
Tanpa ragu dan menunggu lama lagi , Andra menyerahkan amplop coklat pada Rhea . Amplop itu berisi tentang apa-apa hal mengenai Irvan dan gadis yang bernama Anita .
Perlahan Andrhea meraih amplop itu dari atas meja , memangkunya membuka dengan satu tangannya yang gemetar , keringat di tangannya membuat amplop itu basah di ujungnya .
Menarik nafas kasar , melihat foto pertama , dua pasangan muda mudi tengah duduk di taman dengan tangan saling bertautan .Dengan senyum yang terlihat begitu bahagia dan ringan tanpa beban .
*Kenapa Irvan bisa senyum kayak gitu ke cewek lain , senyumannya beda banget gak kayak ke gue* .
Melihat foto kedua
aaaaach biasa aja sih ini , aku juga sering liat Irvan ngobrol sama cewek lain di sekolah , gak masalah sih
Melanjutkan foto-foto berikutnya , awalnya Rhea menatap satu persatu foto yang ada di tangannya dengan tatapan tanpa ekspresi dengan sesekali dia lirik kakaknya yang duduk di depannya .
Namun lama-kelamaan Rhea seperti susah bernafas , tiba-tiba dadanya terasa sesak , dia mencoba mengontrol emosinya , dia raih gelas bening dengan cairan hijau muda di atas meja , menegaknya dengan beberapa tegakan hingga habis tak bersisa .
Nafasnya memburu mencari oksigen yang tiba-tiba saja menjadi langka di sekitarnya . Menaruh dengan kasar lembaran-lembaran foto dan kertas-kertas putih yang belum selesai dia lihat sepenuhnya . Beberapa foto terjatuh di lantai , dan ada satu foto jatuh tepat di atas kakinya . Di ambilnya foto itu , seperti ada sayatan kecil di dalam hatinya tersenyum miris hingga akhirnya melempar foto itu di atas meja .
Andra tersenyum picik ke arah adiknya , " jadi ini lelaki yang kamu bilang baik dan sayang sama kamu ? hah ternyata cuma segitu doang ya kesetiaannya ? " . Ejek Andra
Rhea mendengus kesal mendengar ucapan kakaknya .
" kali ini jangan cegah gue " .
Setelah berucap begitu , Andra berdiri dan pergi meninggalkan Rhea .
hah , lakukanlah kak apa yang udah mau kakak lakukan sejak setahun yang lalu , kali ini gue nggak akan mencegah kakak lagi .
Gumamnya dalam hati , menyandarkan punggung pada sandaran kursi , melihat tetesan air langit yang tak kunjung reda , membuat hatinya semakin berdenyut nyeri , di liriknya lagi foto-foto yang berserakan di atas meja , pandangannya kosong memikirkan kelanjutan kisah nyatanya .
Suara tegas seseorang berhasil menyadarkannya dari lamunan , sedikit terkejut saat di lihatnya Chakim sudah berada di ruangannya .
*sejak kapan sih nih cowok di sini ? tiba-tiba banget bikin gue jantungan aja*
Rhea tak menggubris keberadaan Chakim , dengan segera Rhea merapikan dan membereskan foto-foto yang berceceran di atas meja . Satu demi satu Rhea punguti foto itu , hatinya kembali nyeri melihat kebersamaan kekasihnya dengan gadis lain dengan sangat dekat , kedekatan mereka di foto itu sangat tidak wajar , di foto itu terlihat jelas kalau mereka dua pasang manusia yang tengah sedang sama-sama sedang jatuh cinta , saling menyayangi tapi entah hati Rhea tidak seratus persen hancur , dia tidak semengenaskan sebagai orang kekasih yang di selingkuhi oleh pasangannya .
Chakim melirik beberapa lembaran yang di bereskan Rhea , menaikkan satu alisnya , ada pertanyaan di ujung lidahnya , namun dengan segera Chakim sadar , bahwa ini bukanlah ranahnya , tidak seharusnya dia ikut campur , dia hanya bertanggung jawab atas apa yang di alami Rhea karena ulahnya itu saja .
Berjalan menuju kursi , dengan sesekali melirik Rhea yang terlihat kesusahan memasukkan beberapa lembaran foto ke dalam amplop .
" butuh bantuan ? " . tanyanya
" nggak , makasih".
Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir Chakim saat mendapat penolakan dari Rhea , dia hanya mengamati Rhea yang berjalan menuju brangkarnya dan menyimpan amplop coklat kedalam laci .
Setiap gerakan Rhea di amati oleh Chakim , tarikan nafas panjangnyapun tak luput dari perhatian Chakim .
" kalau butuh apa-apa bilang aja " .
Rhea tidak menjawab , dia hanya melihat Chakim sekilas kemudian dia lanjut merebahkan tubuhnya di atas brangkar , menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hingga menutupi kepalanya .
***************
Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna Andra keluar dari mobilnya , dia melihat ke arah kanan dan kiri , banyak remaja berlalu lalang , Andra berjalan dengan mata tajam menyorot satu persatu siswa yang dia lewati .
