Cinderella

Cinderella
14



**Cinderella merasa sangat asing dengan kondisinya yang seperti ini. Berkali-kali di dalam hatinya dia berkata kalau itu bukan dirinya. Berpakaian indah, berdandan cantik, sungguh berbeda sekali dengan kondisinya sehari-hari. Itu sama saja dengan membohongi sang Pangeran. Dia tak memiliki apa pun, karena semuanya sudah direbut oleh ibu tiri dan kedua kakak tirinya. Dia tidak mau bertemu dengan Pangeran kalau dia harus berbohong. Dia ingin Pangeran menerima dirinya apa adanya.


Cinderella mengetuk jendela kereta kudanya dari dalam yang menghadap ke arah kusir. Berteriak memanggil ke arahnya. Kusir pun menghentikan laju kereta kuda.


"Ada apa, Tuan Putri?" Katanya sambil menoleh ke belakang ke dalam jendela kereta.


Tanpa menjawab Cinderella segera turun dari kereta, buru-buru dia pergi**.


"Tunggu, Nek, kok, ceritanya menyimpang, sih?" potong Nara sebelum Nenek menyelesaikan ceritanya.


"Menyimpang bagaimana, Nak?" tanya Nenek sabar sedangkan Yonghuu menyun kepada Nara, ekspresi wajahnya lagi-lagi menyiratkan kata, "Kau memgganggu!"


"Cinderella seharusnya tidak turun dari kereta," sambung Nara cepat tidak memperdulikan Yonghuu.


"Nak, dengarkan cerita Nenek dulu ya, baru setelah itu kau boleh protes," senyum Nenek bijaksana.


Nara tidak bisa berkata apa-apa, dia kembali duduk ke posisinya di samping Yonghuu yang sedang menggaruk-garuk kepalanya.


Tanpa menjawab Cinderella segera turun dari kereta, buru-buru dia pergi, mengangkat bagian bawah gaun untuk memudahkan dia berlari, masuk ke dalam hutan dan menghilang dikegelapan malam.


Sementara itu, kusir kereta kuda yang aslinya adalah seekor kadal sebelum terkena sihir hanya diam termangu di atas kursinya masih memegangi tali kekang dengan kuat dan memendangi punggung Cinderella yang semakin lama semakin hilang di telan kegelapan hutan.


Sementara itu di istana, Pangeran sudah sangat bosan dengan suasana pesta yang tidak menyenangkan. Gadis-gadis memang cantik, tapi semuanya amat sangat membosankan. Tidak ada bahan perbincangan lain yang mereka ribut membahasnya selain gaun baru, perhiasan baru dan jabatan baru. Mau pergi dari sini saja rasanya, begitu batin Pangeran.


Cinderella masih terus berlari menerobos hutan. Beberapa kali gaunnya sobek tersangkut ranting pohon, begitu pun dengan wajahnya, terluka di pipi dan dahi. Tangan Cinderella pun tergores, hampir semua bagian tubuh Cinderella terluka.


Tiba-tiba, Cinderella tersandung sebuah akar pohon yang muncul di tanah. Cinderella terjatuh, tepat pada saat itulah salah satu sepatu kacanya terlepas dari Kakinya, terlempar ke udara dan jatuh menghantam tanah dengan keras.


PRAAANG!


"Nooo!"


"Tidaaakk!" Nara berteriak histeri, dia bangkit dari duduknya.


Nenek dan Yonghuu memandanginya dengan heran.


"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya Nenek khawatir melihat keadaan Nara, sedangkan Yonghuu hanya memandangi Nara tanpa berkedip.


Nara diam, kedua pelipisnya berdenyut-denyut. Tapi kemudian dia dapat denga cepat menguasai dirinya, menoleh ke arah Nenek dan Yonghuu yang sedang memandanginya dengan cemas.


"Aku nggak apa-apa, kok! Nenek tolong dilanjutkan ceritanya," pinta Nara sopan lalu dia duduk kembali di samping Yonghuu yang sekarang sedang duduk sambil memeluk lututnya dan juga masih tak henti-hentinya memperhatikan Nara dalam diam.