
Bae Woo dan Yoo Ran membuka mata dan langsung turun dari atas tempat tidur dengan nafas yang terengah-engah. tangan mereka menggapai-gapai untuk mencari alat bantu oksigen. setelah menarik napas dalam-dalam dan tubuh mereka bersimpuh di atas lantai dengan lemah, mereka berdua Saling pandang. untuk sekian detik mereka saling terpaku, sampai akhirnya suasana Hening itu dipecahkan oleh tangisan Yoo Ran.
Bae Woo bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Yoo Ran, kemudian memeluk sahabatnya ini. mereka sudah berusaha sebaik nya. yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah memantau monitor gelombang otak milik Nara dan Sung Hyun.
Bae Woo dan Yoo Ran sekarang berada dalam salah satu kamar, tepat di sebelah kamar rawat milik Nara. kamar itu kosong hanya ada 3 buah tempat tidur lengkap dengan alat ICG atau alat pacu jantung, ECG, semacam alat pendeteksi frekuensi gelombang otak, dan cadangan oksigen bilamana dibutuhkan. tidak ketinggalan laptop milik Bae Woo.
tak lama kemudian, masuklah seorang laki-laki tua yang merupakan dokter yang menangani kasus yang terjadi pada Nara dan seorang perawat.
"nona-nona, apakah kalian berdua tidak apa-apa?" tanya dokter kwan membantu Bae Woo bangkit. sedangkan perawat membantu Yoo Ran berdiri.
"ah, terima kasih, suster hani." senyum Yoo Ran.
"sama-sama." jawab suster Hani balas tersenyum. namun dari wajahnya menyiratkan rasa khawatir. "jadi, bagaimana dengan nona Nara? apa yang terjadi padanya?"
"Nara mengetahui semuanya di saat-saat terakhir. dan Sung Hyun bersikeras untuk ikut bersamanya." jawab Bae Woo sambil melirik ke arah salah satu tempat tidur di mana di atasnya berbaring tak sadarkan diri, tubuh fisik milik Sung Hyun.
dokter Kwan langsung menghampiri tempat tidur Sung Hyun dan memeriksa layar monitor jantung dan otak miliknya. kemudian dia mengangguk-angguk dengan penuh rasa lega, " sejauh ini masih normal. suster Hani, tolong amati setiap 15 menit perkembangannya. kalau ada perubahan sedikit pun, lekas beritahu saya." perintah dokter Kwan memberikan petunjuk kepada suster Hani yang dengan patuh mengangguk dan segera mencatat di atas flip chart miliknya.
"jadi yang bisa kita lakukan hanya menunggu sekarang ini." ucap dokter Kwan lebih kepada dirinya sendiri.
Bae Woo dan Yoo Ran sudah merasa pulih, Oleh sebab itu, mereka bermaksud untuk menjenguk Nara di dalam kamar, dan keluar dari kamar nomor 13.
begitu mereka membuka pintu kamar, terlihat tubuh Nara yang sudah hampir 3 minggu terbaring lemah tak sadarkan diri. banyak selang-selang yang disambung ke tubuhnya, di antaranya infus untuk makanan bagi tubuhnya serta obat-obatan agar Nara tetap kuat, kabel yang tersambung ke alat monitor jantung, kabel yang mendeteksi kerja otaknya dan terakhir kabel oxygen.
detak jantung Nara masih normal. mereka berdua bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi pada Nara sekarang ini, mereka benar-benar penasaran. tapi mereka tahu kalau sekarang ini yang bisa mereka lakukan hanya menunggu dan benar-benar menyerahkan sepenuhnya pada usaha Nara dan Sung Hyun.
"Nara!", bisik Yoo Ran menggamit tangan Nara dan meremasnya pelan. air matanya sudah meluncur lagi dengan deras menuruni kedua pipinya.
Bae Woo mengelus punggung Yoo Ran untuk menenangkan, Yoo Ran pun paham dan mulai menghapus air matanya. sebagai gantinya, dia hanya berkata, "Berjuanglah!"
tiba-tiba suster Hani masuk dengan tergesa-gesa dengan wajah yang sudah pucat.
