
Saat ini, Nara masih terbaring lemah di rumah sakit. Entah sudah berapa lama dirinya berada di sana. Namun rasanya seperti selamanya.
"SUSTEEERRR..... SUSTEEERRR....!" bukan sekali ini Nara berteriak histeris memanggil perawat. Namun tak ada seorang pun yang datang. Dia sendiri sampai bingung, rumah sakit macam mana yang membiarkan pasiennya terlantar seperti ini. Bertemu dokter pun dia tidak pernah.
Nara menangis sesenggukan, dadanya naik turun dan nafasnya terengah-engah. Tuhan, apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku sendirian seperti ini?
Bahkan kedua sahabatnya pun yang sudah dikenalnya selama satu setengah tahun, Bae Woo dan Yoo Ran, tak satu pun diantara mereka yang menjenguknya, atau minimal memunculkan batang hidung mereka di bagian depan pintu kamarnya. Tidak sekali pun!
Nara sama sekali tidak ingat bagaimana dia bisa berada di dalam kamar ini. Terakhir kali yang dia ingat pada saat tubuhnya di angkat ke dalam ambulans, setelah itu dia tidak bisa mengingat apa pun.
Namun keajaiban terjadi, tak lama setelah Nara berteriak-teriak dan sibuk memencet tombol panggil berkali-kali, seorang perawat dengan perawakan tubuh mungil, datang ke dalam kamar Nara, dengan nafas yang masih terengah-engah dan wajah yang terlihat kebingungan.
Nara pun menoleh ke arah pintu dan melihat wanita itu, "Suster?" tanyanya penuh harap.
Agak lama suster itu tidak menjawab pertanyaan Nara, dia hanya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, seolah-olah memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi. Namun sepertinya dia mengenali wajah Nara, Karena setelah itu dia pun berjalan mendekati Nara.
"Nona Kim Nara?" ucapnya seolah ingin memastikan.
Mau tak mau, perawat itu pun mengabulkan permintaan Nara. Dia duduk di samping tempat tidur, namun tidak mengatakan apa pun. Wajahnya terlihat sangat aneh dan seolah-olah seperti sedang bermimpi.
Nara pun menoleh dan memandangi perawat itu. Si perawat jadi salah tingkah sendiri, berkali-kali dia membetulkan letak duduknya, menoleh ke arah jendela dan tak melihat satu pun yang menarik di luar sana, kemudian kembali memandang Nara, tak lama dia membetulkan kancing-kancing bajunya untuk memastikan kalau tak ada satu pun jahitannya yang lepas. Sampai akhirnya Nara membuka mulutnya dan berkata, "Saya baru sadar, kalau saya belum mengetahui nama Suster. Nama Suster siapa?"
Si perawat itu pun membalas pertanyaan Nara dengap gugup, "Ha-Hari!"
"Hari, sudah berapa lama kerja di rumah sakit ini?" tanya Nara sambil membenarkan letak anak-anak rambutnya yang menutupi sebelah mata kirinya.
"Baru tiga tahun." jawab suster Hari.
"Ooo...., sudah menikah?" tanya Nara tembak langsung.
Tentu saja wajah Suster Hari langsung merah, tapi dia tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya sedikit, kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Oh, belum, ya? Tapi melihat dari gelagat-gelagatnya, sih, sepertinya ada rencana menuju ke sana dalam waktu dekat ini." komentar Nara menggoda Suster Hari.