Cinderella

Cinderella
11



Dengan cepat Nara memutar kursi rodanya ke arah yang sama dengan langkah kaki Yonghuu. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa bertemu dan berkenalan dengan salah seorang pasien di sini. Walaupun menyebalkan, tapi setidaknya anak ini bisa menjadi temannya selama dia di sini.


Tiba-tiba Yonghuu menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap Nara, "Hei, Nara, mau ikut ke taman?" cengirnya.


"Tentu saja." jawab Nara menjadi riang kembali. Yonghuu pun tersenyum simpul mendengar jawaban Nara.


"Jadi kamarmu di mana?" tanya Nara dalam perjalanan menuju taman.


"Paviliun mawar, nomor 13."


"Apa? sama denganku, dong! aku juga paviliun mawar, nomor 11. Kamar kita tepat bersebelahan. Tapi kenapa kita nggak pernah ketemu?" tanya Nara terkejut tapi juga senang.


"Oya, aku tahu kamu, kok! Kamu kan yang sering teriak-teriak seperti orang nggak waras dan memencet-mencet tombol darurat serta selalu menangis dan hanya berhenti ketika tertidur."


Nara kaget mendengar ucapan Yonghuu. Dia ingin bertanya tapi tidak ada pertanyaan yang keluar.


"Oh, begitu ya?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Nara. Sepertinya sikapnya sudah mengganggu pasien-pasien yang lain.


"Sampai juga di taman. Mau main apa?" ucap Yonghuu mengagetkan lamunan Nara. Sekarang Yonghuu sedang berdiri di tengah taman di bawah sinar mentari yang bersinar sangat cerah. Dia membalikkan badannya dan tersenyum pada Nara, bukan seringai nakal yang tadi dilakukannya.


Taman itu merupakan taman yang lumayan luas, terletak ditengah-tengah kompleks rumah sakit, karena Nara melihat agak jauh di sekeliling taman itu berdiri bangunan-bangunan kokoh kurang lebih berlantai tiga dengan cat berwarna putih. Di taman itu banyak sekali ditanam pohon-pohon rindang. Ada beberapa ayunan dan juga bangku-bangku yang terletak dibawah pohon yang tertata rapi.


"Baru sekarang jalan ketaman, ya?"


"Ah, ya, benar, malahan baru kali ini aku keluar kamar." ucap Nara tidak bisa mengalihkan matanya dari rasa kagum, sambil mendorong kursi rodanya agar lebih masuk kedalam taman.


"Kenapa kau pakai kursi roda?" tanya Yonghuu yang sudah menaiki salah satu ayunan yang berada dekat dengan mereka sekarang.


"Badanku masih lemah, aku belum kuat berjalan jauh, makanya aku memakai kursi roda ini," jawab Nara.


"Aku? Entahlah, tapi aku mengalami kecelakaan kurang lebih.... beberapa hari yang lalu mungkin. Aku nyaris tidak bisa mengenali waktu selama disini. Kalau kau sendiri?"


"Aku.... maumu sakit apa?"


"Kenapa balik nanya? mana aku tahu?"


Yonghuu menolehkan kepalanya menatap Nara dari atas ayunan. "Kalau begitu tetaplah pada ketidaktahuanmu itu." senyum Yonghuu penuh rahasia.


Kali ini Nara menanggapi dengan serius jawaban dari Yonghuu. "Tidak masalah, ngomong-ngomong berapa umurmu?"


"Sepuluh tahun."


Oh, meleset setahun dari dugaan awalnya. "Dan sudah berapa lama kau dirawat di rumah sakit ini?"


Sebelum menjawab pertanyaan Nara, Yonghuu kembali menolehkan kepalanya. Melihatnya sebentar kemudian berbalik lagi. "Bukan urusanmu!"


Mendengar jawaban Yonghuu, tentu saja Nara merasa tersinggung. Anak ini sombong sekali. Kalau bukan anak kecil, pasti sudah dia jitak dari tadi.


"Hey," tiba-tiba Yonghuu membalikkan badannya.


"Apa?"


"Mau gantian? enak loh, berdiri diatas ayunan."


Nara terdiam, dia memang ingin sekali naik ayunan. Namun kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Yonghuu melompat turun dari ayunan.


"Bagaimana?" tanyanya yang sekarang sudah berdiri di depan kursi roda Nara sambil mengulurkan tangannya.