Berjalan menuju koridor sekolah , dengan tatapan yang entahlah ,tatapan yang sulit di artikan , Andra mempercepat langkahnya saat dia menemukan seseorang yang dia cari .
" heh , dasar bocah tengil ". Batinnya mendengus sebelum menghampiri Irvan yang tengah bercanda dengan beberapa temannya di bangku di depan kelas .
" temui saya setelah jam terakhir pelajaran selesai , saya tunggu di warung depan sekolah " . ucap Andra tanpa menyebut nama lawan bicaranya .
" eh , i-iya kak nanti saya kesana setelah pulang sekolah , tapi Andrhea nggak papakan kak ? ". tanya Irvan yang terkejut tiba-tiba saja Andra ada di sekolahannya dan mengajaknya bertemu , dia khawatir terjadi sesuatu pada Andrhea , meski hati Irvan tidak sepenuhnya untuk Andrhea , namun dia masih menyimpan sedikit rasa untuk Rhea , dan dia juga merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada kekasihnya yang dia hianati itu .
" kamu tenang saja , meski ada atau tidaknya kamu , Rhea akan tetap baik-baik saja " .
" euh , hah ? " . apa maksud ucapan kak Andra , tanya batin Irvan .
" jangan lupa nanti temui saya setelah jam sekolah " . ucap Andra sebelum pergi meninggalkan Irvan yang menyimpan banyak pertanyaan di fikirannya .
Sekolah masih terlihat sepi , bel tanda berakhirnya jam pelajaran juga belum berbunyi , namun Andra sudah tidak sabar lagi menanti Irvan di sebuah warung bakso yang sederhana di depan sekolah , Andra sudah dua kali memesan es tes di warung tersebut , dengan sesekali melihat jam tangannya seakan waktu berhenti berjalan , Andra merasa di permainkan oleh waktu , seakan-akan waktu tidak bergerak ," *kenapa lama sekali sih , perasaan gue udah lebih dua jam gue disini , belum nongol juga tuh bocah* " . geram batinnya menanti seseorang yang siap di lahanya karena telah berani membuat adik satu-satunya itu jatuh cinta dan merasa sakit hati bersamaan .
Suara gemuruh siswa yang berebut keluar kelas menjadi pertanda bel jam pelajaran telah berakhir , tak berselang lama bel pun berbunyi , semakin padat siswa memenuhi area sekolah , berebut menuju parkiran mengambil kendaraan dan ingin segera kembali pulang ke rumah masing-masing .
Irvan berjalan dengan temannya menuju warung yang di sepakatinya dengan Andra untuk bertemu , karena merasa ada yang tidak baik-baik saja karena tiba-tiba saja Andra mengajaknya bertemu , tidak biasanya , membuat Irvan harus berjaga-jaga begitu fikirnya maka dari itu dia mengajak salah satu temannya untuk menemaninya .
Bibir Andra tersungging saat melihat Irvan berjalan menyebrang jalan menuju tempat dia duduk di dalam warung bakso , " *heh , ternyata nggak punya cukup nyali bawa temen segala , bagus deh kalau dia punya rasa takut sama gue ,udah sepantasnya takut sama gue* " .
Andra menyeruput es tehnya , meninggalkan gumpalan batu es kecil-kecil di dalam gelas , melirik dua pemuda yang sudah duduk di sebelahnya .
" ada apa ya kak ngajak ketemuan gini ? " . tanya Irvan .
Andra mengambil beberapa lembaran kertas bergambar di dalam sakunya , menyerahkannya pada Irvan .
Deg
Irvan melebarkan bola matanya , tubuhnya tiba-tiba keringat dingin , gemetar , tubuhnya kaku seperti baru saja tersengat listrik .
" kak in- ini ini aku bisa jelasin " . ucapnya terbata-bata.
Andra semakin pias , dia tersenyum hambar
" jauhin Rhea mulai detik ini juga , Rhea udah tau semuanya , jangan harap dapat tunjukin muka loe di depan Rhea , kalau nggak mau gue atau Rhea sendiri yang ngehajar loe " . Tegas peringat Andra .
Irvan dengan susah payah menelan salivanya , dia terkejut , bagaimana Rhea bisa tahu , dan bagaimana ini ? apa yang harus dia lakukan .
Teman Irvan yang sejak tadi mendengarkan , menepuk pelan bahu Irvan , kesadaran Irvan kembali , mengerjap gugup menatap Andra yang acuh dengan keberadaannya .
" aku aku minta maaf kak , tapi sungguh biar aku jelasin semuanya , kakak udah salah paham sama gue " .
Sayangnya Andra tak menanggapi perkataan Irvan , dia memilih bermain-main dengan gelas yang hanya berisi batu es yang hampir meleleh seluruhnya.
" kak Andra tolong dengerin gue " .
Andra masih tak bergeming , Irvan tetap meracau meminta maaf dan kesempatan untuk menjelaskan kesalahannya .
" jangan pernah minta maaf sama Rhea , karena udah pasti , dia gak bakal maafin loe sampai kapanpun " . ucap Andra , kemudian pergi begitu saja tak pedulikan Irvan yang teriak-teriak misuh-misuh .