Cinderella

Cinderella
02



Akhirnya karena kekesalan yang sudah tidak bisa ditahan, Nara berjalan menghampiri Sung Hyun. Tentu saja tingkahnya itu menarik perhatian Yoo Ran dan Bae Woo. Mereka pun menghentikan aktivitas mereka sebelumnya dan memperhatikan apa yang akan selanjutnya terjadi.


Nara sekarang sudah berdiri di hadapan Sung Hyun dengan jarak satu meter. Sung Hyun menyeringai melihat bola basket kesayangannya diantar langsung oleh korbannya tadi.


"Gomawo, tapi tidak perlu repot-repot mengan....," namun ucapan Sung Hyun terpotong karena Nara malah membalikkan badannya dan Melempar dengan sekuat tenaga bola itu kembali, melambung tinggi di udara dan terjatuh jauh sekali dari posisi mereka saat ini. Bola itu mendarat dengan mulus di dalam lapangan tenis yang bersebelahan dengan lapangan basket tempat mereka berdiri sekarang.


"Ambillah sendiri bolamu!" ucap Nara sinis dan Dia pun pergi meninggalkan Sung Hyun yang termenung.


"Dan untuk kalian berdua, aku merasa kecewa dengan sikap kalian! Mungkin sebaiknya persahabatan kita cukup sampai di sini." tegas Nara dan Dia pun pergi meninggalkan Yoo Ran dan Bae Woo yang juga termenung.


Nara memutuskan untuk pulang seorang diri kali ini. Lagipula rumah dan sekolahnya masih didaerah yang sama, Di daerah Hannam-dong, sebuah daerah yang banyak berdiri rumah-rumah mewah dan apartemen. Daerah ini juga banyak dihuni oleh diplomat asing, sehingga banyak dijumpai rumah-rumah dengan arsitektur barat.


Matahari sore ini masih sangat terik dan panas. tidak aneh karena sekarang sudah memasuki musim panas dan sebentar lagi mereka akan libur musim panas. nara pun mengelap keringatnya dan mengeluh agar liburan cepat-cepat datang. paling enak dalam cuaca panas seperti ini makan es rumput laut dan berenang.


Suki harus menyeberangi jalan menuju halte. Suasana masih sepi karena sebagian besar murid-murid masih sibuk mengikuti kegiatan klub yang mereka ikuti. nara yang tomboy sebenarnya mengikuti klub sepeda, tapi kali ini Dia sedang kesal sehingga dia pun membolos. begitu dilihatnya jalanan sudah sepi, dia menyeberang jalan. pikirannya melayang kemana-mana. dia masih ingat sekali ucapan nenek penjaga toko tersebut. sudah seminggu berlalu, apakah sebaiknya dia mampir ke sana hanya sekedar untuk melihat situasi dan kondisi toko tersebut? tapi setelah nara pikir-pikir lagi, hanya buang-buang waktu saja. lebih baik dia membaca novel yang baru saja dibelinya hari minggu kemarin.


Walaupun tomboy dan hyper aktif, namun nara sangat suka membaca dan favoritnya adalah semua dongeng putri-putri kerajaan. bertolak belakang memang, Yoo Ran dan Bae Woo pun bingung dengan hobi nara yang satu itu. karena kegemarannya membaca inilah, nara memang memiliki kelebihan dengan khayalannya.


Minggu lalu pun yang memaksa yoo ran dan bae woo untuk masuk ketoko barang antik adalah nara sendiri, karena Dia melihat sebuah sepatu kaca indah yang dipajang dietalase toko. tidak percaya dengan mata kepalanya sendiri kalau sepatu kaca itu benar ada didunia ini, nara memaksa masuk dan memohon agar nenek penjaga toko mengijinkannya untuk memegangnya. awalnya nenek tidak mengijinkan, dengan alasan sepatu itu hanya pajangan, namun ketika nenek lengah, nara langsung meraihnya. malangnya sepatu itu licin dan tergelincir dalam genggaman tangan nara. itulah asal mula kejadian minggu lalu yang membuatnya sulit tidur dan sulit makan.


Nara menunggu jalanan sepi, kemudian dia pun menyeberang. dan tiba-tiba sudut matanya menangkap bayangan nenek penjaga toko di balik pohon tak jauh dari halte. tentu saja karena penasaran, nara pun menoleh dan kakinya refleks berbelok. dan saat itulah, tragedi itu bermula. sebuah mobil mewah yang sedang melaju sangat kencang menghantam tubuh nara dan membuatnya terpental sampai sepuluh meter.