Chakim & Andrhea

Chakim & Andrhea
Jadian



Sebuah taman di hias dengan indah , banyak bunga bermekaran serta wangi harum dari berbagai bunga yang bermacam-macam jenis serta kerlap - kerlip lampu hias mempercantik taman .


Chakim berdiri dengan tegang sambil memegang sebuket bunga mawar merah merekah , dengan sesekali melihat pergelangan tangannya , sambil bergumam pelan menunggu kehadiran seseorang .


Sebenarnya Chakim berangkat lebih awal dari waktu yang dia janjikan , karena dia melihat terlebih dulu persiapan tempat yang akan dia jadikan sejarah serta saksi awal perjalan kisah cintanya .


Setelah cukup lama Chakim menunggu , akhirnya orang yang dia tunggu-tunggu datang dengan anggunnya , dengan senyuman manis simpul di bibirnya .


Chakim meraih tangan Shanti saat Shanti sudah dekat dengannya , dan memberikan sebuket bunga mawar merah kepada dokter Shanti .


" wah indah banget , cantik ". ucap Shanti senang . " terimakasih ya ". tambahnya


Chakim menuntun Shanti kesebuah bangku taman yang sudah dia siapkan sebelumnya , Shanti begitu terpukau akan hiasan yang tertempel pada setiap bangku taman .


" kamu yang hias ini semua ?". tanya Shanti takjub .


" iya , kamu suka ?". tanya balik Chakim pada Shanti .


Shanti mengangguk menjawab pertanyaan Chakim .


Semua sudah tertata rapih , cuaca yang cerah dengan kerlipan ribuan bintang serta dengan sorot tajam rembulan yang mempercantik dan sangat mendukung malam itu menambah kesan romantis di sana .


Chakim menarik nafas dalam sebelum meraih kedua tangan Shanti , Shanti sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Chakim , sikap Chakim selanjutnya membuatnya tambah terkejut bercampur bingung , apa yang akan di lakukan Chakim .


Chakim melipat lututnya , berlutut di hadapan Shanti masih dengan memegang kedua tangan Shanti . Chakim kembali menarik nafas dalam-dalam .


" dokter Shanti , kalau saya boleh jujur , bolehkah saya menyatakan perasaan saya ?". Tanya Chakim dengan suara begitu lembut .


Shanti tidak langsung menjawab , dia sedikit berfikir hingga akhirnya dia mengangguk dengan tersipu malu-malu .


" Shan , aku yang pernah jadi pengagummu , aku yang pernah jadi penggemarmu , sekarang aku mau kau mengukir tinta di hatiku , sudikah kau memberikan coretan-coretan indah di hatiku ?". Tanya Chakim dengan serius dan melihat dalam mata Shanti , setengah mati dia menahan untuk tidak bernafas saat mengatakannya , jujur ini adalah kali pertama Chakim menyatakan perasaannya kepada seseorang , sebelumnya Chakim memang belum pernah melakukan hal seromantis ini kepada lawan jenis .


Pipi Shanti merona saat mendengar ucapan Chakim , Chakim sendiri menahan kegugupan di hatinya , sejak awal tangannya sudah sangat dingin , Shanti yang menyadari hal itupun hanya diam , karena Shanti menebak-nebak dalam hatinya hal apa yang akan di katakan Chakim kepadanya .


Shanti melipat kedua bibirnya kedalam hingga tercetak lesung pipi di kedua pipinya , dengan harap cemas Chakim menunggu jawaban Shanti .


Dan tidak butuh waktu lama untuk Shanti berfikir menjawab pertanyaan Chakim , dengan malu-malu serta pipi yang semakin merona Shanti menganggukan kepalanya menjawab pernyataan Chakim .


Chakim seperti bermimpi , bahkan dia beberapa kali mengerjapkan matanya melihat Shanti yang mengangguk dengan wajah yang merona .


Sangking tidak percayanya , Chakim tetiba berdiri dan mengguncangkan kedua bahu Shanti . Shanti kembali mengangguk meyakinkan Chakim jika dia menjawab iya .


