
Tanpa pikir panjang, Nara pun menerima tangan itu, dan berusaha bangkit dari kursi roda dengan bersusah payah. Yonghuu membantu Nara untuk duduk diatas ayunan.
"Sudah siap, pegangan yang kuat, ya? Aku dorong sekarang!" Yonghuu pun mulai mendorong setelah melihat anggukan kepala Nara yang sudah memegang kedua tali dikanan-kirinya dengan kuat.
Nara berayun, melayang rendah, makin keatas, makin keatas, rambutnya yang panjang sepunggung berkibar-kibar tertiup angin, dia tertawa, tertawa lepas l, tertawa yang baru dilakukannya lagi setelah sekian lama tidak dilakukannya. Rasanya menyenangkan sekali. Angin memebelai kulit wajahnya dengan lembut, sinar matahari pun menyentuhnya dengan hangat.
Mungkin....Hari ini tidak seburuk hari-hari lainnya. Tidak! bahkan Jauh lebih baik. Setidaknya Nara sekarang mempunyai seorang teman yang akan menemaninya, manakala tak ada yang datang menjenguknya.
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
"Kamu merasa aneh nggak, kalau rumah sakit ini sepi sekali?" tanya Nara ketika mereka sedang istirahat duduk diatas kursi taman menikmati sinar matahari yang bersinar amat terik.
Yonghuu tidak langsung menjawab, dia memandang Nara sebentar dengan pandangan aneh. "Kamu tidak memyadarinya?"
"Apa?"
"Oh,..jadi benar-benar tidak tahu, ya!" kata Yonghuu singkat yang membuat Nara menjadi agak penasaran. Tapi dia tidak mau susah payah untuk bertanya lebih lanjut.
"Kamu tidak mau tahu?" tanya Yonghuu menyebalkan.
Nara agak merasa jengkel, baru saja dia mulai menyukai anak ini, namun sekarang dia sudah merasa kesal kembali. "Tidak perlu, tahu juga percuma!"
"Bagus, deh! setidaknya kamu tidak akan syok akan kepolosanmu itu." kata Yonghuu membuat Nara merasa diledek.
"Kamu kenapa, sih? Menghina aku terus. Kamu sendiri masih kecil, jangan sok belagu begitu, dong, merasa seolah-olah kamu tahu segalanya!" omel Nara.
Nara sudah habis akal, nyerah, deh! Dia males meladeni anak kecil yang satu ini. Pelahan-lahan, taman pun mulai ramai dikunjungi oleh pasien yang lain. Ada beberapa orang yang juga sedang duduk dibangku taman, ada yang bermain ayunan, bahkan hanya yang sekedar berjemur.
"Wah, jadi ramai." ucap Nara riang.
"Mau kenalan dengan mereka?"
"Oh, jangan sekarang, deh! Aku masih belum bosen sama kamu, kok."
"Masa? Kupikir kamu sudah tak tahan berada di dekatku." kata Yonghuu tiba-tiba bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati seorang nenek yang sedang duduk diatas kursi Roda sambil membaca buku, menegurnya dan berbincang-bincang sebentar.
Nara mengamatinya tanpa beranjak dari kursi taman. Tak lama, Yonghuu menoleh dan melambaikan tangannya, meminta Nara untuk mendekat. Nara menurut dan berjalan pelan mendekati mereka berdua. Setelah naik ayunan tadi, Yonghuu beraikeras untuk memaksa Nara berjalan.
Nara memperhatikan nenek itu, wajah nenek itu terlihat ramah sekali, wajahnya selalu menyunggingkan senyum kadang memperlihatkan deretan giginya yang tinggal hanya beberapa saja. Rambutnya sudah memutih semua, digulung membentuk cepok kecil, nenek ini memakai baju hangat berwarna hijau muda, denga selimut kotak-kotak tebal yang menyelimuti kakinya.
"Nara, nenek mau kenalan sama kamu." kata Yonghuu begitu Nara sudah mendekat.
"Kim Nara, Nek." ucapnya sopan.
"Cantik." puji nenek tulus.
Mendengar pujian itu, wajah Nara memerah, "Gomawo" Jawabnya agak malu sambil melirik kearah Yonghuu yang baru saja mengatakan dirinya jelek. Yonghuu pura-pura cuek tidak mendengar perkataan Nenek.