
akhirnya Bibi Jung memutuskan untuk meminta Nyonya Ok agar keluar dahulu dari dalam dapur. biar dia yang meredakan amarah dari nona Kim.
" Baiklah, saya akan kembali ke ruangan saya. dan jangan lupa agar kau membersihkan bangunan ini. benar-benar anak yang malas, membersihkan dapur saja tidak becus. dan jangan lupa siapkan saya sarapan dengan air hangat untuk mandi!" usai memberikan perintah, nyonya ok langsung keluar dari dalam dapur.
hampir saja Nara membalas ucapan nyonya ok kalau tidak ditahan oleh bibi jun. "Nona, Ada apa dengan Nona? Kenapa Nona begitu lancang?" tegas Bibi Jung.
" aku jadi begini karena ulah nenek tua itu juga. Coba kalau dia membangunkan aku dengan lebih lembut. aku tidak akan semarah ini." Rajuk Nara dan mengikuti Bibi Jung masuk kembali ke dalam bangunan.
" Ya, saya tahu. Tapi Tidak sepantasnya Anda bersikap seperti itu bahkan kepada ibu tiri Anda sekalipun."
mendengar ucapan mengasuhnya, tentu saja Nara langsung mengerutkan alisnya.
" Anda membela orang yang telah membangunkan saya dengan menyiramkan seember air penuh ke wajah saya?" tanya Nara tidak percaya.
" Bukan begitu maksud saya. namun seburuk apanpun perlakuan orang lain terhadap kita, tidak pantas nya seorang Nona muda bersikap bar bar seperti ini, seperti tidak berpendidikan. Anda harus lebih bijaksana dalam bersikap. ini untuk kebaikan anda juga kelak."
walaupun Nara masih marah sehingga dia tidak bisa menerima perlakuan Dari ibu tirinya, bukan berarti Nara tidak bisa mengakui kalau ucapan Bibi Jung ada benarnya.
" Ya sudah, kalau begitu apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Nara akhirnya.
Bibi Jung merasa lega karena Nona mudanya bisa dengan mudah dibujuk. " Anda bisa memulainya dengan menyediakan apa yang diminta oleh Nyonya ok. "
" sarapan dan air hangat? jangan bercanda. aku tidak bisa memasak, dan bagaimana caranya menyiapkan air hangat? apa tidak ada mesin khusus membuat air hangat?"
BibiJung tambah terheran-heran dengan ucapan Nara. Nona Kim yang dia tahu sangat mahir memasak.
" Anda bisa merebus telur dan membuat sup."
Nara memasang wajah ngeri, dalam hatinya Dia berkata, Bagaimana caranya? tapi kemudian dia ingat, kalau dunia ini adalah dunia dalam alam bawah sadarnya. dengan kata lain, pasti dia bisa menarik memori yang berisi tentang cara-cara memasak. toh, walaupun tidak pernah turun ke dapur, tapi dia selalu memperhatikan Mama memasak.
akhirnya Nara memutuskan untuk menyalakan perapian dan menaruh Pnci kecil yang telah diisi oleh air di atasnya. kemudian dia mengambil 5 butir telur untuk direbus. "Apakah Bibi sudah membuat nasi dan Kimchi?"
"tentu saja."
"daripada repot, aku kasih makan yang ada aja."
Bibi Jung pun tidak tahu lagi harus mengatakan apa tentang keanehan yang terjadi pada Nona mudanya ini.Nona muda yang diketahuinya sangat kreatif dalam hal masakan.
" Oke, sudah selesai. di mana aku harus menyimpan makanan ini?" tanyanya lagi.
" bawa saja ke anchae, mereka selalu berada di sana."
dengan penuh percaya diri, Nara pun melenggang menuju anchae, bangunan utama yang terletak di tengah lahan. tidak sulit untuk menemukannya, karena bangunan tersebut berukuran paling besar.
Nara menggeser pintu, dan ternyata kedua orang itu memang sudah berada di sana. dia pun menaiki undakan dan masuk ke dalamnya untuk meletakkan nampan makanan diatas meja.
" ini sarapan Anda, Nyonya-nyonya." ucap Nara.
"Nyonya? kau panggil aku Nyonya? " teriak Sangmin mengagetkan Nara dengan reaksi seperti itu.
Nara tidak merasa kalau ucapannya ada yang salah. untuk wanita yang sedang beranjak dewasa, berusia sekitar 19 tahun, penampilan Sangmin memang terlalu berlebihan.walaupun rambut tetap sama dikepang panjang, namunu lipstick merah yang masih melekat di bibirnya bekas pesta tadi malam, membuatnya terlihat jauh lebih dewasa daripada umur aslinya. tubuh Sangmin pun sangat Molek dan berisi.
