
seperti yang sudah direncanaka, Nyonya ok dan kedua putrinya berangkat ke pasar sejak pukul 8 pagi untuk membeli gaun yang baru. sedangkan Bibi Jung berangkat ke pasar untuk berdagang seperti biasanya.
seperti hari kemarin, yonghuu datang ke kios dan membawa paksa Pangeran Sung Hyun. yonghuu pun menanyakan nara. mau tidak mau, Bibi Jung menceritakan semua yang didengarnya.
" apa?" teriak Pangeran Sung Hyun tidak percaya dengan apa yang didengar olehnya.
"itulah yang saya dengar, Paduka Pangeran. Saya memang tidak melihat langsung, tapi saya tidak percaya kalau nona Nara pergi begitu saja meninggalkan saya. dia pasti pamit pada Saya, bahkan mungkin tidak akan tega meninggalkan saya dalam keadaan seperti ini."
" Siapa ibu dan anak ini? kenapa begitu tega mendorong seorang gadis yang lemah tak berdaya seperti itu di ruang bawah tanah?" geram Pangeran Sung Hyun merasa kasihan mendengar berita itu. entah mengapa, walaupun dia tidak mengenali wanita ini, namun dia seperti memiliki sebuah ikatan dengan nya. Apalagi setelah diberitahu oleh Yonghuu kalau pemilik sepatu itu merupakan Nara, Kakak cantik yang ada di pasar. awalnya sung hyun tidak percaya, Karena Wanita yang dilihatnya di pesta kemarin sangat cantik dan berkelas. sedangkan kemarin ketika dia melihat nara, terlihat sangat biasa Walaupun ada sesuatu yang menarik hatinya.
" kita harus menolongnya." lanjut Pangeran.
" ya, kalau tidak kau harus menikahi salah satu gadis pilihan ibunda Ratu." Tambah yonghuu.
" aku tidak pernah menyetujuinya. aku sudah bilang kalau aku hanya akan menikah dengan Putri yang memakai sepatu ini." Balas Pangeran.
Yonghuu memandang sung hyun dengan seksama, kemudian dia berkata, "kalau begitu Sebaiknya kau kembali ke istana dan berbicara dengan ibunda Ratu."
mendengar usul itu, Pangeran sung hyun pun menyetujuinya. dan tanpa menunda waktu, dia segera pergi ke istana kembali. sementara itu, yonghuu ditinggal dikios bersama bibi Jung.
"Bibi, aku akan ke rumah kediaman bangsawan Kim dan membantu menemukan kak nara kembali." ucap Yonghuu.
bibi jung mengangguk dan menyetujuinya.
nara menghapus debu yang menempel di kedua pipinya, yang basah oleh air mata dan akhirnya kering kembali meninggalkan noda hitam di wajah nya. sudah semalam suntuk dia berada di dalam kamar itu, hanya terdiam dan menangis. dan akhirnya tertidur karena kelelahan. namun sekeras apapun dia menangis dan berteriak, tidak akan ada yang menolongnya. sekeras apapun dia memukul dan mendobrak, pintu itu terlalu tebal dan berat untuk dilumpuhkan.
aku harus kuat, batinnya.
nara bangkit dari lantai dan mulai menyisir Sisi dinding. seperti yang dibilang oleh nyonya ok, ada lampu minyak yang bisa dinyalakan sebagai penerangan di bawah sini. dan benar saja, tidak sampai jauh dia berjalan, tangannya sudah menyentuh sebuah lampu. dengan susah payah, dia mencari batu api untuk menyalakannya. dan setelah percobaan kesekian, akhirnya api pun menyala. Nara segera menyulutnya kedalam sumbu lampu. tak lama lampu pun mulai menyala, menerangi ruangan bawah tanah ini. Nara melihat ada beberapa lampu lagi, maka dia menyalakan semuanya.
dan setelah lampu menyala semua, Nara mulai bisa melihat keseluruhan ruangan. ruangan ini cukup besar, daripada hanya sebuah perpustakaan, ruangan ini lebih cocok disebut tempat workshop untuk memahat. mungkin ruangan ini merupakan ruangan tempat bangsawan Kim sering menghabiskan waktu dengan hobinya dalam bidang seni pahat.
