Cinderella

Cinderella
38



untuk sementara, Pangeran Sung hyun dipindahkan ke sebuah Paviliun di tengah Pulau buatan. dan Tuan Han sedang bersamanya, sibuk mengalirkan tenaga murni ke dalam tubuh Pangeran untuk mematahkan pengaruh kutukan yang ditujukkan pada Pangeran.


Hanya mereka berdua di dalam ruangan, beberapa orang pengawal ditempatkan di pintu masuk kamar. Sedangkan sangmin dan jihwa dalam pengawasan yang ketat di dalam Aula. Raja memutuskan untuk sedikit bersantai dengan hiburan musik dan tarian. para tamu pun diberi kesempatan untuk menikmati makanan yang tersedia dan menikmati hiburan.


walaupun bermaksud bersantai, namun tidak dapat dipungkiri kalau raja dan ratu menyimpan kekawatiran yang sangat besar. bagaimana kalau usaha Tuan Han tidak berhasil? tentu akan sangat menyeramkan dan menyedihkan.


namun setelah beberapa jam yang terasa sangat menyakitkan, terdengarlah kabar bahagia, kalau pengaran sung hyun sudah kembali normal. semuanya pun menyambut dengan bahagia kabar baik tersebut. bahkan ibunda Ratu, yang tadinya paling memaksa Pangeran untuk segera menentukan pilihan menjadi luluh.


" Putraku, kalau memang kau belum siap dan tidak ada yang bisa kau pilih, Mama pasrah menerima nya. masih banyak waktu bagimu untuk mencari pendamping yang pantas." ucapan paduka ratu di belakang panggung.


" tidak, Mama, aku memang sudah mempunyai pilihan. Aku kan sudah bilang pada Mama." senyum sung hyun penuh keyakinan. kemudian dia mengeluarkan sebuah jipsin yang terbuat dari kaca dan menunjukkannya pada ibunda Ratu, " aku memilih gadis yang mempunyai pasangan dari sepatu ini."


melihat jipsin indah tersebut, ibunda Ratu pun tersenyum lega.


semuanya mendadak terdiam begitu Raja bangkit dari singgasananya dan mengumumkan maksud Pangeran untuk mencari pemilik dari jipsin kaca yang diperlihatkan oleh salah satu pengawal di hadapan para tamu yang hadir.


semuanya begitu melihat jipsin tersebut langsung terpana dan berbisik-bisik. namun sampai lama, tidak ada juga yang maju mengaku sebagai pemilik jipsin tersebut.


Pangeran sung hyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok wanita yang entah mengapa langsung terpikir olehnya begitu dia berhasil tersadar kembali. namun, tidak terlihat sama sekali sosok wanita tersebut, sosok kim nara.


" dia tidak hadir." ucap pangeran putus asa dan langsung pergi meninggalkan ruangan, tidak lupa mengambil kembali jipsin tersebut dan memasukkannya ke dalam saku Hanbok miliknya.


melihat kepergian Pangeran dengan perasaan sedih yang mendalam dan keputusasaan, Entah mengapa sanggup mempengaruhi seluruh rakyat yang ada di dalam Aula. maka setelah Kejadian ini, pesta pun akhirnya dibubarkan oleh raja dalam situasi dan suasana yang menggantung.


matahari tak lagi bersinar terik. sekuat dan segagah bagaimanapun, pada saatnya nanti pasti akan mengalah dan membiarkan sang bulan yang mengambil alih dalam memimpin langit malam. walaupun tentu saja, sang bulan tidak akan bisa bersinar sendiri, karena bulan memang tidak memiliki cahayanya sendiri. dia pun masih membutuhkan matahari. sang bulan memantulkan cahaya matahari untuk menerangi bumi, membuat suasana langit malam menjadi terang dan terlihat indah, diiringi dengan Kelap Kelip bintang di langit.


Pangeran Sung hyun menatap langit dengan pandangan yang sedih. menurutnya, dia ibarat sebuah bulan, yang perkasa dan keras, namun dia membutuhkan matahari agar mampu bersinar. ya, sebagai calon raja berikutnya, dia membutuhkan seseorang untuk menjadi matahari baginya kelak.


pangeran sung hyub sedang berada di dalam kamarnya, mengintip melalui lubang jendela, memandang ke langit malam. di tangannya terselip sepatu kaca milik Gadis itu. padahal tadinya dia yakin sekali kalau Gadis itu pasti akan datang tapi kenapa malah sebaliknya? Pangeran memandangi sepatu itu lama dan merasakan sebuah sensasi yang tidak biasa. Entah mengapa, walaupun merasa tidak mengenalnya, tapi kenapa rasa rindu di dadanya begitu besar pada gadis itu?


