
Suster Hari hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Tapi kemudian dia seperti melihat sebuah kotak kecil di atas meja di samping tempat tidur Nara. Sustet Hari pun mengambil kotak obat. Suster Hari merasa heran, karena sebelumnya obat-obatan milik pasien Kim Nara merupakan obat injection semua. Suster Hari pun menoleh memandang Nara dengan tidak percaya.
"Kenapa, Suster? Kenapa memandang saya seperti itu?" tanya Nara heran.
"Nona Kim belum minum obat?"
"Obat? seingat aku selama aku di sini aku memang belum pernah minum obat. Tapi kotak itu memang sudah ada disana selama berhari-hari."
"Nona harus meminum obatnya."
"Tapi saya sama sekali tidak bisa bergerak."
Suster Hari kelihatan sangat terkejut. Tapi kemudian dia menghampiri dan memegang kedua lengan Nara. "Maaf, tapi saya akan membantu anda untuk duduk." ucap Suster Hari menarik tubuh bagian atas Nara sampai duduk. "Tidak apa-apa? Merasa pusing?"
Nara memejamkan matanya sebentar, namun setelah itu dia pun menggeleng, "Aku tidak apa-apa."
Suster Hari tersenyum, "Sekarang minun obatnya ya." ucapnya. Namun ketika dia berbalik kemeja kembali, kali ini dia melihat keanehan lagi terjadi. Di atas meja, selain kotak obat, dia melihat segelas Air mineral dan senampan makanan. Suster Hari merasa heran, tapi dia tidak berusaha untuk mempertanyakannya. "Nona Kim, anda juga belum menyentuh makanan anda sedikit pun."
"Oh...., benarkah?"
"Kamsahamida, Suster Hari. Suster baik sekali. Di antara semua orang yang saya kenal, baru Suster saja yang menjenguk saya." ucap Nara sambil mengunyah nasinya.
Tapi Suster Hari tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum dan terus menyuapi Nara sampai makanan habis. Setelah itu dia pun memeberi obat pada Nara.
"Nah, sekarang istirahat kembali, Nona Kim." senyum Suster Hari.
Suster Hari bermaksud pergi, tapi mendadak tangan Nara memegang lengannya. "Jangan pergi, aku hanya sendirian disini. Tidak ada yang peduli padaku." rengek Nara hampir menangis kembali.
Sebenarnya Suster Hari merasa sangat kasihan pada Nara. Tapi dari balik jendela, Suster Hari tahu kalau pagi akan tiba. Dan sebelum semuanya terlambat, Suster Hari harus segera pergi meninggalkan Nara. Suster Hari pun mengelus kepala Nara, "Mereka semua peduli padamu. Percayalah." senyumnya dengan penuh keyakinan.
Nara menatap mata Suster Hari, seolah berusaha meyakinkan dirinya kalau Suster Hari bukan sekedar berbasa-basi. Namun ada keseriusan didalam ucapan Suster. Perlahan-lahan Nara pun melepaskan tangannya dan tersenyum. Suster Hari pun berjalan mundur dan menjauh mendekati Pintu. Setelah melambaikan tangannya dan tersenyum lembut pada Nara, Suster Hari pun menutup pintu dan pergi meninggalkan Nara dalam kesendirian lagi.
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Hari-hari pun berlalu, Nara masih melewati waktu penyembuhannya seorang diri di rumah sakit. Namun kali ini dia sudah kuat untuk bangkit sendiri dari tempat tidur Dan duduk di atasnya. Bahkan dia sudah bisa makan sendirian tanpa bantuan siapa pun. Tapi Nara tidak mengeluh, dia sudah bisa menerimanya dengan sabar. Berkali-kali dia berkata pada dirinya sendiri, bahwa sekarang ini, teman-temannya tidak datang menjenguknya bukan karena mereka tidak peduli pada keadaannya saat ini, melainkan karena mereka semua pun sedang sibuk. Begitu pun dengan keluarganya. Seperti ucapan Suster Hari saat itu, mereka semua sangat peduli padanya. Nara harus meyakini itu, karena hanya itu satu-satunya yang bisa membangkitkan semangat Nara untuk lekas sembuh.