
Nara menahan nafasnya, tidak yakin kalau sepatu itu akan pas di kakinya. namun ternyata ajaib, sepatu iti seperti memang dibuat khusus untuk dirinya. semuanya pun tersenyum melihat penampilan Nara dan merasa puas pada kerja keras mereka.
Mereka semua keluar dari dalam haengrangchae menuju munganchae atau pintu gerbang, karena kereta kuda diparkir di sana. Jung membantu Nara menaiki kereta kuda itu.
"Oiya, satu lagi, Nona, jangan lupa Anda harus pergi meninggalkan istana sebelum jam dua belas malam." ucap Bibi Na serius mengintip ke dalam kereta kuda "Maaf, tapi saya hanya berhasil melobi Tuan Mo untuk meminjamkan kereta kudanya sampai jam dua belas malam, tentu saja dengan dispensasi waktu satu jam. Kalau lewat, Anda harus membayar sewa keretanya, sedangkan kita tak punya cukup uang untuk membayarnya."
Kali ini Nara tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. Sejenak Nara bengong, tapi dia segera mengangguk walaupun belum mengerti seluruhnya.
Kereta kuda pun berangkat memgantarkan Nara menuju istana kerajaan yang terletak di tengah-tengah pusat kota. Hanok tempat Nara berangkat tadi memang terletak agak jauh dari ibu kota dan istana kerajaan, dengan kata lain, beberapa kilometer di luar oeseong atau tembok paling luar.
Nara merenung di dalam kereta, dia masih tak percaya dengan apa yang sedang menimpa dirinya. Walaupun orang tuanya kaya, serba dimanjkan dan segalanya ada, namun hanbok yang sedang dipakainya ini belum tentu akan dikabulkan oleh Oppa walaupun dia sampai mengancam tidak akan mau sekolah lagi sekali pun. Dan sepatunya ini bukan sepatu biasa yang ada di etalase toko di pusat pertokoan yang biasa dia kunjungi bersama kedua sahabatnya, Bae Woo dan Yoo Ran. Ini jipsin Cinderella. Tapi...., apakah mungkin?
Tiba-tiba Nara teringat pada kedua sahabatnya itu, dia merasa sangat menyesal dengan apa yang telah dikatakannya kepada mereka berdua tadi pagi sewaktu sekolah. Rasa rindu pun keluar dari dalam dadanya. Dia sangat ingin kembali menemui kedua sahabatnya itu, untuk minta maaf karena telah berkata kasar dan untuk memulai kembali cerita persahabatan mereka yang tadi pagi telah diputuskan secara sepihak olehnya.
Tiba-tiba Nara merasa seperti dihisap ke dalam sebuah pusaran hitam, yang membuatnya pusing dan merasa seperti dilontarkan dari sebuah ayunan dengan tenaga raksasa, dan melayang tinggi di angkasa, membuat ulu hatinya naik ke dadanya dan sesak serta mual. Nara pun memejamkan matanya dengan harapan semuanya hanyalah mimpi.
"Nara....Nara...., banguuunnn!" Nara merasa badannya seperti di guncang-guncang dengan kuat dan pipinya perih di tampar-tampar walau pelan sekali pun.
"Yoo Ran, jangan lakukan itu, kau hanya menyakitinya!" teriak Bae Woo dengn pipi yang sudah basah oleh air mata. "Ambulans akan datang sebentar lagi!"
"Bae Woo, ini salah kita membiarkannya pulang sendirian seperti ini." ucap Yoo Ran denga mulut yang bergetar.
Yoo Ran, Bae Woo? kenapa kalian menangis? Batin Nara dalam ketidak-sadaran. Aku baik-baik saja. Hei, apa kalian bisa mendengarku?
Namun Yoo Ran dan Bae Woo hanya terdiam dan terus menangis. Tak lama kemudian ambulans pun datang dengan cepat dan sigap, para petugas menggotong Nara masuk ke dalamnya. Bae Woo dan Yoo Ran pun ikut naik ke dalamnya.