
Yi Ze keluar dari istana malam itu juga. Dia sadar tidak bisa melakukan apapun meski sudah berada di luar istana. Kini, nyawa Putra Mahkota tergantung pada jerih payahnya hari ini hingga dua hari ke depan. Dia harus bisa menemukan penawar racun itu. Juga menemukan pelaku yang berani meracuni seorang pewaris tahta kerajaan.
Yi Ze memesan sebuah kamar di penginapan Xuolei di Kota Hai'an. Kamarnya menghadap lautan lepas. Kota Hai'an terhampar di depan sana, hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Yi Ze berdiri berjam-jam menatap lautan luas itu, malam berlalu dengan cepat. Yi Ze meninggalkan kamarnya dan langsung melesat menuju Kota Hai'an.
Kali ini, dia membawa tanggung jawab besar. Karena bagaimanapun caranya, dia harus menyelamatkan Putra Mahkota.
Di tengah jalan, dia bertemu lagi dengan A-Yin. Gadis kecil itu menyapanya dengan riang.
"Kakak, hari ini A-Yin tidak kelaparan lagi berkat kantong uang yang kakak berikan! Terima kasih telah memberiku tempat tinggal di kediamanmu yang mewah itu!" A-Yin tersenyum, menunjukkan roti panggang yang baru saja dia beli.
Tiba-tiba seseorang menabrak A-Yin hingga jatuh, roti panggang itu jadi kotor, A-Yin berencana memungutnya lagi. Tapi tangan Yi Ze menahannya.
"A-Yin bilang tidak akan kelaparan lagi, tapi kenapa begitu ceroboh hingga menjatuhkan roti sendiri? Bahkan A-Yin berniat memungut roti yang sudah kotor. Sini, Kakak belikan yang baru saja," Yi Ze menarik tangan A-Yin menuju penjual roti panggang, "Bahkan jika kau menginginkan lebih banyak, aku akan memberikannya," Yi Ze tersenyum.
A-Yin menunduk, "Maafkan A-Yin, Kakak Yi Ze. Hanya bisa merepotkan saja," ucapnya penuh penyesalan.
"Bukan salah A-Yin, roti A-Yin jatuh juga bukan karena kau yang tidak berhati-hati. A-Yin jangan sedih, mari, duduk dan makan sarapanmu. Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus kuurus," Yi Ze menepuk pundak A-Yin, lalu beranjak pergi.
"Kakak tidak mau sarapan dulu?"
Yi Ze berbalik, laku tersenyum, "Aku tidak pantas mendapatkan sarapanku sebelum bisa menyelesaikan tugasku, A-Yin."
⚔️⚔️⚔️
Yi Ze berhenti di Toko Obat Zhuihuan. Tanpa minta ditemani pelayan, dia datang sendiri ke kamar Tuan Song. Mengetuk pintu di dalam kamar seperti yang dilakukan pelayan itu kemarin.
Lalu dia berseru, "Tuan, ini Yi Ze, tolong keluarlah segera, aku tidak bisa menunggumu lebih lama. Ada sesuatu yang harus segera kuselesaikan!"
Yi Ze duduk di kursi, tidak berharap Tuan Song akan datang lebih cepat seperti yang dia minta. Tapi sungguh tidak disangka, Tuan Song bahkan langsung membuka pintu sebelum tarikan napas keempat Yi Ze setelah duduk di kursi.
"Kau datang lebih cepat dari yang kukira," Yi Ze bergumam.
"Jika kau begitu ingin cepat, serahkan saja sesuatu yang paling berharga bagimu. Tak perlu basa-basi lagi," Tuan Song duduk di depan Yi Ze.
Yi Ze merogoh kantongnya. Lalu menyadari kalau uangnya sudah habis. Menyewa penginapan selama dua malam, dan membeli roti panggang untuk A-Yin. Yi Ze tidak memiliki uang lagi.
"Bisakah berutang saja?" Yi Ze bertanya acuh.
"Mana bisa! Toko obatku tidak mengenal istilah utang-piutang. Harus bayar jika ingin bertransaksi!"
Yi Ze berdecak kesal, Kepala Sekte Duan ini ternyata pelit juga. Ini memang mendesak, tapi dia tidak memiliki apapun lagi yang bisa digunakan untuk membayar.
Angin berhembusan memasuki kamar, mata Yi Ze menyipit sedikit karena angin yang terlalu kencang. Rambutnya mengibas ke belakang. Yi Ze melepas tusuk rambut di kepalanya. Lalu menyerahkannya pada Tuan Song.
"Meski bukan emas murni atau perak yang berharga, bisakah kau menerima ini?" Yi Ze meletakkan tusuk rambut itu di atas meja.
Namun tampaknya, pandangan Tuan Song terpaku pada sesuatu yang lain di tubuh Yi Ze. Sesuatu yang menggantung di lehernya begitu cantik dan berkilau.
Tapi, ekspresi Tuan Song bukan seperti seorang gila uang yang ingin mengambilnya karena terbuat dari perak berharga. Tuan Song menatapnya begitu tertarik karena merasa familier dengan kalung itu.
