Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Buah Liar



Tiga bulan sebelum tragedi pemenggalan, Xuan Lu pergi ke pasar bersama Hua Jin. Keduanya berjalan beriringan dengan wajah yang secerah cahaya matahari.


"Lihat tali ikat rambut ini, Yang Mulia. Cantik sekali," Xuan Lu mengambil sebuah kain pengikat rambut yang berjejer di kios tepi jalan.


"Kita bisa membelinya. Aku yang berwarna biru, kau yang berwarna ungu. Bagaimana?" Hua Jin tersenyum, memberikan ikat rambut pilihannya untuk Xuan Lu.


Xuan Lu mengangguk senang, "Jika saja kita bisa membawa anak-anak kita, pasti lebih menyenangkan lagi."


Hua Jin menggeleng, "Itu hanya merepotkan saja. Kau pikir masih bisa berada di sini sepuluh menit ke depan jika kita membawa mereka?"


Keduanya tertawa setelah memikirkannya. Anak-anak mereka sangat manja. Jangankan diajak ke pasar, hanya diminta keluar dari kamarnya pun terkadang mereka harus merajuk dulu.


"Ayo kita membeli hadiah untuk mereka," Hua Jin menarik tangan Xuan Lu. Beralih ke kios berikutnya, yang menjual berbagai macam perhiasan, cermin, dan alat kecantikan.


"Lihat kalung ini Yang Mulia," Xuan Lu melirik dua kalung perak yang masing-masing saling berkaitan. Dua kalung itu diciptakan sepasang.


"Silakan, Yang Mulia. Kalung itu memiliki makna yang sangat indah. Konon, siapa saja yang memakai kalung itu, maka jika mereka terpisah jauh pun, mereka akan kembali dipertemukan dengan penuh cinta dan kasih sayang," Si Penjual mendeskripsikan kelebihan barang dagangannya.


Hua Jin dan Xuan Lu saling pandang, "Apakah ada hal seperti itu?" mereka tertawa renyah dan tidak memercayainya.


"Lihatlah liontinnya, Yang Mulia. Ini dibuat dari bebatuan gunung yang sangat langka yang diturunkan dewa-dewa ke alam fana. Jumlahnya sedikit, aku hanya memiliki sepasang ini saja."


"Benarkah?" mereka membulatkan mata, "Apakah ada sepasang lainnya?" tanya Hua Jin.


Si Penjual menggeleng, "Kalung itu hanya dijual satu pasang saja, Yang Mulia. Tapi jika Yang Mulia menginginkannya, kami memiliki satu pasang lain yang memiliki makna berbeda." Si Penjual memasuki tokonya, kemudian kembali dengan sepasang kalung berwarna emas dengan permata indah sebagai bandulnya. "Permata ini ditemukan pada tahun 1000, pemiliknya adalah sepasang sahabat yang saling melindungi satu sama lain. Jika permata ini kembali dimiliki oleh sepasang sahabat seperti pemiliknya dahulu kala, maka persahabatan mereka akan sama kuatnya seperti batu permata ini. Terimalah, Yang Mulia, ini hadiah dari kami." Si Penjual menunduk hormat, mengulurkan tangannya bersamaan dengan sepasang kalung itu.


"Kepada siapa ini akan kamu berikan, Yang Mulia?" Xuan Lu bertanya heran kenapa Hua Jin harus membeli dua pasang kalung sekaligus.


Hua Jin terkekeh, "Kau pikir hanya putra-putri kita yang butuh kalung ini?" Tentu saja yang lainnya untuk kita."


Xuan Lu tersenyum mendengar penuturan sahabatnya, kemudian mengangguk menyetujuinya.


Sepulang ke istana, mereka segera memasangkan kalung itu di leher anak-anak mereka.


Dan saat pemenggalan itu terjadi, kalung yang dikenakan Xuan Lu terlepas, Jenderal Xie Xuan mengambilnya sebelum orang lain menyadarinya. Sementara milik Hua Jin tetap tersimpan rapi di kamarnya hingga sekarang.


Dia memutuskan untuk menetap di gunung sambil menghabiskan masa tua untuk mencari putri Xuan Lu. Demi menebus dosanya di masa itu.


⚔️⚔️⚔️


Yi Ze membuka matanya, merasakan perih luar biasa di lengannya. Bau obat-obatan herbal menusuk hidung, Yi Ze terkejut, beringsut duduk.


Matanya menatap sekeliling. Dia tidak di tengah hutan dengan pepohonan rimbun, tidak ada kawanan serigala sialan itu lagi, melainkan seorang pria tua yang sedang memasak air.


Yi Ze mengerjapkan matanya, beringsut duduk, menatap sekeliling lebih baik. Rupanya dia dibaringkan di teras rumah kayu, ada tanah lapang cukup luas di depannya. Di atas sana, langit mulai menjingga, sekawanan burung terbang rendah melintasi lanskap alam. Yi Ze mendengar gemericik air dari kejauhan, karena mendengarnya, Yi Ze bertanya-tanya di mana tempat ini berada. Dan siapa pria tua yang bersamanya.


