Deep Pain: The Story of Yi Ze

Deep Pain: The Story of Yi Ze
Toko Obat Zhuihuan



Hukuman itu sudah berakhir, Putra Mahkota bergegas membuka gerbang Shuiquan lebar-lebar. Lalu dia duduk di halaman sambil menyapa angin pagi yang sejuk, wajahnya sumringah.


Dia menunggu Yi Ze datang membawakan sarapannya. Dia, rindu melihat wajah wanita itu. Dia rindu dengan sifat kasarnya. Karena hanya dia yang bisa memperlakukannya begitu kasar, Putra Mahkota benar-benar merindukan semuanya seminggu terakhir.


Tapi, hingga matahari mulai muncul, menyiram Shuiquan dengan cahaya pagi yang hangat, Yi Ze masih tidak datang juga.


Tak lama, Ji Xue baru muncul membawa nampan berisi makanan, meletakkannya di atas meja, kemudian bersujud, "Mohon Yang Mulia memaafkan Ji Xue, hari ini Ji Xue terlambat membawakan sarapan, Ji Xue bersalah," Ji Xue terlihat ketakutan.


Tapi Putra Mahkota seperti tidak marah padanya, menyuruhnya berdiri, "Berdiri," kemudian dia membuka tudung saji.


"Kau datang sendiri? Tidak bersama gadis tengil itu?" Putra Mahkota bertanya, kemudian duduk lagi.


Saat mencium aromanya, Putra Mahkota menyadari sesuatu, "Apakah ini tidak dimasak oleh—"


"Mohon maafkan Ji Xue, Yang Mulia. Ji Xue yang memasak sarapan untuk Yang Mulia. Ji Xue bersalah karena tidak bisa menemukan Nona Yi, jadi Ji Xue memasaknya sendiri karena waktunya sudah terlambat. Ji Xue bersalah," Ji Xue bersujud lagi.


Putra Mahkota terdiam, wajahnya terkejut, lalu mengabaikan sarapannya. Dia ingin bertemu Yi Ze, tapi di saat kesempatan sudah tiba, yang ditunggu tidak datang. Putra Mahkota bahkan mendatangi Kediaman Pelayan. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan Pangeran.


"Apa yang Kakak cari?" Pangeran menghalangi jalannya. Putra Mahkota menyingkirkan tubuhnya begitu saja, Pangeran nyaris terjatuh, tapi dia tidak berniat mengejar.


Pangeran tahu siapa yang dicari kakaknya. Tidak ada alasan bagi Putra Mahkota untuk mendatangi Kediaman Pelayan selain untuk mencari Yi Ze. Bahkan dia sendiri datang ke sini untuk mencarinya.


Putra Mahkota berjalan menuju gerbang utama. Bertanya pada penjaga di sana, "Apakah kalian sudah melihat guruku?"


Kedua penjaga itu saling tatap, "Nona Yi belum melewati gerbang, Yang Mulia," jawab salah satu penjaga.


Seorang pria dengan pakaian seragam Kediaman Qingchu mendekati gerbang istana, menunduk di depan Putra Mahkota, "Nona Yi memintaku untuk menyampaikan pada Putra Mahkota, kalau dia tidak datang ke istana hari ini karena sebuah urusan."


⚔️⚔️⚔️


Sementara di Kota Hai'an, Yi Ze bertemu sekelompok pengemis yang sedang menyiksa rekannya yang lebih kecil, "Berapa keping perak yang kau dapatkan hari ini, Kawan?"


Pengemis kecil itu meringkuk ketakutan, Yi Ze mendatangi mereka, memberi pelajaran pada pengemis-pengemis kasar itu.


"Bibi, kau siapa? Kenapa mencampuri urusan kami?" salah satu dari mereka yang tampak lebih tua bertanya dengan lagak sombong.


Yi Ze menyilangkan kedua lengannya, pedang panjangnya terlihat mengerikan bagi mereka yang seperti tak kenal takut, "Sebagai sesama manusia, haruskah saling menindas?" Yi Ze bertanya dengan nada datar.


"Cih, dia hanya seorang pengemis, tidak ada dosanya menindas seorang pengemis," mereka membela diri.


"Berarti, tidak ada salahnya juga jika aku menindas kalian," Yi Ze menaikkan sebelah alis, seperti sengaja ingin bermain-main dengan mereka.


"Enak saja! Tidak ada yang berani menindas kami!"


"Tapi aku berani. Kalian sendiri yang mengatakan kalau menindas pengemis itu tidak ada dosanya. Itu artinya, jika aku menindas kalian, leluhurku atau leluhur kalian tidak akan keberatan, bukan?" Yi Ze menggenggam pedangnya baik-baik. Berniat mengancam, tapi anak-anak remaja pengemis itu tidak berniat mengalah, justru maju untuk memulai perkelahian. Yi Ze menahan mereka tanpa mengeluarkan pedangnya sama sekali.