"Tu-tuan choi...., " gumam suster Hani.
mendengar satu kata itu, tanpa pikir panjang, Bae Woo dan Yoo Ran langsung pergi menuju kamar sebelah lagi. dan ternyata dokter Kwan sudah sampai di sana dan sibuk menindak kejadian serius yang menimpa Sung Hyun dibantu oleh dua orang perawat yang sedang menyetrum dada Sung Hyun agar bernafas kembali.
" apa yang terjadi, dokter?" tanya Bae Woo merasa takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"nak Sung Hyun mendadak kehilangan kesadarannya. alat ECG tidak mampu mendeteksi frekuensi gelombang otaknya seolah terganggu oleh gelombang otak yang lain. dan Hal itu menyebabkan tumbuhnya sikap sehingga kehilangan detak jantung."
mata Bae Woo melotot, "alat dalam keningnya pasti lepas!"
" alat apa?" tanya dokter Kwan tidak paham, sambil memberikan komando kepada perawat Kapan harus menempelkan alat detonator ke atas dada Sung Hyun.
"sebelum pergi, aku mendesain alat khusus kecil, semacam memori identitas mereka, dan menyimpannya dalam bentuk chip. aku menempelkan di kening mereka sebelum masuk ke dalam area kerja otak milik Nara. aku melakukan itu untuk jaga-jaga agar kami tidak ikut terhanyut dalam dunia buatannya itu. alat itu pasti hancur. biar aku periksa laptop milik ku." ucap Bae Woo, dan tanpa menunggu waktu dia langsung berjalan menuju laptop miliknya yang diletakkan didekat tempat tidur miliknya Di mana laptop itu tersambung dengan 3 tempat tidur yang ada di sana, serta satu tempat tidur dikamar milik Nara.
Bae Woo memasukkan password dan dalam beberapa detik layar langsung dipenuhi dengan Diagram diagram yang menggambarkan kondisi fisik milik Nara dan Sung Hyun. entah mengapa hanya milik Sung Hyun yang bermasalah. setelah beberapa saat Bae Woo meneliti dia langsung terduduk lemas. benar saja, alat itu telah hancur. kemungkinan besar karena terkena hantaman yang sangat kuat. ini buruk, Sangat buruk.
Bae Woo menoleh kearah Yoo Ran yang memandangnya dengan khawatir. sedangkan dokter Kwan baru saja bisa bernafas lega karena detak jantung Sung Hyun sudah kembali normal.
" jadi, apa yang terjadi pada Sung Hyun?" tanya Yoo Ran.
"Sung Hyun terdampar di dalam dunia milik Nara dan dia kehilangan identitas dirinya, dengan kata lain dia tidak akan ingat Siapa dirinya yang sebenarnya." jelas Bae Woo sambil meremas rambutnya dengan kencang karena kepalanya sangat sakit sekali.
semuanya langsung terdiam dengan penuh rasa ngeri.
"Apakah hal itu mengerikan?" tanya suster Hani memecah keheningan.
Bae Woo menoleh memandang suster Hani, " ya, suster, dengan kata lain, saat ini bisa saja Sung Hyun menjadi seorang pangeran, seorang bangsawan, seorang pelajar, seorang petani, seorang gelandangan atau yang terburuk, seorang pembunuh. karena dia tidak mengingat Siapa dirinya. identitas barunya akan terbentuk tergantung dengan Nara sekarang ini."
semuanya Langsung menahan nafas. Tidak ada satu pun yang berani untuk berbicara. namun mereka semua merasa simpati pada Sung Hyun yang harus mengalami nasib sedemikian buruknya. mati lebih baik bagi dirinya sekarang ini daripada harus mengalami hal buruk seperti kehilangan identitas aslinya di dunia yang sama sekali asing dan tidak tahu Bahaya apa yang mengintai dirinya.