Cinderella

Cinderella
33



Nara mengintip ke dalam dapur melalui jendela, kosong dan sunyi. sepertinya aman. Nara masuk ke dalam dapur dan melihat Bibi Jung sedang mengupas kentang di atas sebuah kursi tak jauh dari perapian yang sudah dinyalakan.


" kau ke mana saja?" tanya Bibi Jung dengan wajah yang Lelah. keheranannya semakin menjadi-jadi karena nona mudanya ini berubah drastis menjadi pemalas dan senang sekali menghilang.


" hanya bersantai di halaman belakang." jawab nara enteng. dia pun duduk di kursi di depan Bibi Jung berada. " aku bantu ya."


Bibi Jung tersenyum dan segera memberikan pisau satunya lagi kepada Nara dan mereka mulai mengupas kentang untuk di buat makan malam nanti.


"anu, Imo Jung....," ucap Nara memulai perbincangan.


"ya?" tanya Bibi Jung lembut.


" Apakah.... apakah kau ada disini sewaktu Ayah meninggal dunia?" tanya Nara ragu-ragu.


mendengar pertanyaan Nara bibi jung pun tersenyum, "Tentu saja, nona mudaku yang cantik. aku ada disini bahkan semenjak kau belum lahir."


Nara mengangguk, " jadi Imo pasti ada di sini pada saat Ayah menuliskan surat wasiatnya." lanjutnya dengan intonasi suara yang dibuat normal dan sebiasa Mungkin.


"ya, tentu saja." Jawab Bibi Jung namun kali ini agak heran. tidak pernah sekalipun anak mudanya menyinggung-yinggung soal surat wasiat. " Kenapa nona? "


"surat itu..., apakah Imo pernah membaca isinya?"


Bibi Jung menggeleng, " Bibi tidak bisa membaca. Apa kau lupa?"


Nara tersenyum kikuk, dia bukannya lupa, tapi tidak tahu. " Maaf, lalu...., di mana surat itu sekarang?"


" tentu saja disimpan Nyonya Ok."


" kalau aku meminta kepada ibu tiri untuk melihat surat itu, kira-kira.... ibu tiri akan mengabulkannya nggak?"


Bibi Jung menghentikan pekerjaannya mengupas kentang, "Entahlah. seharusnya Iya karena kau juga punya hak untuk melihatnya."


Nara tersenyum mendengarnya, " Tapi sebelumnya aku mau tahu, imo tahu apa isi dari surat wasiat itu?"


Bibi Jung mengangkat bahunya, " yang Bibi tahu hanya tentang pemberian kuasa kastil ini seluruhnya pada Nyonya ok. "


"apa imo yakin kalau itu isi dari surat wasiat Ayah?"


" kenapa tidak yakin? ada Tuan Han di sana saat itu."


Nara menganggukkan kepalanya. " Baiklah, terima kasih atas infonya, Imo."


" sama-sama." balas Bibi Jung tidak curiga sama sekali.


demi melancarkan aksinya, Nara sengaja berubah drastis menjadi sangat baik pada ibu tiri dan kedua Kakak tirinya. ketika ibu dan anak itu sedang bersantai di ruang keluarga yang dihangatkan oleh ondol, semacam penghangat yang terus menghangatkan lantai rumah, Nara mengetuk pintu dan menggesernya, meminta izin untuk masuk.


"Permisi ibu dan kakak, Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya menawarkan diri.


" Oh, nara Cinderella? tidak, kami sedang bersantai. Pergilah!" usir Jihwa tidak memperhatikan Nara, namun terus saja sibuk membaca buku.


Nara menaikkan satu alisnya, dia tidak tahu kalau salah satu itu kakak tiri Cinderella merupakan seorang kutu buku. dibandingkan Kakak dan ibunya, jihwa memang lebih pendiam dan terlihat pintar.


" Oh, tidak, kau bisa memijit kakiku." ucap nyonya ok menunjuk kedua kakinya yang sedang diselonjorkan.


Nara pun tersenyum dan segera memijit nyonya ok. namun ketika dia hendak mendekat, dia melihat pandangan mata sangMin yang masih terlihat dendam pada dirinya akan kejadian siang tadi. sepertinya Sangmin tidak cerita apapun tentang kejadian itu pada nyonya ok, karena kalau memang sudah, saat ini Nara pasti sedang mengerjakan hukuman apapun yang diberikan untuknya.


"Oh iya, Nara sayang, Ibu punya permintaan untukmu." ucap nyonya ok dengan suara yang selembut kain sutra, namun mematikan seperti bisa ular.


sebenarnya Nara agak merasa heran mendengar suara ibu tirinya. tapi dia tetap mendengarkan. " ya, Apa itu, ibunda?" ucap nara dibuat sesopan mungkin.


"Oh, jadi besok kalian akan ke pusat kota untuk membeli gaun yang baru?" tanya Nara berpura-pura baru mengetahuinya.


" ya, Itu juga kalau uangnya ada." lanjut nyonya ok.


"hmm...., " Nara berpikir, agar tidak memancing kecurigaan, dia harus bersikap biasa. dan biasanya inilah yang dilakukan oleh Papa dan Mama ketika dimintai tambahan uang jajan oleh nya. " berapa yang kalian perlukan? saya harus menghitungnya dahulu agar kebutuhan lain tidak terganggu." lanjutnya.


tapi bukannya menjawab, ketiga ibu dan anak itu malah melongo memandang Nara. dan tiba-tiba mereka bertiga langsung tertawa keras.


