
Xiao Yuan membeku di tempat, Yi Ze menunduk menatap pedang yang menusuk dadanya. Dia menatap Shujin yang masih berdiri di depannya sambil memegang erat pedang itu.
Xiao Yuan langsung bereaksi melihatnya, dia mencabut pedang Jingmi dan mengayunkannya ke depan Shujin, "Kau tidak tahu terima kasih! Dia begitu menyayangimu! Berani sekali kau menyakitinya!"
Cratt!
Darah segar terciprat dari leher Shujin, gadis itu tersenyum, "Maafkan aku, Kak."
"Shu'er!" Yi Ze berseru parau, tubuhnya terjatuh, kemudian tak sadarkan diri. Xiao Yuan melemparkan pedang itu dan berlari memeluk Yi Ze.
Sekarang dia tidak peduli lagi bagaimana ayahnya akan menghukum para pengkhianat itu. Dia berlari memasuki istana bersama Yi Ze di pelukannya, dia meminta Tabib Zhang Ping untuk menyelamatkan Yi Ze.
Dia tidak peduli lagi dengan rahasia yang dimiliki Xiao Yuchen dan ibunya. Dia hanya ingin Yi Ze selamat.
"Maaf, Yang Mulia. Sepertinya aku tidak mampu lagi menyelamatkannya. Harus memanggil ahli medis dari Sekte Duan." Zhang Ping bersujud di bawah kaki Xiao Yuan.
Detik itu juga, Xiao Yuan segera mengebut kudanya menuju Toko Obat Zhuihuan dengan Yi Ze di pelukannya, "Bertahanlah, Yuehai. Aku akan menyelamatkanmu."
⚔️⚔️⚔️
Setelah Bai Yue mengobati Yi Ze, Xiao Yuan nyaris selalu menunggunya di salah satu kamar pasien. Bai Yue mengatakan kalau tusukan di dada Yi Ze cukup dalam. Mereka menggunakan ramuan khusus yang sudah lama menjadi rahasia Sekte Duan untuk menyelamatkan Yi Ze.
Kini Yi Ze dalam keadaan koma. Dia tertidur dua hari penuh, Xiao Yuan tidak lelah menunggunya sadar, terus menemaninya tanpa kenal lelah.
"Yuehai, kau selalu menyelamatkan nyawaku dan menemaniku saat aku sendiri. Kini kau benar-benar sendiri sekarang, aku ingin menemanimu selamanya, Yuehai."
"Adikmu, Shu'er, aku minta maaf telah membunuhnya. Kudengar dari Jingmi kalau dia tidak bisa diselamatkan lagi. Jika aku tidak membunuhnya hari itu, mungkin aku tidak bisa menyelamatkanmu, Yuehai, bangunlah, aku telah lama menunggumu membuka mata. Kita kembali ke kediamanmu bersama-sama. Lalu menikah dan memiliki anak, bukankah itu bagus?" Xiao Yuan menggenggam jemari Yi Ze yang hangat.
Bai Yue datang bersama Ye Xi sambil membawa obat untuk Yi Ze, "Yang Mulia, kau istirahatlah dulu, tubuhmu kelelahan seharian. Aku akan menyuruh murid lain untuk menjaga Nona Yi." Bai Yue menyerahkan obat di mangkuk itu kepada istrinya untuk diberikan kepada Yi Ze. Ye Xi menerimanya, lalu duduk di samping ranjang Yi Ze, Bai Yue membantu Yi Ze duduk.
"Bai Yue, kurasa aku harus pulang ke istana dulu, hari ini acara pemakaman Shu'er. Jika dia bangun saat aku pergi, jangan beritahu padanya kalau aku pergi ke upacara pemakaman Shu'er. Katakan saja padanya, kalau aku sedang menghadiri rapat istana untuk terakhir kalinya. Melihatnya seperti ini, kurasa aku lebih memilih untuk hidup bahagia bersamanya dengan tenang di pulau yang jauh," Xiao Yuan tersenyum, "Nona Ye Xi, tolong jaga istriku sebentar saja."
Ye Xi mengangguk, "Tentu saja, Yang Mulia."
Xiao Yuan kembali ke istana begitu Jingmi menjemputnya untuk pergi. Sekali lagi Xiao Yuan menitipkan Yi Ze pada Ye Xi.
Setibanya di Kediaman Qingchu, Xiao Yuan melihat A-Yin menangis memeluk tubuh Shujin yang berbaring di balik selembar kain. Xiao Yuan tidak bisa lagi menahan tangisnya melihat A-Yin begitu sedih.
