
"Baru hari ini ya, Nak Nara kelihatan." kata Nenek
"Iya, Nek, sebelumnya kondisi badan saya masih lemah, jadi saya masih tinggal di Kamar saja." jawab Nara sopan.
Nenek mengangguk perlahan tanda mengerti, kemudian dia membaca kembali buku yang dipegangnya itu.
"Nenek memmbaca buku apa?" tanya Nara ramah.
"Aduuh....., kalau ditanya seperti itu, Nenek jadi malu."
"Kok, malu, Nek? Aku tidak akan menertawakan Nenek."
"Baiklah, ini lihatlah," kata Nenek sambil menyerahkan buku itu pada Nara, "Itu hanya buku anak-anak, maklum sudah tua, jadinya butuh hiburan," sambung Nenek.
Nara meraih buku itu, buku tipis bergambar, kertasnya juga sudah lusuh.
"Oh, Nenek juga menyukai kisah Cinderella, ya?" tanya suki begitu dia membaca judul bukunya.
Nenek mengangguk perlahan sambil tersenyum. Yonghuu sudah mulai bosan, dia melirik ke arah salah satu ayunan yang sedang nganggur dan berjalan menuju ayunan itu.
"Nenek, mau nggak membacakan buku cerita ini untukku?" pinta Nara penuh harap.
"Mengapa?" tanya nenek bingung, karena baru kali ini ada orang yang memintanya untuk membacakan buku cerita.
Yonghuu yang sedang asik menikmati goyangan ayunannya, langsung memasang wajah cemberut ke arah Nara mirip ekspresi yang menyatakan, "Kau mengganggu!"
Namun dia langsung melompat turun dan berjalan mendekat, "Apa?"
"Ayo duduk di sini, kita dengarkan dongeng dari nenek." kata Nara yang sudah duduk di atas rumput hijau bersih di hadapan nenek sambil menepuk-nepuk rumput di sampingnya sebagai isyarat agar Yonghuu duduk di situ.
"Dongeng?" walaupun dengan nada yang tidak enak di dengar, tapi Yonghuu duduk juga di samping Nara.
Nenek tersenyum memandang mereka berdua. Kemudian dia membenarkan letak syal yang membelit lehernya, membuka buku dan mendehem pelan. Tak Lama, nenek pun mulai membacakan cerita dongeng Cinderella itu.
**Cinderella
Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang anak gadis yang sangat, cantik, manis dan baik hatinya. Dia berasal dari keluarga bangsawan dan hidup berbahagia berdua bersama ayahnya. Namun ketika ayahnya menikahi seorang janda dengan dua anak dari desa sebelah dan meninggal dunia, kehidupan Cinderella berubah seratus delapan puluh derajat.
Dia diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh ibu tiri dan kedua kakak tirinya. Namun dia tetap berusaha untuk tabah dan sabar.
Suatu hari, pesta dansa di istana akan digelar. Semua warga kerajaan akan datang ke sana. Namun tidak dengan dirinya. Dia pun menangis sedih.
Tiba-tiba muncullah ibu peri dan mengabulkan semua permintaannya. Cinderella siap berangkat, ke pesta dansa istana. Kereta kuda pun berangkat, mengantar Cinderella ke pesta dansa. Suasana malam yang cerah dan indah, berkerlap-kerlip bintang di langit, bulan pun bersinar penuh. Angin bertiup pelan, menggoyangkan dahan-dahan pohon disepanjang jalan menuju istana, seolah-olah ikut menari mengikuti irama musik Waltz yang bergema indah di kejauhan. Kereta kuda berjalan dengan cepat, seolah-olah takut tertinggal oleh suasana hiruk pikuk pesta dansa diistana.
Cinderella duduk dengan gelisah di dalam kereta, pikirannya sibuk membayangkan suasana pesta yang akan dihadapinya. Sudah bertahun-tahun Cinderella tidak pergi kepesta dansa, bahkan untuk memakai gaun indah pun Cinderella merasa gugup sekali. Gaun indah berwarna putih bersih, dengan renda-renda yang banyak, Dan manik-manik berkilauan, serta bordiran indah menghiasi pinggirannya, dan yang tak kalah indah adalah sepatu kacanya yang sangat luar biasa**.