Cinderella

Cinderella
04



"Ayo, duduk disini." ucap wanita itu meminta Nara dengan penuh rasa hormat untuk duduk didepan meja rias yang memiliki sebuah cermin oval besar terletak tak jauh dari tempat para wanita mempersiapkan hanbok tersebut. Nara sempat bertanya-tanya, apakah hanbok seindah itu adalah buatan tangan mereka? luar biasa!


"Young, rui, tolong bantu saya mendandani anak ini." wanita itu membuka laci meja yang ada dihadapan Nara, dan ternyata di dalam laci itu, terdapat berbagai macam alat-alat rias.


"Baik, imo na." jawab Young dan rui dan segera membantu bibi na untuk mendandani Nara.


Nara mengintip dari balik cermin besarnya, Dia meneliti Young dan rui dan memperkirakan kalau mereka berdua seumuran dengannya.


Tidak memerlukan waktu yang Lama bagi bibi na dan kelima wanita ini untuk mengubah Nara dengan penampilan biasa saja memakai seragam Sekolah, menjadi seorang putri dengan hanbok yang sangat mewah.


Setelah puas memandang penampilan Nara, bibi na berjalan menghampiri lemari yang berada di samping meja rias. beliau mengambil sebuah kotak kayu kecil, membukanya, dan ternyata di dalam kotak kayu tersebut terdapat sebuah topeng yang terlihat agak tua, dengan hiasan manuk-maink berkilauan dan bulu-bulu halus berwarna biru, merah dan kuning menghiasi topeng tersebut. topeng itu pun dipakaikan ke mata Nara. sekarang tak akan ada orang yang mengenali siapa wanita yang berada dibalik topeng cantik ini.


"Pesta topeng?" tanya Nara meyakinkan dirinya sendiri.


"Ya, dan sekarang kau sudah siap untuk datang kepesta dansa," ucap bibi na.


Tak Lama terdengar ketukan pintu diluar. young pun langsung berlari dan membukakan pintu. rupanya pria muda yang tadi dilihat Nara diluar rumah.


"bagus, jung" ucap bibi na


Nara menoleh memandang wajah bibi na yang membalasnya dengan anggukan kepala saat ini Dia benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. dan akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti saja alur kisah yang sedang dialami olehnya sekarang. namun ketika Nara hendak berjalan dan mengngkat sedikit chima yang dipakainya, bibi na baru memyadari bahwa Nara masih mengenakan sepatu kets sekolahnya.


"Ah, betapa sembrononya diriku. sebentar, Nona." bibi na berjalan mendekati perapian, mengetuk beberapa batu bata, dan begitu menemukan satu yang berbunyi lebih kencang, bibi na menariknya keluar, meninggalkan sebuah lubang Keil. bibi na menjulurkan tangannya masuk kedalam lubang, kemudian begitu tangannya keluar kembali, Nara bisa melihat sebuah kotak kayu berukuran sedang dikedua tangannya. bibi na pun berjalan mendekat dan memberikan kotak itu pada Nara.


"Nona, sudah sepantasnya kalau sepatu yang merupakan satu-satunya warisan dari ibunda Nona yang tidak diketahui sama sekali oleh nyonya an dan kedua putrinya, anda pakai untuk malam ini." senyum bibi na bijaksana.


Nara terpana melihat kotak kayu dengan banyak ukiran di sisi-sisinya tersebut. Nara memutuskan untuk menerima kotak tersebut dan membukanya. dan alangkah terkejutnya dia begitu melihat sepasang jipsin, sepatu tradisional korea yang biasanya terbuat Dari jerami atau kain, dia dapati terbuat dari kaca.


"Ini.... punyaku?" tanya Nara tidak percaya dan agak sangsi untuk memakainya, dia takut malah akan merusaknya.


"Tentu saja, nona." jawab bibi na merasa heran mendengar ucapan nona mudanya ini.


Nara segera mengeluarkan sepatu tersebut dan ingin memakainya. namun alih-alih dari memakainya sendiri, jung menawarkan dirinya untuk memakaikan sepatu tersebut untuk Nara.