"Hei, bagaimana?" Yi Ze menunjuk tusuk rambut yang dia letakkan di atas meja.
"Tapi tusuk rambutmu ini sepertinya bukan sesuatu yang paling berharga bagimu selain uang, tidak bisa ditukar dengan informasi dariku!" Tuan Song mengalihkan pandangannya. Tapi menatap Yi Ze dengan cara yang sangat berbeda seperti sebelumnya.
"Lalu apa?" Yi Ze menatap kesal.
"Bagaimana dengan kalung itu?" Tuan Song tersenyum licik sambil menunjuk kalung perak di leher Yi Ze. Yi Ze segera memasukkannya ke balik kerah baju, "Ini, ini bukan milikku, tidak berharga sama sekali! Yang lain saja!"
"Kalau begitu ...." Tuan Song menggaruk janggutnya, berpura-pura berpikir, "Informasi."
Yi Ze mengernyit heran.
"Kau cukup menjawab beberapa pertanyaanku saja untuk menukarnya dengan informasi yang kau butuhkan. Setelah itu, kau bisa menanyakan ratusan pertanyaan sekaligus," Tuan Song menatapnya lebih baik.
Yi Ze mengangguk tanpa syarat, bersedia menjawab pertanyaan apapun dari Tuan Song. Tanpa berpikir pertanyaan sejenis apa yang harus ia jawab.
"Siapa kau ini sebenarnya?"
Yi Ze terdiam lama. Tidak menyangka pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulut Tuan Song. Dan Yi Ze tidak kunjung menjawabnya.
"Ingat, kau hanya perlu menjawab pertanyaan yang kuajukan saja."
Yi Ze masih belum menjawab. Yang dipikirkannya saat ini adalah, "Tuan Song ini penjual informasi. Jika dia memiliki begitu banyak informasi, tidak ada yang menjamin identitasku akan aman setelah diketahui orang seperti Tuan Song ini."
Tuan Song berdecak kesal karena Yi Ze tak kunjung bersuara, "Apa kau mengkhawatirkan sesuatu?"
Yi Ze mengerutkan kening.
"Misalnya, takut informasi yang kudapatkan darimu ini bersifat pribadi, dan takut aku akan memberikannya pada orang lain?" Tuan Song menatap Yi Ze dengan wajah liciknya itu, lalu tertawa lepas, "Kau ini lugu sekali. Meskipun menjual banyak informasi rahasia, tentu saja aku menjaga privasi seorang pelanggan. Tenang saja, informasi tentangmu selalu aman di tanganku, bahkan jika aku mati!"
Tuan Song mendesah kecewa, "Maksudku, bukan itu yang ingin kutahu! Aku tidak peduli kau utusan siapa atau siapa. Yang kutanya, kau ini datang dari mana? Tumbuh besar di mana? Siapa nama orang tuamu? Itu yang kumaksud!"
Yi Ze mengangguk-angguk paham, "Aku datang dari Shahuang."
Tuan Song terdiam, "Ah, iya. Shahuang, kau pernah mengatakannya saat pertama kali datang, bukan? Bagaimana aku bisa melupakannya secepat itu?"
Yi Ze menghela napas kesal, "Aku ini, sedang bingung tentang sesuatu. Sesuatu yang pernah kutanyakan padamu sebelumnya."
"Tentang apa?"
"Tentang apakah ada orang yang meninggalkan kota ini di tahun itu selain sepasang ayah dan anak tadi?" Yi Ze mengulangi pertanyaannya yang kemarin.
Tuan Song mendengus, "Bukankah sudah kukatakan? Aku ingat sekali, tidak ada yang meninggalkan kota selain ayah dan anak itu!"
Yi Ze terdiam lagi, "Padahal jelas sekali ayahku pernah mengatakan tinggal di Kota Hai'an. Lalu pindah saat usiaku dua tahun. Bukankah itu bertepatan dengan peristiwa itu? Usiaku sekarang 21 tahun."
Tuan Song terpaku di tempatnya. Matanya berkedip-kedip tidak percaya. Dia semakin yakin kalau yang dia lihat di depannya ini adalah Yuehai. Anak angkat yang sangat dia sayangi berpuluh-puluh tahun yang lalu.
"Lalu, setelah itu kalian pindah ke Shanjiao?" Tuan Song berusaha melanjutkan pertanyaannya dengan suara yang tersendat-sendat.
Yi Ze mengangguk, "Dari mana kau tahu? Ayahku bilang seperti itu. Tapi aku tidak mengingatnya, ingatanku belum cukup kuat di usia sekecil itu. Aku hanya tahu kalau ibuku melahirkan adik perempuan setelah beberapa tahun menetap di Shanjiao."
"Bagaimana kau akhirnya tinggal di Gunung Shahuang?"
Yi Ze terdiam, dia melirik pedang yang disandarkan di kursi, "Kau mengenal pedang ini?"
