Cinderella

Cinderella
30



Nara dan pria itu duduk menikmati Cahaya Bulan purnama di dalam Paviliun. mereka berdua sama-sama kelelahan akibat menari, namun terasa sangat menyenangkan.


" Terima kasih." ucapan pria itu bersuara kembali.


" bukan masalah. aku justru senang sekali karena ada yang mau menegur dan menemaniku." senyum Nara.


dan untuk sesaat Mereka pun Saling pandang dalam diam. sampai kemudian Nara menyadari sesuatu "Maaf, tapi memang Sepertinya kita pernah bertemu, ya!"


" Benarkah? tentu saja pasti pernah bertemu denganku. Aku kan Pangeran Choi Sung Hyun. " senyum Pangeran Sung Hyun mengagetkan Nara.


Sung Hyun? sang pangeran adalah Sung Hyun?


"lalu, Siapa namamu? lanjut Pangeran Sung Hyun.


mendadak Nara baru mengingat apa yang telah dilupakan dalam perjalanannya kembali ke dunia ini. kepalanya langsung di daerah rasa sakit yang luar biasa. Nara membungkuk menahan rasa sakitnya.


"nona, kamu tidak apa-apa?" tanya Pangeran Sung Hyun merasa khawatir.


tiba-tiba jam berdentang menunjukkan pukul 12 malam. Nara kaget setengah mati. dia harus segera pergi. maka dengan segenap tekad yang berhasil dikumpulkan nya, dia bangkit dari kursi Paviliun dan pergi meninggalkan pangeran Sung Hyun yang terheran-heran.


Pangeran Sung Hyun pun langsung mengejar Nara. dan ketika Nara hendak menuruni tangga, Pangeran berhasil mengangkat tangannya dan saat itulah topeng Nara langsung terjatuh. Pangeran melihat wajah Nara dan terpana. namun Nara harus segera balik, kalau tidak mau terjadi hal yang lebih menyakitkan dirinya.


kali ini Pangeran tidak mengejar lagi. dia seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi tidak bisa mengingat apapun. dan saat itulah, dia menyadari ada sesuatu yang tertinggal. Pangeran membungkuk untuk melihatnya dan terpana. sebuah sepatu kaca yang sangat indah sekali. namun Selain itu, dia seperti melihat kaligrafi yang Terukir di permukaan sepatu itu. Pangeran berusaha membacanya, semua ini adalah milikmu. Pangeran tidak mengerti apa maksudnya, namun mungkin jawabannya terletak di sepatu yang satunya lagi. maka Pangeran pun bertekad untuk bisa menemukan pemilik dari sepatu ini.


Nara sudah berhasil masuk ke dalam cerita kuda yang sudah siap kerja beberapa saat yang lalu. tanpa menunda waktu, Hakgoo langsung menghela kudanya secepat mungkin sampai ke hanok tempat waktu.


begitu Nara sampai di pintu belakang hanok, dia sudah ditunggu-tunggu dengan tidak sabar oleh seorang laki-laki tua gemuk, memakai Hanbok berwarna hitam, perut buncit, janggut lebat yang hampir menutupi di seluruh wajahnya dan gat di kepalanya, serta Bibi Jung yang terlihat lega.


" baik, Tuan Han, Keretanya sudah datang, tepat jam 12.55. karena itu, saya hanya perlu membayar 5 keping koin perunggu, kan?" kata bibi Jung begitu Nara menginjakkan kakinya ke atas tanah.


" Baiklah, Bibi Jung, anda telah menepati janji anda. karena kemurahan hati saya, Anda tidak perlu membayarnya." senyum Tuan Han.


Bibi Jung terlihat sangat senang, berkali-kali dia mengucapkan terima kasih. bahkan Dia menyuruh Nara untuk turut berterima kasih. kemudian dia mengantarkan Tuan Han naik ke dalam kereta kuda yang masih ditunggangi oleh Hakgoo. maka setelah berpamitan, kereta kuda itu segera meluncur kembali.


Nara terpaku di tempatnya berada, ia Sedang berpikir, di mana dia sekarang, karena sepanjang penglihatannya yang dilihatnya hanyalah pohon, pohon dan pohon. Selain itu, dia juga tak bisa melihat dengan jelas, karena di sekelilingnya hari sudah gelap. Nara bergidik ngeri. dia memutuskan untuk berjalan kembali dan bersusah payah menembus kegelapan, sambil meraba-raba, memastikan bahwa dia berjalan ke arah yang benar. bahkan dia sama sekali tidak bisa melihat bulan maupun bintang, langit tertutup tertutup oleh dahan-dahan pohon yang mengelilinginya. berkali-kali dia terkandung oleh akar pohon yang muncul di permukaan tanah, berkali-kali pula dia terjatuh dan berusaha bangun.


Akhirnya dia berhasil keluar dari kegelapan hutan, walaupun dia masih berada di dalam hutan, namun setidaknya Cahaya Bulan berhasil menembus hutan ini. dia pun bisa melihat kerlap kerlip bintang di langit, dan sekarang dia sudah dapat mendengar bunyi jangkrik, dan bunyi-bunyian hewan malam lainnya.