Ji Xue memeluk A-Yin yang menangis terisak di depan tubuh Shujin. Feng Shui yang mengantarkan jasad Shujin mendekati Xiao Yuan yang baru sampai.
"Yang Mulia, Raja memintamu untuk segera pulang ke istana. Dia akan melengserkan jabatannya sendiri dan mengangkatmu menjadi Raja," bisik Feng Shui.
"Aku belum ingin kembali sekarang, Feng Shui. Katakan pada ayahku, aku menunda pengangkatan tahta hingga Yi Ze kembali sehat. Saat dia sudah kembali sehat, terserah pada keputusannya apakah aku akan kembali ke istana atau tidak," jawab Xiao Yuan. Sekarang dia mendekati A-Yin dan memeluknya.
"Kakak, apakah aku harus sendirian lagi?" tanya A-Yin pada Xiao Yuan.
"Tidak, A-Yin. Kau tidak pernah sendirian lagi. Tunggu Kakak Yi Ze-mu bangun, ya? Lalu kamu akan hidup bersamanya dan menjaganya selama dia hidup."
⚔️⚔️⚔️
Satu tahun kemudian, Yi Ze bersama pasukannya pulang dari peperangan. Raja baru mereka adalah suaminya, Yuan, yang diberi gelar Raja Huizhong. Begitu memasuki istana, Yuan langsung memarahi istrinya, "Sudah kukatakan tidak perlu ikut berperang lagi! Bukankah Feng Shui sudah cukup untuk memimpin pasukanmu di medan perang? Bagaimana jika kau tidak kembali dengan utuh?"
"Hei, kau yang bermarga Xiao! Apa maksudmu?" Yi Ze memegang pedangnya, bersiap hendak menghunusnya keluar, Yuan menelan ludah, "Maksudku, bagaimana kalau kau kembali tidak utuh? Seperti kehilangan beberapa helai rambut? Hehe," Yuan nyengir lebar.
Yi Ze menggedik, "Kau pikir aku percaya?"
Yuan menepuk dahi, "Padahal kan aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan istriku sendiri, apakah salah?"
"Tentu saja salah! Satu tahun ini kau sibuk dengan urusan negara, jadi siapa yang sebenarnya lebih sibuk? Aku yang hanya pergi selama enam bulan atau kau yang lembur setiap malam?" Yi Ze berseru tidak terima.
Perang saudara satu tahun lalu mengungkap kalau Xiao Yuchen bukanlah anak kandung Raja, Yuchen dan Qing Yang adalah anak kembar yang terpisahkan sejak kecil oleh ibunya sendiri. Rupanya Xiulin telah menikah dengan seorang bangsawan di Qingzhou. Setelah melahirkan, Xiulin memberikan anak perempuannya sebagai tanda setia kepada sang suami, dan mempertahankan Yuchen agar kelak bisa meneruskan tahta kerajaan Beizhou.
Namun mimpinya sudah berhenti satu tahun yang lalu. Raja begitu terpukul saat mendengar kebenaran tak terduga itu. Dia terlalu marah untuk menebaskan pedangnya ke leher istrinya yang telah meremehkannya itu.
Xiulin memutuskan untuk memenggal kepalanya sendiri setelah Qing Yang mati di pelukannya. Yuchen yang merasa dirinya hanya sebuah alat untuk mendapatkan sebuah kekuasaan memilih untuk tidak memedulikan ibunya, dia pergi dari istana setelah Raja mencabut seluruh status dan hak kekayaannya. Sedangkan putri ketiganya, Xiao Lanhua memutuskan untuk melepaskan diri dari silsilah keluarga kerajaan setelah Raja mengirimnya untuk menikah dengan bangsawan keluarga Qin.
Sementara Yuhang masih memaksa untuk mendapatkan kematian yang layak di tangan Raja, tapi Raja menolaknya, berkata tentang bukan sebuah kebijakan jika Yuhang dihukum mati karena kesalahan yang dia sadari.
Setelah sembuh dan kembali ke istana, Yi Ze sempat mengacungkan pedangnya di depan mata Yuhang, mengeluarkan semua rasa kecewanya. Namun sejatinya dia tidak pernah berniat membunuh orang yang sudah mendidiknya dari nol.
Yi Ze memilih memaafkan daripada menyimpan dendam, Yuhang begitu menghormati keputusan itu, dan bersumpah akan setia hidup-matinya untuk Yi Ze.