Begitu melihatnya, Tuan Song tampak berpikir lama, karena tidak sabar, Yi Ze melanjutkan kalimatnya, "Pedang ini milik Jenderal Besar yang kau sebutkan sebelumnya. Aku adalah murid tunggal Master Yuhang, dia adalah Jenderal Besar Xie Xuan yang kau sebutkan itu."
Tuan Song menatap tak berkedip, "Kau akhirnya bertemu dengan Pak Tua itu?" lantas tawanya meletus sangat keras, "Tak sia-sia usahanya mencarimu hingga ujung selatan," Tuan Song bersyukur di dalam hati.
"Apa lagi yang ingin kau tahu dariku?"
Tuan Song mengangguk-angguk paham, "Lalu, kalung itu pemberian dari ayahmu? Atau ibumu?"
Yi Ze menunduk, meraba keberadaan kalung yang sudah lama ada bersamanya. "Aku tidak begitu ingat. Hanya tahu sudah memilikinya sejak kecil. Mungkin Ayah yang memberikannya. Dulu, ibuku pernah mencuri kalung ini untuk dijual. Aku merebutnya kembali, karena takut masih membutuhkannya."
Tuan Song tersenyum, "Tentu saja, karena dia bukan ibumu. Ibumu sudah meninggal sebelum kau meninggalkan Hai'an," gumamnya dalam hati.
"Apakah sudah cukup?" Yi Ze bertanya.
Tuan Song tertawa, "Terlalu senang bercakap-cakap, aku melupakan kebutuhanmu yang mendesak ini. Ayo cepat katakan, apa yang kau butuhkan dariku?"
Yi Ze menatap lautan lepas di bawah sana, "Di antara nelayan-nelayan itu, siapa yang pernah berlayar paling jauh? Juga, siapa yang paling lama bekerja di laut ini? Juga, siapa yang memiliki banyak pengetahuan tentang spesies-spesies laut yang berbahaya?"
Tuan Song terdiam sebentar, "Arah pertanyaanmu ini, sepertinya aku cukup mengerti," lalu dia berdiri, mendekati sebuah rak berisi gulungan-gulungan bambu. Mengambil salah satunya, membukanya di atas meja.
"Ini adalah daftar nelayan yang kubuat di awal tahun ini. Di antaranya ada pengetahuan para nelayan, hasil tangkapan, usia nelayan, juga seberapa jauh mereka berlayar. Aku mencatat semuanya. Karena, bukan hanya kau yang menanyakan pertanyaan aneh seperti ini."
Yi Ze mengernyit, "Siapa lagi?"
Tuan Song tertawa, "Tentu saja para nelayan itu sendiri. Setiap tahun di tanggal dan bulan tertentu, mereka akan berlomba saling mengalahkan pencapaian masing-masing nelayan, di saat itu, para nelayan berbondong-bondong mendatangi toko obat ini, ingin melihat daftar unik yang kubuat. Selain untung bagi mereka, untung juga bagiku karena mendapatkan banyak uang."
Yi Ze mengangguk-angguk, membacanya dengan seksama. Lalu mencatat nama-nama yang dia butuhkan. Lalu mencarinya satu-persatu.
"Baiklah, terima kasih, aku harus segera pergi." Yi Ze meninggalkan gulungan bambu itu di atas meja.
"Kau tidak membawanya?"
"Aku mencatatnya. Lagi pula, jika aku membawanya, aku tidak tahu kapan akan mengembalikannya," Yi Ze melangkah menuju pintu kamar.
"Yi'er!"
Yi Ze berbalik, menatap Tuan Song yang juga menatapnya, dengan sorot yang tidak dimengerti.
"Aku senang bertemu lagi denganmu," Tuan Song tiba-tiba tersenyum, "Kau, sudah cukup dewasa sekarang."
Yi Ze terdiam. Dia mengerti maksud Tuan Song. Kemarin, dia sudah mengerti tentang identitasnya di masa lalu. Dia menyadari kalau dirinya ini adalah seorang anak dari wanita yang dipenggal Yang Mulia Raja atas tuduhan pengkhianatan.
Tapi, Yi Ze tidak ingin mengakui kalau dia adalah Lin Yuehai. Dia hanya membutuhkan waktu untuk mengerti semuanya secara jelas. Saat waktunya tiba, dia mungkin akan memperkenalkan diri bukan sebagai Yi Ze lagi, tapi sebagai Lin Yuehai yang hidup dalam pelarian setelah hal buruk menimpa keluarga kecilnya. Tapi sekarang, yang penting adalah menyelamatkan Putra Mahkota.
"Bisakah aku pergi sekarang?" Yi Ze bertanya pelan, berusaha mengabaikan ekspresi Tuan Song yang seperti memaksanya menangis.
"Kelak, jika kau membutuhkanku, datang saja ke toko obat kami. Dan kau tidak perlu menukar dengan apapun lagi, gratis saja informasi dariku!" Tuan Song tersenyum lebar, bahkan mengantar Yi Ze keluar.
⚔️⚔️⚔️
Bersambung