"sedang memikirkan apa, abang sung hyun?" tanya Yonghuu tiba-tiba muncul di belakangnya.


"yonghuu! kau datang lagi!" ucap Sung hyun tidak mempercayai matanya. setelah kejadian siang tadi, di mana para pengawal tidak ada yang bisa melihat sosok yonghuu, kali ini Pangeran menjadi lebih waspada.


tentu saja yonghuu menyadari sikap aneh tersebut, "tidak usah khawatir. aku tidak akan mencelakakanmu."


Pangeran pun mulai mengendurkan saraf-saraf di wajahnya dan membenarkan posisi duduknya, " Apakah.... kau ini?" gumamnya.


" Abang, dengan menanyakan itu kau sudah menyakiti hati ku." ucap yonghuu menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.


"Oh, maafkan aku. tapi apakah ada yang bisa kubantu?"


yonghuu pun tersenyum, " justru sebaliknya, Aku Yang Akan menolongmu. daripada bengong sendirian di dalam sini, Kenapa kau tidak pergi ke Paviliun dan menemuinya di sana."


demi mendengar kabar tersebut, tentu saja Pangeran tidak langsung percaya. namun, tanpa menunda waktu, dia pun segera berlari pergi keluar kamar menuju Pavilion. ada banyak Paviliun di istana ini. namun Entah mengapa, Pangeran langsung mengetahui Pavilion mana yang dimaksud oleh Yonghuu. Pavilion tempat pertemuan pertama mereka ketika pesta dansa saat itu.


Pangeran sung hyun menghentikan langkahnya tak jauh dari Pavilion. ada sedikit rasa ragu ragu dan takut akan kecewa lagi kalau ternyata tidak mendapati sosoknya di sana. rasa kecewa yang tadi siang di alaminya ternyata masih cukup membekas. namun selalu saja ada harapan dalam hidup ini. oleh sebab itu, dengan sedikit memaksakan diri, dia berlari menuju Pavilion.


dari kejauhan pun, Pangeran Sung hyung sudah bisa melihat sosok belakangnya. berbalut Hanbok, dengan jeogori berwarna pink lembut dan chima berwarna biru tua. Pangeran memperlambat langkahnya, namun matanya terus tertancap pada sosok itu. dan ketika akhirnya jarak antara mereka berdua hanya beberapa langkah, pangeran berhenti dan memanggil namanya.


" Nona Kim Nara."


hening. untuk beberapa saat, tidak ada reaksi apapun. pantang menyerah, Pangeran memanggil kembali. "nona kim nara, Apakah itu Anda? kalau iya, berbaliklah. dan Biarkan saya memandang wajahmu yang indah itu."


"Tetap di tempat anda, pangeran." ucapnya.


pangeran pun langsung menghentikan langkahnya dan menunggu. akhirnya secara perlahan, sosok itu membalikan badannya dengan kepala yang tertunduk malu.


tidak bisa dipungkiri, walaupun rasanya aneh, namun pangeran sangat lega dan bahagia sekali setiap memandang wajah itu. pangeran pun melangkah kembali dan memeluknya dengan erat.


selama beberapa saat, tidak ada seorangpun yang berbicara. mereka terhanyut dalam perasaan masing-masing dan hanya saling berangkulan. seolah-olah apapun yang ingin mereka sampaikan sudah tersalurkan dengan pelukan ini.


raja dan ratu merasa heran sekali. kenapa malam-malam begini Putra sulung mereka mendadak meminta untuk diadakannya pertemuan. pertemuan yang hanya dihadiri oleh anggota kerajaan dan beberapa pejabat tinggi kerajaan. namun demi menghibur Putra sulung mereka, dengan terburu-buru dan hanya memakai hanbok hari-hari, raja dan ratu datang ke ruang Singgasana.


"apa gerangan yang ingin ananda sampaikan, Putra ku tercinta?" ucap sang raja.


pangeran yang masih dalam posisi membungkuk sebagai tanda hormat pun berbicara, " maafkan atas kelancangan putramu ini. tapi ada satu kabar yang harus ananda sampaikan tanpa bisa mengulur waktu lagi. Ananda akan menikah dalam waktu dekat ini."


demi mendengar ucapan putra mereka, tentu saja raja dan ratu merasa terkejut namun juga sangat gembira. begitupun dengan para pejabat tinggi lainnya, mereka saling bisik.


" dan siapakah calon mempelai wanita yang sedang kau bicarakan ini?" lanjut raja.