Perihal kematian Shujin, Yi Ze mengikhlaskan kepergiannya. Shujin telah menderita hidup di dunia, dia berharap setelah kepergian itu, Shujin tidak lagi memiliki kebencian di dalam hatinya, dan kembali bereinkarnasi menjadi seseorang yang lebih baik dari kehidupannya di masa ini.
Setelah perang saudara itu selesai, banyak wilayah-wilayah di perbatasan Beizhou yang berhasil dikuasai kerajaan lain yang mengambil kesempatan itu untuk maju menyerang.
Yuan di angkat menjadi Raja tujuh hari sejak Yi Ze sadar, dan menikah dengan Yi Ze beberapa hari setelahnya. Dalam jangka enam bulan setelah berganti Raja, Beizhou mengalami masa kejayaannya, menjadi negara yang makmur dengan rakyat yang peduli terhadap tanah mereka.
Enam bulan berikutnya, Yi Ze dan pasukannya berhasil merebut kembali empat kota perbatasan sekaligus, kini Yuan kesal karena Yi Ze jarang sekali menghabiskan waktu bersamanya, dia langsung mengurungnya di kamar seharian.
"Kau jarang sekali pulang ke rumah, Yuehai. Karena sudah tidak ada perang lagi, kau harus berperang denganku mulai sekarang!" Yuan tertawa senang sambil memeluk Yi Ze.
⚔️⚔️⚔️
Ji Xue dan A-Yin memasuki Shuiquan sambil membawa nampan-nampan berisi makanan, di susul beberapa pelayan di belakangnya.
"Yang Mulia, Putri Lanhua mengirim surat lagi. Dia mengundang kalian untuk menghadiri pesta bangsawan di kediaman mereka. Kudengar hari ini pesta untuk menyambut kelahiran anak pertama Putri Lanhua," Ji Xue menyerahkan kartu undangan berwarna perak itu pada Yi Ze.
"Lanhua bahagia sekali bersama keluarga barunya. Dia bahkan sudah memiliki putrinya sendiri." Yi Ze tersenyum senang.
"Apakah kau mau putri juga?" Yuan berbisik.
"Lihatlah, A-Yin, kakakmu harus dipenggal!" Yuan tidak terima kepalanya ditimpuk kartu undangan oleh Yi Ze. A-Yin hanya tertawa menanggapinya.
"Kakak, aku membuat makanan kesukaanmu, kau mau mencicipinya?" A-Yin meletakkan nampannya di depan Yi Ze yang sudah duduk di meja makan.
Yi Ze tersenyum sambil mengangguk, menerima suapan dari A-Yin, Yuan dan Ji Xue saling menatap, "Kau mau menyuapiku juga, Ji Xue?" Yuan berbisik.
Ji Xue mengangguk, "Tapi bagaimana jika aku dilempari pedang olehnya?"
Yuan tertawa kecil, "Bolehkah kau mencobanya?"
Ji Xue menggeleng, "Terlalu menyakitkan, Yang Mulia."
"Kau tidak pernah membuat teh itu lagi, A-Yin," Yuan heran karena A-Yin tidak pernah membuat teh sejak berada di istana.
"Karena sudah ada Kakak Yi Ze yang membuatnya, teh buatanku kalah telak. Aku tidak ingin malu," A-Yin nyengir kuda.
"Tapi A-Yin, kamu akan memiliki tugas khusus begitu anak kakakmu lahir," Yuan mendekatkan kepalanya ke arah A-Yin.
Yi Ze segera memukul lengannya, "Sudah kukatakan kalau aku belum mau memiliki anak!"
"Kenapa? Bukankah itu menggemaskan?"
Yi Ze berdecak, "Aku menghabiskan enam bulan di medan perang, kau menghabiskan satu tahun penuh untuk mengurus negara, bahkan ke depannya kau masih harus melakukannya. Kau pikir kapan kita punya waktu untuk menikmati kebersamaan kita?"
Meja makan itu dipenuhi gelak tawa. Zhou Jingmi dan dua pelayan yang berdiri di depan pintu kediaman saling menatap, mereka ikut tersenyum melihat keharmonisan suami-istri itu yang bahkan tidak sungkan mengajak pelayannya makan di meja yang sama.
⚔️⚔️⚔️
Hari ini Yi Ze dan Yuan memeriksa pekerjaan para pejabat di istana. Semua pejabat menundukkan kepala begitu keduanya melewati mereka. Sesekali Yuan menyapa mereka yang merasa tidak bersemangat dengan pekerjaannya.