"hohohohoho....., Apakah mama tidak salah dengar? kau menanyakan berapa yang kami butuhkan? Apakah kau lupa? kau selalu menyetorkan semua uangmu pada Mama!" ucap nyonya ok langsung bangkit dari duduknya dan mencengkeram lengan kanan dengan kencang. " Aku sudah mendengar jeritan cerita sangmin tadi siang. kurang ajar sekali kau ya, berani menolak permintaan anakku bahkan mengancam tidak akan memberikan uang sepersen pun. Tadinya aku tidak percaya kalau kau berani mengatakan itu, tapi rupanya sikap Mama sudah terlalu lunak padamu kau benar-benar harus dihukum."


Nara pun mengaduh kesakitan, memberontak agar lengannya dilepaskan. tapi ternyata belajar dari pengalaman tadi pagi, nyonya ok mencengkeram dengan sekuat tenaga dengan Nara. Sangmin dan jihwa pun tertawa kegirangan.


" hukum dia biar dia Jera, Mah. suruh bersihkan kandang kuda dan jangan dikasih makan." usul sangmin.


" suruh bersihkan kastil ini, mah. sudah kotor sekali!" tambah jihwa.


nyonya ok menyeringai bengis, 'Bagaimana kalau semuanya saja?"


"setuju!" teriak sangMin dan jihwa kompak.


" Baiklah, Nara Cinderella, kau sudah mendengar Apa hukuman atas kekurangajaran mau bukan?" ucap nyonya ok dengan sikap mengancam. " kalau begitu Malam ini, kamu mulailah dengan membersihkan kandang kuda!" lanjutnya lagi sambil mendorong Nara sampai jatuh ke lantai.


sangmin dan jihwa masih terus tertawa, sedangkan Nyonya ok memandang Nara dengan tajam dan mengancam.


nara bukan anak yang penakut, justru sebaliknya. dia bangkit dari lantai dan menatap nyonya ok tak kalah tajam.


" Aku tidak mau!" jawab Nara lantang.


mendengar itu dan juga intonasi suara yang terdengar sangat kurang ajar di telinganya, nyonya ok bertambah geram. Nara sudah siap terkena tamparan, pukulan atau apapun yang akan dilakukan oleh Nyonya ok. Namun ternyata yang bertindak adalah jihwa. dia pun langsung maju dan menampar Nara dengan sangat kencang. tentu saja Nara langsung terjatuh, bibirnya pecah dan berdarah.


" Jaga omongan dan sikapmu. sudah untung kau masih Kami Biarkan tinggal di sini, dasar tidak tahu berterima kasih!" geram jihwa yang ternyata walaupun pendiam, kalau sudah marah sangat menyeramkan.


Nara mengelap darah di bibir nya. dia tersenyum tipis dan bangkit dari lantai.


" begitukah? akukah yang menurut kalian sudah hidup menumpang di sini?" tanya Nara dengan sikap tenang yang mengancam.


Awalnya mereka bertiga tidak ada yang memahami ucapan Nara. tapi setelah beberapa saat nyonya ok mulai paham apa yang dibicarakan oleh Nara.


"Oh, jadi menurutmu kami yang menumpang?" jawab nyonya ok.


nara tidak menggeleng atau pun mengangguk, dia hanya menatap tajam nyonya ok dan kedua anaknya.


" kau Salah sekali. jangan mentang-mentang ayahmu pemilik kastilini maka dia mewariskannya padamu. ayahmu sama sekali tidak menyayangimu, Oleh sebab itu beliau memberikannya padaku!" Jawab nyonya ok dengan lantang namun diam-diam tangannya bergetar pelan.


"Aku tidak percaya. Aku mau melihat salinan surat wasiat tersebut sekarang. dan kupikir sekarang aku berhak untuk tahu, karena umurku sudah 17 tahun." tantang Nara.


nyonya ok tidak langsung menjawab, matanya melotot kepada nara dan tangannya bergetar, entah karena takut atau pun marah. sedangkan sangmin dan jihwa yang tidak tahu apa-apa mengenai isi surat wasiat itu dan hanya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mama mereka, merasa sangat marah kepada nara.


"mama, berikan saja surat itu, biar kita usir sekalian saja Nara Cinderella dari sini!" ucap Sangmin sudah tidak tahan untuk memukul Nara.


"oh, kalian tidak akan berani melakukannya, karena aku akan mengadukannya kepada Paduka raja dan ratu dan minta persidangan yang sah untuk menyelesaikan masalah ini!"


sangmin dan jihwa langsung terbelalak ketakutan. Dilaporkan pada raja dan ratu dan dibawa ke pengadilan?


"mama, lakukan sesuatu, anak ini sudah berani kurang ajar pada kita!"


setelah beberapa saat tidak ada jawaban, akhirnya nyonya ok tersenyum tipis, " baiklah, jika memang itu yang kau inginkan. Mari Ikuti saya. saya akan memberikanmu surat wasiat dari ayah tersayangmu itu." ucapnya sambil berjalan keluar dari bangunan anchae.