Beberapa dari mereka berjatuhan, beberapa lagi masih bertahan, terus mengeluarkan jurus-jurus andalan. Mereka tahu itu sama sekali tidak menyakiti seorang pendekar berpedang, tapi Yi Ze juga tidak menyerang sama sekali.


Saat mulai merasa terpojok, Yi Ze baru mengeluarkan pedangnya, tidak hanya menahan serangan bar-bar para pengemis, dia juga melawan mereka, tak segan-segan melukai mereka.


"Kau sendiri yang memintanya!"


Tak butuh waktu satu menit, hampir lima belas orang pemengis itu tersungkur jatuh, orang yang paling pandai berbicara berada di tangannya, dengan pedang tepat di leher.


"Apa yang kau ambil dari adik kecil ini?" Yi Ze bertanya padanya.


Tangan pengemis itu gemetar sambil mengeluarkan kantong uang koin, hanya ada empat belas keping di dalamnya. Yi Ze malah membagikan uang itu kepada masing-masing pengemis yang menyerangnya, "Kalian gunakan uang ini dengan baik, jangan pernah menindas orang yang lebih rendah dari kalian. Kalian juga tahu rasanya ditindas itu sangat menyakitkan. Hari ini, aku akan melupakan hal yang terjadi ini," Yi Ze menatap adik kecil yang meringkuk di bawah meja dagangan yang tak dipakai.


"Adik kecil," Yi Ze berjongkok di depannya, mengeluarkan sekantong uang perak, di dalamnya ada tiga ikat yang masing-masing berisi dua puluh keping, "Apa kau merelakan uangmu diambil mereka?" lalu dia menyerahkan kantong uang itu padanya, "Gunakan uang ini untuk membeli makanan, jika lebih, sisakan untuk membeli modal berjualan, kelak, kau akan jadi pebisnis besar jika menekuninya," Yi Ze tersenyum, menepuk kepalanya.


Yi Ze bersiap hendak pergi, tapi anak kecil itu menarik lengan bajunya, membuat Yi Ze membalikkan badannya lagi, "Ada apa, Adik kecil?"


"Namaku An Jiayin, bolehkah aku mengetahui namamu juga, Kakak Penolong Yang Baik Hati?" adik kecil itu nyengir lebar, membuat wajahnya yang kusam menjadi sedikit bercahaya.


Yi Ze tertawa, "Panjang sekali nama yang kau berikan, panggil aku Yi Ze saja."


"Terima kasih Kakak Yi Ze," An Jiayin tersenyum lebar, dia menyimpan kantong uang dari Yi Ze dengan hati-hati.


"A-Yin mau menemaniku makan?" Yi Ze mengajaknya ke tempat makan. Dia tidak lapar, tapi A-Yin pasti lapar, meski dia telah memberi banyak uang, dia belum tenang jika belum melihat A-Yin kenyang.


A-Yin mengangguk, lalu mengikuti Yi Ze menuju restoran terdekat. Sejak tinggal di Beizhou, restoran ini adalah yang paling Yi Ze sukai karena olahan dagingnya yang selalu enak. Di situlah dulu dia beristirahat saat pertama kali memasuki ibukota bersama Tuan Han.


Mereka duduk di tempat duduk yang baik, berada di tepi jendela, A-Yin senang sekali, matanya menatap sekeliling penginapan besar ini.


"Dulu, saat pertama kali mengunjungi kota indah ini, aku selalu makan di restoran ini dan menginap di Penginapan Xinzhu selama dua hari. Bersama seorang paman dari desa jauh," Yi Ze menceritakan kisahnya pada A-Yin.


"Tampaknya Kakak Yi Ze datang dari tempat jauh," A-Yin menanggapi.


"Aku memang datang dari jauh, demi sebuah jawaban," Yi Ze tersenyum, senang A-Yin makan dengan lahap.


"Makanan ini, meski sudah tinggal di Beizhou sejak kecil, aku tidak pernah merasakan makanan seenak ini. Terima kasih, Kakak Yi Ze." A-Yin tersenyum lebar.


Beberapa menit diam, A-Yin bertanya lagi, "Kakak bilang datang ke sini untuk mencari sebuah jawaban. Di mana Kakak akan memulainya? Aku cukup mengenal Beizhou dan kawasan Hai'an dengan baik, aku mungkin bisa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan Kakak, siapa tahu bisa menjadi sebuah petunjuk."


Yi Ze berpikir sejenak, A-Yin benar, ini adalah kali pertama dia mengelilingi Ibukota Beizhou, tidak terlalu baik mengenal kota ini dan sekitarnya. Mungkin A-Yin bisa membantunya.


