan obat penawar itu? Jika kau berhasil menemukannya, dan menyembuhkan Putra Mahkota, kau akan mendapat imbalan besar dari Raja. Mungkin ratusan ribu tael emas. Atau ratusan ribu tael perak." Tuan Han tersenyum penuh rencana ke arahnya.
Yi Ze terkekeh sambil menggeleng, "Aku terlalu malas untuk melakukannya. Lagi pula apa gunanya kaya? Aku hidup di tengah hutan. Menghasilkan uang sebanyak ini saja aku tidak yakin akan menghabiskannya dalam waktu berapa tahun. Lagipula Hutan Shahuang tidak semenyeramkan yang dikatakan para pembeli itu, biarkan saja si Pangeran Kedua itu mencarinya sendiri."
Tuan Han menatapnya heran. Maksudnya mungkin, siapa yang ingin menyia-nyiakan kesempatan itu? Siapa yang menolak kaya? Ada-ada saja.
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze pulang ke hutan setelah matahari terbenam. Dia membawa banyak uang dari berjualan. Tuan Han memberikan satu ekor kudanya untuk Yi Ze. Waktu yang dia tempuh tidak sepanjang biasanya.
Kini, dia juga tidak perlu berhenti sejenak untuk beristirahat. Dia bisa langsung pulang menuju rumahnya dengan cepat.
"Tolong! Tolong kami! Tolong!"
Suara teriakan itu membuat Yi Ze menghentikan kudanya. Itu terdengar mendesak. Tapi karena hutan ini luas, Yi Ze tidak tahu suara itu datang dari mana, rasanya seperti terdengar dari segala penjuru.
Yi Ze turun dari kudanya, kemudian memanjat pohon, "Hei, kalian yang meminta tolong! Apakah bisa mendengar suaraku?" Yi Ze balas berteriak.
Tapi tidak terdengar teriakan lain lagi. Yi Ze menunggunya selama beberapa detik, " Apakah itu hanya halusinasiku saja?" Yi Ze bergumam.
"Itu kami! Tolong kami!" seruan itu terdengar lagi. Yi Ze yang hendak turun mengurungkan niatnya.
"Katakan apa yang kau lihat di sekitarmu! Aku akan mendatangimu!" Yi Ze berteriak lagi.
"Kami di tepi sungai!"
Kuda yang dikendarai Yi Ze berlari kencang, menuju tepi sungai. Sebagai orang yang tinggal lama di hutan ini, Yi Ze cukup khawatir ketika mendengar suara meminta tolong di malam yang gelap seperti ini. Terakhir kali, orang meminta bantuannya diserang hewan buas. Lalu sekarang apa lagi, kira-kira?
Yi Ze melihat dua orang pria di tepi sungai itu. Salah satunya tergeletak lemas dengan kaki yang membengkak. Yi Ze langsung mengetahuinya begitu turun dari kuda.
Pria yang lebih tua terkena bisa ular, dengan sigap dia merobek pakaiannya, mengikatkannya ke kaki korban. Lantas meminta rekannya untuk menaikkannya ke atas kudanya.
Mereka adalah tabib kerajaan dan Pangeran Kedua. Tapi Yi Ze tidak menyadarinya. Pangeran Kedua juga tidak menyadari kalau wanita yang menolongnya pernah menjadi buruannya 11 tahun yang lalu.
⚔️⚔️⚔️
Bersambung