Nara merasa sangat kelelahan, maka tanpa bersusah payah mencari tempat untuk duduk, dia langsung duduk bersimpuh di atas tanah. nafasnya sudah terengah-engah, dadanya naik-turun, keringat bercucuran membasahi dahinya. rambutnya terlihat kusut sekali.


Nara mendongakkan kepalanya lagi, dia bertanya dalam hati, " Dimanakah aku sekarang? apa yang terjadi? mengapa aku bisa berada di sini? Padahal tadi aku sudah berada di dunia Cinderella."


Nara sudah tidak kuat lagi untuk menahan nya, dia sudah sangat kelelahan. dia ingin istirahat sebentar untuk memulihkan kekuatannya, sebentar saja, hanya sebentar.


tiba-tiba Dia melihat sekelebatan orang. dia pun membatalkan niatnya untuk memejamkan mata, dia menjadi waspada kembali dan menajamkan pendengaran, serta matanya terbuka lebar menembus kegelapan.


" siapa?" teriaknya. " Siapakah? Tolong, jangan lukai aku."


sepi tidak terlihat lagi adanya tanda-tanda kehadiran seseorang atau apapun. Naramenarik nafas lega. tiba-tiba dari belakangnya, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Nara membeku, sesaat jantungnya Berhenti Berdetak. namun kemudian mereka kembali, malah lebih cepat, keringatnya mengalir dengan deras membasahi pelipisnya, dan dengan perlahan-lahan Dia memalingkan wajahnya ke belakang untuk melihat Siapakah pemilik tangan yang sekarang sedang menyentuh pundaknya.


"tolong!"


"Sung Hyun! " teriak Nara.


Nara langsung terbangun dari tidurnya dengan rasa kaget yang teramat sangat dan badannya sudah basah kuyup.


"heh, tukang molor, Kau pikir ini Jam berapa hah? " bentak seorang wanita paruh baya namun dengan dandanan yang sangat mencolok dan menor.


Nara merupakan anak yang periang, polos dan baik. namun kalau sudah mengamuk, tidak akan ada yang bisa melawannya. dan biasanya kalau Nara dibangunkan dengan paksa, dia akan mengamuk di rumah. dan itulah yang terjadi saat ini.


"memangnya aku pikir jam berapa Sekarang? heh, nenek tua, kau sendiri tidak punya jam sampai menanyakannya pada aku dan membangunkan diriku dengan paksa seperti ini? sampai menyiramkan air dingin ke badanku. kau pikir memangnya aku Ini apa? sapi? keledai? kuda? aku juga manusia! Kau bisa kan aku dengan lembut dan bukannya melakukan yang sebaliknya!" teriaknya tanpa sadar.


wanita tua yang baru saja menyiramnya dengan air merupakan sang ibu tiri. mendengar omelan Nara tentu saja langsung membuat sang Ibu tiri bertambah berang. maka dia pun langsung menjewer kuping Nara dan menariknya sampai berdiri.


" kau berani ya membentak baik padaku? kau sudah berani pulang aja rupanya?" ucapnya dengan menyeramkan dan menyeretnya dengan ke luar bangunan sambil masih menjewr kuping Nara.


tentu saja Nara langsung memberontak, "lepaskan-aku-nenek-tua!" dan dengan sekejap Nara sudah memelintir tangan sang ibu tiri sehingga Sekarang gantian wanita itu yang meringis kesakitan.


"aw-aw-aw...., lepaskan tanganku anak kurang ajar! Sangmiiiinnnn! Jihwaaaa! tolong akuuuu! " teriaknyameminta pertolongan kedua Putri kandungnya yang tentu saja masih terlelap di dalam kamarnya.


bibi jung baru kembali dari ladang, begitu melihat Pemandangan itu, langsung menjatuhkan keranjang yang sedang dipegangnya dan melerai Nara.


"nona Kim, Apa yang anda lakukan? kenapa memperlakukan ibu anda seperti ini?" ucapnya dengan nada khawatir.


mendengar ucapan bibi jung tentu saja Nara langsung kaget. "Oh, jadi ini ibu tiri saya? pantas saja kau sangat menyebalkan. dia telah bersikap kurang ajar padaku dengan menyiramkan air ke wajahku! seumur-umur belum Pernah ada yang melakukan hal itu padaku!" oceh Nara panjang lebar.


Bibi jung dan nyonya ok langsung melongo mendengar ucapan Nara. tentu saja mereka heran, karena semua umur anak nona Kim tinggal bersama mereka, dan disiram air seperti ini bukan kejadian yang pertama.


" pokoknya aku marah dan menuntut minta maaf, Kalau tidak, aku akan melapor pada raja tentang kelakuanmu padaku!" ancam Nara masih meneruskan amarahnya.


nyonya ok langsung kaget mendengar ancaman Nara. begitupun dengan Bibi Jung. sumur merawat nona kecilnya. bibi jung selalu mengajarkannya akan sopan santun dan kelembutan. namun kali ini sangat berbeda sekali. seolah baru kali ini beliau mengenal sosok Nona Kim. l