"Aku dalam perjalanan menuju Kota Hai'an. Apa kau pernah ke sana?" Yi Ze bertanya.


Yi Ze mengangguk, piringnya telah kosong, dia menghabiskan teh dalam cangkir, lalu mengisi cangkir Yi Ze yang masih kosong, "Aku pernah mengemis di sana sekitar tiga bulan. Hai'an adalah kota yang ramai, banyak nelayan, banyak juga penginapan-penginapan yang menghidangkan makanan lezat. Terus apa yang perlu kau ketahui lagi?"


A-Yin berpikir sejenak, kemudian mengangguk, "Ada sebuah tempat yang dikenal memiliki informasi lebih baik dari siapapun yang berprofesi menjual informasi. Tempat itu dinamai Toko Obat Zhuihuan. Apapun yang kau tanyakan, mereka pasti bisa menjawabnya."


"Toko obat?"


A-Yin mengangguk, "Kudengar toko itu adalah milik Sekte Duan dari Lembah Chi yang menekuni ilmu lengobatan. Kepala Sekte mereka, Master Song, adalah seorang informan yang sangat mengenal seluruh dunia. Banyak orang dunia persilatan yang sengaja mendatangi Zhuihuan ini demi mengetahui rahasia dunia yang hanya diketahui Master Song."


Yi Ze berpikir lagi, mungkinkah semudah itu mendapatkan jawaban yang dia inginkan?


"Baiklah! Terima kasih, aku pergi dulu." Yi Ze berdiri dari tempat duduknya. Tanpa menyentuh makanannya sama sekali.


"Eh, eh, Kakak belum makan sesuap nasi pun!" Yi Ze hendak menahannya.


"Kau makan lagi saja, supaya lebih kenyang, aku sudah makan tadi pagi," Yi Ze melambaikan tangan.


"Tunggu dulu, Kakak!"


Yi Ze berbalik.


"Jika Kakak sudah tiba di Toko Obat Zhuihuan, pastikan Kakak mencari orang bernama Tuan Song Guihao, dia pasti akan membantumu, tapi, kau perlu menjadikan barang berhargamu sebagai bayaran."


"Bayaran?"


Jiayin berdecak, "Di dunia ini tidak ada barang yang gratis, Kak. Di generasi ini, apakah ada informasi yang murah?"


Yi Ze menggaruk tengkuk, kemudian mengangguk, bilang bisa mengurus hal itu nanti-nanti. Dia memegang pundak An Jiayin, lalu mengeluarkan sebuah pelat Kediaman Qingchu miliknya, "Aku tinggal di Kediaman Qingchu, berikan pelat ini pada penjaga gerbang, ya? Katakan kalau aku mengundangmu sebagai tamu, mereka akan memberikan sebuah kamar kosong untukmu. Pergilah," Yi Ze tersenyum.


⚔️⚔️⚔️


Tiba di kota Hai'an, Yi Ze mencari keberadaan Toko Obat Zhuihuan itu, pertanyaannya sudah disiapkan dari jauh-jauh hari. Kini, Toko Obat Zhuihuan sudah berada di depan. Yi Ze melangkahkan kaki memasuki toko obat itu.


Dari luar, dinding-dindingnya sudah terlihat tua, begitu masuk ke dalam, bau obat-obatan menyengat hidung, semua obat-obatan ini, Yi Ze mengenalnya, dia nyaris pernah mencari semua jenis obat-obatan saat tinggal di gunung dulu.


Hanya ada satu bau yang tidak bisa dia kenali, bau ini lebih kuat dari bau obat lainnya.


"Apa yang Nona cari?" seorang pelayan mendekatinya.


Yi Ze langsung mengatakannya secara terus terang, "Aku mencari Tuan Song Guihao."


Pelayan toko itu melihat kalung perak yang dipakai Yi Ze dan langsung terdiam, wajahnya tampak tegang, langsung menyeret Yi Ze menjauhi keramaian toko, membawanya ke lantai dua, selama melewati lorong, Yi Ze melihat banyak orang terbaring di masing-masing kamar yang tersedia, ada yang sendirian, ada yang ditemani orang terdekat.


Saat itu, Yi Ze langsung berpikir mungkin Tuan Song sedang sakit sehingga tinggal di lantai dua yang dihuni banyak orang sakit. Namun, begitu tiba di ujung lorong, Yi Ze langsung tahu kalau pemikirannya itu sungguh salah.


Kamar yang berada di ujung lorong ini berbeda dengan kamar-kamar lainnya. Kamar ini lebih luas, lilin-lilin menyala meski di siang hari, di kamar ini, tidak ada jendela besar, hanya beberapa lubang ventilasi udara di dinding paling atas.