" iya aku mau kasih coretan di hati kamu , asal kamu jangan pernah kasih aku tipe x buat ngehapus semua coretan-coretan yang pernah aku tulis di hati kamu nanti ". Jawab Shanti membalas puitisan dari Chakim.


Chakim tidak bisa lagi menutupi kebahagiaannya sekarang , ingin sekali dia berteriak bilang hore , ingin jungkir balik atau bahkan lainnya kalau dia tidak ingat ada Shanti di sana mungkin itu semua sudah dia lakukan .


.


.


.


Chakim mengantar Shanti sampai di basecamp para petugas medis , sebelumnya mereka mampir ke sebuah warung soto ayam , tidak ada kesan mewah saat mereka memilih memakan soto ayam pinggir jalan untuk meringati hari jadian mereka .


Setelah dari warung soto baru mereka kembali ke basecamp .


Suara dendangan terdengar di sepanjang lorong yang di lalui Chakim , sejak menurunkan Shanti di depan basecampnya , Chakim bersenandung riang sambil berjalan menuju kamarnya dengan melempar-lempar kunci motorny a ke udara .


Saat Chakim masuk kedalam kamar , semua temannya langsung heboh menyerbu Chakim dengan banyak pertanyaan , yang jelas semua ingin tahu bagaimana jawaban Shanti saat Chakim menyatakan perasaannya .


Semua ikut berkumpul menanti Chakim bercerita , mereka mamsang telinga dengan awas , tak mau ketinggalan barang sedikitpun cerita Chakim . Sedang Chakim hanya senyum-senyum dengan menaikan alisnya ke atas berulang kali .


" waah loe di terima ". sahut salah satu temannya dengan suara nyaring .


Chakim lagi-lagi hanya tersenyum menjawab pertanyaan temannya itu . " cerita dong brother gimana-gimana". tanya lagi teman satunya yang tak kalah heboh .


" kalian enggak liat ada pelangi di muka Chakim , ya pastilah dia diterima kalo muka dia happy kayak gitu , coba kalau di tolak , mana bisa di senyum-senyum kayak gitu " . jawab Zuhry mewakili Chakim yang tak kunjung bercerita .


Semua teman Chakim seperti mengiyakan ucapan Zuhry , sontak saja semua bersalaman bergantian memberi selamat kepada Chakim .


Mualai malam ini Chakim akan memulai mimpinya yang baru , memulai dengan kisah cintanya dengan Shanti , banyak do'a yang dia ucapkan , dan banyak ucapan syukur dari bibirnya untuk kebahagiaan yang Tuhan berikan hari ini .


Kini Chakim sudah tau isi hati Shanti , maka selanjutnya Chakim memikirkan misi selanjutnya , bagaimana membuat Shanti yakin dan percaya padanya jika dia lelaki yang bertanggung jawab dan mencintainya dengan penuh ketulusan ,


Chakim tidak mau bermain-main terlalu lama dengan statusnya pacaran , dia ingin segera mungkin mengikat Shanti dalam jalinan yang menguatkan cinta mereka . Chakim berdoa agar semua berjalan dengan semestinya hingga dia berhasil mencapai kehalalan yang dia impikan dengan bersama wanita pujaannya .


Sampai larut malam , Chakim maupun Shanti begitu sulit memejamkan matanya , Chakim yang berfikir melanjutkan misinya untuk segera meminang Shanti , apakah Shanti mau menerima dirinya kembali .


Sedang Shanti kembali merona pipinya saat teringat kejadian beberapa jam yang lalu di taman , di mana Chakim yang bersimpuh di hadapannya meminta hati dan cintanya , dan dengan malu-malu dia memberikan cintanya dengan hati tulus menerima Chakim .


Mereka berharap semoga ini adalah awal yang baik untuk mereka , semoga takdir selalu mendukung dan memihak pada mereka , banyak harapan dan keinginan yang ingin mereka raih bersama-sama .