"Itu suara air terjun," pria tua itu seperti tahu apa yang Yi Ze pikirkan. Yi Ze menatap pria tua yang memunggunginya itu. Kemudian pria tua itu berbalik, menatapnya lebih baik.


Yi Ze berusaha mengingat kejadian terakhir yang dialaminya beberapa menit lalu.


Tunggu.


Beberapa menit?


Jika matahari nyaris tenggelam, artinya sudah berapa jam dia berada di sini?


"Omong-omong, berapa lama aku tertidur?" Yi Ze memberanikan diri bertanya padanya.


"Kamu sudah tidur selama dua hari," jawab pria tua itu.


Yi Ze terkejut bukan main, sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membulat sempurna. Benar-benar terkejut.


"Heh, bagaimana bisa?" Yi Ze masih tidak mau memercayainya.


"Lihat kedua lenganmu. Aku mengoleskan obat setiap lima jam sekali. Kamu selalu pingsan setiap aku mengoleskannya ke lukamu. Jadi aku berhenti melakukannya, supaya kamu bangun," dia menjelaskan cukup detail.


"Bukan itu!" Yi Ze meninggikan suaranya, "Kau membiarkanku tidur di teras rumah selama dua hari padahal di dalam lebih hangat?"


Pria tua terkekeh, "Tidak. Baru kali ini aku menyeretmu keluar."


Tapi Yi Ze masih enggan memercayainya, dan justru menganggap pria tua ini sebagai pria mesum yang mengincar gadis desa.


"Aku membawamu bukan karena tertarik padamu, asal tahu saja," pria itu melotot kesal. Kembali berbalik dan bekerja menuangkan air panas ke dalam kendi.


"Lantas jika tidak begitu, kenapa membawaku ke rumahmu?"  Yi Ze balas melotot.


"Haruskah kutinggalkan saja kau bersama serigala-serigala itu?" pria tua itu mengambil sebilah pedang panjang. Kemudian pergi dari rumah meninggalkan Yi Ze sendirian.


Melihat pedang panjangnya, Yi Ze segera tersadar kalau dirinya sedang mencari seseorang, "Eh, Pak! Tunggu sebentar! Kau siapa? Apakah kau pendekar yang tinggal di tengah hutan itu? Izinkan aku berbicara lebih baik denganmu, Pak! Hei!" Yi Ze berseru-seru, hendak mengejar tapi kakinya masih terasa sakit, lengannya juga berat untuk diajak bergerak ke sana-kemari. "Ah, sial!" kemudian dia mulai mengutuk.


Di rumah itu, Yi Ze yang bertekad ingin berguru kepada pria tua berpedang itu, memilih tetap menunggu di sana hingga si Pria Tua kembali.


Dia membersihkan rumah itu sebelum beranjak tidur, membuat perapian di tengah tanah lapang berukuran separuh lapangan basket itu. Dia merasa lapar, memeriksa persediaan makanannya. Yi Ze mengeluh, nasinya sudah basi. Dia tidak bisa memakannya lagi.


Kemudian dia melihat-lihat ke dalam rumah, mencari sesuatu yang dapat di makan. Tapi tidak menemukan apapun. Dan berakhir hanya duduk diam di depan api unggung yang hangat, ditemani air hangat yang dimasak pria itu beberapa saat lalu.


Yi Ze benar-benar berpikir pria itu akan kembali sebelum larut malam, hingga tertidur di depan api unggun, bahkan sampai api itu padam, hingga matahari kembali terbit, kemudian tenggelam lagi, terbit lagi, lalu tenggelam lagi, terbit lagi, pria tua itu tak kunjung kembali.


Yi Ze mulai merasa bosan, dia berjalan mencari air terjun yang katanya berada tak jauh dari rumah ini. Dan benar saja, matanya langsung berbinar bahagia ketika melihat air terjun besar yang hanya berjarak dua kilometer dari rumah itu. Yi Ze langsung menghabiskan paginya untuk mandi di sana.


"Segar sekali!" Yi Ze berseru senang, "Jika tak sejauh yang kupikirkan, kenapa tidak dari kemarin saja aku mencarinya, mandi pagi di cuaca dingin memang segar, airnya hangat!" Yi Ze tertawa-tawa sendirian.


Setelah tiga puluh menit, dia mengusaikan mandinya. Kemudian kembali ke rumah itu lagi, dan ternyata pria tua itu masih belum kembali.


Yi Ze mendengus, "Apa dia memang sengaja pergi karena tahu aku tidak akan pergi?" Yi Ze menggeleng karena tidak ingin memercayai perkiraannya sendiri.


"Aku tidak bisa terus kelaparan seperti ini," dia bergerak kembali ke air terjun dan menyisir sebagian hutan di sekitar air terjun. Mencari tumbuhan yang bisa dimakan. Atau sekadar mencari kelinci hutan untuk direbus dan dimasak.


