Cinderella

Cinderella
36



ternyata peristiwa itu menguras cukup banyak tenaga Nara. dia menjadi sangat lemah. Oleh sebab itu, sepanjang malam bahkan sampai dengan keesokan harinya, dia hanya terbaring di atas tempat tidur.


beruntung nyony ok dan kedua putrinya yang sedang disibukkan untuk bersiap-siap datang ke istana. hari ini merupakan hari yang dinanti-nanti oleh seluruh anak perempuan di wilayah kerajaan, yaitu pengumuman Siapakah putri yang beruntung dipilih oleh pangeran sebagai permaisurinya.


Bibi jung tentu saja sibuk membantu di dalam anchae. sejak pagi-pagi sekali sudah merebus air hangat untuk mandi Ketiga wanita tersebut. mempersiapkan gaun, sepatu dan seluruh aksesorisnya. setelah itu menyiapkan sarapan. setelah semuanya sarapan, Bibi Jung membantu ketika wanita itu memakai gaun nya, menghias wajah dan rambut mereka.


Nara yang mengetahui betapa beratnya pekerjaan bibi Jung hari ini, merasa sangat sedih. ingin sekali Dia membantu, tapi dia tidak boleh muncul di hadapan nyonya ok kembali, demi keamanan nya sendiri. Oleh sebab itu, dia bertekad untuk menemukan surat wasiat tersebut dan membawanya hari ini juga ke hadapan Paduka raja dan ratu dan meminta keadilan untuk dirinya dan Bibi Jung.


akhirnya setelah matahari sudah melewati posisi paling Puncak di angkasa, ketika wanita itu berangkat juga ke istana, dengan dandanan yang luar biasa mewah. nyonya ok yakin sekali kalau salah satu dari Putrinya sudah berhasil merebut hati Baginda ratu dari acara minum teh kemarin lusa. baginda Ratu begitu memuji-muji sangmin yang molek dan cantik, serta jihwa yang berwawasan luas. salah satu dari putrinya, dia tidak peduli siapapun itu, harus berhasil menjadi permaisuri, karena dari seluruh penghuni kerajaan, tidak ada wanita yang lebih cantik daripada kedua putrinya.


sementara itu, merasa pekerjaannya sudah beres, Bibi Jung masuk kedalam haengrangchae untuk beristirahat. umurnya hampir menginjak 60 tahun, jadi bekerja keras seharian seperti hari ini, sungguh sangat menyiksa tubuh Tuanya.


begitu Bibi jung masuk ke dalam rumah, matanya langsung terpaku pada sosok yang sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, nona nara. Bibi Jung merasa sangat iba, seharusnya nona mudanya ini memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk datang dan menunjukkan dirinya di hadapan Keluarga Kerajaan akan kualitas dirinya.


"nona," akhirnya bibi jung memberanikan diri untuk berbicara.


untuk beberapa saat, tidak ada reaksi dari Nara, sampai kemudian nara membuka matanya dan menoleh memandang Bibi Jung.


"ya, imo jung? " senyum nara dengan suara pelan.


"Bagaimana kondisi nona?" tanya Bibi Jung sambil duduk sisi tempat tidur.


"baik, aku sudah jauh lebih baik. gomawo, imo...., anda merupakan orang yang paling kuat, baik dan tulus yang pernah saya temui."


bibi jung merasa tersanjung mendengar pujian nara, wajahnya pun memerah, " jangan berlebihan, memang sudah kewajiban saya untuk selalu mengurus nona dan rumah ini." senyumnya.


nara mengangguk pelan, "maaf akan ketidaksanggupan ku untuk melindungi bibi dari sikap semena-mena Nyonya ok dan anak-anaknya." kali ini nara mulai mengeluarkan air matanya. tiba-tiba saja dia merasa sangat sedih ketika memikirkan hal itu.


seumur hidupnya, dia merupakan anak tunggal yang selalu dipenuhi segala permintaannya oleh omma dan Appa. sehingga dia tumbuh menjadi anak perempuan yang agak egois dan tidak memikirkan nasib orang lain. dia pun cenderung menganggap kalau hidup ini mudah, tidak ada yang sulit, selain masalah sekolah tentu saja. sehingga seumur hidupnya dia sama sekali belum pernah berjuang sekuat tenaga untuk membuat hidupnya berubah dan menjadi jauh lebih baik lagi, karena dia sudah puas dengan kehidupannya saat itu. namun sekarang, setelah beberapa hari ini, Nara banyak berpikir dan merenungkan semua kejadian yang menimpa dirinya.


