Cinderella

Cinderella
01



PRAANNGG


Suasana di dalam toko mendadak terasa beku dan seperti ada angin dingin yang berhembus menembus kulit, sampai membuat bulu kuduk meremang karenanya. Dan terdengarlah teriakan dari nenek penjaga toko barang antik tersebut. Nara pun langsung menutup telinganya dan menyumpah.


"Berhenti berteriak, Nek! Kau menyakiti kupingku." omel Nara.


Namun nenek tidak bergeming, terus memandang pecahan sepatu kaca tersebut.


"Nara, sebaiknya kita segera pergi dari sini." ajak Yoo Ran, sahabatnya.


"Benar kan, ucapanku barusan. Aku tidak suka berada di dalam toko ini, menyeramkan." tambah Bae Woo.


Nara tahu kalau dia salah, namun dia pun merasa sangat aneh dan gelisah. Buru-buru, dia mengeluarkan dompet dan membayar sejumlah besar uang kepada nenek tersebut padahal dia tidak tahu berapa harganya.


"Ini, Nek, uang ganti ruginya. Kembaliannya ambil saja." ucap Nara dan mengikuti kedua sahabatnya.


Namun belum juga Nara dan kedua sahabatnya membuka pintu, nenek itu menyumpah dengan suara yang lantang.


"Kau harus bertanggung jawab. Karena ulahmulah kebahagiaan itu hancur. Sampai kau mengalahkan semua musuhnya, kau tidak akan pernah bisa kembali kedunia asalmu yang sangat kau cintai itu!"


Hening


Namun setelah beberapa saat Yoo Ran memutuskan untuk menarik lengan Nara keluar toko. "Jangan dengarkan ucapan nenek itu. Beliau kurang waras!"


🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋


Nara sempat merasa khawatir dan tidak bisa tidur memikirkan apa maksud ucapan nenek


tersebut. Dia tahu dia salah, tapi memang apa yang bisa dilakukannya? Sepatunya sudah pecah, lalu, harus bagaimana? kalau memang ingin diganti rugi, dia sudah menggantinya dengan seluruh uang jajannya bulan ini.


Seminggu pun berlalu dan tidak ada yang terjadi dalam kehidupannya, kehidupan remaja yang sangat menyenangkan, dikelilingi oleh dua orang sahabat, walaupun dia tidak menyukai harus selalu mengerjakan tugas-tugas dari sekolah dan mengikuti berbagai macam tes akademik. Namun Nara sangat mencintai hidupnya sekarang ini.


DUG!.


Nara mengaduh kesakitan. Baru saja ada sebuah bola yang mengenai kepalanya. Dia pun menoleh untuk melihat orang iseng mana yang sudah membuat waktu istirahat siangnya terganggu. Dan ternyata tidak sulit baginya untuk melihat si tersangka. Sepuluh meter dari posisinya sekarang, yang sedang duduk dibangku taman sekolah, berdiri seorang pria berbadan tinggi dan tegap, dengan kulit coklat terbakar matahari, sedang melambaikan tangannya dan berteriak meminta dikembalikan bola miliknya.


"Sung Hyun tidak kapok juga ya ngegangguin kamu terus." komentar Yoo Ran sambil mengunyah roti isinya.


"Aku rasa sebaiknya kamu jangan terlalu galak padanya agar dia berani menyatakan cintanya padamu." tambah Bae Woo yang sedang sibuk dengan laptop putih miliknya. Dia seperti sedang menghitung sebuah deret algoritma yang membentuk sebuah kode keamanan di departemen pertahanan militer korea.


"Kamu serius akan membobolnya?" tanya Yoo Ran.


"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin tahu apakah aku bisa. Setelah itu aku akan menutup celahnya kembali."


Nara merasa tersinggung mendengar komentar kedua sahabatnya, "Hubunganku dan Sung Hyun tidak seperti itu! Dia menyebalkan!"


"Oh, dia menyebalkan hanya sama kamu. Sudahlah, berikan saja bola itu, kasihan Sung Hyun berteriak terus menerus." ucap Bae Woo.


Seumur hidupnya, Nara sama sekali belum pernah berpacaran ataupun mempunyai cowok yang ditaksir olehnya. Yah, mungkin dengan Sung Hyun, dia memang sudah mengenalnya semenjak kelas lima SD, namun tidak lebih dari kenal nama saja. Lagipula Sung Hyun sama sekali bukan tipenya yang suka sekali mencari-cari perhatian didepan guru, murid-murid perempuan, ibu penjaga kantin, satpam sekolah, intinya mencari perhatian kesemua orang.