
Setelah kedatangan Yoo Ran dan Bae Woo yang hanya sesaat, Nara memutuskan untuk pergi keluar kamar dan menghibur dirinya sendiri. Badannya masih belum kuat, sehingga ketika pergi dia pun memakai kursi roda yang entah sejak kapan, tergeletak di salah satu sudut kamarnya. Suster Hari tidak datang meskipun dia sudah memencet tombol darurat berkali-kali.
Nara memasuki koridor rumah sakit. Namun dia mendapati suatu keanehan. Suasana di sini terasa sangat sepi dan begitu lengang. Nara mencoba untuk mengintip ke dalam salah satu kamar. Tapi Lamar itu tidak kosong. Pasien di dalamnya sedang nonton TV. Nara berpikir, kenapa di dalam kamarnya tidak ada TV? Namun Nara tidak bermaksud untuk beramah-tamah dengan orang yang berada di dalam kamar tersebut, karena pasien itu wajahnya penuh dengan balutan, yang terlihat hanya kedua bola matanya yang hitam dan tidak bersemangat.
Nara kembali menjalankan kursi rodanya. Sampai akhirnya dia sampai di depan pintu keluar paviliunnya. Nara berpikir untuk mencari taman, namun dia tidak mengetahui harus lewat mana.
Oleh sebab itu, dia pun berbelok ke kanan dengan harapan di ujung koridor merupakan taman yang dimaksud olehnya. Namun kali ini, beberapa kali dia berpapasan dengan pasien-pasien lain, berjalan seorang diri dengan lesu dan tanpa semangat hidup, membuat Nara merinding dan memutuskan untuk tidak menegur.
Begitu sampai di ujung koridor, dia merasa kecewa. Karena alih-alih taman, malah Kamar mayat yang ditemuinya. Nara terpaku didepan pintu masuk. Tiba-tiba, pintu Kamar mayat itu bergerak. Dia melonjak kaget, dan sudah bersiap-siap untuk memutar kembali kursi rodanya dengan susah payah. Napasnya memburu, jantungnya berdetak amat kencang, seolah-olah dia sudah melakukan lari Marathon keliling sekolah. Sampai akhirnya pintu terbuka seluruhnya, Nara pun berteriak dengan sangat kencang.
"Hey, jangan berteriak di rumah sakit," ucap suara yang baru keluar dari Kamar itu.
Nara pun berhenti berteriak dan membuka matanya. Dan tubuhnya langsung lemas begitu melihat kalau yang berdiri didepannya sekarang hanya seorang anak laki-laki, mungkin masih berumur sebelas tahun.
"Apa yang kamu lakukan di dalam Kamar maya" tanya Nara masih belum reda dari rasa kagetnya.
"Itu urusanku, kamu tidak perlu tahu." balas anak itu cuek, berjalan melewati Nara dengan santai.
"Hey-hey-hey-hey! Berhenti dulu!"
"Apa, sih. Cerewet!"
"Apa katamu tadi?" tanya Nara galak merasa tersinggung diremehkan oleh seorang anak kecil yang bahkan baru dijumpainya sekarang.
"Cerewet!"
Mendengar dirinya dihina, anak kecil itu memandang galak Nara, dia memandangnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemudian dia menyeringai.
"Ternyata kamu selain cerewet juga jelek ya!"
"Ap---," Nara kehabisan kata-kata, dia tak tahu harus bagimana lagi.
"Tapi tidak apa-apa, walaupun kamu jelek dan cerewet, aku masih mau berteman sama kamu. Siapa namamu?" tanya anak itu mengulurkan tangan kanannya.
Nara melongo melihat sikap anak ini. Anak yang aneh. Tapi dia tetap membalas uluran tangan itu, entah mengapa.
"Yonghuu."
"Kim Nara."
"Oke, Nara, ada perlu apa dengan saya?"
"Apakah kamu sendirian?" tanya Nara setelah beberapa saat.
"Tentu saja, memangnya dari tadi kamu melihat orang lain berdiri disampingku?" jawab Yonghuu cuek, sambil mengorek hidungnya, kemudian dia pun berjalan meninggalkan Nara.
#Ada yang tahu gk! Yonghuu ngapain dikamar mayat?
#kalau ada yang tahu komen ya😁😁😁😁