Kenapa nenek penjaga toko tersebut harus mengutuknya? karena memecahkan sebuah sepatu kaca, sehingga dia dihukum ke dunia ini untuk memperbaiki semuanya? apakah memang legenda ini nyata adanya?


kemudian Dia teringat pada kedua sahabatnya, yoo ran dan bae woo, tubuh yang sama, wajah yang sama. namun mereka berdua mengalami nasib berbeda dari yang Nara ketahui tentang kedua sahabatnya tersebut. Dunia paralel itu muncul karena kelalaiannya yang lari dari tanggung jawab.


kemudian sung hyun yang demi melindungi dirinya, rela ikut masuk ke dunia antah-berantah ini. Namun karena keteledorannya, dia malah membuat sung hyun melupakan identitas dirinya. agar dia bisa membawa sung hyun kembali, dan tentu saja agar dia bisa kembali ke dunianya kembali, dia harus menyelesaikan masalah ini, semuanya.


kemudian Yonghuu....,ah..., apa yang harus dilakukannya pada yonghuu? anak itu muncul begitu saja dan ikut begitu saja. namun Nara merasa kalau dia pun harus melindungi Yonghuu juga. ada ikatan yang kuat antara dirinya dan yonghuu, ia yakin itu. namun dia tidak tahu, ikatan yang bagaimana antara dirinya dan yonghuu.


nara memejamkan matanya kembali. ada banyak orang yang harus dilindungi nya sekarang ini. kalau dia menyerah sekarang semuanya akan hancur berantakan, tidak akan ada lagi Kebahagiaan, tidak akan ada lagi cinta yang tulus di dunia ini. hancur berkeping-keping seperti sepatu kaca yang dihancurkan oleh Nya saat itu.


mendadak, seperti baru saja menyadari sesuatu, Nara kembali menoleh memandang Bibi Jung.


" Bibi, di mana kau meletakan sepatu kaca itu?" tanya nara.


mendengar pertanyaan nara yang tiba-tiba, tentu saja membuat Bibi Jung terheran-heran. " tentu saja di dinding rahasia."


" tolong...., tolong ambilkan." pinta nara dengan susah payah bangkit dari tidurnya. walaupun kepalanya masih pening, namun dia memiliki keyakinan kalau benda yang sedang dicari oleh Nya dan merupakan kunci dari jawaban semua masalah ini terletak di dalam kotak tersebut.


Bibi Jung tidak banyak bertanya dan segera beranjak untuk mengambilkan apa yang diminta oleh Nara. tak lama Bibi Jung datang kembali dengan kedua tangan yang membawa kotak kayu tersebut. dengan hati-hati, beliau memberikannya kepada Nara.


" Nona, untuk apa Nona meminta kotak kayu ini?" tanya Bibi Jung ingin tahu.


nara menerima kota kayak gitu dengan tangan bergetar dan memandang dengan tajam serta penuh harap. dia pun memandang Bibi Jung dan tersenyum tipis.


"siapkan kereta, kita berangkat sekarang ke istana."


Pangeran sung hyun sedang gelisah di dalam Kamarnya sekarang ini. dia harus membatalkan acara ini. acara ini memang merupakan kelanjutan dari pesta dansa beberapa hari yang lalu. acara ini juga merupakan syarat terpenting untuk membuat keputusan, suka atau tidak suka. Paduka raja dan ratu sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu, Oleh sebab itu mereka memaksa Pangeran untuk segera memilih calon yang menarik hatinya. oleh sebab itulah diadakan pesta dansa. seluruh anak perempuan yang masih lajang, memiliki kesempatan untuk mempertunjukkan bakat dan kemampuannya di hadapan Baginda Raja dan Ratu dan seluruh tamu yang hadir.


tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.