Pelayan itu mengetuk sebuah pintu di dalam kamar, ketukannya berirama, seperti diciptakan untuk kode pesan rahasia.


"Kau tunggulah di kamar ini, Nona. Master akan segera keluar karena sudah tahu ada tamu yang mencarinya. Aku akan kembali ke bawah, jika membutuhkan sesuatu, kau bisa mengatakannya sekarang."


"Eh, tunggu! Bagaimana dengan bayaran?" Yi Ze teringat ucapan A-Yin. Pelayan itu terdiam sambil nyengir lebar, lantas meminta Yi Ze untuk menunggu guru mereka datang.


Yi Ze berterima kasih pada pelayan itu, kemudian menyuruhnya pergi. Dia duduk di salah satu kursi, memperhatikan ruangan luas ini lebih baik.


Sekitar lima belas menit menunggu, pintu yang tadi diketuk akhirnya berderit terbuka. Seorang pria tua yang rambutnya sudah memutih sebagian keluar dari balik pintu.


"Heyo, heyo. Aku tidak menyangka orang yang datang mencariku adalah seorang wanita muda dua puluhan tahun."


"Selamat pagi, Tuan. Namaku Yi Ze, dari Gunung Shahuang. Ingin menanyakan beberapa hal yang tidak diketahui banyak orang kepada Tuan. Bisakah Tuan menjawabnya?" Yi Ze membungkuk sopan.


"Duduklah, katakan apa yang bisa kau berikan untuk ditukar dengan informasi itu? Cukup sesuatu yang paling berharga bagimu saja," Tuan Song duduk.


Yi Ze mengembuskan napas kesal, ternyata A-Yin tidak berbohong tentang bayaran informasi itu. Yi Ze mengeluarkan beberapa kantong uang.


"Uang?" Tuan Song tampak terkejut hingga bertanya-tanya.


"Barang yang paling berharga bagiku adalah uang. Karena tidak ada yang lebih berharga dari pada uang bagiku. Jadi terumalah uang-uang ini, lalu tukar dengan informasi yang kubutuhkan," Yi Ze menjawab.


Tuan Song terdiam sejenak, dia tidak menyangka barang apa yang akan dikeluarkan Yi Ze. Kemudian terkekeh pelan, "Beberapa orang mendatangiku dengan membawa tusuk rambut paling berharga, giok langka, ginseng merah, bahkan sebuah barang kecil murahan seperti benda berukiran aneh yang terbuat dari kayu terbaik yang sama sekali tidak ada harganya bagiku. Hanya kau yang benar-benar memahami pola hidup manusia di dunia. Tentu saja aku menerimanya, uang adalah barang berharga bagi siapapun. Hanya saja, aku tidak menyangka kau tidak memiliki barang-barang seperti yang kusebutkan di atas tadi. Seperti pemberian leluhur atau orang tua sebagai kenang-kenangan."


Yi Ze terkekeh kecil, "Aku hidup sendiri sejak kecil, tidak ada barang berharga selain uang bagiku. Karena tidak pernah diberikan barang apapun yang bisa dijadikan kenang-kenangan atau semacamnya. Jadi, apakah kau bisa menjawab pertanyaanku ini?"


Tuan Song tertawa lebih lebar, "Tentu saja! Aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan. Tidak ada rahasia apapun yang tidak diketahui olehku di dunia ini. Tapi bukankah lebih baik jika kau memberikan barang yang benar-benar paling berharga bagimu? Seperti kalung yang kau pakai itu," Tuan Song menatap kalung Yi Ze dengan sorotnya yang terlihat tertarik.


"Ini sama sekali tidak berharga. Yang paling berharga bagiku hanyalah uang. Jika kau mau mengambilnya, silakan saja!" Yi Ze bergerak hendak melepas kalungnya dan menukar uang yang sudah dia keluarkan dengan kalung itu.


Tuan Song menggeleng, "Jika memang begitu, kau tidak bisa menukarnya dengan kalungmu. Biarkan uangmu yang banyak itu, aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan."


Yi Ze tersenyum puas, "Ini berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 19 tahun lalu."


Tuan Song langsung bungkam, "Kau tertarik dengan permasalahan itu?"


"Jawab saja, tidak perlu bertanya balik."


"Tentu saja, tentu saja sangat tahu. Pelaku pengkhianatan itu adalah warga Hai'an. Salah satu orang yang sering datang ke toko obatku. Juga seseorang yang paling mengenalku secara dekat. Sering kali dia menitipkan putrinya pada istriku yang tidak bisa memiliki anak. Tapi, apa yang ingin kau ketahui dari peristiwa tidak menyenangkan ini?"


⚔️⚔️⚔️


Bersambung