di dalam sini juga, terdapat macam-macam lemari Panjang dan tinggi yang berisi tumpukan buku, sofa dan juga meja beserta kursinya. Namun karena sudah tidak terpakai para perabotnya ditutupi oleh kain putih untuk menghalau debu.
setelah berpikir beberapa saat, Nara memutuskan kalau nyonya ok tidak sepenuhnya berbohong. ini merupakan ruang kerja ayah Cinderella dahulu. tidak aneh kalau kemungkinan besar surat wasiat itu diletakkan di dalam sini dan nyonya ok sama sekali tidak bisa menemukannya. Jadi kemungkinan, pada saat nyonya ok membacakan surat wasiat tersebut di depan Bibi Jung dan Tuan Han surat itu merupakan surat palsu. memikirkan hal itu, Nara menjadi bertambah garam.
tidak mau menunda waktu lebih lama lagi, nah mulai menggulung lengan baju nya sampai sebatas siku dan mulai bekerja memilah-milah seluruh dokumen yang tertumpuk di atas meja kerja dan seluruh lemari buku.
Entah sudah berapa lama Nara terbenam dalam kesibukan meneliti seluruh dokumen yang ada di dalam ruangan ini. namun cahaya yang tadinya cukup bagi matanya untuk membaca sekarang mulai memudar dan membuat Matanya sakit. dia salah strategi, seharusnya tidak semua lampu dinyalakan, karena Sekarang pasti minyaknya sudah hampir habis.
Nara kembali bekerja meneliti ruangan. Sebenarnya dia agak merasa heran dengan salah satu lemari buku yang berbeda ukuran dan warna. dan Sempat berpikir apakah mungkin di balik lemari ini merupakan pintu rahasia? kalau memang iya, pasti ada kuncinya. dan mengikuti trick yang pernah dilihatnya di film, dia memeriksa satu persatu buku-bukunya. dan benar saja, ketika dia sampai di rak nomor 3 dari bawah, Dia melihat dua buah buku yang sangat mirip satu sama lain. kedua buku tersebut sangat tebal dengan sampel kulit berwarna coklat. samar samar Nara bisa membaca judul bukunya dari tinta yang sudah memudar, silsilah keluarga Kim. Nara mencoba untuk menarik salah satunya, dan ternyata keras. kemudian menarik yang satu lagi, dan ternyata dia berhasil mengambil nya. c
sekarang Nara sudah berada di ruangan sebelah, terkunci dan tidak bisa melihat apa pun. tidak berputus asa, dia segera menyisiri sisi sisi dinding kembali untuk mencari lampu minyak dan menemukan satu lampu beserta Dua Buah Batu api. tak lama, Nara sudah bisa melihat kembali apa yang dihadapinya sekarang.
di hadapannya terbentang sebuah lorong panjang tak berujung dengan langit-langit rendah, namun masih memungkinkan baginya untuk tetap berjalan tegak. berusaha menguatkan dirinya agar terus berani, Nara berjalan menyusuri lorong dan tidak bisa menebak, akan berakhir di mana lorong ini.
Nara semakin merapatkan gat-jeogori yang dipakainya. gat-jeogori ini sudah sangat tua, sehingga bulu-bulu pelapisnya sudah mulai tipis dan rontok. di bawah ini lebih dingin dibandingkan di dalam ruangan tadi. Mungkin karena orang ini sudah selama sekian puluh tahun tidak pernah dibuka, sehingga udara nya menjadi tipis dan lembab.
terdengar tetesan air di kejauhan, Nara tidak bisa menduga, sudah sejauh apa dia berjalan. areal hannok milik keluarga Kim lumayan luas, Jarak antara satu bangunan dengan bangunan lainnya juga lumayan jauh, ada sampai 10 meter lebih. tiba-tiba dia dikagetkan oleh suara cicit hewan pengerat yang berlari melintasi kakinya. nara memegangi dadanya, nafasnya memburu, selain karena sudah kelelahan, juga karena di dalam sini udaranya menipis, sehingga dia agak sulit bernafas. nara memutuskan untuk cepat berjalan agar segera Sampai Di Ujung lorong.
sementara Nara berjuang untuk menemukan jalan keluar bagi dirinya, Bibi Jung dan yonghuuu masih dalam perjalanan pulang dari pasar.