" Baiklah, Ananda akan memperkenalkan nya. chagiya, masuklah....," Panggil Pangeran menoleh ke belakang pintu.


semua yang hadir dalam ruangan merasa tegang. dan Tak lama kemudian, dari balik pintu, masuklah kim nara. semua yang melihatnya pun terpana akan kecantikan dan kesucian yang dipancarkannya. namun diantara mereka tidak ada yang tahu, atau melihat, kalau Nara melangkah memasuki ruang Singgasana, dengan ditemani oleh Yonghuu, yang menggandeng tangannya dengan kuat. dan begitu nara sudah sampai di samping pangeran, yonghuu pun melepaskan pegangannya namun tetap berdiri di samping Nara.


" Ayahanda, ibunda, Ananda perkenalkan calon mempelai wanita pilihan Ananda. nona kim nara, Putri Tunggal dari bangsawan Kim." ucap pangeran memperkenalkan Nara pada raja dan ratu.


nara pun membungkuk untuk memberi hormat namun tidak berkata apapun. kali ini, ibunda Ratu lah yang bertindak. beliau bangkit dari Singgasana dan menghampiri Nara. menyentuh wajahnya untuk melihatnya lebih jelas. Kemudian beliau pun bertanya.


" dan bukti apakah yang bisa kau berikan sebagai keturunan dan pewaris sah dari rumah besar yang ditinggalkan oleh bangsawan Kim, nona kim nara?" ucap Ratu dengan suara yang lembut.


nara mengangguk pelan, dan dari dalam tas yang di bawanya, dia pun mengeluarkan kotak kayu dan menyerahkannya kepada ibunda Ratu.


ibunda Ratu pun menerima kotak kayu tersebut, membukanya dan langsung merasa takjub melihat Sepasang Sepatu berbentuk perahu di dalamnya, jipsin yang indah sekali. daripada kaca yang gampang retak, sepatu ini lebih terbuat dari kristal bening yang kuat dan tidak mudah pecah. di permukaan sepatu itu, terdapat juga goresan kaligrafi. ibunda Ratu pun mencoba membacanya.


semua ini adalah milikmu, putriku tersayang, kim nara.


setelah meminta Bibi Jung untuk menampilkan kotak sepatu tersebut, nara pun menyadari sesuatu, ada kaligrafi yang terhadap permukaan sepatu.


" Imo, Apakah sejak awal sepatu ini kasar seperti ini?" tanya Nara.


" seingat saya tidak, nona."


nara mengerutkan alisnya. rupanya, walaupun masih dalam pengaruh sihir nyonya ok, ada kalanya bangsawan Kim tersadar dan saat tersadar itulah, dia langsung menorehkan kaligrafi ini ke permukaan sepatu. beruntung, bangsawan Kim memang memiliki keterampilan memahat yang lihai. jadi beliau bisa melakukannya sendiri tanpa perlu meminta bantuan orang lain. sehingga nyonya ok tidak akan pernah curiga. dan ketika selesai, melalui terowongan bawah tanah ruang kerjanya. bangsawan Kim meletakkannya kembali ke lemari rahasia di dapur.


dan setelah itu tanpa menunda waktu, dia pun pergi menemui Tua han dan menceritakan semuanya. Mendengar hal itu, tentu saja Tuan han merasa sangat kecewa, sedih dan marah. sudah sejak lama beliau mengetahui tentang perbuatan nyonya ok terhadap sahabatnya, namun yang tidak bisa dimaafkan adalah beliau hanya diam saja dan tidak melakukan apapun. Oleh sebab itu sekarang beliau bertekad akan membela Putri tunggal dan merupakan pewaris sah dari sahabatnya ini dengan sekuat tenaga dan menghalangi Nyonya ok.


tadi siang, Nara Bukannya tidak hadir. dia ada di dalam Aula, menyaksikan semuanya. dan dia tahu, nyonya ok pasti tidak akan tinggal diam kalau dia muncul saat itu juga. oleh sebab itu, Dia memutuskan untuk tidak muncul di depan publik dan menunggu ketika Pangeran hanya sendirian saja. tentu saja dengan bantuan yonghuu yang entah mengapa bebas keluar masuk istana tanpa diketahui oleh siapapun.


ternyata tidak hanya sepatu yang dilihat ibunda ratu di dalamnya. ibunda Ratu juga menemukan sebuah stempel lambang keluarga Kim dan secarik kertas. beliau pun mengambilnya dan membacanya. tulisannya tepat sama dengan yang terdapat di ukiran sepatu. namun kali ini dilengkapi dengan cap stempel keluarga dan ada tanda tangan bangsawan Kim juga di atasnya.


melihat hal itu, ibunda Ratu pun tersenyum senang dan lega. beliau pun langsung memeluk nara layaknya pelukan seorang ibu kepada putri yang lama tak ditemuinya.