
Namun sekarang entah mengapa, suasana didalam kamar setiap Nara terbangun, selalu ada saja barang-barang yang baru. Entah apakah itu majalah, koran, buku komik ataupun novel yang belum pernah dibacanya, namun cukup untuk menemani hari-hari Nara didalam kamar ini. Sebuah kamar segi empat berukuran 9 m, dengan Cat berwarna biru langit, hanya ada satu tempat tidur, satu meja, satu kursi dan kamar mandi. Tidak ada apa-apa lagi.
Nara sedang membaca sebuah komik terbaru ketika sudut mata sebelah kanan menangkap salah satu bayangan asing di depan pintu masuk kamarnya. Dia pun memasang mata dan telinganya tajam-tajam, kalau-kalau melihat atau mendengar sesuatu yang mencurigakan dari luar kamarnya, tapi setelah beberapa saat tidak mendapati suatu gerakan aneh di pintu, dia pun kembali membaca komiknya. Tapi konsentrasinya telah buyar. Benar saja, tak lama setelah itu, sudut matanya kembali menangkap sesuatu yang aneh, seperti ada gerakan seseorang yang sedang mengintip kedalam kamarnya.
"Siapa?" tanyanya.
Namun tidak ada jawaban. Penasaran, dia menyingkirkan seimut yang menyelimuti kakinya, turun perlahan-lahan. Sejak pertama, belum sekali pun dia pergi meninggalkan tempat tidur. Kakinya bergetar pelan, Dan kaki kanannya menapak diatas lantai pualam yang dingin, Nara menghela nafas lega, karena tidak ada yang terjadi. Kemudian dia menurunkan kaki yang satunya lagi dan mulai berdiri diatas kedua Kakinya. Namun baru satu langkah, Nara terjatuh. Sudah Lama Dia tidak berjalan, tidak aneh kalau dia belum cukup kuat. Dia berusaha untuk bangkit kembali, kali ini dia melangkah pelan dan memusatkan seluruh perhatianpada langkah kakinya. Dan akhirnya dia berhasil sampai didepan pintu dan membukanya.
Namun baru saja dia membuka pintu, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Pintu tersebut. Nara pun langsung berteriak kencang sekali dan terjatuh keatas lantai. Matanya terbuka lebar memandang pintu.
Sekarang didepan pintu berdiri seorang pria bertubuh tinggi, berkulit coklat dan berambut cepak ala pemain Basket. Nafasnya terengah-engah dan matanya melotot sampai hampir keluar dari rongganya.
"Na-Nara?" tanya pria tersebut
"Sung Hyun?" tanya Nara tidak percaya dengan pandangan matanya.
"Maaf, mengagetkanmu." ucap Sung Hyun membantu Nara berjalan keatas tempat tidur.
Nara menggelengkan kepalanya dengan gugup. Entah mengapa hatinya merasa berbunga-bunga sekarang ini. Di antara semua orang yang diharapkan menjenguknya, dia sama sekali tidak mengira kalau Sung Hyun akan datang.
"Terima kasih." ucap Nara begitu dia sudah berada diatas tempat tidur.
Sung Hyun hanya menggelengkan kepalanya namun dia masih tetap memandang Nara dengan tidak percaya. Setelah beberapa lama, Sung Hyun pun bertanya, "Kau...., tidak apa-apa?" tanya Sung Hyun
"Ya, seperti yang kau lihat." jawab Nara tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia sekaligus kikuknya.
Sung Hyun tertawa pelan, tapi setelah itu dia terdiam lagi. Dia memandangi seluruh penampilan Nara dan mendapati suatu keanehan disana. Namun Sung Hyun tidak mengatakan apa pun. Sebaliknya dia hanya berkata. "Aku senang, kau baik-baik saja. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu." dan Dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Nara. Hangat. Saat itulah Sung Hyun kalau ini benar Nara adanya. Tiba-tiba Sung Hyun menangis.