" Menurutmu apakah Nyonya ok akan mengenali wajah mu sebagai anggota kerajaan?" tanya Bibi Jung. saat ini mereka sudah hampir mencapai pintu gerbang kediaman bangsawan Kim.
" tidak mungkin!" ucap Yonghuu dengan keyakinan yang tidak terbantahkan.
Bibi Jung hanya membuatnya mulutnya. tapi tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang aneh. tubuh yonghuu terlihat transparan. Bibi Jung langsung mengusap matanya untuk memastikan sendiri kalau dia tidak salah liat. dan benar saja, yonghuu sudah terlihat normal lagi di pandangan matanya. Bibi Jung pun memutuskan untuk melupakan apa yang baru saja dilihatnya tadi.
dan akhirnya mereka berdua tiba di depan gerbang. Bibi Jung turun dari atas dokar dan membuka sendiri gerbangnya, kemudian naik kembali ke atasnya.
" Apakah kalian semiskin ini sampai tidak mampu mempekerjakan 1 orang lagi untuk membukakan pintu gerbang sekalipun?" tanya Yonghuu terheran-heran.
"tepat sekali. uang hasil jualan di pasar habis oleh Nyonya ok dan kedua putrinya." senyum Bibi Jung dengan perasaan miris memikirkan nasib nona mudanya.
yonghuu Tidak berkomentar apa-apa, dia hanya diam dan terus Memperhatikan sekeliling rumah. rumah yang terbilang mewah kalau saja terawat dengan cukup baik.
Bibi Jung turun dari dokar dan mulai menuruni barang dagangan yang tersisa. yonghuu pun mengikuti namun dia tidak membantu hanya memperhatikan saja. Bibi Jung bisa paham, Dia anak raja, mana mungkin membantu pekerjaan seperti ini.
tiba-tiba dari dalam bangunan haengrangchae terdengar suara gemuruh. awalnya Bibi Jung berpikir kalau itu hanya perasaannya saja. namun gemuruh itu terdengar lagi. merasa tidak percaya namun penasaran, bibi jung segera menaiki undakan dan masuk ke dalam rumah.
" apa yang terjadi?" tanya yonghuu tepat di belakang tubuh Bibi Jung.
alis bibi jung berkerut. Mungkinkah? batinnya .Tapi itu sudah lama sekali. tidak mau berpikir terlalu lama, beliau langsung mendorong tempat tidur milik nara. dan ternyata dibawahnya terdapat sebuah Pintu bawah tanah.
ternyata suara gemuruh itu merupakan suara ketukan keras dari bawah sana. merasa yakin kalau kuping nya tidak salah dengar, Bibi Jung langsung membungkuk dan menarik knop pintu dengan sekuat tenaga. setelah bertahun-tahun, engselnya sudah berkarat sehingga agak sulit untuk dibuka.
akhirnya yonghuu memutuskan untuk membantu menarik kenop pintu. dan setelah usaha ketiga kalinya, akhirnya pintu tersebut mau juga terangkat dan membuka. debu pun berterbangan. udara lembab serta dingin mengalir keluar. dan dari kegelapan, menaiki tangga dengan susah payah, muncul Nara dengan tubuh yang sudah sangat kelelahan, matanya silau oleh cahaya dari ruangan dapur, wajahnya pun sudah sangat pucat.
"nona nara! " teriak bibi Jung histeris. Dia segera membantu nona mudanya untuk keluar dari ruangan bawah tanah. " anda tidak apa-apa? Demi Tuhan, Kenapa hal ini sampai terjadi pada anda?" ucap Bibi Jung hampir menangis sedih.
nara tidak bisa berkata apapun. dia sudah terlalu lelah. setelah perjalanan panjang, dia sama sekali tidak mengira kalau akan muncul di dapur. namun hal ini tidak aneh, mengingat bangunan haengrangchae terletak di belakang Areal hanok dan dekat dengan gerbang belakang. lorong tadi pasti merupakan pintu darurat untuk menyelamatkan diri kalau kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.