
"Nona.... bangun!" samar-samar nara mendengar suara seorang wanita, badannya diguncang pelan oleh wanita itu.
Perlahan-lahan dia membuka matanya, dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan kondisi gelap ke cahaya temaram yang dialaminya. di hadapannya tampak sepasang wajah asing yang kelihatan sangat khawatir.
Karena kaget, nara pun langsung bangun dan memdorong badannya menjauh, "ka-kalian siapa?" tanya Nara membuat kedua orang yang sedang mengerubunginya terheran-heran.
Nara melihat seorang wanita separuh baya dan seorang pria muda dengan penampilan yang sangat aneh, si wanita dan si pria memakai hanbok yang terlihat sudah ketinggalan jaman. bahkan gat, sejenis topi tradisional korea, yang dikenakan oleh pria itu terlihat sudah sangat lusuh.
"Ya tuhan, Nona tidak apa-apa?" tanya wanita itu kembali sambil membantu Nara untuk berdiri.
Namun Nara malah menepis tangan wanita itu dengan refleeks, dia tidak suka disentuh oleh orang yang tidak dikenalnya dengan baik. "iya, saya tidak apa-apa, kok!"
Nara menaikkan satu alisnya. pesta dansa? istana? jangan bercanda. namun dia pun segera menyadari kalau dirinya bukan sedang berada dirumahnya sendiri begitu melihat di belakang sosok kedua orang asing yang sedang mengerumuninya ini, berdiri dengan megah sebuah hanok, sebutan untuk rumah tradisional korea. hanok terdiri dari bangunan-bangunan yang disebut haengrangchae, sarangchae, anchae dan sadang. haengrangchae adalah bangunan untuk tempat tinggal pelayan, berada di dekat pintu masuk. Nara merasa kalau bangunan yang ada di hadapannya sekarang adalah haengrangchae. sarangchae adalah bangunan untuk pria atau kepala keluarga, termasuk untuk makan dan tidur, dan berada di bagian depan. anchae adalah bangunan utama sekaligus ruang tidur untuk wanita berikut anak-anak kecil dan terletak di bagian dalam yang jauh dari pintu masuk. ruangan untuk altar leluhur disebut sadang.
Tanpa bicara lagi, wanita tua itu pun mengapit tangan Nara dan membawanya masuk kedalam haengrangchae. Nara kembali menepis pegangn wanita itu, "mianhe, tapi saya bisa jalan sendiri."
"Maaf, Nona, tapi kita harus cepat. silahkan Nona berjalan terlebih dahulu." ucap wanita tua ini membungkukan badannya berkali-kali. sebenarnya wanita ini agak merasa heran dengan reaksi nona mudanya ini. galak sekali.
merasa tidak ada pilihan lain, Nara pun berjalan menuju bangunan dan memasuki sebuah ruangan yang merupakan tempat tinggal wanita itu sekaligus merangkap sebagai dapur. dan ternyata di dalam sana sudah terdapat lima orang wanita lainnya, dari yang muda berumur sekitar lima belas tahun sampai yang sudah berumur tujuh puluh tahun. mereka semua sedang sibuk mempersiapkan sebuah hanbok wanita. jeogori atau atasan hanbok ini berwarna putih dengan sulaman bunga-bunga kecil dan lengan berwarna-warni putih, biru menyala dan Pink. chima atau roknya pun berwarna biru tua yang mencolok dari bahan sutra yang mengembang Dan terkesan mewah serta anggun, dengan sulaman benang sutra yang sangat halus. otgoreum atau pita yang melingkari antara jeogori Dan chima pun dipakai yang berwarna biru.
Tentu saja Nara terpesona melihat hanbok tersebut. walaupun dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan, tapi Nara dibesarkan secara Modern, sehingga jarang bahkan hampir tidak pernah memakai hanbok seindah ini.