Cinderella

Cinderella
15



Sang ibu tiri melihat kesempatan untuk memperkenalkan kedua putrinya yang cantik kepada sang Pangeran. Begitu dia melihat sang Pangeran menyendiri di salah satu meja panjang yang berisi penuh bermacam-macam jenis kue, buah-buahan dan minuman. Sang ibu tiri pun langsung berjalan mendekati sang Pangeran dengan memberi isyarat kepada kedua putrinya untuk mengikutinya dari belakang.


"**Maaf sekali, yang Mulia Pangeran, bukankah pesta malam ini begitu meriah dan mewah. Raja telah begitu mengasihi rakyatnya dengan mengadakan pesta dansa ini. Bagaimana cara kami untuk berterima kasih kepada beliau, selain dengan mempersembahkan putri-putri kami yang cantik dan terpelajar ini untuk menjadi pendamping hidup yang mulia Pangeran," kata sang ibu tiri sehalus bisa ular kepada Pangeran yang saat itu sedang meminum anggur dari gelasnya.


Pangeran menatap sang ibu tiri dengan pandangan bingung, kemudian berkata, " Terima kasih atas sambutan Anda, Nyonya. Kalau begitu siapakah kiranya nama kedua putri Anda yang cantik-cantik ini?" tanya sang Pangeran.


"Mari saya perkenalkan, ini putri sulung saya Angelina dan ini putri kedua saya Mariposa."


"Perkenalkan kami memberi hormat kepada Anda, Pangeran," kata kedua kakak tiri Cinderella dengan sopan sambil memberi hormat.


Pangeran mengakui bahwa mereka berdua memang sangat cantik, Pangeran pun berpikir, mungkin mereka berdua tidak akan membosankan seperti wanita-wanita lainnya.


"Apakah Pangeran tidak akan mengajak salah satu dari mereka berdua untuk berdansa?" tanya sang ibu tiri.


"Tentu, saya akan mengajak salah satu dari kalian berdansa. Bagaimana kalau saya mulai dari Angelina. Lady Angelina. maukah Anda berdansa dengan saya?" tanya sang Pangeran sopan.


Mendengar namanya duluan yang dipanggil oleh sang Pangeran, Angelina langsung membungkukkan badannya memberi hormat.


"Tentu saja, Pangeran, suatu kehormatan bagi hamba."


Entah mengapa, Pangeran menjadi sangat terpikat oleh kakak tiri pertama Cinderella, Pangeran tidak mau melepasnya atau menggantikannya dengan siapa pun, atau dengan sang adik yang sudah sangat kesal dan iri melihat hanya kakaknya saja yang diajak berdansa.


T\-A\-M\-A\-T**


"Sudah tamat? lalu bagaimana dengan Cinderella, apa yang terjadi padanya?" tanya Nara cepat begitu Nenek menutup halaman terakhir dari bukunya.


"Cinderella? sudah jelas bukan? Dia terjatuh, sepatu kacanya pecah, dia merasa takut, ibu peri pasti tidak akan memaafkannya, karena itu dia tidak keluar-keluar dari hutan dan menghilang begitu saja tanpa ada kabar sama sekali." jelas Nenek tenang.


Nara kaget mendengar penjelasan Nenek, dia tak bisa berkata apa-apa. Serasa mulutnya telah dilapisi oleh lem Super yang sangat kuat, tidak mau terbuka semili pun.


Sedangkan Yonghuu bertepuk tangan tanpa ekspresi, karena memang dia tak begitu tertarik dengan dongeng.


"Kamu nggak ikut tepuk tangan?" tegur Yonghuu pada Nara yang masih bengong.


Nara agak kaget ditegur oleh Yonghuu, tapi dia menggerakkan tangannya dan mulai bertepuk tangan pelan.


Rasanya baru saja mendengar mimpi terburuk di dunia hari ini. Sekembalinya di dalam kamar, Nara hanya diam dan pikirannya kosong. Sekarang hari sudah mulai beranjak sore, matahari hampir menghilang dalam peraduannya. Nara melihat makan malam sudah tersedia di atas meja samping tempat tidur.