Begitu waktu luang, terkadang Yuan membantu mereka yang kesulitan melakukan sebuah tugas, maka Yi Ze juga akan membantu suaminya membimbing para pejabat negara itu.
"Kita sudah lama tidak mengunjungi Gudang Senjata," Yi Ze menggamit lengan Yuan, "Ayo kita pergi ke Gudang Senjata untuk menemui Paman Yuhang."
Orang yang nyaris dihukum mati itu bekerja di Gudang Senjata, kesehariannya adalah menempa pedang terbaik yang akan disimpan sebagai pasokan senjata perang.
"Paman!" Yi Ze berseru saat membuka gerbang tinggi Gudang Senjata. Para pekerja lain membungkuk begitu Raja dan Ratu mereka masuk.
Yuhang tersenyum dengan keringat membasahi tubuhnya, "Ini terlalu panas untuk kalian! Jangan masuk! Tetap di sana, aku yang akan menghampiri kalian!" Yuhang meninggalkan pekerjaannya sebentar.
"Kami mengantarkan makanan," Yi Ze menyodorkan kotak kayu berisi makanan dan kendi-kendi berisi arak.
"Wah ... mari berkumpul teman-teman! Ratu kita memasak lagi setelah enam bulan tidak pulang!" Yuhang tertawa renyah, para pekerja gudang ikut tertawa dan mendekat untuk ikut menikmati makanan Yi Ze.
Keluar dari Gudang Senjata, Yi Ze mampir ke kediaman pelayan untuk mengunjungi Lai Yi yang sekarang kembali menjadi Kepala Pelayan.
"Kulitmu menghitam, Nak," Lai Yi tersenyum jahil, "Tapi Raja berhasil mengembalikan kecantikanmu."
Yi Ze tersipu malu, "Terima kasih, Bibi. Kau selalu memercayai ibuku hingga akhir."
"Kau selalu tahu bagaimana mengalihkan pembicaraan," Lai Yi menepuk pundaknya, "Duduklah, ceritakan padaku bagaimana medan perangmu."
Yi Ze mendekat dengan antusias, "Aku lebih banyak tidur dari pada bertindak sendiri. Feng Shui selalu menyuruhku istirahat, padahal aku hanya membantu menyiapkan strategi saja. Bukankah itu curang?"
"Kau seharusnya senang saat bawahanmu mengutamakan nyawamu daripada mengalahkan musuh," Lai Yi menenangkannya.
"Tetap saja! Itu tidak adil bagi orang lain," Yi Ze menggeleng tegas.
"Jadi kau maunya bagaimana?" Lai Yi bertanya tenang.
"Maunya mereka tidak memanjakanku saat berada di lapangan yang sama. Bukan itu yang aku inginkan. Tapi Yuan bahkan tidak tahu kalau aku hanya bermalas-malasan di sana dan terus memintaku pulang. Aku semakin tidak bisa melakukannya."
Lai Yi tertawa dalam hati, "Gadis ini masih sama kerasnya seperti saat masih kecil."
"Kalau begitu lain kali ketika bergabung dengan pasukanmu lagi, jangan biarkan mereka memperlakukanmu seperti seorang Ratu. Katakan saja bahwa baik itu Ratu atau Jenderal, jika berada di medan perang, harus tetap berperang bersama pasukannya," Lai Yi memberikan solusi.
"Itu mudah, tapi apakah kau berharap aku benar-benar kembali ke medan perang?" Yi Ze menatap Lai Yi penuh selidik.
Lai Yi tertawa, "Bukankah itu maumu?"
"Ya tidak seperti itu!"
⚔️⚔️⚔️
"Matahari terbenam selalu indah."
Yi Ze selalu mengatakan itu di sore hari ketika dirinya masih berada di Gunung Shahuang, menatap sejauh mata memandang.
Dia selalu tidak menyangka takdirnya akan berjalan sejauh ini setelah semua kesengsaraan yang terjadi padanya sejak kecil. Yi Ze bersyukur karena dia dipertemukan dengan pria yang begitu mencintainya di dunia ini.
Sekarang Yi Ze sedang menghabiskan malamnya bersama orang yang begitu dicintainya. Dia berharap hidupnya akan selalu indah hingga akhir waktu, mengalahkan semua sakit mendalam yang pernah mencabik-cabik hatinya di masa lalu.
...****************...
...TAMAT...
...****************...