
Nara tersenyum lega karena permintaannya diluluskan dengan mudah oleh nyonya ok. sedangkan sangMin dan jihwa yang tidak tahu-menahu tentang rencana Ibu mereka, hanya mengikuti saja.
maka mereka berempat berjalan keluar Anchae entah menuju bangunan yang mana. mereka pun akhirnya tiba di depan sebuah pintu kayu besar yang tertutup rapat. pintu itu merupakan pintu bangunan sarangchae, rumah bagi lelaki atau kepala keluarga. Nara bernafas lega, kalaupun memang diletakkan di tempat yang aman, surat itu pasti berada di dalam sarangchae.
nyonya ok menaiki undakan dan menggeser pintu. pintu pun terbuka dan nampaklah sebuah ruangan besar yang terlihat kosong. nyonya ok masuk, diikuti oleh Nara, sangMin dan jihwa. Nara bertanya-tanya, ruangan apa yang akan ditunjukkan oleh nyonya ok.
padanya?
nyonya ok memimpin berjalan menuruni tangga batu, menuju ruang bawah tanah. di ikuti oleh Nara, kemudian Sangmin dan terakhir jihwa. dan berhenti di depan sebuah pintu. Kemudian dia membalikkan badannya menghadap nara.
" Baiklah, Nona Kim Nara, Saya telah membawamu ke tempat yang kau inginkan sekarang. saya menyimpannya di dalam sini." ucap nyonya ok.
"tapi mama, itu kan gu-," sangmin langsung disenggol pinggangnya oleh jihwa untuk tidak bersuara.
nara membalikan badannya dengan pandangan curiga. " tadi sangMin mau bicara apa?"
" bukan hal yang penting, nara Sayang. sekarang apakah tidak sebaiknya fokus pada surat wasiat ayahmu." ucap nyonya ok memegang pundak Nara dan membawanya menghadap ke arah pintu itu lagi. " nah, masuklah." Nyonya ok pun membukakan pintu itu untuknya.
Nara menahan nafasnya dengan penuh ketegangan, dan begitu pintu dibuka, dia tidak bisa melihat apapun. dia pun menoleh menatap nyonya ok dengan heran, " tapi di dalam gelap sekali."
"tidak, di sisi-sisi dinding adalah minyak yang bisa kau nyalakan sebagai penerangan." jelas nyonya ok. "nah, masuklah!" teriaknya tiba-tiba mendorong paksa badan nara ke dalam ruangan bawah tanah sampai dia terjerembab. dan dengan dibantu oleh jihwa, nyonya ok langsung mengunci kembali pintu tersebut.
" hei...,kalian licik, bohong! kalian menjebakku! " teriak nara menggedor-gedor pintu.
"oh, tidak nara cinderella. Mama tidak berbohong, saat itu memang ada di sana. tapi saya tidak tahu pasti di mana letaknya. Carilah kalau kau bisa. hohohohoho! " tawa nyonya ok disertai dengan tawa sangmin dan jihwa yang terlihat puas, kemudian perlahan-lahan mereka bertiga segera pergi meninggalkan pintu.
Nara bisa mendengar langkah kaki Ketiga orang itu perlahan menghilang. tahu kalau usahanya sia-sia untuk berteriak, Nara menjatuhkan dirinya dan menyandar di pintu. ia sudah sangat lelah. dan tanpa bisa ditahan lagi dia pun menangis. Apakah ini akhir dari usahanya?
Tak lama kemudian, Bibi Jung mendengar langkah kaki menuju dapur, dia langsung kembali ke depan perapian dan berpura-pura sedang mengaduk sup daging buatannya.
" Bibi Jung," tanya nyonya ok.
bibi jung pun mengangkat kepalanya dan dengan ekspresi yang polos memandang nyonya ok dengan penuh tanda tanya, "ya, nyonya? "
nyonya ok bernafas lega karena rupanya pengasuh anak dari almarhum suaminya ini tidak mendengar apapun. " besok kami akan pergi ke pasar untuk membeli gaun yang baru. berikan uang hasil jualan Tadi siang." ucap nyonya ok.
"oh, nyonya. tapi uangnya nona Nara yang menyimpan. Saya tidak berani." ucap Bibi Jung berbohong. Tentu saja dia tahu di mana nara menyimpan uangnya.
" Jangan berbohong padaku dan membuatku memaksamu untuk memberikannya!" ancam nyonya ok.
bibi jung agak merasa takut, dan dia memang tidak seberani nona mudanya ini. " Kalau tidak salah, nona nara selalu menyimpan uang hasil dagang di dalam kotak itu nyonya." ucap Bibi Jung dengan tangan yang bergetar.
" bagus!" ucap nyonya ok merasa puas karena ternyata wanita tua itu masih takut dan menurut padanya. dia menghampiri kotak yang ditunjuk oleh Bibi jung yang diletakkan di dalam lemari tepat di samping tempat tidur Nara. setelah dibuka, memang semua uang ada di dalam sana. dengan serakah, dia mengambil semuanya dan tidak menyisakan sepersenpun.
setelah mengulang semua isinya, nyonya ok langsung keluar lagi, namun sebelum keluar, Bibi jung memberanikan diri untuk bertanya.
" anu...., nona nara ke mana ya? seharusnya dia membantu saya memasak."
nyonya ok berhenti di depan pintu dan berbalik menatap Bibi Jung dengan tajam dan bibir yang menyunggingkan senyum, "anak asuhmu itu kurang ajar, dia bertengkar dengan sangmin dan jihwa, Karena tidak tahan, Dia memutuskan untuk kabur dari rumah ini." ucapnya dengan nada suara yang dibuat menyesal, "anak tidak tahu berterima kasih, Bahkan dia tidak pamit padamu. benar-benar kurang ajar. Untung saja putriku bukan kau yang mengasuhnya." setelah itu dia pun pergi meninggalkan dapur.
setelah pintu dapur tertutup, bibi Jung langsung terjatuh di atas lutut nya. dia tahu kalau ucapan nyonya ok merupakan kebohongan belaka. namun, bagaimana cara menolong nona mudanya ini