" masuk lah." Sahut Pangeran.


" Halo, Abang." Sapa yonghuu begitu kepalanya muncul kedalam kamar.


Pangeran sung hyun bernafas lega begitu melihat wajah adiknya. " adik yonghuu, jadi ada kabar Apakah?" tanyanya dan memberi isyarat pada Yonghuuuntuk duduk di kursi yang disediakan di dalam kamar.


" aku tidak mendengar kabar apapun." jawab yonghuu santai.


"yonghuu, jangan bercanda." omel sung hyun.


yonghuu hanya mengangkat bahunya, " aku tidak punya tenaga lagu untuk keluar masuk istana semauku, Abang." ucap yonguuu.


Pangeran sung hyun tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh yonghuu. tapi mendadak dia seperti bisa melihat tempat tidurnya menembus melalui tubuh yonghuu.


spontan Pangeran Sung hyun langsung menjauhkan badannya. dia memandang tidak percaya. Pangeran sung hyun pun mengucek kedua matanya untuk memastikan lagi. dan kali ini seperti kejadian dengan Bibi Jung, Yonghuu terlihat normal kembali di pandangan mata Pangeran sung hyun.


" Abang kenapa?" tanya yonghuu polos.


namun sung hyun tidak menjawab, dia seperti berusaha mencerna apa yang baru saja dialaminya. tiba-tiba saja kepalanya diserang oleh rasa sakit dan dia pun terjatuh di lantai..


mendengar suara ribut di dalam kamar sang pangeran, pengawal yang menjaga di luar pun segera masuk ke dalam.


"Pangeran, apa yang terjadi?" tanya pengawal khawatir dengan tangan yang sudah siap di sabuk pedangnya. begitu melihat Pangeran tergeletak di lantai, pengawal pun segera menghampiri untuk memeriksa dan merasa lega begitu mendapati kalau Pangeran masih bernafas.


dengan sigap, pengawal langsung memindahkan tubuh Pangeran ke atas tempat tidur. "anda tidak apa-apa?" tanyanya begitu melihat kedua kelopak mata pangeran yang perlahan membuka kembali.


" apa yang terjadi?" tanya Pangeran sung hyun lemas.


"saya mendengar suara bangku yang terjatuh dan begitu saya melihat pangeran sudah pingsan di atas lantai." jawab pengawal.


"yonghuu....," gumam pangeran.


"maaf, pangeran....,bicara apa?" tanya pengawal.


"yonghuu..., mana?"


tidak ada jawaban namun malah terlihat wajah bingung pengawal. " Siapa yonghuu?"


"adikku." jawab Pangeran sung hyun terheran-heran mendengar jawaban pengawalnya.


" Pangeran, Maaf, tapi Pangeran merupakan anak tunggal dan tidak mempunyai seorang adik."


seolah disambar geledek sung hyun mendengar berita itu. dia tidak mempunyai seorang adik? lalu Selama ini, dia Bersama siapa?


" Maaf, Pangeran, Kalau tidak ada yang Pangeran butuhkan lagi, saya akan menjaga kembali di depan." pamit pengawal.


karena bingung dengan berita yang baru dengar nya, Sung hyun hanya membalasnya dengan kibasan tangan.


jadi, Apakah pengawal atau seluruh penghuni istana tidak ada mengetahui keberadaan yonghuu? Apakah selama ini dia selalu ditemani oleh hantu atau roh atau semacamnya? tapi kenapa Nara dan Bibi Jung bisa melihatnya?


Pangeran sung hyun meremas kedua pelipisnya. lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Kalau tidak ada yonghuu, mendadak dia merasa buntu dan bingung akan targetnya sendiri.


tiba-tiba ada suara ketukan lagi di luar pintu dan pengawal pun masuk. " Maaf, Pangeran, tapi Baginda Raja dan Ratu memanggil Pangeran untuk menghadap."