Satu jam berkeliling, dia menemukan pohon liar yang berbuah matang yang sangat besar. Matanya berbinar-binar, berusaha menggapai, tapi dia kesulitan. Meski buah di pohon itu banyak, dia tidak bisa memakannya. Butuh usaha ekstra untuk memanjat pohon itu agar bisa memetik buahnya.


Sekawanan monyet berayun tiba-tiba muncul dan berseru-seru mengusir Yi Ze yang duduk di bawah pohon mereka. Monyet-monyet liar itu terlihat marah saat tahu Yi Ze berusaha mengambil buah milik mereka.


"Sial! Bagaimana bisa binatang begitu pelit untuk membagi satu buah saja? Heh! Lagi pula aku tidak akan mengambil semuanya. Aku hanya butuh satu saja untuk mengisi perutku yang kosong!" Yi Ze berseru marah sambil merutuki keserakahan monyet-monyet itu.


Lagi-lagi monyet-monyet itu berseru tidak terima, mulai melempari Yi Ze dengan buah matang yang berada di pohon itu.


Satu buah tepat sasaran mengenai dahi Yi Ze.


"Awh!" Yi Ze berjalan sempoyongan sambil memegangi dahinya yang merah, lantas melotot tajam, menyumpahi monyet-monyet itu dengan kalimat sedemikian kasar.


"Berengsek sekali! Dasar serakah! Kau kira melempariku seperti itu akan terasa sakit? Huh! Tidak sama sekali!"


Seruan meledek Yi Ze terdengar menjengkelkan bagi monyet-monyet itu, membuat mereka terus melemparinya dengan buah-buahan yang nyaris matang.


Yi Ze tertawa senang, kemudian memunguti beberapa buah yang jatuh di kakinya, "Terima kasih, Kawan! Lain kali kalau aku kembali datang, lempari lagi saja yang banyak!" kemudian dia melarikan diri dengan cepat.


Tapi sialnya, hari ini seperti bukan hari keberuntungan bagi Yi Ze. Kawanan monyet itu mengejarnya demi mendapatkan kembali buah-buah yang diambil Yi Ze.


"Hei! Kalian pelit sekali!" Yi Ze berlari dengan napas terengah-engah. Mati-matian menjaga buahnya agar tidak kembali direbut kawanan monyet.


Tapi langkah kakinya tidak secepat monyet berayun. Yang dengan gesit berayun dari satu pohon ke pohon lainnya, lantas dengan sempurna mendarat di depan Yi Ze. Monyet-monyet itu menyerangnya tanpa ampun.


Buah-buah jatuh dari pelukan Yi Ze, dan Yi Ze babak belur gara-gara monyet-monyet sialan itu. Dan tak ada seorangpun yang mau menolongnya.


Yi Ze tidak lagi menginginkan buah-buah matang di bawah kakinya, dia hanya ingin melarikan diri dari monyet-monyet serakah ini.


"HOI!" seruan berat khas suara bapak-bapak benar-benar menghentikan gerakan monyet-monyet. Kemudian seperti terkena sihir ajaib, monyet-monyet itu lari ketakutan begitu seorang pria tua mengancam mereka hanya dengan menaik-naikkan pedang yang disarungkan.


"Dasar gadis bodoh! Bagaimana kamu menyinggung monyet-monyet itu? Apa bertengkar dengan binatang memang pekerjaanmu?" pria itu berdecak kesal.


Yi Ze terkejut bukan main menyadari kehadiran pria tua itu. Yi Ze bersumpah tidak ingin menerima uluran tangannya jika dia memberikan bantuan.


Meski akhirnya, Yi Ze pingsan lagi dan digendong pria tua itu ke rumah kayunya.


⚔️⚔️⚔️


Kali ini, tak butuh waktu lama untuk membuat Yi Ze bangun. Perutnya yang kelaparan membuat Yi Ze bangun dengan sendirinya.


Begitu membuka mata, di depannya terhampar belasan buah liar yang sempat dia perebutkan dengan monyet-monyet hutan menyebalkan itu.


Matanya mencari keberadaan pria tua yang dua kali menyelamatkan nyawanya. Kakinya bergerak mencari ke sana ke mari.


Matahari belum menampakkan dirinya. Mungkin masih sekitar pukul 4 pagi. Tapi Yi Ze melihat pria tua itu tengah berlatih dengan pedang yang selalu dibawanya ke mana-mana.


Gerakannya tangkas dan cepat, Yi Ze tak berkedip selama menatapnya berkelit dengan pedang panjang yang terlihat tajam. Begitu matahari terbit, si Pria Tua mengakhiri latihannya. Kemudian berbalik, Yi Ze kepergok telah mengintipnya latihan pagi ini.


"Kau sudah makan?" tapi Pria Tua tidak memarahinya. Justru bertanya apakah Yi Ze sudah makan.


Yi Ze hanya menggeleng. Lalu mengikuti Pria Tua pulang ke rumah.


"Bisakah kau mengajariku seperti itu?" Yi Ze bertanya tanpa basa-basi.


⚔️⚔️⚔️


_Bersambung_