"Jangan menyalahkanku, Penampilanmu yang membuatnya nampak seperti itu." jawab Nara polos. sedangkan Bibi Jung yang diam-diam mengikuti Nara dan mengintip di luar, langsung menepuk jidatnya, tapi dia juga merasa sangat geli.
"hihihi...., tapi sebutan itu cocok untukmu kak?!" ucap satu lagi kakak tiri Cinderella yang bernama jihwa.
kebalikan dari kakaknya Jihwa bertubuh sangat kurus dan tinggi, namun wajahnya tidak berbeda jauh dari kakaknya sendiri. namun secara profil, mereka memang berwajah cantik dan menarik.
Sangmin cemberut dikatai oleh Adiknya sendiri, wajahnya sudah memerah mirip **** panggang. hampir saja perkelahian mendadak kalau saja Nyonya Ok tidak masuk ke dalam ruang makan.
" anak-anak, apa yang terjadi? kenapa tadi Mama mendengar suara teriakan? Apakah Nara melakukan hal yang buruk lagi?" tanya Nyonya Ok, sepertinya tidak perlu dijawab karena dia hanya mengharapkan kata "iya" sebagai jawabannya. "mungkin kita harus menghukumnya lebih keras lagi?" usul Nyonya Ok menambahkan disertai dengan saringan jahat.
"ya, kita harus menghukumnya lagi, Ma. Jangan kasih makan sampai besok." usul Sangmin dengan sering yang menyebalkan.
" suruh membersihkan seluruh areal hanok sampai mengkilap, mah. biar tidak ada tikus nggak ada yang berkeliaran." tambah jihwa.
" bagus sekali. kau dengar itu, Nara? " putus Nyonya Ok.
"apa? dengar apa?" tanya Nara tidak menangkap kalau tadi mereka membicarakan dirinya.
" hukuman untukmu. " ulang Nyonya Ok.
"Aku dihukum untuk apa?" tanya Nara dengan wajah polos.
" karena kekurangan ajaranmu." Jawab Nyonya Ok masih sabar.
" aku? kurang ajar? Sejak kapan? Bukankah yang kurang ajar seharusnya Anda, nyonya? karena tadi pagi sudah menyeramkan menyeramkan seember air dingin kebadanku? itu kan kurang ajar." ucap Nara bicara tanpa ragu ragu sedikitpun.
mendengar jawaban Nara, tentu saja ibu dan anak itu langsung terbengong-bengong. sepertinya ada yang salah dengan nona bungsu yang biasa mereka siksa dan eksploitasi tenaga nya. nona bungsu yang mereka kenal sangat penurut, lembut dan tidak tidak suka melawan.
"Ya sudah, kalau tidak ada lagi yang perlu saya lakukan, saya permisi dulu. saya masih banyak kerjaan." ucap Nara membungkukan badannya dan segera pergi menuju dapur kembali.
ketika di dapur, dia melihat Bibi Jung yang sedang mengangkat sebuah keranjang.
" Imo Jorong mau kemana?" tanya Nara penasaran.
" tentu saja ke Pasar, Kita kan harus mencari nafkah untuk Nyonya dan putri-putrinya." jelas bibi jung.
"apa? jadi kita yang susah-susah mencari uang tapi mereka yang menikmati? sudah tidak diragukan lagi, sebaiknya aku mengadukan hal ini pda yayasan perlindungan anak!" ucap Nara dengan gemas.
"yayasan perlindungan anak? apa itu? " tanya bibi jung tidak paham.
"apakah disini tidak ada? "
"belum pernah dengar,."
"luar biasa! ya sudah aku ikut kepasar,." putus Nara.
"oh, anda memang harus ikut, nona. " senyum bibi jung merasa geli melihat sikap nona mudanya ini.
akhirnya dokar yang dinaiki Nara dan bibi jung sampai dipasar dan berhenti didepan sebuah kios yang lumayam besar. bibi jung menurunkan keranjang-keranjang berisi buah-buahan dan sayur mayur hasil ladang mereka. Nara langsung berinisiatif untuk membantu. tapi begitu dia mengangkat satu keranjang, dia sama sekali tidak kuat mengangkatnya.
"aduh, nona kim, jangan diangkt seorang diri. keranjang ini beratnya bisa mencapai empat puluh kilo! " kata bibi jung langsung membantu Nara mengangkat keranjang tersebut.